Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 89


__ADS_3


...***...


Widya seakan tak bernyawa. Raganya seolah ikut pergi bersama sang kekasih hati sejak berita duka itu ia dapatkan. Tiga hari telah berlalu sejak berita duka itu mengusik hati dan pikirannya. Semua sahabatnya selalu mendampingi, tidak membiarkan Widya sendiri meratapi pilu.


Akan tetapi, Widya lebih memilih mengurung diri di dalam kamar milik Nathan. Waktunya ia habiskan untuk melamun dan menangis. Sesekali tersenyum saat mengingat kenangan manisnya bersama Nathan. Jiwanya rapuh. Hanya sesekali ia mau makan, itu pun atas paksaan dari Arini dan Liana.


“Nathan pasti pulang, kan, Bun, Ma?” tanyanya waktu itu pada Liana dan Arini.


“Makanya kamu makan, ya, Sayang. Jadi kalau Nathan pulang dia nggak bakal sedih lihat kondisi kamu kayak gini.” Liana yang dalam keadaan berduka pun tetap memberikan dukungan bagi calon menantunya dan berhasil membujuk Widya untuk makan sesuap nasi.


Widya seperti berada dalam dunianya sendiri. Nasihat dari para sahabat tak ia hiraukan. Ia lebih suka menangisi dunianya yang kini gelap tanpa sang pujaan hati di sampingnya.


Ia juga masih mencoba menyangkal atas apa yang terjadi. Ia tidak akan percaya hingga jasad Nathan bisa ia lihat. Ia masih berharap sebuah keajaiban. Nathannya akan pulang dalam keadaan selamat. “Aku akan menunggumu, Sayang. Aku yakin kamu akan pulang. Sebentar lagi kita akan menikah. Kamu pasti pulang. Aku yakin itu,” gumamnya sembari menatap hampa gambar wajah Nathan yang tergantung apik pada dinding kamar Nathan.


“Aku tahu, kamu nggak mungkin tega ninggalin aku sendiri. Apa kamu tahu, jantungku seakan berhenti berdetak mendengar kabar itu. Duniaku runtuh, Nath, tanpa kamu. Jika kamu pergi, bawa aku pergi bersamamu. Jangan tinggalkan aku dalam kehampaan yang menyesakkan! Aku tidak bisa tanpa kamu, seperti kamu yang tak bisa tanpa aku. Bukankah kita akan selalu bersama, Sayang?” Senyumnya mengembang, tetapi lelehan air mata tidak dapat ia bendung. Ia tidak akan percaya dengan mudah perihal kematian Nathan.


Namun, banyaknya pelayat yang datang seolah membenarkan jika kematian Nathan itu nyata. Beberapa teman kampus dan teman kerjanya datang untuk mengucap bela sungkawa. Widya menolak menemui mereka, karena ia tidak percaya dengan kepergian sang belahan jiwa.


“Temui mereka, Nak! Mereka sudah meluangkan waktunya ke mari hanya untuk menemuimu. Hargai mereka,” pinta Bowo dengan lembut.


“Nathanku belum meninggal, Yah. Nathanku akan kembali. Percaya sama Widya. Nathan udah janji nggak bakal ninggalin Widya sendiri. Dan Widya percaya pada janji Nathan. Ayah juga percaya, kan? Nathan nggak mungkin ingkar janji. Tiga hari lagi kami akan menikah, apa Ayah lupa?” Senyum manis penuh kepalsuan ia suguhkan untuk sang ayah.


Kata demi kata yang keluar dari mulut Widya membuat hati Bowo semakin perih. Begitu juga dengan Arini, Liana, Kartika, dan Karin yang berada di luar kamar. Mereka tidak kuasa membendung air mata melihat Widya yang terpuruk begitu dalam.


“Insyaa Allah. Kamu temui mereka dulu, ya! Bagaimanapun, mereka adalah teman-temanmu.”


Dengan langkah berat, Widya menemui mereka di ruang tamu ditemani oleh Karin dan Kartika. Tatapan penuh kesedihan mereka tujukan bagi Widya yang hanya berjalan sambil tertunduk. Tubuhnya yang lemas harus dipapah oleh Karin dan Kartika. Setelah Widya duduk didampingi Karin dan Kartika satu per satu teman-temannya mengucap bela sungkawa.


“Kamu yang kuat, ya, Wid. Yang tabah juga ikhlas! Nathan sudah tenang berada di sisi sang pemilik hidup.” Ucapan Hasbi seketika mendapat tatapan tajam dari Widya.


Hasbi yang menyadari ada kemarahan dalam tatapan itu hanya bisa tertunduk. “Nathanku akan pulang. Kamu jangan ngawur kalo ngomong, Mas!” sarkas Widya.


