
...***Happy Reading***...
...***...
Matahari yang terbenam memang tidak nampak bias sinarnya, tetapi sejatinya sinar itu berganti dengan indahnya rembulan yang setia menemani bumi. Begitu pula tentang perasaan Harsa yang selama ini ia pendam. Selama ini Harsa hanya menunjukkan rasa sayangnya melalui perhatian yang ia samarkan atas nama persahabatan. Meskipun semua teman dekatnya bisa mengetahui perasaan Harsa terhadap Widya. Namun, tidak dengan Widya. Entah karena gadis itu yang tidak peka atau karena Widya tidak mau berekspektasi terlalu tinggi. Mengingat dulu Widya pernah berharap banyak kepada Harsa, tetapi Harsa hanya memanfaatkan perasaannya tanpa membalas cinta Widya.
"Wid, lo nggak pa-pa, kan?" ucapan Harsa membuat Widya tersentak dari rasa terkejutnya. Widya tidak pernah menyangka akan perasaan Harsa selama ini padanya. Wajah gadis itu terlihat sendu.
"Eh, nggak pa-pa, Sa,” jawab Widya.
Harsa khawatir dengan respon Widya, dia takut setelah ini hubungannya dengan Widya jadi tergganggu. Meskipun Widya belum bisa membuka hati untuknya, Harsa tidak ingin hal ini membuat hubungan mereka menjadi renggang. Terlebih lagi Harsa tidak ingin Widya menghindarinya.
"Wid, maafkan kalau kata-kata gue membuat lo nggak nyaman." Harsa mencoba memastikan respon gadis itu.
Widya mencoba mengalihkan pandangannya ke tempat lain, pikirannya campur aduk hingga dia sendiri tidak bisa memahami hatinya. Widya tidak tahu harus sedih atau bahagia mendengar pengakuan Harsa.
"Sa, gue pulang dulu, ya. Tadi gue sudah janji sama bunda buat bantuin jaga toko kue. Salam buat tante Evi." Widya mengangkat tas selempang yang dipakainya.
Sekilas Widya menatap lelaki jangkung di hadapannya. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika netranya menyatu dengan sorot tajam lelaki itu. Dengan cepat Widya melangkahkan kakinya hendak meninggalkan tempat itu. Namun, baru selangkah dia merasakan tangannya ditarik dari belakang. Dan jelas pelakunya adalah Harsa.
"Wid, gue antar, ya?” tatapan sendu Harsa membuat sesak di hati Widya.
"Nggak usah, Sa. Lo, ‘kan, lagi sakit. Gue pulang sendiri aja." Widya mencoba setenang mungkin menolak tawaran Harsa. Di mata Harsa, senyum Widya ‘tak mampu menutupi kegelisahan gadis itu.
"Maksud gue, gue antar ke depan, Wid." Sambil tersenyum manis Harsa mendahulukan langkah kakinya.
Ingin sekali dia menertawakan kesalahpahaman Widya. Yah, walaupun seandainya Widya mau, sudah pasti Harsa akan mengantarkan Widya pulang. Sekalipun dengan kondisi badan yang kurang sehat. Berada di dekat gadis itu membuat kondisi kesehatan Harsa cepat berubah. Harsa yang awalnya demam dan berkeringat saat Widya datang, kini setelah melihat reaksi gadis itu perlahan demamnya mulai turun. Memang cinta selalu menjadi warna di setiap keadaan.
"Eh, iya, Sa." Widya merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya di saat seperti ini malah berpikiran yang tidak-tidak.
...***** ...
__ADS_1
"Apa salah jika gue mengatakan kejujuran tentang perasaan ini?" Monolog seorang Harsa Mandala, di kamar bernuansa abu-abu dia baringkan tubuhnya yang mulai mengigil. Beban pikiran membuat kondisi tubuhnya tidak stabil. "Tidak, apa pun yang terjadi gue harus hadapi. Jika memang hal ini membuat Widya tidak nyaman, maka gue harus berusaha membuat dia nyaman lagi berada di dekat gue. Atau jangan-jangan ada laki-laki lain yang sudah mengisi hati Widya? Aargh!" Harsa mengacak rambutnya, kepalanya begitu berat. Akhirnya dia putuskan meminum obat kemudian memejamkan mata. Namun, sebelumnya dia sempatkan mengirim pesan terlebih dahulu pada seseorang.
