
...***...
Selesai dengan urusan fitting baju dan cincin pernikahan, Nathan memutuskan untuk mengajak Widya makan siang di food court yang terletak di lantai tiga di mall yang sama.
Karena terlalu asyik dengan pilihan perhiasan yang membelai mata, keduanya hampir melewatkan waktu makan siang. Tidak ingin kejadian beberapa waktu yang lalu terulang, mereka harus ekstra menjaga kesehatan. Terlebih tinggal sebulan lagi pernikahan mereka dilaksanakan.
Dua hot plate steak berukuran sedang ditambah potongan kentang goreng serta irisan wortel, buncis, tomat, dan selada yang dilengkapi dengan brown sauce sudah tersedia di meja setelah menunggu selama lima belas menit.
Di sampingnya terdapat side dish sebagai menu pendamping steak. Mashes potato menjadi pilihan Nathan. Bukan tanpa alasan Nathan memilih menu ini. Dulu ia yang sempat sakit karena kehilangan selera makan atau lebih tepatnya ia sengaja menyiksa diri karena rasa bersalahnya terhadap Widya kala itu, membuat daya tahan tubuhnya melemah. Oleh karena itu, asupan karbo dalam jumlah cukup membuat Nathan menjaga kesehatannya.
Sedangkan Widya memilih creamy spinach sebagai side dish, menu sayuran yang sudah dicampur dengan keju atau cooking cream dengan tambahan bawang putih dan lada menambah rasa lezat sehingga terasa nagih di lidah.
Keduanya makan dengan tertib dan sedikit berbincang ringan. Bukan Nathan namanya, jika makan dengan tertib dan tenang itu berlangsung lama, dia akan kembali memberi kesan manis setiap bersama Widya. Sesekali ia menyodorkan suapan mashes potato pada Widya. Widya yang merasa tersanjung pun kini tidak ragu melakukan hal serupa.
“Sebenarnya aku paling malas makan sayuran, Sayang,” ungkap Nathan.
“Kenapa? Sayuran adalah asupan penting untuk badan kita, Yang,” jelas Widya, “Juga sangat baik bagi kulit kita dan yang pasti bikin badan kita sehat." Widya kembali mengunyah lembutnya creamy spinach kesukaannya.
“Oh, pantes, kulit kamu bagus. Terlihat fresh. Jadi pengen juga,” cetus Nathan seraya terkekeh.
“Pengen apa?” hardik Widya.
“Ya ... itu, pengen punya kulit bagus juga kayak kamu, Yang. Tapi, sayang sekali rasanya agak aneh.” Nathan mencubit gemas dagu Widya. “Tapi kalau yang menyuapi kamu rasanya jadi beda,” ujar Nathan dan mendapat lirikan tajam dari Widya. Meski begitu, Nathan menjadi terkekeh karenanya.
“Mikir macem-macem pasti,” hardik Widya.
“Enggak macem-macem, Yang. Cuma satu macem doang.”
“Apa?”
“Ya ... kita berasa sedang ciuman mungkin,” gagap Nathan sambil tersenyum cengengesan.
Widya hampir melupakan hal itu. “Berbagi suapan pada sendok yang sama. Bukankah itu terlihat sedang berbagi tempat yang sama?” tanya Widya dalam hati.
Tentu saja hal itu tentu membuat kedua pipi Widya bersemu merah. Sehingga ia memalingkan mukanya agar tidak terlihat oleh Nathan.
__ADS_1
“Sayang, jangan begitu!” Nathan mencoba meraih dagu Widya. Namun, hanya menggantung di udara.
Widya lalu segera menoleh kembali pada Nathan. ”Begitu bagaimana?” tanya Widya.
“Jangan bersikap malu-malu seperti itu lagi!” desah Nathan.
“Maksudnya?”
“Yang, kumohon jangan begitu polos seperti ini! Aku jadi pengen segera menjadi satu-satunya orang yang berhak atas dirimu.” Perkataan Nathan mulai ngelantur.
Blusshh!
Widya segera menyadari maksud perkataan Nathan. Lalu sebisa mungkin ia mengendalikan raut wajahnya kembali.
"Ah, sebaiknya kita segera pulang saja, ya. Kalau kita mau lanjut buat cari souvenir mungkin akan terlalu malam.” Widya sengaja mengalihkan pembicaraan agar terlepas dari perbincangan yang membuat wajahnya bersemu.
Tanpa banyak kata lagi, Nathan hanya mengangguk seraya tersenyum simpul.
...*** ...
Satu pekan berlalu, keduanya masih dengan pekerjaan dan kesibukan masing-masing. Di sela pekerjaan Nathan dan Widya, mereka sesekali berbalas pesan sekadar untuk menjaga komunikasi di tengah padatnya jadwal masing-masing.
Kepiawaian Widya dalam hal bernegosiasi membuatnya sering ditunjuk sebagai perwalikan divisi pemasaran. Bahkan Widya telah dipromosikan oleh direktur perusahaan untuk menjadi manager pemasaran mulai hari ini. Benar-benar pencapaian yang luar biasa. Ia berjuang dari nol. Ia sudah bertekad untuk menguji kemampuannya.
Di balik cubicle milik gadis cantik yang kian anggun seiring bertambahnya usia—Widya kembali merampungkan satu usulan project market kepada managernya.
