Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 107.2


__ADS_3

...***Happy Reading***...


...***...


“Wid …,” panggil Ayu.


“Eh, maaf malah jadi melamun. Untuk hal itu aku kurang yakin. Kamu tahu, ‘kan, kalau Harsa orangnya tertutup. Apalagi untuk masalah pribadi seperti itu.” Hanya itu yang dapat Widya ucapkan.


Sorot mata kecewa dari Ayu sangat terlihat jelas. Meski gadis itu berusaha untuk tersenyum, tetapi sebagai sesama perempuan Widya dapat merasakan isi hatinya. Selanjutnya mereka sibuk kembali dengan pekerjaannya. Hingga tak lama kemudian Harsa melewati meja mereka menuju ke ruangannya.


“Gambarnya sudah selesai, Wid?” Harsa menghentikan langkahnya ketika tiba di depan meja Widya.


“Sudah, Pak,” jawab Widya sopan. Bagaimanapun Harsa adalah atasannya di kantor ini. Widya berusaha untuk bersikap profesional.


“Oke, gue tunggu di ruangan.” Harsa berlalu tanpa menunggu jawaban Widya.


Widya melirik Ayu yang masih menatap punggung Harsa. Terlihat dari sorot matanya betapa Ayu mengagumi Harsa. Widya menarik napas dalam sebelum ia bangkit menuju ruangan Harsa. Setelah mengetuk pintu dan mendapat jawaban dari Harsa, Widya pun masuk ke ruangan kedua sahabatnya. Widya melangkah mendekati Harsa dan menyerahkan flashdisk yang berisi gambar desainnya. Sesaat Harsa terdiam mengamati hasil rancangan Widya, dan bertanya beberapa hal yang belum ia pahami.


“Kenapa memakai bahan kayu untuk railing tangganya, Wid? Bukankah lebih awet jika menggunakan bahan besi?” tanya Harsa.


“Kayu akan terlihat lebih indah untuk hunian dengan tema alam. Selain harga yang murah dan perawatan yang mudah, bahan kayu akan lebih mudah dibentuk sehingga lebih menghemat waktu pengerjaannya. Lagi pula ini sesuai permintaan klien yang menghendaki railing tangganya disesuaikan dengan ruang makan yang semua bahannya memakai kayu, Pak,” terang Widya.


Harsa mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Widya. Bukan karena paparannya, tetapi lebih kepada intonasi bicaranya. Tidak biasanya Widya seformal itu ketika mereka hanya bertiga dalam ruangan Harsa. Zakir pun merasa aneh dengan sikap Widya.


“Wid, lo udah makan, ‘kan?” tanya Zakir konyol.


“Udah. Memangnya kenapa?” Widya balik tanya.


“Ngapain lo bicara pakek bahasa formal gitu? Aneh gue, dengernya,” ucap Zakir dengan tawa yang tidak bisa ia tahan.

__ADS_1


“Aneh gimana?” ketus Widya. Bibirnya sedikit cemberut karena tidak terima ditertawakan oleh sahabat sekaligus bosnya tersebut.


“Ya, aneh aja. Lo kayak lagi ngomong sama Mr. Kim aja,” terang Zakir.


“Loh, bukannya kita harus menghormati bos kita? Sepertinya saya juga harus membiasakan diri untuk menghormati Anda, Pak Zakir.” Widya tersenyum menyanggah sahabatnya.


“Sudah, sudah. Protes aja kerjaan lo, Zak," hardik Harsa. Lalu beralih lagi pada Widya. "Oya, jangan lupa nanti kita berangkat jam empat untuk survei bahan. Lo boleh kembali, Wid.” Harsa mencoba menetralkan suasana.


Widya berlalu dari hadapan mereka setelah mohon diri kepada kedua atasannya. Sepeninggal Widya, tatapan Zakir langsung tertuju pada Harsa minta penjelasan. Sedangkan Harsa hanya mengedikkan bahunya.


...*** ...


Pukul empat sore, setelah melaksanakan salat Asar di musala kecil yang ada di kantornya, Widya mengikuti langkah Harsa menuju mobil yang terparkir di depan kantor. Lima belas menit mereka menunggu kedatangan Zakir, tetapi orang itu tidak juga menampakkan batang hidungnya. Tentu saja hal itu membuat Harsa sedikit marah karena mereka janji dengan pihak penyedia bahan pukul lima sore.


“Zak, lo ada di mana, sih? Ini sudah jam berapa?” sungut Harsa melalui ponselnya.


[Sorry, Sa. Gue lupa ngabarin. Gue nggak ikut kalian, ini lagi ngurusin mobil Karin yang mogok di jalan.] jawab Zakir dari seberang.


