
...***...
"Yaelah, segala bilang repot-repot. Padahal sebenarnya lo seneng, kan, dapat kue gratisan," kelakar Widya meledek Nathan.
"Tahu aja kesayangan gue," seru Nathan sembari tersenyum cengengesan.
"Kalian ini udah pacaran, 'kan?" Pertanyaan Arini mengalihkan atensi Nathan dan Widya.
"Bukannya Bunda udah tahu? Kenapa ditanya lagi?" Widya malah balik bertanya, merasa aneh terhadap pertanyaan bundanya.
Arini terkekeh pelan, "Iya, bunda udah tahu, tapi aneh aja. Kok, panggilannya masih 'lo gue'? Mana ada sama pacar kayak gitu manggilnya."
Nathan dan Widya sejenak terdiam. Widya mengingat ketika dirinya masih berpacaran dengan Harsa, panggilan mereka seketika berubah menjadi 'aku kamu' pas mereka sudah menjalin hubungan. Lalu sekarang dengan Nathan, kenapa tidak seperti itu juga? Apa mungkin lidahnya sudah terbiasa, karena terlalu lama bersahabat dengan Nathan? Atau ... dirinya yang takut, jika hubungan mereka tidak akan bertahan lama.
"Bunda bener, harusnya panggilan kita juga berubah. Nanti kalau kita menikah itu jadi contoh yang nggak bener buat anak kita. Iya, kan, Yang?"
"Mikir lo kejauhan!" protes Widya sembari mengusap wajah Nathan.
"Kamu, bukan lo!" Nathan mengajari Widya.
"Nggak mau!" Widya mencebikkan bibirnya. Pura-pura menolak.
"Tuh, Bun. Anaknya ngeyel, nih. Masa sama calon suami kayak gini." Nathan mengadu pada Arini, tetapi hanya ditanggapi dengan senyuman dan gelengan kepala.
Widya pun tergelak melihat raut wajah Nathan yang dibuat merana. Ia menangkup kedua pipi Nathan dengan telapak tangannya. "Iya, Sayang, iya. Aku sayang kamu."
Nathan terpaku mendengar itu. Tumben sekali Widya berani mengucapkan kata mesra kepada Nathan. Apalagi di depan bundanya sendiri.
"Hey ... kamu kenapa?" Widya mengguncangkan bahu Nathan pelan. Mungkin dia takut kekasihnya kesambet setan.
"Eh, apa?" Nathan tersadar.
"Kamu kenapa bengong?" tanya Widya heran. Kini tangannya sudah lepas dari bahu lelaki itu.
"Gu—eh, aku cuma terkesima sama kata-kata kamu tadi. Coba bilang lagi?" Nathan sedikit mencondongkan kepalanya mendekati wajah Widya, membuat kepala gadis itu sontak mundur menjauhinya.
"Ehem ... bunda masih di sini, loh," celetuk Arini. Tangannya masih sibuk memasukkan kue ke dalam box.
Nathan dan Widya jadi salah tingkah. Keduanya sontak bergerak ke sembarang arah. Saling menjauh dan memegang benda apa pun yang berada di dekat mereka. Berusaha mengalihkan rasa malu yang tiba-tiba membuat suasana jadi canggung.
Arini menyimpan box kue yang terakhir di tumpukan paling atas. Lalu beralih pada sepasang kekasih yang tengah berusaha menghilangkan semu merah pada pipinya itu. "Dengerin bunda, ya! Bunda bebasin kalian pacaran, tapi ingat! Masih ada norma yang harus kalian patuhi, dan nama baik yang harus kalian jaga. Kalian udah sama-sama dewasa, tentunya udah tahu apa maksud bunda, 'kan?"
__ADS_1
Widya mendongak dan menatap bundanya, lalu melangkahkan kakinya menghampiri sang bunda. Kedua tangannya memeluk tubuh Arini dari samping. "Bunda tenang aja! Kami tahu batasan, kok," ucapnya penuh keyakinan. Arini tersenyum sembari mengusap lengan Widya dengan lembut.
"Iya, Bun. Nathan mencintai Widya dengan tulus. Nggak ada ceritanya seorang Nathan harus merusak anak gadis orang. Bunda bisa pegang janji Nathan," cetus Nathan dengan nada serius. Dan ditanggapi oleh anggukan kepala dari Widya, tanda membenarkan ucapan Nathan.
"Iya, bunda percaya sama kalian." Senyuman Arini semakin mengembang. Sebagai seorang ibu, tentunya Arini punya banyak ketakutan. Di zaman sekarang ini, banyak sekali pemuda-pemudi di luar sana yang sudah tidak memedulikan norma dan etika. Masih berstatus pacaran, tetapi kelakuan sudah seperti suami-istri beneran.
