Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 31


__ADS_3


...***...


Beberapa hari berlalu. Vina sering berkunjung ke rumah Nathan dengan alasan mencari hiburan dan butuh semangat dari Nathan. Widya mencoba memaklumi kedekatan Nathan dengan Vina, meski hatinya cemburu. Nathan selalu meyakinkan dirinya, jika Nathan hanya berniat untuk menghibur Vina yang sedang patah hati.


“Hai, Wid. Tumben sendirian. Nathan mana?” tanya Cindy yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya. Widya sedang duduk sendirian di dalam kelas, menunggu pelajaran dimulai sekaligus menunggu Nathan.


“Biasa, lagi bimbingan sama dosen,” ucap Widya tidak bersemangat.


“Gue dengar, mantan tunangan Nathan ada di sini, ya?” pancing Cindy.


“Lo tahu dari mana?” Widya tercekat dan balik bertanya. Merasa heran kenapa Cindy tiba-tiba bisa tahu perihal Vina.


“Ya tahu, dong. Memangnya lo nggak tahu kalau kabar ini sudah menyebar di seluruh penghuni kampus. Bahkan, ada yang pernah melihat Nathan di sebuah restoran mewah bersama seorang wanita. Bisa jadi itu mantan tunangannya, 'kan?” ucap Cindy mencoba kembali memprovokasi.


Bukan Cindy namanya jika dia tidak tahu tentang kabar terbaru perihal Nathan. Ketika dirinya mendengar kabar kedatangan Vina, merasa jika angin segar mulai menghampirinya, seolah takdir pun memihak kepadanya. Ia tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk kembali melancarkan aksinya memisahkan Nathan dari Widya.


“Ada yang bilang mantan tunangannya cantik. Iya nggak, sih?” pancing Cindy lagi.


“Iya, cantik banget malah. Jauh dari gue yang hanya anak penjual kue,” Widya bermonolog dengan hatinya.


“Wid … hello!” Cindy menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Widya.


“Eh, ada apa?” Widya tersadar dari lamunannya.


“Elo diajak ngomong malah ngelamun,” gerutu Cindy.


“Sory, Cind. Gue lagi nggak fokus.” Widya hanya tersenyum. Senyum kaku yang menghiasi wajahnya.


Cindy yang puas karena Widya mulai terprovokasi pun merasa senang. Perjuangannya untuk memisahkan Nathan dan Widya mulai menemui titik terang.


“Ingat, Wid. Kalau gue nggak bisa milikin Nathan, jangan bermimpi untuk bisa memilikinya! Gue bakal ngehancurin hubungan lo sehancur-hancurnya, dan gue akan memisahkan kalian berdua sejauh-jauhnya,” batin Cindy dengan seringai licik di bibirnya.


Saat Cindy ingin melanjutkan aksinya lagi, tiba-tiba gagal karena dosen matkul pertama datang. Hal itu benar-benar membuat Cindy geram. Pasalnya, tinggal sedikit lagi racun yang ia sebar ke otak Widya mulai menyebar. Gadis itu hanya dapat mendengus sebal, tetapi juga merasa cukup puas karena kelicikannya hari ini.


Sementara Widya yang mulai bimbang karena perkataan dari Cindy hanya diam termenung, bahkan materi yang disampaikan oleh dosen tidak ada satu pun yang dapat ia terima. Hatinya sedang bimbang saat ini. Namun, Widya tetap berusaha untuk memaklumi bahwa kedekatan antara Nathan dan Vina hanyalah sebuah rasa kemanusiaan dan dukungan kepada seorang sahabat.


...****...


Hari ini mata kuliah Widya hanya satu, tetapi mampu membuat gadis itu merasa lelah. Bukan karena tugas yang diberikan oleh dosen, melainkan karena hatinya yang diliputi perasaan gelisah.


Saat Widya mulai melangkahkan kaki keluar kelas, ia dikejutkan oleh keberadaan Nathan—sang kekasih yang beberapa hari ini membuat hatinya terombang-ambing.


“Sayang ... kok, kamu kaget gitu, sih? Kaya habis ngelihat hantu aja,” kekeh Nathan sambil mengusap pucuk kepala Widya.


“E—enggak, kok. Aku biasa aja,” elak Widya menutupi keterkejutannya. Lalu, melanjutkan langkah diiringi oleh Nathan di sampingnya.


“Gimana, tadi sama dospemnya? Lancar, nggak?” Widya mengalihkan pembicaraan dengan senyum yang seolah ia buat bahagia walau hatinya sedang bimbang.

__ADS_1


“Alhamdulillah, lancar dong.” Nathan menjawab dengan bangganya.


“Gimana? Hebat, 'kan, aku? Siapa dulu, dong, pacarnya ... Widya Putri Esmeralda,” lanjutnya dengan kekehan.


“Idih ... narsis!” Widya merotasikan matanya, tetapi tetap tersenyum.


“Yah ... jadi aku bukan kesayangan kamu, dong.” Nathan berkata dengan ekspresi yang dibuat sedih.