...***...
Sementara itu dalam keremangan sebuah kamar, ada seorang gadis yang masih tidak bisa memercayai kenyataan yang baru saja dia ketahui.
"Dari SMA dia sudah mencintai gue?" gumam Widya diiringi pikirannya yang berkelana mengingat masa-masa SMA dulu. "Gue cuma mau balas dendam sama Karin," kalimat menyakitkan di masa itu melintas lagi di pikirannya. Widya selalu berpikir jika waktu itu Harsa hanya mencintai Karin, dan dirinya hanya dijadikan sebagai pelampiasan saja. Tidak ada rasa cinta sedikit pun.
Wid, lo marah sama gue? Gue minta maaf, ya. Tapi gue merasa kalau saat ini adalah waktu yang paling tepat buat gue nyatain perasaan gue ke elo. Setelah kita putus, di saat itu gue sadar bahwa lo sudah menempati hati gue. Tapi untuk mengharapkan cinta lo lagi, gue sudah nggak berani. Apalagi melihat kedekatan lo sama Nathan. Sejak saat itu gue putuskan untuk memendam perasaan ini mencoba menahan diri setiap kali melihat kedekatan kalian. Gue selalu menguatkan hati dengan mengatakan pada diri sendiri. Bahagia lo adalah bahagianya gue.
Maaf Wid, kalau kenyataan tentang perasaan ini nyakitin dan membuat lo tidak nyaman, tapi gue berharap ini tidak merubah persahabatan kita. Itu juga yang gue jaga selama ini jika gue tidak bisa melindungi lo sebagai kekasih maka biarkan gue melindungi lo sebagai sahabat__Harsa
Isi pesan panjang dari Harsa yang didapatkannya sejam yang lalu setelah masuk kamar, belum dia balas sampai sampai sekarang. Perasan campur aduk dirasakan Widya, lebih tepatnya ada rasa bersalah. Widya adalah gadis melankolis. Hatinya begitu lembut dan mudah memaafkan. Rasa perhatiannya yang begitu besar membuat dia memiliki rasa bersalah atas apa yang dirasakan Harsa. Bagaimana tersiksanya Harsa selama ini memendam rasa, dia bisa rasakan juga. Karena dulu dia sendiri pernah merasakannya. Itu pun tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan Harsa. Widya hanya mengalaminya sebentar saja, lalu terobati oleh cintanya Nathan. Namun, Harsa merasakan itu bertahun-tahun lamanya. Mencintainya dalam diam, dengan perempuan yang selalu ada di dekatnya. Pasti sangat menyiksa hatinya. Apalagi perempuan itu sudah mempunyai pacar.
"Harusnya gue bahagia dicintai begitu dalam oleh lelaki seperti Harsa. Dia laki-laki yang baik, tampan, dan karirnya juga mapan." Senyum kecil pun mengembang di bibir Widya. Ia meraba perasaannya sendiri, dan merasa lucu ketika orang yang pernah dia cintai seorang diri, kini malah berbalik mencintainya ketika dirinya sudah mempunyai cinta yang lain lagi.
Dulu cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Oleh karena itu, dia begitu paham dengan perasaan Harsa sekarang. Widya selalu menyangka Harsa adalah sahabatnya, walaupun lelaki itu pernah menyakitinya.
"Biarlah waktu yang akan menjawab apakah gue mampu membalas cinta Harsa atau tidak. Gue harap Harsa bisa mengerti." Widya meyakinkan dirinya. Berusaha berpikir tidak ada yang terjadi di antara dirinya dan Harsa. Ia kembali membuka hati dan membiarkan semua mengalir begitu saja. Ia pun mengetikkan sesuatu di layar ponselnya untuk membalas pesan Harsa.
'Gue maafin lo, Sa. Gue juga minta maaf karena selama ini udah nyakitin perasaan lo secara nggak langsung. Tapi gue beneran nggak bisa untuk sekarang. Sekali lagi gue minta maaf__Widya.
...***...
Suara rintik hujan mengawali pagi hari, saat membuka mata Widya langsung mengecek ponselnya. Ia ingin melihat apakah ada pesan baru dari Harsa atas jawabannya semalam. Namun, belum sempat membuka gawai, suara notifikasi pesan pun terdengar, dan itu pesan dari Harsa.
