
...***Happy Reading***...
...***...
Setelah kepergian Edo dan Zakir yang meninggalkan Harsa seorang diri di tepi pantai, Harsa mulai memikirkan semua perkataan kedua sahabatnya tersebut. Tentang Hasbi–teman kerja Widya yang pernah ia temui beberapa kali, yang selama ini juga memberikan perhatian lebih kepada Widya. Bahkan, sedari Nathan masih hidup pun Hasbi dengan gamblang mendekati Widya. Namun, hati Widya tidak pernah goyah, di hati gadis itu hanya terpatri nama Nathan seorang di dalamnya.
“Gue pasti akan jujur tentang isi hati dan perasaan gue, tapi untuk saat ini biarkan rasa ini seperti ini dulu. Gue nggak akan memaksakannya. Biarkan cinta ini seperti laut, meski sesekali ombaknya bergemuruh, tetapi ia tetap berusaha memberikan ketenangan,” batin Harsa gamang.
️️️️️️
Tanpa terasa liburan di Lombok pun berakhir dengan meninggalkan berjuta cerita. Membuat keenam pemuda-pemudi itu kembali ke Jakarta dengan wajah bahagia. Termasuk Widya, yang perlahan tapi pasti mulai bangkit dari keterpurukannya berkat dukungan dari para sahabat.
Pagi ini, Widya tengah mematut dirinya di depan cermin. Berbalut pakaian semi formal dengan warna soft dan rambut yang terkuncir rapi.
“Sayang, kamu sudah siap?” tanya Arini yang memunculkan wajahnya dari balik pintu. “Harsa juga sudah nunggu kamu dari sepuluh menit yang lalu, loh, tapi kamunya nggak turun-turun,” lanjut Arini.
“Sudah, Bun. Widya sudah siap, kok. Ini tinggal ngambil tas aja.” Widya kemudian berjalan menuju meja belajarnya dan mengambil tas yang sudah ia siapkan.
“Apa kamu yakin, Sayang, dengan keputusanmu itu? Apa nggak sebaiknya kamu langsung pergi ke kantor Harsa dan nggak usah pergi ke kantor lamamu?” tanya Arini cemas. Pasalnya, di kantor lama Widya banyak menyimpan kenangan tentang putrinya dan Nathan.
“Widya yakin, Bun. Widya mau berpamitan sama semua teman kantor lama Widya, terlebih teman satu divisi.” Widya berusaha meyakinkan Arini kalau ia akan baik-baik saja dan tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya.
Ya, saat ini Widya memang memutuskan untuk mulai bekerja di perusahaan milik Harsa dan Zakir. Beberapa hari setelah kepulangannya dari Lombok, Widya memikirkan tawaran pekerjaan dari Harsa. Selain untuk belajar mengikhlaskan Nathan, Widya juga ingin mencari suasana baru, karena di kantor lama tempatnya bekerja dulu terlalu banyak terselip kenangan indah tentangnya dan Nathan.
“Ayo, Bun, kita turun! Kasihan Harsa sudah lama menunggu.” Widya menggenggam tangan Arini berusaha meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja. Kemudian Widya dan Arini berjalan menuruni anak tangga guna menemui Harsa yang sudah dengan sabar menunggu Widya bersiap.
“Lama nunggunya, ya, Sa?” tanya Widya ketika dirinya sudah sampai di ruang tamu.
Untuk sejenak Harsa terpaku akan penampilan Widya yang memakai pakaian semi formalnya. Namun, Harsa kembali tersadar saat Arini mulai berdehem guna mengembalikan kesadarannya.
__ADS_1
“Em ... enggak kok, Wid. Gue nggak nunggu lama, cuman sekitar tiga puluh menit.” Pernyataan dari Harsa membuat Widya mengerutkan alisnya.
“Kata bunda, lo baru nunggu sepuluh menit. Kok, sekarang tiba-tiba jadi tiga puluh menit?" tanya Widya heran.
“Yang sepuluh menit gue nunggu lo di dalam rumah, dan yang dua puluh menit gue nungguin lo di luar rumah sebelum Tante Arini buka pintu.” Harsa tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Loh, jadi dari tadi pagi kamu sudah di depan rumah, Sa?” tanya Arini terkesiap. Pasalnya, sedari pagi tidak ada seorang pun yang mengetuk pintu atau membunyikan bel rumah. Saat Arini ingin membuang sampah, Arini sudah mendapati Harsa berdiri di luar rumah mereka bersama Pak Agus. Maka dari itu, ia berpikiran kalau sebenarnya Harsa baru datang kurang lebih sepuluh menit yang lalu dan bukan tiga puluh menit yang lalu.
“Ya ampun ... maafin gue ya, Sa. Gue udah buat lo nunggu lama," sesal Widya pada Harsa karena sudah membuat Harsa menunggu terlalu lama.
“Selama apa pun gue bakal bersedia nunggu, Wid. Asalkan seseorang yang harus gue tunggu itu adalah lo,” batin Harsa.
“Sa ... kok lo malah bengong, sih?” Widya menepuk bahu Harsa yang tiba-tiba hanya terdiam.
