Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 29


__ADS_3


...***...


Widya termenung memikirkan kembali ucapan Cindy. Memang selama ini Nathan tidak pernah menceritakan kembali tentang masa lalunya, tetapi cinta pertama tetaplah cinta pertama. Di mana orang akan sulit untuk melupakannya, meski kenangan pahit sekali pun yang ia dapatkan. Sama seperti Widya yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk melupakan cintanya pada Harsa.


Cindy tersenyum puas melihat Widya yang terlihat memikirkan perkataannya. Sebuah kemenangan besar, jika ia mampu menghancurkan hati Widya dan memutuskan kisah asmara Widya dan Nathan. “Jangan harap gue bakal biarin lo bahagia di atas penderitaan gue. Lo mesti ngrasain sakit yang sama, seperti yang gue rasain. Kita akan hancur sama-sama, Wid. Gue nggak bisa dapetin Nathan, begitu juga dengan lo,” batin Cindy.


Senyum penuh kelicikan tersungging di bibir Cindy tanpa disadari oleh Widya. Namun, seketika senyum itu lenyap saat menyadari kehadiran Nathan yang semakin mendekat ke arah kursi mereka. “Eh, Wid, gue cabut dulu, ya!”


Widya segera mengalihkan atensinya kepada Cindy, tetapi Cindy bergegas pergi sebelum Widya sempat memberikan jawaban.


“Dia ngapain deketin kamu?” tanya Nathan sesudah duduk di samping Widya.


“Eh, eng-enggak ngapa-ngapain, kok.” Widya tercekat.


“Jangan bohong! Aku nggak bakal tinggal diam kalo dia macam-macam sama kamu.”


Widya mencoba tersenyum menanggapi ocehan kekasih hatinya, meski hatinya kini diliputi rasa was-was. “Kamu udah selesai?” Widya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


“Nggak usah ngalihin topik pembicaraan. Ayo, jujur sama aku! Dia tadi ngapain?” cecar Nathan.


Di balik sikap Nathan yang slengean, humoris, dan tengil, Nathan akan menjadi sosok yang paling over protective bila orang yang ia sayangi diganggu oleh orang lain. Dia tidak akan tinggal diam jika ada orang lain mengusik dirinya dan orang yang ia kasihi.


Widya gelagapan. Fokusnya terpecah antara harus jujur atau kabur. Ia takut, Nathan akan bertindak gegabah. Widya juga dapat merasakan kebencian Nathan pada Cindy.


“Wid? Cerita sama aku!” pinta Nathan lembut. Nathan meraih kedua tangan Widya untuk ia genggam erat. Seolah menyuruh Widya untuk percaya padanya sekaligus memberi Widya kekuatan.


“Boleh aku tanya sesuatu?” Widya menatap sendu manik indah Nathan.


“Apa?”


“Apakah di hatimu masih ada dia?”

__ADS_1


“Maksud kamu?” Kedua alis Nathan menyatu. Ia mencoba mencerna kata-kata Widya.


Widya yang menyadari kebingungan Nathan menjadi ragu untuk mengutarakan apa yang mengganjal di hatinya. “Ah, tidak. Lupakan saja. Kita pergi, yuk!” Widya bangkit dari duduknya, tetapi ia urung melangkah. Lengannya dicekal oleh Nathan, sedangkan Nathan bergeming di tempatnya sembari menatap Widya dengan tajam.


“Nath?” lirih Widya.


“Duduk!” titah Nathan. Widya pun menuruti kemauan Nathan. “Jangan dibiasakan mengulur masalah agar masalah itu tidak semakin besar. Apa yang Cindy katakan sampai kamu jadi seperti ini?”


Widya terdiam. Ia menunduk tidak berani menatap wajah Nathan. “Kamu percaya sama aku, 'kan?” Nathan meraih dagu Widya agar Widya mau melihatnya. Widya mengangguk patuh. “Ceritakan, agar tidak ada kesalahpahaman di antara kita! Ingat, Wid, kunci utama langgengnya sebuah hubungan adalah komunikasi, jujur, saling percaya, dan saling setia. Jangan harap hubungan kita awet kalau tidak ada itu semua di dalamnya,” terang Nathan.


“Maaf,” lirih Widya.


“Jadi?”


“Apakah saat di Singapura kamu ketemu dia?” tanya Widya dengan gemuruh di dadanya yang tidak bisa ia bendung.


“Maksud kamu?”


“Cinta pertamamu, sahabat kecilmu,” jawab Widya lirih.


“Apa lagi yang ingin kamu tahu?” tanya Nathan menatap Widya sendu.


“Apa ... apa kamu masih menyimpan rasa buat dia?” Ragu Widya menanyakan hal itu. Sesungguhnya ia takut hatinya hancur apabila jawaban Nathan tidak sesuai harapannya, tetapi ia juga ingin memastikan kembali, bahwa pilihan hatinya tidak salah.


