Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 44


__ADS_3


...***...


Kartika pun membenarkan apa yang dikatakan Karin. Kalau Widya harus bisa mengetahui siapa yang ingin merusak kisah asmaranya dengan pujaan hatinya dan berusaha untuk tidak terlihat lemah. Sebagai sahabat, Karin dan Kartika akan membantu sebisa dan semampu mereka agar siapapun yang ingin menghancurkan hubungan Nathan-Widya berpikir ulang lagi. Sebab itu akan sia-sia mengingat kekuatan cinta mereka.


...***...


Siang itu cuaca agak mendung dan langit di bagian selatan pun telah menghitam. Menandakan akan turun hujan dengan curah yang sangat deras. Hal itu sangat kontras dengan suasana hati seorang laki-laki di dalam mobil buatan negara Inggris. Nathan bimbang dengan perasaannya saat ini kepada Widya, setelah melihat apa yang terjadi di taman tempo hari. Hati Nathan sakit melihat gadis tercintanya dipeluk oleh Harsa yang masih memiliki rasa terhadap Widya.


Berjalan menyusuri lalu lintas yang padat di jam makan siang. Nathan ke kampus untuk menyerahkan tugas mata kuliah kepada dosennya. Mereka bikin janji bertemu siang ini. Sesampainya di kampus Nathan berjumpa dengan Zakir.


"Hello, bro," sapa Zakir merangkul pundak Nathan.


"Hello juga Zakir Bokir si kikir yang suka ngupil," ledek Nathan sambil melepaskan rangkulan tangan Zakir alias Bokir.


"Yang benar aja! Masa udah ganteng gini dibilang tukang ngupil, sih! Lo salah, Nath. Gue sukanya korek-korek belek," sungut Zakir sambil menampakan wajah kesalnya. Nathan tertawa lepas dan puas saat melihat sahabatnya kesal. Setidaknya sedikit mengurangi rasa sedihnya saat ini.


"Sorry deh, Bokir. Gue khilaf. Entah kenapa kalau sama lo, tuh, bawaannya pingin nge-bully aja," kekeh Nathan. Zakir mendengus sebal, tetapi kemudian keduanya sahabat itu pun tertawa bersama.


Zakir memperhatikan ada yang berbeda dengan sahabatnya itu. Terlihat sedang resah walau sedang tertawa lepas. Sorot matanya menyiratkan ada beban yang sangat berat.


"Nath, gue perhatiin kayaknya lo lagi kacau, deh. Kalau boleh tahu ada apa?" selidik Zakir.


"Eh, mang iya? Tapi gue baik-baik aja, sehat wal afiat tanpa kekurangan satu apa pun," canda Nathan dengan senyum dipaksakan.


"Yakin lo baik-baik aja?" tegas Zakir lagi.


"Iya, gue oke oke aja Bokir kikir Zakir Maulana upil," ledek Nathan sambil mengangkat kedua jempolnya.


"Syukurlah, Nath, kalau lo baik-baik aja. Sebagai sahabat gue senang dengarnya," ujar Zakir sambil menepuk bahu Nathan, "Gue cabut duluan, ya! Ada perlu." Zakir pergi meninggalkan Nathan sendirian. Mereka pun berpisah di depan ruangan dosen yang Nathan tuju. Senyuman pelik yang terpancar di salah satu sudut bibir Nathan jadi bukti, kalau dirinya hanya berpura-pura baik-baik saja di hadapan Zakir.


Setelah selesai dengan semua urusan kampus, Nathan melajukan mobilnya dan segera meninggalkan kampus. Tak lama hujan turun dengan derasnya. Ia menurunkan laju mobilnya karena jalanan mulai macet. Sekian lama berpacu dengan kemacetan, akhirnya Nathan sampai di teras rumahnya dengan wajah yang lelah dan kesal.


"Abang bete banget, kenapa?" tanya Liana melihat putra sulungnya yang cemberut.


"Macet parah, Mah. Mana lapar pula. Gimana nggak kesal dan emosi!" Nathan menjawab pertanyaan Mamanya dengan sedikit luapan amarah.

__ADS_1


"Sabar, dong, Bang! Namanya juga jalan raya." Liana berusaha menenangkan putranya. "Mau langsung makan apa bersih-bersih dulu, Bang?" tanya Liana lagi.


