Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 69


__ADS_3


...***...


“Benarkah kamu di sana tersiksa dengan perpisahan ini? Tapi, bukankah ini yang kamu inginkan, Nath? Apa kamu tahu, jika aku jauh lebih terluka dengan semua yang terjadi,” gumam Widya sembari menghapus butiran bening yang tiba-tiba membasahi pipi.


Tangannya bergerak mengambil ponsel yang berada di atas nakas. Ia menggulir layar ponselnya, hingga muncul gambar seseorang yang masih bertahta di hatinya. Ia memandang sendu wajah tengil itu.


Senyum bahagia yang dulu pernah terukir antara mereka berdua kenapa sekarang berubah menjadi ratapan duka? Dalam foto itu, Widya dan Nathan tampak begitu mesra. Di mana Nathan memeluk Widya dari belakang dan mereka saling menatap penuh damba. Senyum lebar yang mereka suguhkan, membuktikan bahwa bahagia tengah mereka rasa.


“Bohong, jika aku tidak peduli padamu. Bohong, jika kukatakan aku tak lagi mencintaimu. Karena nyatanya, cinta ini masih teramat besar untukmu, hingga membuatku sesak menahan rindu. Tapi aku bisa apa, Nath? Luka yang kamu torehkan juga tak kalah besarnya dan rasanya begitu sakit. Bukan karena Vina, tapi lebih pada sikapmu sendiri yang tak percaya padaku dan tak lagi peduli padaku. Hingga membuat aku berpikir, cinta yang kamu berikan hanya angan semu.” Widya mengusap lembut layar ponselnya seolah tengah mengusap wajah Nathan. “Biarkan takdir yang membawa kita kembali jika memang kamu adalah jodohku. Untuk sekarang, mungkin lebih baik kita saling introspeksi diri,” lanjutnya bermonolog.


Lama memandangi layar ponsel, membuat mata Widya terasa perih dan tanpa sadar terpejam. Ia tertidur dengan mata yang basah karena tangis.


...***...


Sepulang dari rumah Widya, hati Vina terasa lebih lega, seakan ia tak lagi menanggung beban berat. Wajahnya lebih berseri daripada kemarin. Langkah selanjutnya, ia akan berusaha menemui Nathan dan meminta maaf atas apa yang telah terjadi. Karena menurut Exel, Nathan sudah mengetahui apa yang ia lakukan pada Widya saat ia mabuk malam itu.


Langkahnya terhenti saat berada di depan apartemen. Seorang lelaki jangkung nan tampan tengah bersandar di samping pintu apartemennya. Senyumnya yang menawan menular begitu saja pada Vina.


“Kelihatannya bahagia sekali? Udah baikan sama Nathan?” selidik lelaki jangkung itu.


Vina menggeleng, kemudian membuka pintu, “Masuk!” ajaknya.


Lelaki jangkung yang tak lain adalah Exel segera mengekori langkah Vina. Setelah Exel duduk di sofa, Vina mengambilkan sekaleng minuman dingin dan menyuguhkan untuk Exel. “Aku baru pulang dari rumah Widya,” ucapnya santai.


Exel memicing menatap Vina. Menunggu kelanjutan dari kalimat Vina. Setelah beberapa saat, Vina mulai bicara kembali. “Apa yang kamu katakan kemarin memang benar. Aku yang jahat di sini. Aku terobsesi untuk memiliki Nathan dan tidak membiarkan dia bahagia bersama orang yang kini sudah menguasai hatinya. Aku terlalu naif. Berpikir jika Nathan masih mencintaiku dan bersedia kembali padaku, setelah apa yang aku lakukan dulu padanya. Apalagi sekarang, aku malah membuatnya semakin membenciku.” Vina menarik napas panjang dan menghembuskan dengan kasar. Hatinya masih terasa sesak jika ia belum mendapatkan maaf dari Nathan.

__ADS_1


“Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanya Exel.


“Aku sudah meminta maaf pada Widya dan memintanya kembali pada Nathan. Besok, aku akan menemui Nathan kembali untuk minta maaf dan menjelaskan semua padanya.”


“Apa kamu yakin Nathan bersedia menemui kamu?”


“Aku akan berusaha sebisaku. Bagaimanapun, kesalahan yang aku lakukan padanya sangat besar. Aku nggak berharap dia mau memaafkan aku setelah apa yang aku lakukan, tapi setidaknya aku sudah meminta maaf,” ujarnya sendu.


Tersirat sebuah penyesalan di mata indah milik Vina. “Good, girl! Aku bangga sama kamu. Kamu mau mengakui kesalahan kamu dan mau memperbaikinya.” Exel mengusap lembut pucuk kepala Vina, membuat Vina tersenyum masam.


“Aku bukan gadis yang baik, Xel. Aku adalah orang yang jahat dan sahabat terburuk yang pernah Nathan miliki. Kesalahanku pada Nathan teramat besar.”