Widya yang merasa gemas dengan ekspresi wajah Nathan menghentikan langkah kakinya kemudian berdiri tepat di hadapan pria itu dan menangkup wajah tampan Nathan dengan telapak tangannya. “Iya ... iya .... Nathan Putra Lesmana, satu-satunya pria tampan kesayangan aku setelah Ayah.”


"Nggak satu-satunya, dong, kalau gitu." Nathan memberenggut, pura-pura merajuk. Namun, tidak bisa dipungkiri jika dirinya merasa bahagia mendengar itu dari bibir Widya langsung.


"Dih, masa cemburu sama Ayah?" sergah Widya. Keningnya berkerut tidak percaya.


Nathan melebarkan senyum, lalu meraih tangan gadisnya dan menggenggamnya dengan erat.


“Aku cuma bercanda. Yuk, ke kantin! Denger kata-kata manis kamu barusan bikin perut aku jadi lapar.” Dengan perasaan bahagia Nathan membawa Widya menuju kantin. Mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan.


“Idih, gaje banget, sih! Bilang aja kalau kamu emang lapar.” Widya tersenyum melihat kelakuan absurd kekasihnya.


“Sayang, nanti temani aku cari kado buat Mama, ya,” pinta Nathan pada kekasihnya.


“Hari ini Mama Liana ulang tahun?” tanya Widya yang hanya dijawab senyum dan anggukan dari Nathan.


“Ih, kok, kamu nggak ngomong dari kemaren-kemaren, sih?” Widya memukul lengan Nathan kesal, karena baru diberi tahu tentang hari ulang tahun Liana hari ini. Kalau ia tahu dari kemarin, ia berencana untuk membuatkan kue untuk mama kekasihnya itu.


“Nathan.” Devina memanggil Nathan dengan suara nyaring sehingga membuat perhatian orang yang berada di kantin terpusat padanya, termasuk perhatian Harsa, Edo, Zakir, Karin, dan Kartika. Kebetulan mereka juga berada di sana.


Nathan yang terkejut karena kehadiran Vina, seketika melepaskan genggaman tangannya dari Widya. Vina sengaja datang ke kampus Nathan karena ingin bertemu dengan Nathan, sekaligus menunjukkan dirinya kepada teman-teman Nathan.


“Vina ...,” gumamnya lirih, tetapi masih dapat didengar oleh Widya.


Vina yang melihat keterkejutan Nathan beranjak dari duduknya, kemudian menghampiri Nathan memeluk pria itu dengan eratnya.Nathan yang baru tersadar dari keterpakuannya melerai pelukan Vina.


“Vin, ini Indonesia, bukan Singapura. Kamu nggak boleh asal main peluk!” ucap Nathan lembut yang dijawab dengan anggukan dan senyum cerah dari Vina.


“Maaf, aku lupa." Vina terkekeh malu, "Yuk, duduk di sana!” ajak Vina menuju ke tempatnya. Namun, segera ditolak oleh Nathan.


“Kita duduk di sana aja,” tunjuk Nathan pada meja yang diisi ke lima sahabatnya.


“Nanti aku kenalin sama sahabat-sahabat aku,” lanjutnya, kemudian berjalan menuju meja yang sudah diisi oleh Harsa, Edo, Zakir, Karin dan Kartika. Meninggalkan Widya yang terpaku karena kehadiran Vina. Namun, setelah berjalan beberapa langkah, Nathan pun tersadar kalau Widya tertinggal di belakang.


“Sayang, ayo! Kok, kamu diam aja, sih?” Nathan menoleh memanggil Widya, tetapi mata Widya masih fokus pada tangan Vina yang bergelayut manja di lengan Nathan.


Widya tersenyum perih mengikuti langkah Nathan menuju meja. Namun, setelah sampai di meja, ketika Widya ingin duduk di sebelah Nathan, Vina langsung menyerobot duduk di bangku yang dipilih oleh Widya. Pun mau tidak mau Widya mengalah memilih untuk duduk di antara Karin dan Kartika yang jaraknya agak berjauhan dari Nathan. Hal itu tidak luput dari perhatian Karin dan Kartika yang merasa kesal melihat kelakuan Vina.


“Guys, kenalin ini Vina! Sahabat gue dari kecil.” Nathan memperkenalkan Vina kepada kelima sahabatnya.


“Hay. Aku Vina, salam kenal, ya.” Vina memperkenalkan dirinya dengan sangat manis.

__ADS_1


Setelah perkenalan singkat yang dilakukan Vina, gadis itu tetap bergelayut manja pada lengan Nathan tanpa memikirkan perasaan Widya yang terluka karena ulahnya. Pun kelima sahabat itu berpandangan dan prihatin terhadap Widya.


“Ada apa kamu ke sini, Vin?” tanya Nathan lembut.