Wid, maaf gue nggak bisa jemput. Nanti biar Zakir yang jemput lo ya,!__Harsa
Widya mengernyitkan kening. Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah ini ada hubungannya dengan sikapnya kemarin, atau balasannya chat-nya semalam. Bahkan lelaki itu tidak membalas pesannya tersebut. Apakah Harsa jadi tersinggung? Semua pertanyaan itu meliputi kepala Widya. Rasanya ingin menelepon Harsa langsung, tetapi rasa malu membuatnya urung.
"Memangnya gue siapanya Harsa? Kalau dia nggak bisa jemput itu suka-suka dia, lah. Apalagi semalam gue udah nolak dia. Dia pasti lagi berusahalah ngehindar dari gue." Sambil mengelengkan kepalanya, Widya bergumam pelan. Ada rasa tidak terima ketika Harsa tidak bisa menjemputnya, dan malah menyuruh orang lain. Namun, ia segera menepis rasa itu. Mungkin karena terbiasa dengan Harsa. Begitulah pikir Widya.
__ADS_1
...***...
"Wid, lo nggak ada niat jenguk Harsa?" Pertanyaan yang terlontar dari Zakir membuat Widya merasa kaget. Mereka kini sudah berada di dalam mobil Zakir. Di perjalanan menuju kantor tempat mereka bekerja. Pasalnya, kemarin Harsa terlihat sudah membaik. Jadi Widya berpikir jika Harsa akan masuk kerja hari ini. Karena yang dia tahu, Harsa tidak termasuk orang yang memanjakan diri saat sakit.
"Emang dia masih sakit, Zak? Baru kemaren gue jenguk dia. Keliatannya udah mendingan," tanya Widya.
"Oh, jadi dia udah sakit dari kemarin? Bilangnya ke gue cuma kecapean doang baru pulang dari luar kota. Pantesan gue mau ke rumahnya nggak boleh. Ternyata dia cuma pengen dijengukin lo doang."
"Apaan, si, lo. Ditanya malah ngelantur ngomongnya."
"Lah, emang gue baru tahunya hari ini kalau dia sakit. Tadi pagi dia baru ngaku kalau dia demam dan pusing. Jadi dia nggak sanggup buat berangkat kerja. Dia takut nggak bisa kosentrasi. Nanti malah jadi kacau kerjaan," pungkas Zakir.
Mimik wajah Widya berubah sendu dan terlihat khawatir dengan keadaan Harsa. Melihat itu, Zakir malah memiliki ide untuk menjahili temannya tersebut.
"Jangan-jangan lo yang udah bikin sakitnya tambah parah? Lo tolak cintanya dia, ya?" tebak Zakir sambil mengulum senyum jahilnya. Widya terhenyak sambil mengerjap kaku. "Wah, bisa gawat kalau gitu, Wid. Harsa itu kalau demamnya nggak turun-turun, bisa sampai muntah darah segala, loh," seloroh Zakir membohongi Widya.
"Masa, sih?" Widya meringis ngeri. Ludahnya terasa kelat untuk dia telan. "Kayaknya nggak mungkin, deh. Waktu kemarin dia masih baik-baik aja, kok," ungkap Widya.
"Ya, udah, kalau nggak percaya. Dia butuh lo, Wid." Zakir terkekeh pelan setelahnya, dan itu terdengar oleh Widya.
"Itu cuma karangan lo aja kali." Kekehan Zakir menjadi jawaban atas pertanyaan Widya. Merasa dibohongi, Widya yang kesal langsung memukul Zakir dengan tasnya.
"Bisa-bisanya lo jadiin sakitnya sahabat lo jadi bahan candaan, ya." Widya mengomel, lalu menghadap ke depan sambil melipat tangan.
"Tapi memang benar, kan? Sakitnya Harsa bertambah parah setelah dia ditolak sama lo kemarin? Buktinya dia sampai nggak bisa jemput lo dan nyuruh gue."
Widya terdiam. Dalam hatinya dia membenarkan pertanyaan Zakir. Ia pun berniat untuk mendatangi rumah Harsa lagi dan meminta maaf untuk kedua kali. Meminta Harsa agar tidak terlalu mencintainya sebesar ini.
...***...
...***To be continued***...
__ADS_1