
...***...
Pagi ini pukul 06.30 WIB, Widya sudah siap menanti kedatangan Nathan di depan rumahnya. Seperti biasa, Nathan selalu menjemput Widya untuk berangkat ke kampus bersama. Apalagi setelah mereka resmi menyandang status ‘pacaran', hampir tidak pernah Widya berjalan sendirian. Nathan akan selalu mendampingi Widya ke mana pun Widya pergi.
“Nathan belum datang, Wid?” Arini menghampiri putri cantiknya sambil mengelus lembut rambut Widya.
“Belum, Bun. Mungkin bentar lagi.” Widya menengadah, menatap sang bunda dengan senyum lebar.
“Kalau berangkat nanti hati-hati, ya! Bunda mau ke supermarket dulu.”
“Iya, Bun. Bunda hati-hati!”
“Jangan lupa pintunya dikunci,” pesan Arini.
“Siap, Bun.”
Arini menaiki sepeda motor matic meninggalkan pelataran rumah. Sedangkan Bowo sudah berangkat pagi-pagi tadi karena harus meeting ke luar kota. Tidak lama kemudian, kuda besi berwarna hitam masuk ke halaman rumahnya. Penunggangnya yang memakai helm full face tampak terlihat memesona. Setiap kaum hawa yang memandang, pasti memiliki keyakinan jika sang pemilik kuda besi adalah sosok yang rupawan. Terbukti setelah helm itu sudah tidak lagi menjadi penghalang, senyumannya yang mengembang membuat ketampanannya semakin terpampang.
"Assalamualaikum, Sayangnya Nathan. Nungguin abang ganteng, ya?" Nathan menghampiri Widya dengan senyum manisnya.
"Waalaikumsalam, masih pagi, Nath. Nggak usah lebay, deh!" Widya mencebikkan bibirnya seakan kesal dengan kelakuan Nathan. Padahal jika boleh jujur, sikap Nathan yang seperti itu yang membuat Widya selalu rindu.
Pemilik wajah tengil itu langsung mencubit pipi chubby milik pujaan hatinya, saat ia sudah berdiri tepat di depan Widya. Widya sendiri sudah menunggu Nathan di depan rumah sejak sepuluh menit yang lalu.
“Sakit, Nath!” Widya mengelus pipinya yang memerah akibat ulah Nathan. Meski begitu, senyumnya tetap mengembang, jelas sekali terpancar binar kebahagiaan di wajahnya. “Pakai motor lagi?”
“Iyups! Biar romantis.” Kedua alis Nathan bergerak naik-turun diikuti senyum jahil khas milik Nathan. Widya hanya merotasikan bola matanya, meski dalam hatinya ia bersorak gembira.
Akhir-akhir ini, Nathan lebih suka menjemput Widya dengan motor sport warna hitam kesayangannya. Menurutnya, jika memakai motor ia bisa lebih cepat membelah jalanan ibu kota saat macet dan tentunya akan terkesan lebih romantis.
__ADS_1
Duduk berdua di atas kuda besi bersama gadis yang ia cintai, serta mendapat pelukan hangat dari pujaan hati seakan mengalahkan caffeine yang mampu membuat orang tak terkendali. Itulah yang dirasakan Nathan saat ini. Sosok Widya seakan melekat erat dalam hidupnya. Jika Widya tidak ada di dekatnya, Nathan seolah merasa tak sempurna.
“Kayak bisa romantis aja,” ejek Widya.
“Apa lo sedang meragukan keromantisan Nathan Putra Lesmana?”
“Iya,” tantang Widya dengan wajah menggoda.
“Jangan pasang wajah seperti itu,” protes Nathan.
“Kenapa?” Widya mengernyitkan kening.
“Gue jadi pingin uyel-uyel itu pipi yang dari tadi melambai minta dicium,” goda Nathan.
“Apaan, sih, Nath? Masih pagi juga ngomongnya udah ngawur.” Widya merengut, tetapi dia tidak bisa menyembunyikan rona merah yang tercetak di pipinya. Widya tersipu.
"Justru kalau masih pagi udara masih bagus, Sayang. Masih fresh. Jadi, jangan lewatkan kesempatan buat ngerayu ceweknya. Sama kayak lo yang pagi-pagi udah seger gini, bikin mood booster di hati gue." Nathan masih saja menggoda Widya. Membuat pipi mulus Widya semakin jelas menampakkan semu merahnya.
"Udah cantik, Sayang. Makin cinta kalo nurut kayak gini. Jangan pernah jauh-jauh dari gue, ya! Gue bisa gila kalo lo jauh dari gue.” Nathan menatap lekat manik hitam milik Widya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas melihat ekspresi Widya yang mematung. “Udah, jadi patungnya? Yuk, berangkat!" Nathan segera menaiki motornya sedangkan Widya masih diam melongo takjub ditempatnya. Kata-kata dan perlakuan Nathan benar-benar membuat hatinya berbunga-bunga hingga membuatnya seperti melayang.