“Kenapa bahasa yang digunakan Nathan, 'aku kamu', bukan 'lo gue' pada Vina? Biasanya Nathan nggak pernah berkata formal sama sahabatnya. Apakah mereka mereka benar-benar sedekat itu?” batin Widya.


“Nath, hari ini tante Liana ulang tahun, 'kan? Aku mau ngajakin kamu cari kado buat tante Liana.” Vina memang sengaja ingin menunjukan kepada semua orang terutama Widya kalau dia begitu mengenal keluarga Nathan.


“Aku habis dari kampus rencananya mau langsung ke mall. Mau cari kado buat Mama. Iya, 'kan, Sayang?” Nathan mengarahkan pandangannya pada Widya meminta persetujuan, yang hanya dijawab anggukan dan senyum manis Widya yang selalu membuat hati Nathan tenang saat melihatnya.


Berbeda dengan Vina yang meremas pinggiran dress floral-nya karena kesal mendengar panggilan sayang Nathan pada Widya.


“Ya, udah. Kalau gitu kita pergi bareng aja. Nggak papa, 'kan, Wid?” tanya Vina pada Widya.


“Iya, Sayang, nggak papa, 'kan, kalau Vina ikut bareng kita? Kasihan, Vina belum tau daerah Jakarta.” Nathan menambahkan.


“Iya, nggak papa, kok. Jadi kita bisa have fun bareng.” Widya berkata tenang walau hati rasa teriris. Sedangkan kelima sahabatnya hanya bisa jadi penonton tanpa bisa berkomentar apa-apa.


...****...


Setelah berpamitan pada kelima sahabatnya, Nathan, Widya, dan Vina pergi menuju Mall terbesar di Jakarta untuk mencari kado buat Liana


“Sayang, kira-kira Mama kita belikan kado apa, ya?” tanya Nathan pada Widya.


“Gimana kalau kita belikan tas aja? Soalnya, 'kan, Mama sering nemenin Papa perjalanan bisnis, dan Mama juga suka ngumpul sama teman-teman arisannya." Widya memberikan saran. Dia ingat, jika Liana memang pernah bercerita kalau ia sering menemani Daniel untuk perjalanan bisnis serta bercerita tentang teman-teman arisannya.


Namun, setelah sampai di depan toko tas branded saran Widya ditepis oleh Vina.


“Kalau saran aku, sih, Nath. Kayaknya kita beliin tante Liana perhiasan mewah aja, deh. Kamu ingat nggak waktu kita SMP? Kamu pernah ngasih tas ke tante Lian, aku nggak pernah, tuh, lihat tante Lian pakai tas itu, bahkan saat perjalanan bisnis atau ketemu Mama aku yang juga teman sosialitanya aku nggak pernah lihat tante pakai tas itu. Takutnya tas yang kamu beli nggak sesuai sama seleranya dia.” Vina berusaha menggagalkan rencana Nathan untuk membelikan Liana tas, karena rencana itu adalah idenya Widya. Sebenarnya Vina tahu alasan Liana tidak pernah memakai tas itu. Karena tas itu adalah hadiah pertama dari putra kesayangannya. Liana takut merusak hadiah dari putranya. Maka dari itu Liana memilih memakainya pada moment tertentu saja.


Setelah mendengar penjelasan dari Vina yang dirasa benar oleh Nathan. Lelaki itu mengajak Widya dan Vina menuju toko perhiasan yang berada di mall tersebut.


“Sayang, Vina bener. Kita beli perhiasan aja, ya?" Widya mengangguk seraya tersenyum kaku. "Ehm ... menurut kamu, kita belikan perhiasan apa, ya, untuk Mama? Di sini modelnya banyak banget,” tanya Nathan pada gadisnya.


“Belikan Mama kalung aja, Nath! Mama pasti cantik kalau pakai kalung dari kamu,"


“Jangan!” cegah Vina cepat. “Tante Lian lebih cantik kalau pakai cincin berlian. Tante Liana, 'kan, wanita sosialita, bukan perempuan kampungan. Jadi, lebih cocok pakai cincin berlian." Vina sengaja menekan kata ‘kampungan', agar Widya tahu kalau sebenarnya gadis itu tidak pantas berada di samping Nathan. Hanya dia yang pantas berada di sisi Nathan Putra Lesmana.


“Iya, bener. Mama memang lebih cantik dan lebih suka kalau memakai cincin berlian," ujar Nathan sambil memperhatikan etalase perhiasan.


Vina yang merasa Nathan mengikuti sarannya tersenyum samar, mengejek ke arah Widya. Sementara Widya hanya dapat mengembuskan napas berat.


“Sabar, Wid! Vina begitu karena dia lagi patah hati, lagipula dia memang sudah kenal keluarga Nathan sejak kecil. Wajar kalau pacar kamu lebih membenarkan perkataan dia.” Widya bermonolog pada dirinya sendiri. Berusaha menepis perasaan kesal dan rasa cemburu yang menderanya saat ini.



...***...


Satu kata buat Vina, gengs. 🙄

__ADS_1


__ADS_2