Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 45


__ADS_3


...***...


Setelah mendengar pendapat dari Vina, Nathan kembali masuk ke dalam rumah, meninggalkan Vina yang termangu menatapnya. “Nath, kamu mau ke mana?” tanya Vina begitu melihat Nathan ke luar rumah dengan menggunakan helm. Tidak lupa kunci motor yang sudah tergantung di jari telunjuknya.


“Seperti yang kamu bilang, aku harus menjelaskan pada Widya, biar semuanya jelas,” jawab Nathan dari balik helmnya.


“Kamu nggak nganter a-”


“Aku duluan, ya, Kamu pergi sendiri saja!” teriak Nathan sembari meninggalkan Vina yang masih berdiri di teras rumah.


Nathan langsung berpamitan pada Liana. Ia ingin berusaha sekali lagi untuk mempertahankan hubungannya dengan Widya. Kali ini, ia harus berhasil meyakinkan Widya tentang foto itu.


Dengan senyum yang tidak berhenti berkembang di wajahnya, Nathan menyusuri jalanan kota bersama wajah-wajah penuh lelah. “Please, Wid. Beri aku kesempatan kali ini!” batin Nathan.


Setelah bertarung dengan kemacetan, akhirnya Nathan sampai di rumah Widya. Senyum yang sejak tadi tersemat, kini sudah pudar dan berganti dengan rasa gelisah. Berulang kali ia menghela napasnya untuk mengurangi kegugupannya.


Nathan berjalan perlahan menuju pintu rumah Widya. Jika beberapa hari yang lalu ia masih memiliki rasa percaya diri untuk mengetuk pintu itu, kini sudah tidak lagi. Bayangan Widya yang selalu menolak kehadirannya kembali muncul. Belum lagi bayangan kemarahan bunda Arini yang mungkin saja siap menerkamnya.


Setelah mengumpulkan keberanian, Nathan memutuskan untuk mengetuk pintu. Sudah tiga kali ia melakukannya, tetapi belum ada jawaban. Nathan mulai pasrah.


Namun, begitu Nathan hendak berbalik, pintu yang sejak tadi ditatapnya terbuka. Menampilkan seorang wanita yang berdiri dengan menggunakan celemek dan wajah yang mengundang tawa.


***


Tok! Tok! Tok!


Widya yang sedang bermalas-malasan di kamar mendengar pintunya diketuk dari luar. Segera ia berlari untuk membukanya dan melihat Arini yang berdiri dengan menggunakan celemek dan wajah yang penuh dengan tepung.


“Bantuin bunda bikin kue, yuk! Daripada kamu di kamar terus,” pinta Arini.


“Iya, Bun,” jawab Widya. Ia menutup pintu kamarnya kemudian mengikuti langkah Arini menuju dapur.


“Ada acara apa, Bun?” tanya Wida .

__ADS_1


“Nanti malam bunda mau silaturrahmi ke rumah temen, jadi mau sekalian bawain kue,” jelas Arini. Ia mengambil celemek yang berada di gantungan. “Pakek ini dulu! Biar bajunya nggak kotor.” Widya pun menurut. Ia segera membantu Arini membuat adonan kue. Wajah Widya yang awalnya bersih, kini pun sudah penuh dengan coretan tepung sama seperti Arini.


Saat semua adonan sudah dibentuk di atas loyang, Widya mengambil kuning telur dan dioleskan di atas nastar. “Wid, bunda mau mandi dulu. Nanti kalau sudah langsung masukin ke oven aja.” Setelah memberi pesan, Arini pun meninggalkan Widya. Dengan telaten Widya melakukannya.


Tok! Tok! Tok!


Samar, Widya mendengar pintu rumahnya diketuk. Ia lantas menghentikan aktivitasnya untuk memastikan kembali.


Tok! Tok! Tok!


Untuk kedua kalinya pintu diketuk, membuat Widya bergegas untuk mencuci tangannya. “Iya, sebentar!” teriak Widya dari dalam rumah, tetapi suara itu masih saja terdengar.


“Ah! Siapa, sih?” gerutu Widya saat pintunya tak berhenti berbunyi. Ia pun berlari menuju pintu dan membukanya.


Betapa kagetnya Widya saat melihat Nathan kini sudah berada di depannya. Sedangkan Nathan justru terlihat menahan tawanya. Dengan kesal, Widya pun menutup pintunya kembali. Namun, Nathan berhasil menahannya. “Tunggu, Wid!”


Widya masih berusaha menutup pintunya, sedangkan Nathan berusaha untuk menahannya. Hingga hanya tersisa secelah pintu itu terbuka. “Apa lagi, Nath?”


“Kali ini kamu harus dengerin penjelasan aku! Kita bicara baik-baik. Kita udah dewasa, Wid. Jangan kayak gini!” pinta Nathan.


“Siapa, Wid?” teriak Arini dari dalam rumah. Mendengar suara Arini, Widya kebingungan. Jangan sampai bundanya melihat Nathan ada di depan rumahnya.


“Wid, dengerin aku dulu! Kali ini kamu harus percaya.” Sekali lagi Nathan memohon pada Widya.


Widya yang malas berdebat akhirnya membuka pintunya dengan mendadak, membuat Nathan hampir terjerembab. Jika saja kaosnya tidak ditarik oleh Widya, mungkin saja tubuhnya sudah jatuh tergeletak. “Di luar aja!” ucap Widya sinis.