"Abang mandi dulu aja, Mah, nanti baru makan." Liana mengangguk tanda setuju. Nathan pun melangkah masuk menuju kamarnya.


***


Waktu berlalu, tetapi hubungan Widya dan Nathan masih berjalan di tempat sama. Keduanya egois tidak mau mengalah. Nathan yang kecewa sama Widya dan Widya yang sakit hati dengan Nathan. Keduanya bertahan dengan prinsipnya masing-masing tanpa mau memperbaiki hubungan yang sudah tidak sehat ini. Nathan hanya mengikuti apa kata hatinya yang merasa Widya salah. Ia ingin bercerita pada Liana tetapi masih dipikirkan kembali. Beruntung adik kembarnya selalu menghibur hatinya yang gundah, dengan celetukan dan candaan mereka.


Ia gelisah dan bingung dengan keputusan Widya yang meminta putus padanya. Nathan bukan pria yang suka keramaian, di saat suasana hatinya tidak menentu, ia lebih senang berada di dalam kamar atau duduk santai di taman samping rumahnya. Suara gesekan dedaunan yang dibelai oleh angin, seolah bernyanyi untuk Nathan, dan membuatnya merasa tenang.


***


Di saat Nathan sedang asik mengerjakan tugasnya, benda pipih di atas nakas berbunyi tanda seseorang meneleponnya. Ia berpikir bila itu sang kekasih hati, dengan secepat kilat ia raih benda itu. Setelah melihat layar utama, binar pada raut wajahnya sontak menghilang. Ternyata Vina yang meneleponnya sekarang.


"Halo, Nath. Kamu di mana?" Terdengar suara Vina di seberang sana.


"Iya, Vin. Aku di rumah. Ada apa?" jawab Nathan malas.


"Anterin aku ke mall, yuk! Ada yang mau aku beli,"


"Aku lagi malas keluar. Lagian kamu kenapa nggak jalan sendiri aja! Bisa naik taksi juga, 'kan?"


Sore harinya, Nathan sedang bersantai di teras rumah dengan ditemani sang adik kembar sambil melihat Liana merawat tamanan mawarnya. Vina datang dengan santainya langsung menghampiri Liana yang sedang sibuk dengan tanamannya. Mulut Nathan sontak berdecak. Kedatangan Vina pasti akan mengajaknya keluar.


"Bukannya tadi gue dah nolak dia," monolog Nathan dalam hatinya.


Si kembar perlahan meninggalkan abangnya yang terlihat bete. Evan memberikan kode kedipan mata kepada adik kembarnya. Ellen mengerti, lalu mengikuti Evan masuk ke dalam rumah.


"Eh, Vin. Mau ketemu Nathan?" sapa Liana sejenak beralih dari tanamannya.


"Iya, Tante," jawab Vina sambil melebarkan senyuman.


"Noh, Nathannya udah nangkring di situ." Vina yang sudah tahu keberadaan Nathan sebelumnya, tetap mengikuti arah dagu Liana yang menunjukkan tempat Nathan berada. Lalu melontarkan senyuman paling manis yang dia punya pada lelaki tersebut.


"Aku ke Nathan dulu, Tan," pamit Vina. Ia pun melangkah mendekati Nathan.


"Hai, Nath," sapa Vina yang hanya dibalas senyuman pelik oleh Nathan.

__ADS_1


"Kamu kenapa, sih? Kok, kamu keliatan bete gitu? Panggilan telepon aku tiba-tiba diputus sepihak. Ada apa, Nath? Aku ada salah, ya?" cecar Vina, dan Nathan masih terdiam tanpa mau membuka mulutnya. "Kalau ada masalah, kamu boleh cerita sama aku. Ya ... kalau memang kamu masih menganggap aku sahabat kamu."


Kalimat terakhir Vina membuat Nathan berpikir, jika tidak ada salahnya juga cerita sama Vina tentang keresahan hatinya. Toh, masalah ini ada kaitannya dengan perempuan itu.


"Sebelumnya aku mau tanya sesuatu sama kamu." Akhirnya Nathan membuka suaranya.


"Apa?" tanya Vina pura-pura antusias.