“Tapi buat aku, kamu tetap gadis yang baik. Aku mencintai kamu, Vin. Bahkan sangat menyayangi kamu. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Termasuk aku. Sama seperti kamu yang ingin memperbaiki kesalahanmu, begitu juga aku. Aku juga ingin memperbaiki kesalahanku sama kamu. Beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku, Vin!” pinta Exel tulus.


Sepasang mata itu saling memandang. Mencari jawaban dalam pancaran netra yang begitu menawan hati. Exel meraih tangan Vina, menggenggamnya erat. “Bukankah setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua, Vin? Sama seperti Nathan yang memberikan kesempatan kedua untukmu menjadi sahabatnya, tidak bisakah kamu memberiku kesempatan untuk membuktikan aku layak untukmu?”


Butiran bening meluncur begitu saja dari netra indah milik Vina. Ia begitu terharu dengan apa yang dikatakan oleh Exel. Bibirnya terkatup rapat. Hanya air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Perlahan Exel menakup wajah mungil Vina dengan kedua tangannya yang besar. Menghapus lelehan bening itu dengan ibu jarinya. “Jangan menangis, Vin! Aku sungguh menyesal dan aku minta maaf telah menyakitimu.” Exel membawa Vina dalam pelukannya. Mendekapnya erat sembari menciumi pucuk kepala Vina.


“Aku jahat banget, Xel. Aku datang ke Indonesia hanya untuk menghancurkan sahabatku sendiri. Aku sudah membuat hidup Nathan menjadi berantakan. Aku tak pantas mendapatkan maaf darinya, bukan?” tanyanya di sela isak tangisnya.


“Beri Nathan waktu untuk menyembuhkan kekecewaannya padamu. Akan aku bantu bicara pada Nathan jika diperlukan.”


“Jangan, Xel. Kekacauan ini aku yang membuatnya. Aku sendiri yang akan menyelesaikannya, meski aku tak yakin semua akan mudah.” Vina melerai pelukannya dari Exel dan memandang sendu wajah Exel.


“Nathan orang yang baik. Aku yakin, dia akan memaafkan kamu.” Vina mengangguk ragu. Ia tak yakin itu terjadi. “Jadi, kita kembali ke Singapura setelah kamu berbicara pada Nathan?”


Lagi, Vina mengangguk dengan ragu. Mungkin dengan kepergiannya Nathan bisa kembali pada Widya, dan dengan begitu Nathan akan memaafkannya.

__ADS_1


...***...


Pagi ini langit begitu cerah. Tidak tampak sedikit pun awan putih yang bergelayut manja. Widya berangkat ke kampus bersama dengan Karin dan Kartika. Tanpa ia duga, pandangannya beradu dengan sosok yang terlihat begitu mengenaskan saat keluar dari mobil milik Karin. Ternyata sebelah mobil Karin yang terparkir adalah mobil milik Nathan.


Nathan-nya tampak tak terurus. Rambutnya acak-acakan. Ada lingkaran hitam di kedua matanya, menandakan jika ia kurang tidur. Tubuhnya terlihat semakin kurus. Ada rasa sakit di hati Widya melihat penampilan Nathan yang begitu berantakan pasca putus darinya.


“Hai,” sapa Nathan.


“Hai.” Widya balik menyapa dengan canggung.


Sesaat mereka hanya saling pandang hingga suara Karin menginterupsi, “Panas, nih! Kalian mau pandang-pandangan terus di sini?”


Kartika mengulum senyum melihat tingkah Widya dan Nathan yang salah tingkah. Nathan yang mengusap tengkuknya dan Widya yang langsung menundukkan pandangan sambil memilin jarinya.


“Bisa kita bicara?” tanya Nathan.


“Ehm, maaf, Nath. Aku buru-buru.” Widya mengambil langkah seribu, pergi begitu saja meninggalkan Nathan, Karin, dan Kartika.


“Dasar, bocah!” gerutu Kartika.


“Kita duluan, Nath.” Karin dan Kartika meninggalkan Nathan yang tersenyum masam.


“Ternyata kamu masih menghindariku, Yang. Apa kamu tahu, hukuman ini terasa begitu menyakitkan saat aku tak lagi bisa bicara dan bercanda denganmu. Tapi tak mengapa, aku akan terima hukuman ini hingga kamu lelah menghukumku. Karena aku tahu, rasa sakit yang aku berikan jauh lebih menyakitkan. Aku akan setia menunggumu mencabut hukuman ini dan kembali padaku. Aku yakin cinta kita masih begitu besar hingga tak dapat dipisahkan," batin Nathan sembari melihat punggung Widya yang semakin menjauh dari pandangannya.


Lamunan Nathan buyar seketika saat suara seseorang mengusik indra pendengarannya. “Sial!” gerutunya.


...***...

__ADS_1



Dukung terus author, ya 🤗


__ADS_2