Nathan pun mengikuti Widya hingga mereka duduk di teras rumah. “Mau bicara apa?” tanya Widya ketus.


“Please ... percaya! Kalau itu bukan kelakuan Vina. Dia nggak mungkin melakukan itu. Bahkan dia yang nyuruh aku buat jelasin ke kamu.” Widya memejamkan matanya saat mendengar penjelasan Nathan. Menahan amarah agar tidak meluap dan menimbulkan keributan. Bukan penjelasan seperti itu yang Widya inginkan.


“Vina lagi, Vina lagi,” lirih Widya yang masih bisa didengar oleh Nathan.


“Karena memang bukan Vi-“


“Nath ...,” panggil Widya yang membuat Nathan langsung berhenti.

__ADS_1


“Ya, Sayang?”


“Kamu nggak ada penjelasan lain selain pembelaan terhadap Vina?” tanya Widya. “Sebenarnya dari kemarin permasalahannya pun masih sama, Nath. Semua karena Vina. Tapi kamu masih saja menyangkalnya. Mengatakan bahwa ini bukan salah Vina, tapi Cindy.”


“Karena memang itu kenyataannya. Apa kamu tidak berpikir, bagaimana mungkin Vina memfotonya, jika saat itu dia yang hendak terjatuh? Saat itu aku sedang menyelamatkannya. Kamu tahu? Bahkan Vina yang memaksaku untuk datang ke sini, menyuruhku untuk menjelaskan semuanya agar hubungan kita tetap baik-baik saja. Dia mendukung hubungan kita, Wid.”


Widya masih mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Nathan. Ya, jika dipikir-pikir benar apa yang dikatakan oleh Nathan. Bagaimana cara Vina melakukannya, sedangkan yang berada di foto adalah dirinya. “Tetapi, bagaimana dengan ucapannya saat dia dan Nathan begitu menikmati ....” Widya menahan kata hatinya.


“Lalu bagaimana dengan ucapan Vina yang mengatakan jika kalian begitu menikmati ciuman itu?” Akhirnya pertanyaan itu pun terlontar dari mulut Widya.


“Mungin itu hanya cara dia untuk mengetahui apa kamu benar-benar mencintaiku. Mungkin dia ingin tahu apakah kamu memang benar-benar pantas untukku?”


Widya kembali terdiam. “Apa benar semua yang terjadi bukan Vina dalangnya? Apa benar ini semua ulah Cindy? Semua harus diselidiki, biar jelas siapa yang bersalah dan siapa yang benar. Lagi pula, benar kata Kartika dan Karin, aku harus buat dalang dari semua ini merasa kecewa karena tidak berhasil menggoyahkan hubunganku dengan Nathan.” Widya kembali bermonolog untuk meyakinkan dirinya.


“Please, Wid. Cuma kamu yang bener-bener aku sayang. Jika memang aku terlalu mementingkan Vina, aku minta maaf. Itu semua aku lakukan tidak lain karena memang kita berteman sejak kecil dan hanya akulah yang dimilikinya di sini.”


Rasa cinta yang dimilikinya lebih besar dari rasa bencinya. Mungkin dalam masalah ini, Widya memang terlalu mudah menyerah, menangis lalu mengadu pada bundanya. Namun, setelah ini ia harus lebih bersikap dewasa dalam menyelesaikan masalah. Pembuat masalah ini harus merasa kecewa karena gagal untuk merusak hubungannya dengan Nathan. Entah siapa pun itu, ia tidak boleh merasa bahagia karena rencananya berhasil.


“Oke, aku menerima penjelasanmu kali ini. Aku maafkan kesalahan kamu. Aku juga minta maaf jika sikapku masih kekanak-kanakan.”


Secercah binar cerah langsung terpancar dari wajah Nathan. Senyuman penuh kemenangan langsung membingkai bibirnya. “Nah, gitu dong,” ucap Nathan sembari mengusap wajah Widya yang penuh tepung. “Udah, udah cantik lagi sekarang.”


“Apa, sih! Emang biasanya nggak?” Widya merengut. Tidak sadar kalau wajahnya belepotan.


Senyum itu masih tercetak di bibir Nathan. "Tadi, tu, muka kamu kayak adonan kue. Manis dan penuh tepung,” goda Nathan yang langsung mendapat pukulan keras dari Widya, tetapi detik kemudian tergelak bersama.


“Oh, jadi ini sales MLM-nya?” Suara Arini mengagetkan Widya. Ia melupakan tugas awalnya untuk membantu Arini membuat kue. “Dari tadi ditungguin, kok, nggak balik-balik? Bunda kira kamu ikutan dibawa sama salesnya. Eh, ternyata salesnya malah diajakin pacaran. Ceritanya udah baikan, nih?” Mendengar ocehan Arini membuat Widya meringis, menampilkan deretan gigi rapinya. Nathan mengingat ucapan Widya yang menganggapnya sales pun ikut menahan tawanya.


“Bun ... udah, ah!” rajuk Widya.


Arini hanya tersenyum melihat tingkah Widya yang merasa malu saat digoda olehnya. Ia pun beralih kepada Nathan. “Nath, masuk, yuk! Bunda tadi bikin nastar, ada lebihan. Nanti Nathan bawa, ya!”


“Siap, Bunda.” Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah bersama-sama.


...***...

__ADS_1



Akhirnya baikan lagi. Apakah ada drama selanjutnya? Nantikan terus kisahnya, ya! 🤗


__ADS_2