
...***...
Flasback on
Ruang kelas fakultas Arsitektur Interior masih di penuhi oleh mahasiswa yang sedang menyelesaikan kuis yang diberikan oleh dosen mereka hari ini. Tidak terkecuali Harsa dan Zakir yang merupakan salah satu mahasiswa Arsitektur Interior. Para mahasiswa dengan tenang berusaha menyelesaikan kuis tersebut demi mendapatkan nilai A+. Mereka tidak ingin mengulang mata kuliah tersebut di tahun depan, karena yang mereka tahu, dosen tersebut tidak menerima kekurangan. Tepat pukul 16.00 WIB kelas pun berakhir, Harsa dan Zakir pun berhasil mengerjakan tugas mereka dengan sempurna.
“Sa, cabut, yok! Kita mabar di rumah Edo,” ajak Zakir pada sahabatnya itu.
“Tu anak dari tadi pagi neror gue mulu. Mentang-mentang hari ini nggak ada mata kuliah.” Zakir meluapkan rasa kesalnya untuk Edo kepada Harsa. Pasalnya, Edo yang tidak memiliki mata kuliah hari ini tidak bisa mabar dengan teman-temannya yang biasa ia temui di kampus. Maka dari itu, Edo yang memang sedang sendirian di rumah mewahnya terus saja meneror Zakir dengan mengiriminya pesan.
“Sorry, Zak. Gue nggak bisa. Gue ada urusan hari ini,” tolak Harsa halus pada sahabatnya itu.
“Urusan apa, sih, lo? Lo, 'kan, jomlo akut. Nggak mungkin, lah, lo punya urusan penting. Paling lo mau molor, 'kan?” cecar Zakir yang mulai kesal karena penolakan dari Harsa.
“Eh— Zakir bin Bokir, orang yang nggak kalah jomlo dari gue, yang jomlonya lebih akut dan sebentar lagi jadi zombi. Yang naksir cewek, tapi bisanya cuman nge-ghosting doang. Memangnya hanya orang yang punya pacar aja yang bisa punya urusan. Meski gue jomlo, tapi gue juga punya banyak urusan.” Harsa menjawab sengit pada sahabatnya.
“Sialan lo, ngatain gue nge-ghosting cewek. Gue bukan nggak mau nembak doi, gue cuman belum siap aja kalau harus menerima penolakan.” Zakir berbicara sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Itu juga sama aja, Bokir!” Harsa hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan absurd Zakir.
Pembicaraan mereka pun harus terhenti saat mereka berdua sudah berada di parkiran kampus dan menuju kendaraan masing-masing yang kebetulan mobil mereka berdua terparkir bersebelahan.
“Serius, lo, nggak mau ikut gue ke rumah Edo?” tanya Zakir meyakinkan Harsa lagi. Namun Harsa hanya menggelengkan kepala.
“Memang, lo mau ke mana, sih, Sa?” Zakir selalu penasaran dengan apa yang akan dilakukan sahabatnya itu. Ia takut kalau Harsa akan lebih dulu membuang gelar jomlonya. Maka dari itu ia harus waspada dengan selalu bertanya apakah Harsa sudah move on.
“Gue mau ke taman.” Harsa menjawab sambil membuka pintu mobilnya.
“Mau ngapain lo ke taman? Janjian sama cewek?” tanya zakir lagi.
__ADS_1
“Molor,” teriak Harsa dari dalam mobil yang kacanya masih terbuka. Kemudian meninggalkan Zakir yang masih mengumpatinya dengan kesal.
“Sialan, tu, bocah! Gue ajak main game, eh malah milih molor. Nggak asyik, lo, Sa,” umpatnya sambil melihat mobil Harsa yang mulai menjauh.
Saat ini seorang Harsa Mandala memang sedang memiliki hobi baru yaitu ‘tidur’. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk tidur. Tempat favoritnya untuk tidur saat ini ialah taman, karena ia dapat merasakan ketenangan. Terlebih udara yang dihasilkan oleh pohon-pohon besar itu cukup untuk menghipnotis dirinya untuk segera tidur.
Saat Harsa baru sepuluh menit memejamkan matanya, pria itu mulai mendengarkan suara isak tangis dan luapan kekesalan dari seorang gadis. Gadis yang amat ia kenali suaranya.
Deg!
Degub jantung Harsa memacu begitu cepat saat ia ikut merasakan kepedihan hati gadis yang ia cintai. “Lo pasti bakalan nyesel, Nath. Gue udah cukup mengalah selama ini. Kali ini, saatnya gue berjuang kembali buat dapetin cinta Widya,” batin Harsa. Tangannya mengepal kuat. Gemuruh emosi mulai mengusik hatinya, tetapi ia mencoba untuk tetap tenang.
***Flashback off
Setelah cukup lama Widya menangis di pelukan Harsa. Widya sudah merasa cukup tenang. Walaupun Widya masih menyisakan sedikit isakan, tetapi Widya berusaha untuk kuat seperti apa yang dikatakan Harsa tadi.
“Widya!”
