Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 97.3


__ADS_3

...***Klik like dulu, Gengs 👉👍***...


...Happy Reading...


...***...


“Oh, kirain kamu ke sana sendirian. Iya, Harsa setiap minggu memang selalu mengunjungi Nathan.” Arini lega dengan jawaban putrinya.


“Loh, Bunda, kok, tahu?” Widya memicingkan mata meminta penjelasan.


“Sudah beberapa kali ayah bertemu Harsa di makam, Sayang,” jawab Arini yang masih fokus dengan tanaman hiasnya.


“Oh, gitu, ya. Oya, Bun, Minggu depan Edo ngajak Widya dan teman-teman liburan ke Lombok. Edo bilang dia ingin merayakan keberhasilan proyeknya bersama kita. Widya ikut boleh nggak, Bun?” lirih Widya takut tidak mendapat izin dari Arini. Arini terkejut dan segera menatap putrinya.


“Tentu boleh, Sayang. Justru bunda merasa bahagia jika Widya mau ikut bersama mereka,” jawab Arini dengan mata berkaca-kaca menahan kebahagiaan. Sungguh ini merupakan keajaiban yang tidak pernah Arini duga sebelumnya.


“Selamat pagi, Tante.” Suara dari arah gerbang mengalihkan perhatian kedua perempuan itu.


“Selamat pagi, Harsa,” jawab Arini dengan senyum khasnya. “Kalian mau mengunjungi Nathan?” tanya Arini begitu Harsa tiba di dekat mereka.


“Iya, Tan. Harsa ajak Widya, boleh?” Harsa balik bertanya meminta izin kepada bunda yang selama ini merawat Widya.


“Tentu saja boleh. Bahkan dengan senang hati. Oya, apa benar minggu depan kalian mau ke Lombok?” tanya Arini.


“Iya, Tan. Maaf semalam belum sempat cerita ke Tante karena sudah larut,” jawab Harsa dengan nada penyesalan.


“Nggak papa, tante paham, kok. Nak Harsa juga ikut, kan?” tanya Arini lagi.


“InsyaAllah, Tan,” jawab Harsa dengan senyum manisnya.

__ADS_1


“Alhamdulillah. Tante tenang jika Harsa juga ikut. Besok tolong jaga Widya selama di sana, ya!” pinta Arini. “Oya, sampai lupa. Ayo, masuk dulu! Tante bikinin teh.” Arini segera mencuci tangan dengan air kran yang berada di dekatnya.


“Nggak usah, Tan. Nanti saja Harsa ke sini lagi. Sekarang Harsa mau langsung berangkat, ya. Ayo, Wid!” tolak Harsa sopan. Widya pun segera bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah Harsa.


“Hati-hati, ya. Sampaikan salam ayah dan bunda untuk Nathan!” seru Arini setelah Harsa dan Widya berpamitan.


...*** ...


Suasana makam yang tidak terlalu ramai di pagi ini menjadi pilihan Harsa, dengan harapan Widya akan lebih leluasa meluapkan segala emosi yang ia pendam selama ini. Harsa melihat setitik keraguan di mata Widya untuk melangkah memasuki makam. Harsa tersenyum menatap bola mata Widya yang selalu indah. Mencoba mengalirkan energi positif dari tiap gelombang yang terpancar dari sorot matanya.


“Ayo! Nathan sudah lama merindukan kehadiran lo. Lo pasti bisa,” ucap Harsa yang dibalas anggukan kepala Widya.


Mereka beriringan menyusuri jalan setapak yang bertaburan bunga kamboja. Aroma menyeruak yang berasal dari bunga tersebut seakan menjadi aroma terapi untuk Widya. Mereka bersimpuh di samping kanan makan Nathan. Widya meletakkan buket bunga yang mereka beli sebelum tiba di makam, di samping pusara bertuliskan Nathan Putra Lesmana. Harsa memimpin doa yang mereka panjatkan untuk Nathan.


“Assalamualaikum, Nath. Sesuai janji gue, hari ini gue ajak Widya. Lo menunggu kedatangan Widya, ‘kan? Oya, ayah dan bunda nitip salam buat lo. Mereka tidak bisa datang bareng kita. Kabar lo baik-baik saja, ‘kan? Lo sekarang bisa tenang. Lihat! Widya sudah baik-baik saja, dia sudah bisa datang mengunjungi lo,” ucap Harsa pada pusara Nathan, lalu beralih kepada Widya.


“Wid, gue tunggu lo di sana, ya. Mungkin ada sesuatu yang mau lo sampaikan ke Nathan.” Harsa menunjuk ke sebuah pohon yang berjarak sekita lima meter dari tempat mereka saat ini. Widya mengangguk sebelum Harsa meninggalkannya.


“Aku kangen kamu, Nath.” Hanya itu yang mampu Widya ucapkan.