“Finish!" ujarnya senang. Ia lalu bersiap membawa tumpukan rancangannya menuju ruangan manager. Seolah keberuntungan bertubi menghampiri Widya. Project baru usulannya langsung diterima dan mendapatkan ACC langsung dari manager dan direktur.
“Baik, Widya. Besok kamu harus siap untuk mempresentasikan apa yang kamu ajukan hari ini. Kebetulan Bapak Direktur sudah memberikan ijin langsung. Dan besok adalah tugasmu meyakinkan project kamu kepada manager dari divisi yang lain.”
“Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi.”
...***...
Begitu pun dengan Nathan. Pekerjaannya yang bertanggung jawab untuk mengelola cara kerja berbagai entitas lain yang terlibat dalam proyek selalu berjalan dengan mulus. Sebagai ahlinya, Nathan melakukan pengawasan dari awal hingga akhir. Sehingga proyek tersebut bisa berjalan sesuai atau lebih cepat dari jadwal dan sesuai anggaran.
Tawaran untuk menjalankan perusahaan keluarga bersama papanya ia tolak dengan halus. Berdalih ingin menguji kemampuan di perusahaan lain tanpa embel-embel keluarga menjadi pilihannya sejak awal. Begitu juga dengan tawaran dari Zacky, ia kembali memberi alasan yang sama.
__ADS_1
“Gimana gue bisa tahu kemampuan gue kalau masih ada bayang-bayang kamu atau papa, Bang?” dalih Nathan saat ia dan Zacky tengah berbincang santai di tepi kolam renang waktu itu. Yang padahal alasan utamanya adalah ingin selalu dekat dengan Widya.
“Gue selalu salut sama pemikiran lo, Nath. Cuma, sayang aja. Kepintaran lo harus lo tuang untuk membesarkan perusahaan orang lain.” Zacky masih berupaya membujuk saat itu.
Jelang siang, notifikasi pada ponselnya menarik perhatiannya. Senyum terbit ketika ia membuka balasan pesan dari Widya untuk bertemu dengan pihak wedding organizer terkait pemilihan souvenir pernikahannya.
Seolah mendapat suntikan semangat dari belahan jiwanya, Nathan gegas membereskan pekerjaannya lebih cepat.
...*** ...
“Kita kompak banget ya, Yang. Dapat membereskan pekerjaan sebelum jam pulang seperti biasanya.” Nathan menggenggam tangan Widya yang tengah duduk di samping kemudinya.
Mereka memutuskan untuk bertemu pihak WO untuk mendiskusikan persiapan souvenir yang masih belum mencapai kesepakatan karena kesibukan masing-masing.
Di sinilah sekarang, Nathan dan Widya berhadapan dengan dua orang pihak WO yang sejak tadi masih menawarkan berbagai pilihan souvenir. Membuat keduanya keukeuh mempertahankan pilihan masing-masing.
“Sayang, ayolah! Bukankah ini manis sekali, sepasang sendok dan garpu yang melambangkan saling melengkapi keduanya.” Widya menyodorkan sebuah kotak dengan sendok dan garpu di dalamnya.
“Enggak, Sayang. Kali ini aku mau pilih ini.” Nathan memutar kotak transparan yang berisikan satu buah kaktus dalam pot. “Kamu tahu filosofi kaktus ini?” tanya Nathan.
Widya hanya melirik saja benda yang dipegang oleh Nathan. Namun, ia juga penasaran akan keinginan Nathan tetap memilih benda itu.
“Kaktus adalah tumbuhan yang hidup di daerah panas. Oleh karena itu, filosofi kaktus sebagai tanaman yang tangguh nan kuat serta mandiri meski tidak diperhatikan khusus. Kaktus dapat bertahan hidup. Meski di tengah terik matahari atau bahkan badai pasir di Gurun Sahara.” Nathan tersenyum bangga karena ia dapat mengungkapkan keindahan ciptaan Tuhan satu itu.
Sementara kedua pihak WO hanya bisa saling melirik pada sepasang calon mempelai yang sedang mempertahankan keinginan masing-masing.
“Coba, deh, Sayang. Kalau salah satu sendok garpu ini hilang, kita bisa makan dengan cara lain bukan? Nah, sedangkan kaktus mau ada hujan, mau panas sepanjang tahun, ia tetap hidup dan berdiri tegak. Aku ingin souvenir kita adalah simbol benda hidup. Bukan benda mati. Bahkan kalau bisa, kita bisa pesan untuk kaktus yang masih hidup.” Nathan menatap Widya lembut agar calon istrinya dapat luluh.
“Bukan begitu, ‘kan, Mbak?” tanya Nathan pada kedua utusan pihak WO. Ia sengaja mencari dukungan agar dapat meyakinkan Widya.
Pihak WO mengangguk mantap membenarkan penuturan Nathan. Widya yang kalah dukungan akhirnya mengangguk pasrah mengikuti Nathan. Tanda menyetujui keputusan kali ini.
Nathan yang terlihat bahagia mencubit gemas kedua pipi Widya. Membuat Widya membulatkan kedua matanya, sedikit kesal. Bukan karena perlakuan Nathan, tetapi di depannya masih ada pihak WO yang memperhatikan keduanya.
...***...
__ADS_1
Sweet banget, atuh. Serasa dunia milik berdua aja, yang lain ngontrak 😌