
...***...
Widya kembali merasakan kehangatan dari pelukan Nathan. Ia berharap, semoga kali ini Nathan benar-benar menepati janjinya
Senyum bahagia terukir di bibir manis Widya, bersamaan dengan bulir kristal bening yang ikut mengalir membasahi pipi mulus gadis itu. Air mata bahagia menjadi saksi kebahagiaan bersatunya kembali kisah kasih mereka.
Setelah beberapa saat, Nathan mengurai pelukannya. Ia merengkuh kedua bahu Widya, dengan mata yang masih sembab ia berkata kepada Widya, "Terimakasih, Sayang. Aku bahagia banget akhirnya kamu mau menerima aku lagi. Aku janji, aku akan membahagiakan kamu. Aku akan selalu percaya sama kamu. Pegang janjiku, Sayang!" Nathan menggenggam kedua jemari Widya lalu mengecupnya.
"Iya, Nath. Semoga hubungan kita jadi lebih harmonis lagi, ya. Kamu, jangan suka cemburu lagi sama Harsa!" ucap Widya mengingatkan.
"Kenapa langsung ke Harsa, sih, Sayang?" protes Nathan dengan wajah malas.
"Kan, tadi udah janji akan selalu percaya sama aku. Belum juga lima menit, udah lupa?" jawab Widya ketus sambil memanyunkan bibirnya.
"Iya, Sayang, iya. Gitu aja ngambek, sih," kekeh Nathan sambil mencubit hidung Widya gemas. "Aku percaya sama kamu. Lagipula aku juga merasa berhutang budi sama Harsa. Kalau waktu itu Harsa nggak bawa aku ke rumah sakit, kita pasti belum baikan lagi. Kayaknya aku harus berterima kasih sama Harsa nanti," tutur Nathan.
"Apa aku bilang, Harsa itu emang aslinya orang baik, Nath. Kamu aja yang suka over mikirnya," kata Widya bermaksud menggoda Nathan.
"Iya, deh, iya. Biarpun Harsa baik, yang penting sekarang, 'kan, aku yang memenangkan hati kamu lagi, betul nggak?" goda Nathan sambil mengedipkan sebelah mata.
"Apaan, sih, Nath. Pulang, yuk!" Widya mencebik sembari melangkahkan kaki hendak mendahului Nathan.
"Tunggu, Sayang! Kita foto dulu, yuk, buat kenang-kenangan! Udah lama juga kita nggak foto berdua, 'kan? Mumpung pemandangannya juga bagus. Bukti sejarah kisah cinta Nathan dan Widya." Nathan tergelak mendengar kalimat ucapannya sendiri.
Widya pun menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Nathan. Nathan segera menggandengnya. Mereka berdua akhirnya mengambil beberapa foto di sana bak pasangan yang sedang melakukan sesi prewed. Senyum bahagia selalu menghiasi wajah keduanya. Bukti bahwa perasaan cinta mereka memang masih begitu kuat.
Hari sudah sore saat Nathan mengantarkan Widya pulang. Selama perjalanan, mereka habiskan dengan bercanda dan sedikit obrolan ringan. Sekitar pukul 16.00 WIB, Mini Cooper kesayangan Nathan tiba di halaman rumah Widya.
__ADS_1
"Aku langsung pulang, ya, Sayang. Nggak enak juga kalau mampir dulu, tapi nggak ada ayah sama bunda," pamit Nathan, "Takut khilaf," sambungnya, lalu terkekeh saat membukakan pintu mobil untuk Widya.
"Ngomong apa, sih, Nath?" Widya ikut terkekeh. "Tadi bunda bilang mau ke makam kakek dulu habis dari rumah nenek, jadi mungkin sampai rumah agak malam," tutur Widya.
"Ya udah, lain kali aja aku mampir kalau ada ayah di rumah. Kangen juga lama nggak main catur sama ayah. Makasih banyak untuk hari ini, Sayang. Aku bahagia bisa jadi pacar kamu lagi. Eh ... bukan, lebih tepatnya calon suami kamu," ucap Nathan, dan berhasil membuat rona merah sontak terpancar dari pipi Widya.
"Udah, ah. Ngegombal terus kamu, Nath. Kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut nyetirnya! Terus kalau udah sampai jangan lupa kasih kabar. Jangan lupa makan, minum vitamin juga harus inget! Pokoknya nggak boleh sakit lagi." Lagi, Widya berucap penuh penekanan.
"Iya, Sayang. Panjang banget pesannya. Kalau aku lupa, nanti aku telepon kamu, deh. Udah ... buruan masuk sana! Kalau masih di situ nanti aku nggak jadi pulang, nih," goda Nathan dengan senyum tengilnya.
Widya mencebikkan bibir, ia menuruti perintah Nathan. Ia segera masuk dan menuju ke kamar. Rumah Widya tampak sepi karena ayah dan bunda sedang berkunjung ke rumah neneknya sejak tadi pagi.
...***...
Malam ini di kediaman rumah Edo. Harsa dan Zakir sedang asyik bermain game di layar ponsel mereka masing-masing. Mereka memang berencana menginap di rumah Edo. Sudah menjadi kebiasaan mereka bertiga setiap akhir pekan pasti meluangkan waktu bersama. Mungkin karena mereka sama-sama masih jomlo, jadi tidak ada alasan untuk tidak bisa ikut karena alasan nge-date.