“Nggak papa, kok, Wid. Gue nggak nunggu lo terlalu lama. Jadi, lo santai aja, ya! Nggak usah sedih gitu mukanya.” Harsa berusaha meyakinkan agar Widya tidak diliputi rasa bersalah dan hal itu dibalas dengan anggukan pelan oleh Widya.
“Widya,” panggil seseorang itu yang ternyata ialah Hasbi–teman sekaligus atasan di divisi tempat Widya bekerja.
“Mas Hasbi.” Widya menyapa balik.
“Kamu apa kabar, Wid? Aku senang kamu balik ke kantor ini lagi. Kamu mau lanjut kerja di sini lagi, ‘kan? Nanti biar aku yang urus kembalinya kamu ke bagian HRD,” cecar Hasbi dengan berbagai pertanyaannya yang membuat Widya tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. Membuat kening Hasbi mengkerut tanda bahwa dirinya sedang bingung.
“Enggak, Mas. Aku datang ke kantor ini cuma mau berpamitan sama Mas dan teman-teman yang lain. Sekarang aku sudah pindah bekerja ke kantor sahabat aku, Mas," jelas Widya. Ia sejenak terdiam. “Terlalu banyak kenangan di kantor ini bersamanya, Mas. Aku ingin belajar mengikhlaskannya,” lanjutnya sembari menerawang membayangkan wajah Nathan.
“Kamu yakin, Wid, mau benar-benar resign dari kantor ini? Kamu gadis yang cerdas. Kamu juga partner yang hebat dan bisa diandalkan. Aku akan merasa sangat kehilangan teman kerja sehebat kamu, Wid," tutur Hasbi meyakinkan agar Widya tidak resign dari perusahaan mereka bekerja.
Namun, Widya tetap dengan keyakinannya untuk meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja dulu. Ia pun menggelengkan kepalanya lalu meminta maaf sekali lagi. Lantas pergi meninggalkan lelaki itu untuk bertemu dengan teman-temannya yang lain.
Setelah berpamitan kepada Hasbi dan teman-teman kerjanya dulu, Widya pun meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan sedih dan gamang. Ia tatap kembali gedung bertingkat itu dengan tatapan sendu.
__ADS_1
“Maafkan aku, sayang. Aku meninggalkan tempat ini bukan karena aku ingin melupakanmu dan semua kenangan tentang kita. Namun, berada di tempat ini rasanya begitu menyiksaku karena selalu mengingat akan dirimu,” batin Widya sedih.
Melihat Widya yang melamun dan nampak sedih, membuat Harsa pun merasakan hal yang sama. “Lo gak papa, kan, Wid?” tanya Harsa. Widya menoleh lalu tersenyum kepada Harsa.
“Gue nggak papa, Sa. Gue baik-baik aja, kok,” ucap Widya meyakinkan.
“Mau makan ice cream?” tawar Harsa.
“Ha— maksud lo?” tanya Widya bingung sembari mengerutkan keningnya.
“Lo mau makan ice cream, nggak? Ada ice cream enak di kafe yang tempatnya nggak jauh dari sini.” Tawaran Harsa membuat Widya mengerti lalu mengangguk.
Sebenarnya Widya enggan menerima tawaran tersebut. Namun, melihat ketulusan hati Harsa yang dengan sabar ingin membuatnya bahagia, akhirnya Widya mengiyakan saja tawaran tersebut. Sesampainya di kafe, Harsa memilih berbagai macam ice cream dengan berbagai varian rasa. Namun, Widya hanya memakan ice cream dengan rasa matcha yang berwarna hijau menggoda, dengan rasa yang manis, tetapi sedikit pahit sehingga membuat rasa ice cream ini menjadi sedikit unik. Walaupun begitu, rasa itu banyak diminati oleh orang di seluruh dunia.
Mereka menikmati ice cream tanpa bersuara apalagi berbincang. Harsa yang merasakan keheningan sedari tadi akhirnya mulai membuka suara. “Wid, coba deh, lo bayangin! Kira-kira kalau kita sampai di kantor nanti, si Zakir bakal ngedumel nggak, ya?” kekeh Harsa membayangkan wajah Zakir yang kesal.
“Lo tau sendiri, ‘kan, kalau tu anak emang paling nggak bisa lihat kita datang terlambat apalagi kita tinggalin. Dia suka nyerocos aja, kayak petasan panting." Tawa Harsa semakin kencang membayangkan tingkah konyol Zakir.
Pun tanpa disadari tawa Harsa pun dapat menular pada Widya. Tawa renyah dari gadis yang selama ini selalu ia rindukan senyum manisnya.
...***...
To be continued ....
Gas terus, Sa. 💃💃
Masuk GC, yuk. Ramein di sana. Kasian penghuninya masih dikitan 🤭
Sama ikutan giveaway, jangan lupa. Bannernya ada di IGnya Eska'er @eskaer10. Atau di akun 10 personel eskaer. Follow semuanya, ya. Selamat mencoba 🥰
__ADS_1