“Maafkan aku, Wid. Bagaimanapun, kamu harus bisa menerima kenyataan yang ada.” Hasbi masih kekeh dengan pendapatnya. Hal itu membuat Harsa murka. Hasbi sama sekali tidak mengerti kondisi psikis Widya.

__ADS_1


“Selama aku belum melihat jasadnya, Nathanku masih hidup. Dia masih hidup! Dia nggak akan ninggalin aku!” teriak Widya frustrasi diikuti isakan tangis yang menjadi. Widya histeris dalam pelukan Kartika. Ia meracau, mengatakan bahwa Nathannya masih hidup.


Hal itu membuat semua orang mengalihkan atensi pada Widya. Semua mata memandang iba pada gadis manis yang kini terlihat pucat pasi. Harsa benar-benar marah kali ini.


“Maaf. Bisa kita bicara? Saya tidak mengenal Anda, tapi saya sangat tidak suka dengan perkataan Anda.” Harsa menatap tajam pada Hasbi, “Rin, Tik, bawa Widya kembali ke kamar!” titahnya.


Baru saja Karin hendak menggandeng Widya, tetapi tubuh ringkih itu kembali jatuh pingsan. Edo dengan sigap langsung membawa Widya ke kamar Nathan diikuti Karin, Kartika, Liana, Arini, dan Zakir.


“Puas?” tanya Harsa dengan geram.


“Saya hanya bermaksud memberi dukungan pada Widya,” elak Hasbi.


“Apakah anda buta hingga tidak bisa melihat kondisi kejiwaannya? Dia masih begitu terpukul,” geram Harsa.


“Maka dari itu saya hanya ingin menyadarkannya.” Hasbi tidak ingin kalah pendapat.


“Bukan begitu caranya!” bentak Harsa, “Kami yang di sini susah payah membuat Widya tegar, tapi Anda kembali membuatnya semakin terpuruk. Pelan-pelan, kami menyampaikannya dengan pelan-pelan agar jiwanya tidak hancur. Tapi Anda!” Harsa mengepalkan kedua tangan, ingin sekali menonjok muka Hasbi. Tatapan setajam elang yang siap memangsa buruannya ia berikan pada Hasbi, membuat nyali Hasbi menciut.


“Iya, mas Hasbi. Widya masih terguncang dengan kabar ini. Apa yang dikatakan Mas ini benar,” ujar seorang wanita cantik yang duduk di sebelah Hasbi.


Setelah kejadian menegangkan itu, mereka semua pamit undur diri karena hari juga sudah larut. Pun Harsa, Edo, juga Zakir. Sedangkan Kartika dan Karin masih menginap menemani Widya.


...***...


Hampir seminggu waktu yang dibutuhkan tim SAR untuk mengidentifikasi semua jenazah. Jenazah Nathan ada dalam salah satunya. Setelah semua proses selesai, jenazah Nathan bisa dibawa pulang untuk dikebumikan. Mobil jenazah beserta mobil pendamping beriringan menuju kediaman Nathan.


Liana, Arini, adik kembar Nathan, Kartika, Karin, serta Widya sudah menunggu. Sedangkan Daniel, Bowo, Edo, Harsa, Zacky, dan Zakir ada pada rombongan tersebut. Tahlil menyambut kedatangan jenazah membuat hati Widya semakin pilu. Pandangannya kosong, tubuhnya lemah, tetapi bulir bening masih setia menemani.


Peti jenazah sudah beralih tempat, kini berada di ruang tengah rumah Nathan. Jasad Nathan terbujur kaku di sana. Mereka semua mengelilingi peti itu. Liana serta adik kembar Nathan memeluk erat peti jenazah itu. Mereka tidak pernah menyangka hari pernikahan Nathan berubah menjadi hari di mana Nathan akan dikebumikan. Isak tangis kembali terdengar di rumah megah itu.


Widya beranjak, ia mendekat pada peti yang di dalamnya Nathan telah tertidur dalam damai. Ia elus penuh sayang peti itu. “Kamu bohong, Nath. Kamu udah janji bakal nemenin aku terus. Kamu nggak bakal ninggalin aku. Lalu apa sekarang, Nath? Kamu pergi gitu aja. Kamu bawa pergi separuh jiwaku. Kenapa tidak semua, Nath? Kenapa kamu tidak bawa aku pergi bersamamu? Kenapa kamu tinggalin aku sendiri? Kenapa, Nathan?” Air mata itu seolah tidak pernah habis. Ia peluk peti itu, seakan tengah memeluk Nathan.


