Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 119.1


__ADS_3

...***...


...***Happy Reading***...


...***...


Setelah Harsa dan kedua orang tuanya pulang, Widya lekas menghubungi Liana untuk menginformasikan kabar tentang rencana pertunangannya dengan Harsa.


“Selamat, ya, Sayang. Maaf, untuk minggu depan sepertinya mama belum bisa datang ke acara pertunangan kamu, tapi doa mama selalu yang terbaik buat kamu,” terang Liana di seberang sana.


Masih tak ada yang berubah. Liana meminta Widya untuk tetap memanggilnya mama dan papa untuk Daniel meski mereka gagal menjadi satu keluarga, tetapi Liana sudah menganggap Widya seperti putrinya sendiri. Nada suara Liana terdengar penuh kekecewaan karena tidak bisa hadir di acara spesial Widya.


“Nggak papa, Ma. Widya ngerti. Ini semua juga terlalu mendadak.”


“Pokoknya kamu harus bahagia, ya, Sayang. Mama nggak mau lihat kamu sedih lagi. Sudah saatnya kamu melanjutkan hidup. Mama, papa, dan si kembar akan selalu menganggap kamu keluarga. Kamu sudah seperti anak mama. Kami akan terluka kalo lihat kamu sedih.” Terdengar isak tangis di seberang sana.


“Mama jangan nangis,” pinta Widya.


“Mama nangis bahagia, Sayang. Akhirnya, kamu mau melanjutkan hidup. Jujur saja, di sini mama selalu kepikiran kamu. Mama akan merasa bersalah pada Nathan jika tidak bisa menjaga kamu. Kami semua di sini sayang kamu, Nak.”


“Widya juga sayang Mama, papa, dan si Kembar.” Kini suara Widya pun takkalah parau. Ia menahan tangis sekuat yang ia bisa. “Makasih sudah menganggap Widya sebagai keluarga Mama,” lanjutnya.


“Kamu akan selalu jadi putri mama, Sayang.”


“Makasih, Ma.”


Setelah berbincang sebentar, akhirnya Widya mengakhiri panggilan teleponnya. Merasa tidak kuat menahan sesak dalam dada. Butiran bening itu sudah jatuh merembas sejak tadi di pipi. “Widya kangen mama, papa, si kembar, juga ... Nathan,” lirihnya sambil mendekap ponsel di dada. “Widya harus apa untuk menuntaskan rindu ini sama Nathan, Ma?” Widya tergugu mengingat sang pujaan hati yang masih setia bersemayam di relung hati terdalam.


Suara ketukan di pintu membuat Widya harus segera menghapus sisa air matanya. Berjalan gontai, Widya membuka pintu kamar.


“Widya ...!” teriak Karin dan Kartika heboh setelah masuk ke dalam kamar. Mereka berdua berhambur memeluk Widya.

__ADS_1


“Akhirnya! Selamat, ya, Sayangnya akuh. Bentar lagi tunangan sama Bang Sa,” ucap Karin sembari mengeratkan pelukannya.


Widya tersenyum kecil menanggapi kehebohan dua sahabatnya. “Makasih, ya, Rin, Tik.”


“Terus kawinnya kapan?” celetuk Kartika saat sudah melepaskan pelukannya pada Widya.


“Nikah dulu, Tik. Ini nyosor kawin aja,” omel Karin sembari duduk di ranjang, diikuti Kartika dan Widya.


“Lah, apa bedanya nikah sama kawin?” pertanyaan polos dari Kartika membuat Karin gemas.


“Ish! Lo itu pura-pura bloon apa bloon beneran?” ejek Karin.


“Serius gue tanya. Karena setau gue kawin, ya, nikah itu,” jawab Kartika dengan polosnya.


Karin langsung saja menonyor kepala Kartika. Umur sudah hampir seperempat abad masih polos juga. Mungkin karena efek tidak pernah pacaran. “Sakit, Rin,” keluh Kartika.


“Makanya pacaran, biar tau bedanya nikah sama kawin,” omel Karin.


“Udah-udah. Malah ribut, sih, berdua,” protes Widya.


“Karin, noh, yang mulai,” sewot Kartika menunjuk pada Karin.


“Ya, elo, gitu aja nggak tahu.”


“Kalian masih mau lanjut ribut?” Widya menatap Karin dan Kartika bergantian, “Kalau masih mau ribut di luar, deh! Berisik kalian,” dumel Widya.