Selebihnya, Widya hanya menangis menumpahkan segala kerinduannya selama ini. Sekitar lima belas menit Widya menangis di samping pusara Nathan. Dengan sabarnya Harsa menunggu Widya dengan tatapan iba. Ingin sekali ia merengkuh Widya dalam peluknya. Memberi kekuatan pada gadis yang selama ini masih bertahta dalam hatinya.


“Ayo, pulang, Sa!” ucap Widya yang sudah berada di sampingnya, mengagetkan Harsa dari lamunannya. Harsa melepas kacamata hitamnya dan menyimpan dalam saku bajunya. Ia tersenyum.


“Ayo!” balas Harsa yang melihat Widya jauh lebih baik dari sebelum ia tiba di makam.


Sesampai di dalam mobil, Harsa mengulurkan air mineral yang ia beli dari warung di dekat makam. Widya menerima dan segera meminumnya.


“Ini buat lo, Wid,” ucap Harsa mengasongkan sebuah kotak berwarna kuning.

__ADS_1


“Ini apa?” tanya Widya menerima kotak tersebut.


“Bukalah!” jawab Harsa tersenyum.


Perlahan Widya membuka kotak tersebut. Widya heran melihat kalung dengan liontin bentuk hati di dalamnya.


“Maksudnya apa, Sa?” tanya Widya heran.


“Buka liontinnya!” lirih Harsa. Widya tidak menundanya, ia segera membuka liontin tersebut. Seketika pandangannya kembali berkabut disusul buliran-buliran lainnya mengalir membasahi pipinya. Dalam liontin tersebut, terpasang wajah Widya dan Nathan.


“Pakailah! Meskipun Nathan sudah tidak ada di samping lo, tapi dia dekat dengan hati lo. Ingat! Lo tidak sendiri. Kita semua ada di samping lo. Selalu ada buat lo. Begitu pun Nathan. Meski dia sekarang tidak bisa ada buat lo, tapi dia tetap bersama lo. Semua kenangan Nathan selalu ada bersama kita semua. Menangislah, biar hati lo terasa bebas! Keluarkan semua sesak yang menyiksa lo selama ini! Apa perlu pinjam bahu gue? Gratis, kok, nggak dipungut biaya sepeser pun,” ucap Harsa sedikit mengulas senyum.


Widya yang kembali menangis tiba-tiba tersenyum mendengar banyolan Harsa. Mau tidak mau Widya segera mengusap air matanya.


“Makasih, ya, Sa. Mungkin sudah saatnya buat gue untuk menerima kenyataan,” lirih Widya membuat Harsa tersenyum.


“Sama-sama. Kita semua merindukan senyum lo seperti dulu. Kita semua berjuang untuk melupakan kesedihan. Lo tahu? Beberapa waktu yang lalu Mama Liana juga sempat masuk rumah sakit gara-gara tensinya tinggi. Sekarang beliau sudah mengikhlaskan kepergian Nathan. Mama Liana sadar masih ada si Kembar yang harus beliau perhatikan. Masih ada Papa Daniel yang membutuhkan dukungannya. Dan elo, masih ada ayah dan bunda yang menanti lo. Elo adalah satu-satunya harapan dan hidup mereka. So, mulai sekarang tersenyumlah! Kita sama-sama melewati masa sulit ini. Sekarang kita mau ke mana?” tanya Harsa.


Widya berpikir sejenak. Benar kata Harsa. Mama Liana lebih terpukul atas kepergian Nathan. Widya merasa bersalah mengabaikan hal ini hingga beliau sakit pun ia tidak tahu.


“Mau mengantar gue ke rumah mama Liana?” tanya Widya.


“Dengan senang hati, Tuan Puteri,” jawab Harsa dengan tawanya.


Siang ini mereka melaju menuju kediaman Nathan. Sekali lagi Widya harus menyiapkan hati untuk melihat kembali semua kenangannya bersama Nathan. Widya telah melalui berbagai tahap rasa kehilangan. Mulai dari rasa kehilangan yang mendalam hingga marah yang berkepanjangan. Berkat dukungan dari orang-orang di sekelilingnya, Widya berhasil melalui tahap berikutnya. Hingga saat ini Widya berada dalam tahap untuk menerima dan mengikhlaskan. Meski untuk tahapan ini Widya masih memerlukan bantuan orang lain, tetapi setidaknya ada harapan untuk Widya kembali seceria dulu.


Dalam benaknya sudah tertata apa yang ingin ia lakukan ke depannya. Bertemu dengan Liana dan melakukan banyak hal bersama Karin dan Kartika di Lombok. Widya menghela napas panjang ketika mobil Harsa mulai memasuki pelataran rumah Nathan.


...***...

__ADS_1


To be continued ....


Gimana Readers? Masih mau Nathan kembali?


__ADS_2