Widya segera masuk dan memasang seatbelt-nya. Perlahan mobil melaju, meski dengan perasaan dongkol akibat kelakuan Zakir, tetapi Harsa mencoba untuk mengerti kondisi sahabat mereka. Jalanan yang belum begitu padat membuat semuanya aman. Lima menit sebelum waktu yang mereka janjikan, Harsa dan Widya sudah tiba di toko yang menyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan Widya. Di sana, Harsa hanya menemani Widya, karena untuk urusan yang satu ini Widya yang lebih paham.


Setelah semua urusan selesai, mereka berdua menuju ke sebuah resto tak jauh dari posisi mereka sekarang. Sekedar makan malam singkat sebelum mereka melanjutkan perjalanan. Harsa kemudian membawa mobilnya menuju rumah Widya. Sepanjang perjalanan, Widya tidak banyak bicara. Ia hanya menjawab pertanyaan Harsa tanpa menambah sepatah kata pun. Tentu saja hal ini membuat Harsa merasa tidak nyaman.


“Wid, lo sakit? Dari tadi kok nggak semangat gitu?" tanya Harsa.


“Enggak,” jawab Widya singkat.


“Ada masalah? Cerita, dong. Jangan bikin gue berpikir yang enggak-enggak!” pinta Harsa.


Widya sejenak terdiam, pikirannya sedang merangkai kalimat yang pas untuk ditanyakan kepada Harsa. “Sa, boleh gue nanya sesuatu? Seandainya lo nggak mau jawab, abaikan saja, deh,” ujar Widya setelah berpikir beberapa saat.

__ADS_1


“Ya udah, tanya aja. Jangan bikin gue penasaran, dong!”


“Kenapa selama ini lo nggak pernah buka hati untuk orang lain? Banyak, loh, yang suka sama lo,” lirih Widya.


“Buka hati gimana?” Harsa masih belum paham ke mana arah pembicaraan Widya.


“Lo ngerasa apa enggak, sih, kalau ada teman di kantor yang suka sama lo?” tanya Widya.


Harsa menggelengkan kepalanya. “Emang siapa yang suka sama gue?” tanya Harsa penasaran.


“Ya ada, sih. Dia bilang jatuh cinta sama lo. Dia nanya ke gue, apa lo sudah punya pacar apa belum,” ucap Widya semakin lirih. Harsa tersenyum melirik Widya. Melihat perubahan mimik wajah perempuan itu ketika bercerita, Harsa jadi berpikir apakah hal ini yang membuat sikap Widya berubah? Mungkinkah Widya cemburu?


“Lo tadi siang makan sama siapa?” tanya Harsa.


“Tadi, ‘kan, gue udah cerita kalau gue makan siang sama Ayu. Eh, kok, malah mengalihkan pembicaraan. Pertanyaan gue belum lo jawab. Kenapa lo nggak buka hati buat orang lain, Harsa?” Widya mengulangi pertanyaannya dengan gemas.


Harsa mengulas senyum tipis. “Sekarang gue yang tanya, apa lo sudah siap untuk melangkah bersama orang lain meski lo tahu Nathan tak mungkin kembali?” Sesaat suasana hening. Widya tak mampu menjawab pertanyaan sepele Harsa yang ia rasa begitu sulit untuk menjawabnya.


“Lo nggak bisa jawab, ‘kan? Gue juga seperti itu. Nggak ada alasan yang bisa kita berikan jika sudah menyangkut perasaan. Mungkin semua itu tidak masuk akal. Tapi begitulah yang terjadi tanpa perlu kita menyampaikan alasannya. Dan gue selama ini sedang berusaha untuk menanti seseorang yang selama ini gue cinta dan semua itu juga tak butuh alasan kenapa gue melakukannya,” terang Harsa lagi.


“Lo mencintai seseorang?” tanya Widya. Tak ayal perkataan Harsa membuat Widya sedikit kecewa. Entah mengapa perasaan tak nyaman hadir di hatinya. Widya hanya merasa tidak rela jika Harsa yang selama ini selalu ada buatnya tiba-tiba saja mencintai wanita lain. Widya tidak bisa membayangkan jika suatu saat akan ada orang lain yang lebih Harsa utamakan selain dirinya.


“Ya, gue sangat mencintainya. Tapi belum saatnya buat gue untuk berkata jujur. Biar semua mengalir seperti air. Untuk saat ini sudah lebih dari cukup bagi gue melihat senyum orang itu. Melihat tawanya ketika kita makan bersama, melihat keceriaannya ketika gue menjemputnya, dan melihat senyum teduhnya ketika dia melambaikan tangan selepas gue mengantarnya pulang.” Harsa tersenyum hangat membayangkan Widya dalam angannya.


“Maksud lo?” Widya tercengang dengan pernyataan Harsa. “Apa itu artinya…” Widya tidak berani melanjutkan kalimatnya ketika sorot matanya bertemu dengan netra indah milik Harsa. Pemuda dengan senyum manis yang selama ini selalu bersamanya.


...***...


...****To be continued**...

__ADS_1


...Hayo, artinya apa? Tunggu besok, ya 😅...


...Jangan lupa tinggalkan jempolnya**. ...


__ADS_2