Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 88


__ADS_3


...***...


"Nathan ...." Widya berucap lirih ketika dirinya bisa melihat Nathan dari kejauhan. Lelaki itu tengah tersenyum manis kepadanya. Memakai baju serba putih dengan wajah yang bersinar.


Widya segera berlari menuju kekasih hatinya. Tumpahan air mata mengiringi gerakan kakinya yang melangkah panjang, hingga air mata itu bermuara di dada bidang Nathan. Widya memeluk tubuh itu begitu kencang. "Kamu pulang, Sayang. Kenapa kamu baru pulang? Aku semalam nungguin kamu. Aku khawatir dengan berita buruk itu. Aku rindu kamu, Nath. Aku rindu ...." Widya kembali menangis. Ia tumpahkan segala kekhawatiran yang membelenggu hatinya. Menenggelamkan rasa sedihnya dalam pelukan Nathan.


Sejenak terdiam, Widya merasakan kehangatan dalam pelukan itu. Membuatnya merasa sedikit tenang. Nathan-nya sudah pulang.


"Maaf, Sayang. Aku harus pergi lagi." Ucapan yang terlontar dari mulut Nathan membuat Widya mendongakkan pandangan. Menatap wajah pucat dengan tatapan bingung.


"Mau pergi ke mana lagi? Nggak, kamu nggak boleh pergi lagi! Aku butuh kamu di sini." Widya semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Nathan. Menempelkan kembali kepalanya di dada bidang lelaki itu.


"Sayang, lepaskan aku! Berjanjilah untuk selalu bahagia! Aku mencintaimu ...." Setelah berkata seperti itu wujud Nathan berubah menjadi kabut putih, perlahan menghilang dalam pelukan Widya. Widya yang tersadar Nathan-nya lenyap dari pelukan berusaha menarik tubuh itu kembali, tetapi tidak bisa. Widya seolah memeluk angin yang tidak bisa ia sentuh sedikit pun.


"Nggak, Nath. Aku nggak akan bahagia tanpa kamu. Nathan, kembali!" teriak Widya histeris, ketika tubuh Nathan benar-benar hilang dari pandangannya. Tubuhnya langsung merosot ke lantai. Ia menangis sejadi-jadinya. Berulangkali memanggil nama kekasihnya tetap saja tidak didengar.


"Widya, Sayang. Bangun, Nak!" Suara Arini yang terdengar lembut mengembalikan jiwa Widya yang sempat tersesat di dunia mimpinya. Saat Arini terbangun, ia mendapati Widya tengah tidur sambil membungkuk di meja kerja milik Nathan, sambil memeluk bingkai foto yang berisi gambar Nathan. Gadis itu pun sontak terperanjat dengan lelehan air mata yang masih mengalir melewati pipi mulusnya.


"Bunda, Nathan mana? Tadi aku ketemu Nathan, Bunda. Aku ketemu Nathan." Widya berkata sambil celingukan mencari keberadaan Nathan. Sang bunda yang merasa kasihan langsung merengkuh tubuh Widya ke dalam pelukan.

__ADS_1


"Istigfar, Sayang! Nathan belum pulang," ucap Arini lirih. Sambil sesekali menyapu genangan air mata yang hampir meluncur di sudut matanya.


Widya mendorong tubuh bundanya perlahan, hingga pelukan mereka pun terurai. "Ini jam berapa, Bun? Aku harus jemput Nathan di bandara. Semalam aku ketiduran. Nathan pasti udah nungguin aku di sana." Widya segera bangkit dari duduknya, lantas melangkah hendak pergi. Namun, langkahnya harus tertahan karena dihadang oleh kedua sahabatnya—Karin dan Kartika.


"Kalian minggir! Aku mau jemput Nathan," titah Widya dengan nada tinggi.


"Wid, lo mau jemput Nathan ke mana? Tim SAR belum menemukan tubuh Nathan."


"Tika! Nathan ada di bandara. Dia nggak ikut pesawat yang jatuh itu," pekik Widya menyangkal ucapan Kartika. Ia percaya Nathan-nya akan pulang.


"Wid ...." Karin menyentuh bahu Widya dan menatapnya dengan tatapan sendu. "Kita tunggu Nathan di rumah aja, ya! Bang Zacky sudah pergi menjemput Nathan," ucap Karin berusaha membuat Widya sedikit tenang.


Usaha itu pun berhasil. Widya bergeming sejenak, lalu duduk di tepian tempat tidur Nathan. Kedua matanya menatap kosong tempat tidur berukuran king size itu. Pikirannya membayangkan saat Nathan tertidur pulas di sana. Kedua sudut bibirnya membentuk senyuman tipis, melihat kekasihnya tertidur begitu manis.