"Apa kamu pernah mengirimkan foto sama Widya?" tanya Nathan langsung pada intinya.


Vina mengernyitkan keningnya, ia menunjukkan wajah polos seolah tidak tahu apa-apa. "Foto apa?" tanyanya balik.


"Widya mendapatkan kiriman foto yang di dalamnya ada kita berdua yang seolah sedang berciuman, Vin. Itu kejadian saat aku nolongin kamu waktu kamu mau jatuh di taman waktu itu." Vina membelalakkan matanya seolah-olah dia terkejut dengan pernyataan Nathan.


"Bagaimana mungkin aku bisa punya fotonya? Memangnya kamu lihat aku selfie waktu mau jatuh?"


Nathan terdiam sejenak sembari berpikir. Benar juga. Vina tidak mungkin melakukan itu, karena dia tahu betul Vina benar-benar mau jatuh saat itu. Tiba-tiba saja rahang Nathan mengetat kencang. Ia teringat kembali dengan sosok perempuan yang selalu membuat masalah dengan hubungannya bersama Widya. Siapa lagi kalau bukan Cindy. "Gue makin yakin kalau dia pelakunya. Brengsek!" geram Nathan dalam hati.


Dalam situasi seperti itu, Vina melancarkan aksinya. Ia mengusap bahu Nathan dengan lembut sebelum berkata, "Nath, sebagai sahabat kamu, aku tahu banget kamu itu seperti apa. Lebih baik kamu coba hubungin Widya dan bicara baik-baik! Jelaskan sejelas-jelasnya sama dia! Atau kamu bisa lacak nomor misterius itu, Nath. Aku bisa sedih kalau lihat kamu sedih, dan merasa sakit juga kalo kamu sakit,


"Aku tahu banget kamu sangat mencintai Widya. Widya itu cinta mati kamu, Nath. Mungkin nggak ada yang akan bisa memisahkan cinta kalian berdua. Hanya saja saat ini keadaan hati Widya sedang panas. Kamu harus bisa mendinginkannya!" Vina memberikan nasihat panjang lebar kepada Nathan.


Tiba-tiba saja dalam pikiran Nathan terbayang adegan Harsa memeluk dan membelai lembut rambut kekasih hatinya—Widya. Sakit dan terluka menggerayangi pikirannya lagi. Kenapa di kala mataharinya sakit dan terluka, justru pria lain yang dapat memenangkannya, bukan dirinya.


"Kenapa?" Vina bertanya lagi, karena melihat sorot kebencian yang tersirat di mata Nathan saat ini. "Ada masalah apalagi? Kalau kamu mau, kamu boleh cerita aja sama aku." Vina menatap wajah Nathan dengan serius dia berusaha menyakinkan lawan bicaranya agar mau membuka pembicaraan.


"Aku bingung, Vin. Situasinya agak berubah sekarang. Hubungan aku sama Widya makin hari makin jauh. Ada saja masalah di antara kita," terang Nathan sambil mengusap wajahnya kasar. "Hubungan gue sama Widya sudah nggak jelas arahnya, dia putusin gue hanya karena kesalahpahaman ini."


"Putus?" Vina tersentak walaupun hatinya sedang bersorak. Nathan menganggukkan kepalanya diiringi dengan embusan napas kasar yang terlontar ke udara.


"Kamu nggak boleh terima gitu aja, Nath! Kamu harus temui Widya dan jelasin lagi sama dia! Aku yakin Widya juga sangat mencintai kamu. Mungkin waktu itu Widya lagi emosi waktu mutusin kamu."


Dengan berpura-pura perhatian Vina menyarankan Nathan untuk menemui Widya, sambil tersenyum jahat dia bermonolog dalam hati sambil menaikan sudut bibirnya. "Aku mau lihat sampai di mana kalian bisa bertahan dengan keadaan seperti ini. Kita lihat aja, Widya! Aku akan buktikan, Nathan pasti kembali lagi sama aku."


Nathan mencerna ucapan Vina. Memang benar apa yang Vina ucapkan, dia harus bertemu Widya untuk berbicara tentang hubungan mereka.


...***...

__ADS_1



Like dan kasih komentarnya, ya. Sekalian juga sama giftnya. Makasih 🙏


__ADS_2