Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 130. END


__ADS_3

...***...


...Happy Reading...


...***...


Sore ini, halaman belakang rumah Harsa sudah dipenuhi oleh para saudara dan sahabatnya. Harsa mengadakan syukuran kecil-kecilan atas rumah yang baru saja Harsa beli beberapa hari yang lalu. Ia membeli rumah di kawasan perumahan elite yang dihuni oleh para petinggi perusahaan besar.


Sudah lama ia mengincar rumah di kawasan ini, karena memiliki halaman yang luas di bagian belakang maupun depan. Hanya saja, hal itu baru bisa terwujud sekarang, karena permintaan Evi dan Rendra yang ingin lebih dekat dengan menantunya.


Widya masih berdiri mematung di depan cermin kamarnya. Menatap suaminya yang berada tepat di belakangnya yang juga tengah menatapnya. "Kamu kenapa lagi, hem?" Harsa mulai melingkarkan tangannya di pinggang Widya.


Setelah tangan Harsa melingkar sempurna, Widya pun menggesekkan kepalanya pada dada Harsa mencari kenyamanan. "Aku bahagia," ucap Widya sambil tersenyum, kemudian mendongak menatap Harsa. "Aku bahagia, Sayang," ulangnya.


Harsa mengecup puncak kepala Widya. "Syukurlah ... tidak ada yang lebih membahagiakan bagi suami selain kebahagiaan istrinya."


Harsa kemudian membalikkan tubuh Widya menjadi menghadapnya. "Ke bawah, yuk! By dan Al pasti udah nyariin." Harsa segera menggandeng tangan Widya setelah mendapat persetujuan.


Widya langsung mencari keberadaan kedua anaknya, karena mendengar suara tangisan Baby Al sejak mereka berada di dalam rumah. Hatinya seketika terenyuh saat melihat Byakta ikut menenangkan Aludra, adik perempuannya, di dalam gendongan Oma Evi. Mereka berada di ayunan yang menghadap tepat ke kolam renang.


Di sisi lainnya, ada Kartika yang sedang menggendong anak Karin. Sedangkan anaknya sendiri terlihat fokus pada gadget ditangannya.


Karin yang baru saja melahirkan tiga bulan yang lalu, ternyata menyempatkan diri untuk datang. Jangan tanya di mana Edo dan Zakir. Mereka hanya duduk di gazebo yang berada tepat di sebelah istrinya dengan beberapa camilan di depannya.


"Pa, Ma, Dedek Al dari tadi nangis terus. Kakak udah coba bantu oma buat nenangin, tapi tetep aja nangis. Kakak jadi bingung." Byakta langsung melapor saat orang tuanya menghampirinya.


"Iya, anak papa memang baik, selalu jaga dedek Al. Terima kasih, ya, sudah bantuin oma," ucap Harsa sambil mengusap puncak kepala Byakta.


Widya yang mendengar penuturan Byakta pun ikut tersenyum. Anak pertamanya kini sudah berusia lima tahun dan menjadi anak yang penurut. Jika sudah seperti ini, bagaimana ia tidak bahagia? Ketika dua malaikat kecil sudah hadir di hidupnya untuk melengkapi kebahagiaannya bersama Harsa.


Widya pun mengambil Aludra dari tangan Evi, dan berganti mendudukkan dirinya di ayunan. "Mama mau menyusul mereka dulu, ya," ucap Evi sambil menunjuk gazebo di mana orang tua dan papa mertuanya berada. "Sudah ada kamu sama Harsa, kan?" lanjutnya.


"Iya, Ma. Biar Aludra, aku sama Mas Harsa yang jagain. Ini juga ada superheronya," ucap Widya sambil melirik Byakta.


Byakta yang mengerti pun segera mengangkat tangannya membentuk sebuah hormat layaknya seorang prajurit tentara. "Siap, laksanakan!" seru Byakta, membuat mereka tergelak bersama.


Sepeninggal Evi, Harsa pun menyusul Widya duduk di sampingnya. "Kakak mau dipangku papa?" tanya Harsa. Byakta mengangguk, ia segera mendekat ke arah Harsa dan duduk di atas pahanya.


"Kakak harus terus jaga adek, ya?" Byakta kembali mengangguk.

__ADS_1


"Kak By! Main sini, yuk!" Suara lantang Zaka mengalihkan pandangan Byakta yang tadinya fokus pada Baby Al.


"Pa, Ma, kakak main sama Zaka dulu, ya?" pamitnya pada Harsa dan Widya.


Widya dan Harsa mengangguk. Setelah mendapat persetujuan orang tuanya, Byakta terlebih dahulu mencium pipi gembul Al sebelum berjalan ke arah Zaka.


"Zaka, Kak By, kan, lagi main sama adiknya. Kok, malah diajak ke sini? Zaka main sama dedek Erin aja," ujar Kartika pada anaknya.


"Enggak mau, Ma. Dedek Erin perempuan. Anak laki-laki juga harus main sama anak laki-laki," ucap Zaka menolak permintaan Kartika. Karin pun hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Zaka.