Tiba-tiba suara Zakir memecah keheningan di antara mereka bertiga, "Sa, lihat ini!" Zakir menunjukkan ponselnya ke arah Harsa. "Nathan gercep banget, ya. Wah ... gue harus kasih selamat nih biar dapat traktiran," sambung Zakir lagi.
Untuk ke sekian kalinya, hati Harsa hancur. Ia ingin marah, tetapi pada siapa. Nyatanya ia bukanlah orang yang spesial di hati Widya. Bukan salah Widya, jika sekarang Harsa merasakan patah hati lagi. Widya memang tak pernah tahu rasa yang terpendam dalam hati Harsa.
Mungkin Harsa yang terlalu berharap, agar Widya masih memberi sedikit celah untuk ia bisa masuk mengisi kekosongan hatinya saat putus dari Nathan kemarin. Namun, itu salah, nyatanya memang cinta Widya untuk Nathan masih begitu besar. Hingga akhirnya sekarang mereka kembali lagi.
"Egois," batin Harsa, ia menyugar rambut dengan frustrasi. Rasa sesak seakan menghimpit dadanya. "Aku nggak boleh kayak gini. Aku harus ikhlas. Kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan aku juga, Wid. Mungkin ini hukuman buat aku, karena dulu aku udah menyia-nyiakan cewek sebaik, kamu." Semua kata itu berkecamuk dalam hati Harsa.
Harsa memejamkan mata, mencoba menguatkan hati. Ia harus bisa menerima jika Nathan memang pilihan Widya. Ia tidak boleh merusak hubungan mereka, mungkin sekarang hatinya masih terluka. Semua butuh proses seiring berjalannya waktu, ia yakin bisa menyembuhkan luka itu. Yang terpenting untuk saat ini, ia harus memastikan Widya akan bahagia bersama orang yang tepat.
"Sa, lo baik-baik aja, 'kan?" Tepukan dari Edo di bahu Harsa membuyarkan lamunannya.
"Lo kenapa, Sa?" Zakir yang melihat perubahan sikap Harsa ikut penasaran. "Lo mikirin apa? Lo nggak senang, ya, melihat Nathan balikan sama Widya?" selidik Zakir lagi.
__ADS_1
Bug...
Edo melempar bantal sofa yang dipegangnya ke kepala Zakir.
"Aduh! Tega banget, lo, Do! Gue, kan, cuma memastikan aja. Sebagai sahabat yang baik gue punya kewajiban meluruskan sahabat-sahabat gue yang bengkok," elak Zakir.
"Enak aja, lo, mau bilang gue bengkok?" ucap Harsa ikut melempar bantal sofa di pangkuannya ke arah Zakir.
"Wah, Kalian emang benar-benar bengkok semua," celoteh Zakir lagi, membuat mereka bertiga tergelak bersama.
"Lo belum jawab pertanyaan gue, Sa," tanya Zakir di sela-sela tawanya.
"Kepo, lo! Udah, gue mau keluar bentar cari angin." Harsa berlalu meninggalkan Edo dan Zakir yang masih memandangnya.
Zakir dan Edo saling pandang dan mengedikkan bahu masing-masing. Mereka tahu kalau selama ini Harsa masih memendam rasa cintanya untuk Widya. Meskipun Harsa tidak pernah menceritakan perasaannya, tetapi Zakir dan Edo bisa tahu dari sikap Harsa jika bersama Widya.
Suara gemericik air di kolam renang yang berada di samping kanan rumah Edo, menemani kegelisahan hati Harsa saat ini. Ia berdiri sambil menatap indahnya langit bertabur bintang malam ini.
Harsa tersenyum getir mengingat kejadian beberapa tahun silam. Kenangan kisah cinta SMA saat ia masih bersama Widya. Meski singkat, tetapi cukup membuat Harsa menyadari betapa gadis itu sangat berharga untuknya. Terlambat, itulah kata yang tepat untuk Harsa. Ia terlambat menyadari perasaannya. Hingga ia harus merelakan Widya pergi dari hidupnya.
Kejadian itu memang sudah berlalu lama, tetapi Harsa masih tidak bisa membuka pintu hatinya untuk gadis lain. Entahlah, Sampai kapan ia akan menutup hatinya. Hati kecilnya masih selalu berharap untuk Widya, sesuatu yang mustahil terjadi. Nyatanya meski berulangkali hubungan Widya dan Nathan mengalami masalah, akhirnya mereka baikan juga. Mungkin, itulah yang namanya jodoh.
Kini hanya penyesalan yang selalu menemani kesendiriannya. Meskipun ia bahagia melihat kebahagiaan Widya bersama Nathan, tapi hati tak bisa dibohongi. Ia cemburu, ia terluka, ia sedih. Namun, ia harus bisa mengikhlaskan pujaan hatinya bahagia bersama Nathan.
"Semoga kamu bahagia bersama Nathan, Wid. Aku tahu dia sangat mencintai kamu. Nathan laki-laki yang baik. Dia pasti akan menjagamu. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Semoga ini bisa menebus kesalahanku dulu,” batin Harsa, "Tapi kenapa dada gue sesak banget, sih? Ah, sial!" decak Harsa sambil memegang dadanya sendiri.
...***...
__ADS_1
Harsa daripada jadi sadboy sama aku aja, ya 😅💃
Jangan lupa like dan giftnya, Gengs ❤