“Idih, yang mau tunangan sensi amat, Buk, kenapa?” tanya Karin saat menyadari raut kesedihan di wajah Widya.


Widya tertunduk. Air matanya tiba-tiba menggenang kembali.


“Wid?” Kartika mengusap lembut punggung Widya. Atmosfer di sana berubah tegang.

__ADS_1


“Gu-gue, kayak ngerasa ngekhianatin Nathan, nggak, sih?” tanya Widya dalam tangis.


Karin dan Kartika kembali memeluk erat Widya. Mereka tentu paham dengan apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu. “Lo nggak boleh ngrasa kayak gitu. Nathan udah tenang di Surga. Lo yang masih hidup ini tetap harus melanjutkan hidup. Masa depan lo masih panjang, nggak harus stuck sama Nathan yang udah pergi,” ucap Kartika setelah beberapa saat keheningan menyelimuti.


“Yang dikatakan Tika bener, Wid,” timpal Karin.


Mereka berdua kembali meyakinkan Widya yang terlihat ragu akan rencana pertunangan yang akan dilakukan seminggu lagi. Hingga akhirnya Widya kembali yakin dengan keputusannya.


...***...


Hari yang ditunggu pun tiba. Rumah Widya sudah terlihat ramai meski tidak banyak tamu yang diundang. Ruang tamu sudah didekorasi dengan begitu indah. Bunga-bunga bertaburan di setiap sudut ruangan. Bunga lili dan mawar putih mendominasi di panggung kecil. Panggung yang nanti akan menjadi tempat di mana Widya dan Harsa bertukar cincin.


Pukul sembilan pagi rombongan keluarga Harsa tiba di kediaman Widya. Tampak binar bahagia di wajah Evi dan Rendra. Begitu juga Harsa yang kini tengah berdiri gagah diapit oleh Edo dan Zakir. Harsa menggunakan kemeja batik berwarna tosca sesuai dengan warna kebaya yang dikenakan oleh Widya.


Sesaat setelah memasuki rumah, netra Harsa menyapu seluruh ruangan mencari sosok yang begitu ia cintai.


“Masih di atas, tenang aja. Calon tunangan kamu nggak kabur, kok,” celetuk Bowo yang seketika mengundang gelak tawa semua yang hadir di acara itu.


“Udah nggak sabar rupanya,” timpal Rendra.


“Apaan, sih, Pa.” Harsa terlihat salah tingkah. Saat Widya dipanggil turun, jantung Harsa berdetak di atas normal. Apalagi saat melihat Widya yang terlihat begitu cantik melangkah ke arahnya, diapit oleh Kartika dan Karin. Rambut Widya disanggul cantik dan membiarkan beberapa helai bagian depan jatuh menjuntai membuat Widya terlihat semakin anggun.


Acara tunangan ini benar-benar membuat Widya dan Harsa seakan bakal mati perlahan. Bagaimana tidak, jantung mereka berdua berdetak lebih cepat dari biasanya. Hingga acara inti tiba, semakin membuat Widya seolah berhenti bernapas. Kini, Widya dan Harsa tengah berdiri di atas panggung kecil itu ditemani oleh Arini dan Evi.


“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap Harsa dengan gugup. Ia menarik panjang napasnya serta mengeluarkan dengan perlahan sebelum melanjutkan kalimatnya.


“Wid?” Panggilan Harsa membuat Widya yang sedari tadi menunduk kini menatap sang calon tunangan. “Aku tahu, aku bukanlah manusia sempurna. Banyak kekurangan dalam diriku yang mungkin bisa saja menyakiti dan membuat kamu kecewa. Tapi, Wid, aku harap kamu percaya satu hal, bahwa cintaku hanya untukmu. Dulu, sekarang, dan nanti. Kupastikan itu,” tegas Harsa sembari menatap Widya dengan lekat. Harsa mencoba mengatur detak jantungnya yang bertalu-talu sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.


“Wid, Aku tak mampu menjanjikan surga untukmu jika kelak kau menjadi istriku, tapi aku akan selalu berusaha untuk menghadirkan bahagia untukmu. Jadi, Widya Putri Esmeralda, maukah kau mendampingiku untuk meraih surga itu? Berjalan beriringan denganku, menghabiskan sisa hidupmu bersamaku dengan menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku?” Harsa berlutut di hadapan Widya dengan menyerahkan sebuket bunga lili.


...***...

__ADS_1


...To be Continued...


__ADS_2