"Lo nggak mau nambah, Rin?" tanya Kartika.


Mendengar pertanyaan Kartika, Karin sontak melotot ke arahnya. "Gila, lo! Gue aja baru brojol. Lo aja yang nambah. Udah gede, tuh, anak lo,"


Kartika pun menggeleng. "Gue masih mau fokus sama Zaka dan Zakir."


Tak lama, Edo dan Zakir pun mendekat, disusul Widya dan Harsa. Berbincang tentang semua hal dari masa SMA hingga sekarang. Nama Nathan pun tak ketinggalan masuk dalam perbincangan mereka.


Perlahan, Widya mengurangi intensitasnya untuk pergi ke makam Nathan. Dari yang dulu seminggu sekali, kini Widya cukup tiga bulan sekali mengunjungi makam lelaki itu. Ia sangat menjaga perasaan Harsa, walaupun suaminya itu mengijinkan kapan pun Widya mau ke makam Nathan.


Mama Liana pun masih sering bertukar kabar dengan Widya. Sekedar menanyakan kabar, atau pun ingin bertemu. Mama Liana sangat jarang datang ke Indonesia, mungkin karena kesibukannya bersama suaminya.


Tidak Widya sangka, Vina dan Exel pun datang ke rumah barunya hari ini. Sebagai permintaan maaf, karena tidak bisa hadir saat pernikahan mereka. Pasangan suami istri itu kini menjadi pasangan yang sangat romantis. Exel sama sekali tak membiarkan Vina berada jauh dari jangkauannya. Tangannya pun tak berhenti menggenggam tangan Vina. Widya pun bahagia melihat hal itu.


"Mas, aku ke dalam dulu, ya. Takut Baby Al kedinginan," ujar Widya.


"Iya, Sayang."


"Rin, Erin ajak ke dalam sekalian. Kasian itu." Kini giliran Widya mengajak Karin.


"Iya, Wid. Ke dalam, aja," jawab Kartika.


"Eh? Gue ikut sekalian." Kartika pun tak ingin ketinggalan. Ia tidak ingin menjadi satu-satunya wanita di antara para suami.


"Anak lo?"


"Biar sama bapaknya. Lagi pula dia udah main sama Byakta."


Ketiga wanita itu langsung masuk ke dalam rumah Widya. Menidurkan bayi kecil mereka di kamar milik Aludra yang cukup luas.

__ADS_1


Syukuran kali ini hanya berjalan sampai jam sembilan malam, mengingat mereka memiliki bayi.


Kedua orang tua Widya dan Harsa tidak diperbolehkan pulang malam ini. Mereka dipaksa untuk menginap agar bisa mengistirahatkan tubuhnya.


"Sayang ...," seru Harsa sambil memeluk Widya dari belakang saat pintu kamar mereka baru saja dikunci.


"Hem?"


"Kangen." Harsa menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Widya, mencium aroma khas istrinya.


"Banyak orang, Mas," ujar Widya.


"Emang dulu di rumah mama, nggak ada orang?"


Widya pun perlahan melepaskan diri dari Harsa, membuat wajah suaminya berubah murung seketika. Melihat hal itu, Widya menahan tawanya.


Widya kembali mendekat, menarik tangan suaminya untuk mengikutinya. Harsa masih dengan mode merajuk mengikuti langkah Widya dengan kepala menunduk.


Widya pun tetap menariknya dan mendudukan Harsa di tepi tempat tidur, sedangkan ia memilih berdiri di depan suaminya. Ia mengamati tingkah Harsa yang seperti anak kecil.


Lelaki itu terlihat menggemaskan, padahal sudah beranak dua. Bagaimana jika nantinya akan ada yang ketiga, keempat, atau lebih banyak lagi. Akankah suaminya masih bersikap seperti ini? Walaupun begitu, Widya begitu menikmati perannya sebagai istri dari Harsa Mandala- bapak dari Byakta dan Aludra. Lelaki yang mampu menerima apa pun keadaannya, baik dulu, sekarang, atau pun nanti.


"Masih merajuk?" tanya Widya sambil menarik dagu Harsa untuk menatapnya. "Jadi, nggak? Mumpung By dan Al lagi tenang sama oma dan opanya."


Dengan mata berbinar, Harsa mengangguk menurut. Selama enam tahun pernikahan, baru kali ini Widya yang meminta. Tentu ia tidak ingin melewatkannya.


...****************...


... The End. ...


...Akhirnya kisah ini selesai, Guys 🥳...


...Terima kasih untuk para readers yang sudah mengikuti kisah ini sampai titik ini. Kalian luar biasa....


...Untuk semua team eskaer, aku pribadi mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya, untuk tetap semangat menyelesaikan karya kita. Semoga masih semangat di karya berikutnya. ...


...I love you, All. 🥰...


...Tunggu kisah kami yang selanjutnya, ya. ...

__ADS_1


...'PENGGODA YANG TERGODA'...


__ADS_2