Widya yang terkejut akan kehadiran Nathan sejenak membeku. Kemudian ia melerai pelukannya dengan Harsa. Sebelum ia membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Nathan. Widya menyempatkan diri mengelap sisa air matanya yang masih tersisa di pipi mulusnya, menggunakan saputangan yang dipinjamkan oleh Harsa tadi.
Setelah membalikkan tubuh dan mengembuskan napas kasar, Widya menegakkan wajahnya menatap mata Nathan dengan tatapan nyalang tanpa rasa takut sedikit pun. Yang dibalas tak kalah nyalang oleh Nathan. Nathan saat ini tengah dibakar api cemburu, karena ia baru saja menyaksikan gadisnya sedang berpelukan dengan laki-laki lain dan orang itu adalah Harsa.
“Ada apa lagi, Nath?” tanya Widya datar pada Nathan.
“Kita perlu bicara, Wid!” Nathan mendekat dan menggenggam pergelangan tangan Widya erat sehingga membuat gadis itu meringis.
“Sudah nggak ada lagi yang mau aku omongin sama kamu, Nath. Semuanya sudah jelas dan sudah selesai.” Widya menjawab lirih. Dengan sekuat tenaga gadis itu mengatur nada bicaranya agar tidak terlihat lemah.
“Kenapa, Wid? Apa karena dia?” Nathan menunjuk Harsa. Namun, Harsa tetap bergeming dengan posisinya.
“Kamu meminta putus dari aku, karena kamu masih ada rasa sama Harsa, 'kan? Buktinya, kalian berdua sedang asyik berpelukan,” tuduh Nathan pada Widya.
__ADS_1
Widya yang terpancing karena tidak merasa melakukan apa yang dituduhkan Nathan pun mulai berbicara. Seolah Nathan sedang memutar balikkan fakta.
“Masalah di antara kita, itu bukan karena Harsa. Semua ini nggak ada hubungannya sama Harsa, Nath. Tapi karena orang yang selama ini jadi prioritas kamu, dan orang itu adalah Vina. Kamu lihat aku berpelukan dengan Harsa dan kamu langsung terbakar cemburu. Terus bagaimana dengan aku yang lihat kamu sama Vina sedang bersama? Kalian bahkan berpelukan dan berciuman di foto itu. Apakah itu nggak menyakitkan buat aku? Seharusnya kamu tahu dan sadar gimana perasaan aku, Nath!” Pecah sudah tangis Widya. Gadis itu kembali terisak karena emosinya kembali meluap.
“Sudah aku bilang, aku nggak pernah berpelukan apalagi berciuman dengan Vina. Foto yang kamu tunjukkan itu pasti ulah Cindy. Aku tau gadis itu ingin merebut aku dari kamu. Dan soal Vina, dia sahabat aku. Dia nggak mungkin ngelakuin itu. Lagipula dia nggak punya siapa-siapa di sini selain aku, Wid.” Nathan tak kalah keras membalas ucapan Widya.
“Kamu sekarang berubah, Wid. Kamu bukan seperti Widya yang aku kenal dulu. Widya yang setia dan nggak pernah mendua,” ucap Nathan dengan rahang mengeras.
“Kamu yang berubah, Nath. Kamu yang sudah mengkhianati kepercayaan aku. Kamu yang selingkuh dengan Vina!” teriak Widya dengan air mata yang kian deras membanjiri pipinya.
“Aku nggak selingkuh, Widya. Aku nggak selingkuh!” Nathan mencoba meyakinkan Widya dengan menguncang-guncangkan bahu gadis itu. Sehingga membuat gadis itu lunglai dan merasa lemah.
Harsa yang melihat tubuh lemah Widya yang diguncang oleh Nathan mulai tersulut emosi. Harsa yang tidak terima kalau gadis yang dicintainya merasa tersakiti pun melayangkan tinjunya pada rahang kiri Nathan. Nathan yang tidak terima pun membalas pukulan Harsa. Namun, teriakan keras dari Widya menghentikan semuanya.
“Berhenti! Aku mohon berhenti!” mohon Widya pada Harsa dan Nathan. Keduanya pun terdiam menatap Widya.
“Aku capek, Nath. Aku mau pulang,” ucap Widya lemah.
“Biar aku antar, ya, Wid?” Nathan masih berusaha meraih hati Widya.
“Aku akan pulang dengan Harsa, Nath. Aku lelah, Nath. Aku lelah dengan semua ini. Aku ingin istirahat. Biarkan aku menenangkan hatiku dulu!” pinta Widya.
“Sampai kapan pun, aku nggak bakal biarkan hubungan kita berakhir. Aku sayang sama kamu dan kamu harus percaya sama aku. Kamu hidup aku, Wid,” ujar Nathan dengan lesu. Wajah tampannya terlihat putus asa.
“Terserah kamu, Nath. Aku capek debat sama kamu.” Setelah mengatakan itu Widya meninggalkan Nathan yang terpekur terdiam seorang diri.
...***...
Jangan lupa like dan komentarnya 👍
__ADS_1