"Sayang!" Panggilan Nathan membuyarkan lamunan Widya. "Eh, i- iya!" Widya segera menaiki motor Nathan.
Selama perjalanan ke kampus senyum itu tidak pernah hilang dari kedua insan yang tengah dimabuk asmara tersebut. Nathan sesekali masih saja menggoda Widya. Membuat Widya tak berhenti tertawa.
Sampai di kampus Nathan dan Widya berjalan beriringan, tangan Nathan tidak lepas dari genggaman tangan Widya. Senyum mereka tidak pernah pudar selama berjalan dari parkiran hingga Sampai ke kelas mereka.
Hal itu membuat teman-teman mereka penasaran. Apalagi yang satu fakultas dengan Widya dan Nathan. Mereka jadi makin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kedua insan itu.
"Nath, lo sama Widya mesra banget, sih?" tanya salah seorang teman sekelasnya.
"Kalian jadian, ya?" sahut seorang teman yang lainnya.
__ADS_1
"Iya, gue perhatiin gandengan terus dari tadi, bikin jiwa jomlo gue meronta." Seseorang yang memakai kaos berwarna merah ikut menimpali.
Cindy yang sejak di parkiran tadi juga merasa penasaran, semakin terlihat gusar. Ia takut kalau apa yang ia khawatirkan terjadi. "Enggak mungkin ... nggak boleh! Lo enggak boleh jadian sama Widya Nath," batin Cindy.
Nathan semakin melebarkan senyumnya , ia lepaskan genggaman tangannya, kemudian beralih merangkul bahu Widya lalu berkata, "Kalian semua dengerin, ya! Gue sama Widya udah resmi pacaran sekarang. Dan sebagai ungkapan rasa syukur gue karena udah diterima sama pujaan hati gue, hari ini kalian semua gue traktir makan sepuasnya di kantin kampus, gimana?” seru Nathan kepada teman-temannya.
Seketika semua teman-teman Widya dan Nathan bersorak-sorai menunjukkan rasa senangnya. "Setuju." Hampir serempak mereka semua menjawab bersamaan.
“Wah, Wid, gue patah hati, dong,” canda lelaki berkaos merah. Sedangkan Widya hanya menanggapi dengan senyuman.
“Awas kalo lo berani deketin cewek gue,” canda Nathan meski sebenarnya serius juga mengatakan hal itu.
“Ampun, deh, Nath! Nggak berani gue saingan sama lo,” kata si kaos merah lagi.
Mereka semua tertawa dan ucapan selamat serta doa mengalir dari teman-teman sekelas mereka. Sementara Cindy, yang sebenarnya sangat kecewa berusaha menutupi kegugupannya. Sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tidak sampai membasahi pipi mulusnya. Cindy tidak ingin teman-temannya tahu kalau ia adalah orang yang paling tidak suka mendengar kabar bahagia itu.
"Selamat, ya, Wid. Gue doain lo sama Nathan langgeng, ya. Semoga kalian bahagia." Cindy menjabat tangan Widya kemudian memeluknya dan mengusap bahu Widya dengan lembut. Senyum palsu di bibirnya menghilang seketika ketika wajahnya membelakangi punggung Widya.
"Makasih ya, Cin," balas Widya dengan tersenyum ramah. Pelukan itu pun terurai, seiring dengan kembalinya senyum Cindy yang mengembang.
Nathan yang melihat hal itu, melirik tajam ke arah Cindy. Walaupun ia tidak melihat senyum licik itu, tetapi ia masih tidak menyukai Cindy sejak tragedi surat Widya dulu.
Saat Cindy beralih memberi selamat kepada Nathan, Nathan justru kembali memberi ultimatum kepada Cindy dengan membisikkan di telinga Cindy. “Gue harap lo kali ini jangan berulah lagi! Jangan deket-deket sama cewek gue! Atau gue akan bikin perhitungan sama lo. Berhenti berpura-pura baik di hadapan gue! Gue tahu betul niat busuk lo saat tugas kelompok kemarin. Jadi, berhenti berharap buat bisa miliki gue, apalagi cinta gue. Itu sangat mustahil,” tegas Nathan.
Cindy tersenyum getir sambil mengigit bibir bawahnya, ia tidak mau terisak di hadapan banyak orang apalagi di depan Nathan. Dalam hatinya, Cindy berjanji akan membuat Nathan menyesal sudah bersikap seperti itu kepadanya.
"Gue enggak bakal biarin lo bahagia sama Widya, Nath," batin Cindy.
...***...
__ADS_1
Mau ngapain lagi, ya, kira-kira si Cindy?