
“Lo yang sabar, ya, Wid! Kita semua ada buat lo. Di sini kita semua bisa melihat, bagaimana sikap Nathan yang sebenarnya. Mungkin benar, jika di hatinya masih ada Vina. Sampai dia buta dengan kenyataan yang ada. Jangan biarkan Nathan membuat lo merasa semakin nggak berarti! Ingat, kita semua di sini sayang banget sama lo. Bagi kita, lo sahabat yang sangat berarti.” Edo yang biasanya tidak banyak bicara, kali ini ikut menyumbangkan suaranya. Dengan kalimat panjang lebar ia memberikan dukungannya untuk Widya.
Widya tersenyum, merasa bersyukur ia memiliki sahabat-sahabat yang peduli padanya.
“Makasih, ya, semuanya,” ucapnya parau.
“Kita semua sayang lo, Wid. Jangan pernah ngerasa sendiri, ya! Kalau lo butuh apa-apa lo hubungi kita aja. Kita akan selalu ada buat lo.” Zakir menatap sendu wajah Widya yang tengah berurai air mata.
Karin dan Kartika memeluk Widya erat, lalu diikuti oleh Harsa, Edo, dan Zakir. Widya semakin sesenggukan dalam tangisnya. Karin dan Kartika juga turut menangis. Rasa haru menyelimuti hati Widya yang tengah terasa perih. Di balik lukanya, ada para sahabat yang selalu menyemangatinya.
Sungguh perjalanan cinta Widya begitu menguras emosi. Dulu saat mencintai Harsa, Widya dipermalukan oleh Cindy. Kali ini saat bersama Nathan, ia dipermalukan oleh Nathan sendiri. Orang yang dulu berjanji untuk selalu melindungi Widya, kini menggoreskan luka yang teramat dalam. Janji tinggal janji. Manis saat diikrarkan, tetapi untuk menepati begitu sukar.
“Kalian sudah pulang?” Sebuah suara mengalihkan atensi mereka. Widya lekas menghapus air matanya saat mengenali suara itu adalah suara bundanya, meski lelehan itu tak kunjung surut di pelupuk matanya.
“Eh, kenapa? Kok, pada nangis? Apa terjadi sesuatu?” Arini terlihat panik saat melihat pipi para gadis basah oleh air mata. Karin dan Kartika juga segera menghapus air matanya.
Mereka semua diam, tidak ada yang berani bersuara. “Ada yang bisa jelaskan sama bunda?” desak Arini. Ia mengelus lembut punggung Widya. Melihat mata putrinya bengkak ia semakin khawatir.
“Ada sedikit masalah, Bun. Tapi *insya*Allah semua sudah teratasi,” bohong Harsa.
Arini semakin mengernyitkan kedua alisnya. “Nanti Widya jelaskan, Bun.” Akhirnya Widya membuka suara. Arini hanya mengangguk.
“Sudah malam, kami pulang dulu, Bun,” pamit Harsa.
“Hati-hati di jalan! Makasih sudah mengantar Widya pulang,” ucap Arini dan hanya dijawab anggukan oleh ketiga pemuda itu.
Harsa, Zakir, dan Edo mencium punggung tangan Arini lalu segera meninggalkan rumah Widya.
__ADS_1
“Kalian mau menginap apa pulang?” tanya Arini pada Kartika dan Karin. Kartika dan Karin menatap Widya untuk meminta persetujuan.
“Kalian pulang aja! Gue nggak apa-apa, kok.” Karin dan Kartika saling tatap sebelum menganggukkan kepala.
“Kalo ada apa-apa, hubungi kita, ya!” pinta Kartika sembari memegang bahu Widya.
Widya hanya mengangguk. Karin dan Kartika kembali memeluk tubuh sahabatnya sebelum akhirnya meninggalkan rumah Widya. Arini mengajak Widya masuk setelah mobil Karin hilang dari pandangan.
“Widya ke kamar dulu, Bun.” Widya berlalu meninggalkan bundanya sebelum mendengar jawaban dari sang bunda. Arini menghela napas berat. Ia akan memberikan waktu untuk Widya. Arini tahu, pasti ini semua berkaitan dengan Nathan.
...***...
“Bodoh!” umpat Nathan pada diri sendiri. Ia menjambak kasar rambutnya. Lalu meninju dinding kamar guna meluapkan emosi.
“Argh ...,” teriaknya frustrasi. Tanpa ia rasa, butiran bening merembas dari sudut matanya.
“Maaf, maafin aku,” katanya penuh sesal.
Suara ketukan pintu kamar membuyarkan lamunannya. “Nath, buka pintunya!” Suara itu tegas memerintah. Nathan segera membuka pintu kamarnya, terlihat sang mama menatapnya tajam.
“Apa yang ada di pikiran kamu, Nath?” Nathan tidak bisa menjawab. Ia tertunduk dengan rasa penyesalan. “Mama nggak pernah mengajari kamu seperti tadi. Kamu keterlaluan. Harusnya kamu nggak perlu emosi seperti tadi. Semua bisa dibicarakan baik-baik. Toh, Vina juga nggak apa-apa. Kamu keterlaluan sama Widya, mama kecewa sama kamu!” marah Liana.