***
Alam berganti musim di tiap masanya. Namun, musim cinta yang bersemi di hati Nathan dan Widya baru saja dimulai dan mungkin akan berlangsung sepanjang masa. Semakin hari hubungan mereka terjalin begitu mesra, bahkan kedua sejoli itu selalu berdampingan dalam setiap kesempatan. Nathan selalu menempel dengan Widya. Seolah tidak mau memberikan celah kepada pria lain yang hendak mendekati gadis tersebut. Begitulah posesifnya dia.
Namun, tidak dengan siang ini. Nathan terpaksa meninggalkan Widya, karena dosen pembimbing kelas desain meminta perwakilan dari tiap ketua kelompok tugas berkumpul di ruangan dosen, guna mengambil modul materi tentang tugas mereka untuk minggu depan, serta apa saja yang harus dipersiapkan untuk presentasi mereka nantinya.
Widya bersama dengan para sahabatnya sedang berkumpul di kantin kampus. Mereka memesan cemilan ringan sembari menunggu Nathan.
"Kenapa, sih, lo? Lemes banget dari tadi?" Harsa menegur Zakir yang terlihat menopang dagunya dengan telapak tangan. Wajahnya terlihat ditekuk dengan bibir yang cemberut.
"Gue lemes banget. Belum disemangatin ayang." Celetukan Zakir membuat teman-temannya sontak menengok ke arahnya dengan tatapan aneh. Terutama Kartika yang menatap lelaki itu dengan tatapan yang berbeda.
"Lo udah punya ayang?" tanya Edo yang tiba-tiba sampai mengabaikan gadget-nya saking penasaran.
Zakir menegakkan duduknya, lalu menyapukan pandangannya mengabsen satu-satu wajah sahabatnya itu. Fokusnya terhenti ketika netranya bertemu dengan netra pekat milik Kartika. "Belum, orangnya nggak peka," jawabnya tanpa mengalihkan arah pandangnya. Edo sontak mencebik kesal, sepertinya dia menyesal karena sudah berpaling dari gadget-nya demi Zakir.
"Sialan, lo! Gue pikir beneran lo udah punya pacar." Karin yang tahu tentang perasaan Kartika terhadap Zakir jadi meradang. Lalu, menyenggol bahu Kartika yang kebetulan duduk di sampingnya. "Jangan-jangan orang yang nggak pekanya elo, Tik?" serunya menggoda Kartika.
"Ciyeeee ...." Riuh ucapan meledek terlontar dari bibir anggota grup 'sahabat selamanya' itu. Terkecuali Widya, gadis itu hanya tersenyum tipis menanggapi kekonyolan sahabatnya. Wajah Kartika sontak memerah laksana buah tomat. Hingga Zakir pun hadir sebagai penyelamat.
"Resek, lo!" decak Kartika menyembunyikan rasa malu.
Hingga beberapa saat berlalu, Edo beranjak berdiri sambil meraih tas ranselnya untuk dia gendong. Ketika tawa mereka sudah mereda, dan berganti dengan obrolan ringan saja. "Eh, gue pamit duluan, ya! Gue ada kelas sekarang," pamitnya kemudian.
Kartika pun melongok jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Eh, Rin. Bukannya kita juga ada kelas?" serunya mengingatkan teman sekelasnya itu. Karin tersentak, pun jadi ikut melihat jam tangannya.
"Iya, nih. Gue sama Kartika pamit juga, deh." Karin dan Kartika beranjak berdiri. "Wid, nggak apa-apa, kan, kita tinggal?" tanya Kartika pada Widya yang masih diam.
"Nggak apa-apa. Gue masih pengin nunggu Nathan. Bentar lagi katanya selesai," balas Widya.
"Kalau gitu kita pamit, ya. Sampe ketemu di kafe entar malam." Edo menyahut sembari melangkah dan melambaikan tangan. Sebelumnya mereka memang sudah janjian mau kumpul di kafe Hamber langganan mereka nanti malam.
Namun, baru beberapa langkah tubuh mereka menjauh. Kartika yang berjalan paling belakang berhenti dan berbalik lagi. Dengan senyuman yang mengembang ia memanggil nama Zakir. Membuat yang si empunya nama menoleh seketika. "Ayang, semangat, ya!" seru Kartika sembari mengulas senyum lebar.
Zakir terkesiap mendengar ucapan semangat dari Kartika. Walaupun Zakir tahu niat Kartika hanya bercanda, tetapi cukup membuat hatinya berbunga-bunga. Karin tergelak melihat tingkah sahabatnya, lalu menarik tangan Kartika agar segera pergi dari sana. "Ayo, ah! Ada-ada aja lo. Entar, tu anak kegeeran," seru Karin sembari berjalan.
"Kalian nggak ada kelas juga?" tanya Widya kepada Zakir dan Harsa. Setelah ketiga sahabatnya menjauh dari mereka.