Arini mencoba memberi kekuatan untuk putri semata wayangnya. Ia elus lembut kepala Widya. “Istigfar, Sayang. Ikhlaskan Nathan!”


Widya semakin meraung. Ia memukul-mukul peti itu dengan kedua tangannya. “Bangun, Nathan! Bangun! Hari ini kita akan menikah. Kamu jangan tidur terus. Ayo, lekas bangun!”

__ADS_1


Arini mencoba menahan Widya yang semakin histeris. Ia dekap erat putrinya. “Lepasin, Bun! Nathan harus bangun. Hari ini kita akan menikah. Bukan begitu, Sayang,” ucapnya pada peti itu. Tatapannya penuh dengan kesenduan ditemani air mata yang tidak berhenti mengalir. “Sayang, dengerin aku! Aku minta maaf kalo aku ada salah sama kamu. Tapi kamu harus bangun. Aku janji akan jadi istri yang baik. Istri yang penurut asal kamu bangun. Bukankah kamu bilang mau punya anak lima? Ayo ... hari ini kita akan menikah. Bangun Nathanku ... aku mohon bangun! Jangan tinggalkan aku sendiri! Aku nggak bisa tanpa kamu, Sayang. Aku mohon, bawa aku pergi bersamamu!” Widya kembali memeluk erat peti itu sembari menangis sesenggukan.


Bowo, Daniel, Zacky, Edo, Harsa, Karin, dan Kartika turut menangis melihat Widya. Karin menangis dalam pelukan Edo, sedangkan Kartika menangis dalam pelukan Zakir.


“Aku nggak kuat lihat Widya kayak gini, Do,” ucap Karin dalam dekapan Edo, membuat Edo semakin mengeratkan pelukannya.


“Widya terlihat begitu hancur. Sebesar itukah cintanya untuk Nathan?” gumam Kartika dalam pelukan Zakir.


“Kita bisa melihatnya. Cinta Nathan dan Widya memang teramat besar.” Zakir membalas ucapan Kartika yang menangis sesenggukan.


Di sisi lain, Arini dibantu Bowo menenangkan Widya yang masih meracau. “Sayang, sudah, ya! Kasihan Nathan. Ia harus disalatkan.” Arini mencoba melepas Widya dari peti Nathan.


“Widya mau nemenin Nathan, Bun. Kasihan Nathan sendirian di dalam sini,” ujarnya parau.


“Tapi Nathan harus disalatkan, biar dia tenang. Kita tinggalkan Nathan sebentar, ya!” ajak Bowo.


Susah payah mereka membujuk Widya agar mau lepas dari peti Nathan. Usai disalatkan. Jasad Nathan segera dibawa ke tempat pemakaman umum. Vina, Exel, juga Cindy turut mengantarkan Nathan ke tempat peristirahatannya yang terakhir.


“Maafkan aku atas semua salahku, Nath. Aku pun sudah memaafkan kamu atas semua salahmu,” gumam Cindy saat jenazah Nathan dimasukkan ke liang lahat.


“Aku nggak nyangka kamu pergi secepat ini, Nath. Maafkan aku atas semua salahku. Aku sungguh-sungguh minta maaf,” batin Vina. Ia menyesali apa yang telah ia perbuat.


“Gue nggak nyangka, lo bakal ninggalin kita semua. Harusnya hari ini, lo berbahagia di atas pelaminan, bukan terbujur kaku di sini. Gue sudah ikhlas Widya jadi milik lo, Nath.” Harsa mengusap sudut matanya yang berair.


Widya yang melihat jenazah Nathan di masukkan ke dalam liang lahat dan mulai ditimbun kembali berontak dari dekapan Arini.


“Kalian apakan Nathanku? Jangan ... aku mohon jangan! Kasihan Nathan di dalam sendirian. Biarkan aku menemaninya, aku mohon. Jangan pisahkan aku sama Nathan. Biarkan aku bersamanya!”


Arini kewalahan mendekap Widya yang semakin meronta ingin lepas. Ia dibantu Karin dan Kartika mencoba menghalangi Widya agar tidak mengganggu proses pemakaman. Widya masih meracau. Liana yang melihat Widya semakin teriris hatinya.


Usai jenazah Nathan tertimbun sempurna, mereka menaburi makam itu dengan kelopak bunga mawar dan melati. Widya bersimpuh, memeluk gundukan tanah yang masih basah. Tak ada lagi yang bisa ia ucapkan. Ia hanya menangis dan menangis sesenggukan, hingga matanya terpejam tak sadarkan diri.


...***...


__ADS_1


Aku juga sedih, guys. 😭🤧


__ADS_2