Nathan semakin terpatri dalam penyesalan. Ia tahu ia salah, sudah membentak dan berkata kasar pada Widya. Namun, tidak seharusnya semua orang menyalahkannya. Ia hanya merasa kecewa pada Widya. Ia menilai Widya adalah sosok yang sempurna, ia selalu membanggakan Widya, tetapi sikap Widya pada Vina benar-benar membuatnya kecewa.
“Tapi Widya mendorong Vina ke kolam, Ma.” Ia mencoba membela diri agar semua orang tidak semakin menyudutkannya.
“Benar seperti itu, Vin?” tanya Liana pada gadis yang berdiri di sebelahnya. Dengan sedikit ragu Vina mengangguk. Liana mendesah berat. Rasanya terlalu pelik masalah putranya kali ini. Ia mengenal baik siapa Widya. Ia percaya Widya tak mungkin melakukan itu.
Nathan masih tertunduk, entah apa yang ia rasakan saat ini. Kecewa, marah, dan sesal kini bergelayut manja dalam pikirannya membuat ia tidak bisa berpikir jernih. Yah, ia akui. Ia selalu mengedepankan emosinya. Itu adalah salah satu kekurangannya.
__ADS_1
“Terlepas dari Widya sengaja atau tidak, kamu tidak seharusnya membentak Widya di depan umum. Semua masih bisa dibicarakan. Kalau pun Widya salah, kamu harus sabar menegurnya dan mengarahkan untuk tidak mengulangi kesalahannya. Itu baru yang dinamakan cinta, Nath. Sekarang mama tanya, kamu masih mencintai Widya?”
Nathan akhirnya memberanikan diri menatap sang mama. “Tentu Nathan sangat mencintai Widya. Widya hidupnya Nathan, Ma,” lirihnya.
Pernyataan Nathan membuat hati Vina sakit. Dulu, Nathan sangat mencintai dirinya. Ia adalah segalanya bagi Nathan. Nathan akan melakukan apa pun asal Vina bahagia. Nyatanya sekarang semua sudah berubah. Nathan-nya mencintai Widya. Hal itu membuat tekad Vina semakin bulat. Ia akan merebut cinta Nathan kembali. Membuatnya sama seperti dulu. Hanya ada Vina dalam hati Nathan.
“Kalau begitu kejar Widya! Minta maaf, agar semua tidak semakin runyam. Jangan sampai Widya meninggalkan kamu atas sebuah kejadian yang kamu sendiri tidak tahu kebenarannya.” Liana melirik Vina. Entah kenapa ia ragu akan pernyataan Vina tentang Widya yang mendorongnya ke kolam.
Nathan bergeming. Ia ragu untuk melangkah, ia takut Widya tak lagi memaafkannya. Melihat Nathan tak segera pergi Liana kembali bersuara, “Kamu mau putus dari Widya?”
Pertanyaan sang mama membuat Nathan menggeleng dengan cepat. Baru saja ia hendak melangkah suara Vina kembali menginterupsi. “Nath, kepala aku sakit. Bisa antar aku ke dokter? Sepertinya tadi aku terbentur.”
Liana mendesah pelan. Sudah jelas di matanya jika Vina memang sengaja menjauhkan Nathan dari Widya. Semua itu bisa Liana baca dengan mudah terlebih melihat tingkah Vina. Hanya saja Liana tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa ia lakukan hanya menasihati putranya agar tidak masuk dalam jebakan Vina.
“Kamu kenapa?” tanya Nathan khawatir.
“Kepalaku sakit, antar aku dulu ke dokter, ya!” pintanya memelas membuat Nathan gamang.
“Besok aku temani ketemu Widya buat selesein semuanya, biar masalahnya nggak berlarut,” ucapnya lagi untuk meyakinkan Nathan.
Dengan terpaksa, Nathan segera mengantar Vina ke dokter. Hal itu membuat Liana mendengus kesal. “Sekarang mama pasrah kalo kamu benar-benar akan kehilangan Widya,” gumam Liana sembari meninggalkan kamar Nathan.
...***...
Widya merenung sendiri dalam kamar. Air matanya sudah mengering. Mungkin sudah lelah untuk menetes. Tatapannya kosong. Kilasan kejadian di rumah Nathan kembali mengoyak hatinya. Bahkan lelaki itu tidak berinisiatif untuk meminta maaf kepadanya. Walaupun kesal, Widya masih berharap Nathan menyusul dirinya lalu meminta maaf. Mungkin itu akan mengurangi sedikit rasa kecewanya. Namun, itu tidak terjadi. Ia pun menatap hampa cincin yang melingkar di jari manisnya.
“Aku kecewa sama kamu, Nath. Sekarang aku benar-benar nggak tahu bagaimana caranya agar aku bisa kembali menyusun kepingan hati ini. Kamu sudah menghancurkannya sampai tak berbentuk,” lirihnya kemudian matanya terpejam. Berharap apa yang terjadi hari ini adalah mimpi yang akan segera berakhir dan saat ia terbangun, semua akan kembali baik seperti kemarin.
...***...
__ADS_1
Satu kata buat Vina, dong! 😌