Ia dan Nathan adalah orang yang sama. Mereka berdua pernah terluka karena orang yang mereka cintai. Widya kembali menunduk, menguatkan hatinya. Kedua tangannya saling menggenggam. Nathan yang menyadari itu meraih kedua tangan Widya.


“Lihat aku!” pinta Nathan dengan lirih.


Perlahan Widya menatap wajah sang pujaan hati. “Untuk pertanyaan pertama kamu, aku jawab. Aku nggak pernah ketemu lagi sama dia sejak aku pindah ke Jakarta. Aku juga sama sekali nggak pernah kontak sama dia, via telepon, chat, atau social media sekali pun. Aku pindah ke Jakarta, buat lupain dia, jadi percuma jika aku terus menjalin kontak dengan dia. Apa jawaban ini bisa kamu terima?”


Panjang lebar Nathan menerangkan, berharap sang kekasih hati percaya padanya. Widya mengangguk, kegusaran di hatinya sedikit berkurang. Widya percaya, Nathan mengatakan semuanya dengan jujur. Nathan tersenyum lega melihat ekspresi Widya.


“Saat aku ketemu sama kamu, dekat dengan kamu, itu semua bikin aku semakin mudah lupain dia. Kehadiran kamu dalam hidupku seperti obat mujarab yang dikirim Tuhan buat aku. Begitu berartinya arti hadirmu dalam hidup seorang Nathan, Wid. Percaya sama aku, jangan pernah ragukan cinta dan sayang aku buat kamu! Dan yang perlu kamu tahu, kamu tidak akan pernah aku lepaskan sampai kapan pun. Kecuali maut yang memisahkan kita. Apa jawaban ini bisa memuaskan hati kamu dari pertanyaan kedua kamu, Sayang?”

__ADS_1


Sejenak Widya termangu dengan penuturan Nathan. Terharu dengan semua kata-kata indah yang mengalir dari seorang Nathan. Hati dan jantungnya semakin berdegup kencang, seakan ingin melompat dari tempatnya. “Gombal!” Widya menarik tangannya dari genggaman Nathan. Menunduk kembali menyembunyikan semu merah pada pipinya.


“Hei, aku serius, Sayang,” protes Nathan.


Widya tersenyum lebar, hilang sudah kegundahan di hatinya akibat ulah Cindy.


“Sayang dengerin aku! Jangan pernah terpengaruh ucapan Cindy! Dia masih terobsesi sama aku, makanya dia cari celah buat kita bertengkar. Jadi, jangan hiraukan Cindy, okey?”


“Idih Ge-eR. Emang kamu siapa, sampai Cindy harus terobsesi sama kamu?” ejek Widya dengan senyum lebarnya.


“Loh ... kamu nggak tahu? Kenalin, Aku Nathan Putra Lesmana, kekasih hati dan calon suami Widya Putri Esmeralda.” Nathan mengulurkan tangannya agar dijabat oleh Widya.


Kelakuan Nathan membuat Widya tertawa, ia tepis tangan Nathan, “Pulang! Jangan gombal terus! Nggak mempan tahu, nggak?” Widya bangkit dari duduknya, kali ini Nathan tidak mencegah. Ia mengikuti langkah Widya. “Gombal yang bikin pipi kamu bersemu merah,” ejek Nathan.


Seketika cubitan maut dari Widya mendarat dengan mulus di pinggang Nathan. Mereka berdua tertawa bersama, tetapi tidak dengan dua hati yang terluka melihat keromantisan mereka. Harsa dan Cindy.


“Hati aku sakit, Wid, tapi aku akan tetap mendukungmu asal kamu bahagia. Kebahagiaan yang tidak bisa aku berikan selama kamu ada di sisiku. Aku hanya berharap, suatu hari nanti, Tuhan memberi aku kesempatan buat bikin kamu bahagia lagi,” batin Harsa saat ia keluar dari perpustakaan dan melihat Widya dan Nathan berjalan di koridor sambil bergandengan mesra.


Sedangkan di satu sisi, Cindy merasa geram karena rencananya gagal lagi. Tangannya mengepal kuat memperlihatkan buku-buku jarinya.


***


Nathan dan Widya masuk ke dalam pelataran rumah keluarga Lesmana. Tadi sang mama sempat meminta mereka mampir ke rumah dulu karena ingin menitipkan sesuatu untuk Arini. Saat Nathan dan Widya membuka pintu, mereka dikejutkan dengan sosok gadis cantik yang tiba-tiba memeluk Nathan dengan eratnya, membuat genggaman tangan Widya dan Nathan terlepas.


“Aku kangen sama kamu, Nath. Jahat kamu nggak pernah hubungi aku,” lirih gadis itu dengan lelehan air mata yang membasahi pipi.


Widya diam melihat adegan itu, sedangkan Nathan mematung mendapat kejutan yang luar biasa hebat.



...***...


Nah, loh. Siapa, tuh?

__ADS_1


Aku kabur dulu, takut dihujat netizen. Kalau mau ngamok tinggalkan komentarnya saja. 😅😅


__ADS_2