__ADS_1
Zakir menggelengkan kepalanya, pandangannya masih tertuju pada arah perginya Kartika. Senyuman cerah masih terbit di bibirnya. "Gue mau ke perpustakaan, ah. Tiba-tiba jadi semangat belajar, soalnya udah disemangatin ayang," ucap Zakir tiba-tiba.
"Cih, mulai gilanya!" cibir Harsa sembari merotasikan kedua matanya. Widya pun tertawa melihatnya.
"Udah, sono pergi! Entar semangat lo ilang," tukas Widya. Tawanya masih sedikit tersisa.
"Lo ikut gue, Sa!"
"Ngapain? Nggak mau, gue." Harsa menolak.
"Terus lo mau ngapain di sini? Mau berduaan sama Widya? Lo mau mengibarkan bendera perang sama Nathan? Sadar, woy! Bini orang ... aduh!" Satu pukulan keras mendarat sempurna di kepala Zakir. Pelakunya sudah pasti adalah Harsa.
"Gue lakban mulut lo, ya! Seenaknya aja kalau ngomong!" sungut Harsa.
"Makanya temenin gue! Nanti, kan, kalau gue nggak ngerti bisa nanya ke elo."
Harsa menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Menghadapi seorang Zakir memang butuh ekstra kesabaran. "Ya, gue ikut lo. Resek banget, sih!"
Harsa bangkit, lalu meraih tasnya untuk ia bawa. Ia dan Zakir pun pamit kepada Widya. Widya hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Tingkah para sahabatnya membuat Widya tidak bisa berkata-kata.
Kini, tinggallah Widya sendirian di sana. Sembari menyeruput jus jeruk yang masih tersisa setengahnya dalam gelas yang dia pegang, ia memainkan jemarinya di atas layar ponsel. Ia hendak mengirimkan pesan WhatsApp kepada Nathan.
"Hey, Wid. Sendirian aja?" Widya yang tengah fokus pada layar ponselnya sontak mendongak, lalu tersenyum pada yang bertanya.
"Eh, Cindy. Iya, tadi udah pada bubar. Ada kelas katanya," jawab Widya.
Tanpa disuruh, Cindy langsung duduk di kursi kosong di hadapan Widya. "Lo lagi nungguin Nathan, ya?" tanyanya lagi. Widya menjawabnya dengan anggukan kepala.
Sejenak terdiam, Cindy memperhatikan mimik wajah Widya yang tersenyum mengembang sambil menatap layar ponselnya. Hatinya memanas seketika. Dia tahu jika Widya sedang berkomunikasi dengan Nathan lewat pesan WA. "Duh, yang baru jadian. Nggak bareng bentar aja udah di chat terus," ejek Cindy dengan nada bercanda, walaupun sebenarnya hatinya penuh luka.
Widya mendongak, lalu tersenyum cengengesan. "Nggak, kok. Dia cuma mau ngasih tahu bentar lagi mau ke sini," terang Widya.
Cindy hanya ber'oh' tanpa suara. "Eh, Wid. Waktu kemarin Nathan ke Singapura lumayan lama, ya? Memangnya ada masalah apa dia di sana?" tanya Cindy mulai kepo.
Widya sejenak terdiam, merasa aneh kenapa tiba-tiba Cindy bertanya tentang itu. Namun, dirinya tidak enak kalau tidak menjawab. "Katanya urusan kantor papanya," jawab Widya seadanya.
"Bener, nggak, tuh? Betah banget di sana. Jangan-jangan masih kangen sama mantan pacarnya." Cindy tertawa, seolah dirinya sedang berkelakar dan menggoda Widya. Padahal ada niat tersembunyi di balik kata-katanya itu. "Nggak mungkin, 'kan, Nathan yang gantengnya maksimal kayak gitu belum pernah pacaran waktu masih sekolah di sana." Cindy meneruskan kata-katanya.
Widya masih belum berkomentar, memorinya kembali saat dirinya masih SMA. Waktu Nathan pernah bercerita tentang mantan pacarnya yang tidak bisa dia lupakan. Lalu sekarang, apakah Nathan masih mencintai perempuan itu? Widya tidak pernah bertanya akan hal itu lagi.
"Lo, kok, diem aja, Wid? Jangan bilang kalau Nathan nggak pernah cerita tentang mantannya dia! Secara, kalau pacaran itu harus saling terbuka. Atau jangan-jangan Nathan cuma jadiin lo pelampiasan doang." Cindy tertawa kecil lagi, "becanda, Wid. Jangan dimasukin ke hati, ya!" ujarnya pura-pura.
__ADS_1
...***...
Mulai beraksi neng Cindy. Yok, semangatin. Eh .... 😅. Othornya juga pengen disemangatin ayang, dong. Kasih komentarnya, ya. Like dan giftnya jangan lupa. Makasih 🤗