...***...


Sekitar pukul sembilan pagi, keadaan rumah Nathan begitu sepi. Hanya ada isak tangis yang terdengar samar-samar di salah satu ruangan. Liana yang sudah tahu kabar terbaru tentang keadaan anaknya dari Zacky melalui panggilan telepon, sudah tidak bisa membendung kesedihannya lagi. Ia meratapi kepergian anaknya dengan hanya ditemani sang suami.


Sedangkan Widya yang belum tahu masih menunggu di ruang tamu. Semua orang menunggu kedatangan Zacky yang akan membawa kabar tentang Nathan. Sedangkan yang ditunggu Widya hanyalah seorang Nathan.


"Wid, lo makan, ya! Kata tante Arini lo belum makan dari kemarin." Harsa membawakan makanan untuk Widya. Menatap gadis itu dengan tatapan iba. Ingin sekali ia memeluk tubuh gadis pemilik hatinya itu. Namun, ia merasa tidak punya hak untuk melakukannya.

__ADS_1


Semalam, Harsa langsung datang ke rumah Nathan bersama Zakir dan Edo ketika mendengar kabar buruk tersebut. Namun, ia tidak berani mendekati Widya. Hatinya benar-benar perih melihat gadis yang masih dicintainya itu berbalut air mata, tetapi ia merasa dirinya tidak berguna. Bahkan ia tidak mampu untuk memberikan pundaknya, untuk tempat Widya menumpahkan kesedihannya.


Tawaran Harsa diabaikan oleh Widya. Perhatiannya teralihkan oleh kedatangan Zacky. Ia pun bergegas menghampiri Zacky dan memberondong banyak pertanyaan kepada lelaki tersebut. "Bang, di mana Nathan? Kenapa Abang datang sendirian? Apa ... dia masih di depan? Dia mau ngasih aku kejutan, 'kan, Bang? Aku mau ketemu dia."


Widya hampir saja berlari jika tangannya tidak dicekal oleh Zacky. "Wid, lo harus ikhlas! Nathan udah pergi. Dia udah ninggalin kita selama-lamanya. Dia ... udah meninggal."


Deg!


Jantung Widya seolah berhenti berdetak, deru napasnya pun kian sesak. Kepalanya perlahan menoleh ke arah Zacky. Linangan air mata sudah tidak bisa dibendung lagi. "Kamu jangan bercanda, Bang! Mana buktinya kalau Nathan udah meninggal? Kamu jangan bercanda!" Widya meraung histeris sembari menepis tangan Zacky. Emosinya meluap seiring air mata yang mengalir deras di pipi.


"Kematian Nathan dibenarkan oleh tim SAR. Mereka menemukan jasad Nathan di kawasan hutan bakau Maerakaca—Semarang. Karena memang pesawatnya hilang sinyal di daerah sana," papar Zacky sambil menunduk sedih.


"Bohong! Kamu pasti bohong, Bang! Kalo ngomong itu dijaga!" teriak Widya meluapkan emosinya.


Zacky mendongak menatap Widya, lalu merogoh saku celananya untuk mengambil sesuatu di sana. Tangannya gemetar ketika menunjukkan sebuah jam tangan yang sangat Widya kenal. Jam tangan kesayangannya Nathan. Hadiah pemberian dari Widya yang selalu Nathan pakai. "Walaupun wajahnya sudah tidak bisa dikenali, tetapi jam tangan ini bisa menjadi bukti kalau—" Zacky tidak bisa lagi berkata-kata. Tangisnya pecah ketika dirinya melihat sosok Liana yang keluar dari dalam kamarnya. Wanita paruh baya itu tak henti menangis dalam pelukan suaminya.


Rumah yang tadinya sepi, kini sudah bising dengan suara tangis. Sedangkan Widya masih bergeming di tempatnya tanpa suara. Hanya air mata yang dibiarkan lolos begitu saja. Tangannya mengepal kuat jam tangan milik Nathan. Ada rasa yang ingin meledak dalam dadanya. Rasa kecewa, sedih, takut, dan marah yang membuncah dalam dadanya seolah menghambat oksigen memasuki paru-parunya.


Hingga beberapa saat gadis itu limbung di tempat. Widya kembali pingsan. Beruntung ada tangan Harsa yang dengan sigap menahan tubuh Widya, dan langsung membawa tubuh Widya ke kamar Nathan.


...***...

__ADS_1



Minal aidzin walfaidzin. Mohon maaf lahir dan batin. 🙏😭


__ADS_2