
...***...
Hari berlalu. Nathan dan Widya sudah kembali mesra. Hal itu tentu membuat para sahabatnya turut bahagia. Akan tetapi, semua itu berbanding terbalik dengan Vina dan Cindy. Cindy merasa geram karena ternyata Nathan dan Widya sulit untuk dipisahkan, sedangkan Vina berusaha untuk terus tersenyum di depan Widya dan Nathan. Berpura-pura bahagia meski hatinya meradang.
"Gue pastikan, kebahagiaan kalian nggak akan bertahan lama," gumam Cindy di balik kemudi mobilnya, melihat Nathan yang tersenyum manis membukakan pintu mobil untuk Widya. Sungguh pemandangan yang menyakiti hati Cindy.
"Gue seneng lihat lo senyum lagi, Wid. Meski bukan gue alasan di balik senyum manis lo. Gue selalu berdoa buat kebahagiaan lo," batin Harsa saat melihat Nathan dan Widya tengah bergandengan tangan mesra menuju kelas mereka.
"Kira-kira gue sama Tika kalau udah jadian bisa seperti Nathan sama Widya gitu nggak, ya?" celoteh Zakir tiba-tiba sambil menggenggam jemari Harsa.
Harsa yang sedang melamun tentu terkejut dan reflek mengibaskan tangan Zakir dengan kuat. Membuat Zakir terhuyung dan menabrak seseorang yang sedang lewat di sampingnya.
"Aduh!" pekik Kartika saat tiba-tiba ada yang menabraknya dari samping.
"Eh, Tik! Maaf, maaf, nggak sengaja," ucap Zakir yang juga ikut terkejut.
"Astaga ... Bokir! Pagi-pagi udah bikin gara-gara sama gue, lo?" teriak Kartika.
"Jangan marah-marah, dong, Tik! Gue enggak sengaja. Si Harsa, nih, biangnya," ucap Zakir sambil berdiri di belakang Harsa mencari perlindungan.
"Lah, Zak! Kok, malah ngumpet?" ledek Harsa. "Daripada lo membayangkan sesuatu yang belum pasti, tanya langsung, tuh, sama orangnya! Berani, nggak?" Harsa masih menggoda Zakir.
"Ssst ... diem lo! Gue masih belum siap. Takut gue ditolak lagi," jawab Zakir pelan. Ia masih bersembunyi di balik punggung Harsa.
"Siapa yang udah nolak cowok sekeren elo, Zak?" Karin ternyata mendengar ucapan Zakir. Ia yang daritadi hanya tersenyum melihat tingkah Zakir jadi penasaran. Tidak hanya Karin, tentu saja Kartika juga mendengarnya. Namun, perempuan itu tidak mau menanggapinya.
Zakir tidak menjawab, ia hanya meringis menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Eh, lo nggak salah ngomong, kan, Rin? Keren apanya? Coba liat! Orangnya dari tadi ngumpet , nggak mau nongol. Gimana bisa liat kerennya?" ejek Kartika seolah mengalihkan topik pembicaraan.
"Cie ... bilang aja lo pengen liat wajah kerennya Zakir," goda Karin lagi.
"Karin!" Kartika melotot tajam. Ia sungguh tidak ingin menunjukkan betapa gugupnya dia saat ini.
__ADS_1
"Udah, ah, bubar-bubar! Kalian ini selalu aja nggak bisa akur, gue doain jodoh nanti," ucap Harsa yang merasa bosan dengan drama percintaan mereka yang hanya saling memendam rasa. Tidakkah dia sadar, jika dirinya juga sama terhadap Widya?
"Aamiin ...," sahut Zakir. Bukannya marah seperti biasanya, Kartika justru terlihat salah tingkah setelah mendengar ucapan Zakir. Ia mengalihkan pandangan ke segala arah, berharap bisa menetralkan irama jantungnya yang tiba-tiba berpacu lebih cepat.
Pipi Kartika bersemu merah, terlihat sekali jika ia merasa gugup. "Kita duluan, yuk, Rin!" ajak Kartika sembari berlalu menarik lengan Karin menuju ke kelas mereka. Karin menahan tawanya melihat tingkah Kartika yang menurutnya sangat lucu.
"Udahlah, Tik, terima aja bang Bokir-nya! Gue takut lo nyesel kalau masih memegang prinsip lo itu. Jujur, deh, sama gue! Lo juga suka, kan, sama Zakir?" tanya Karin memastikan.
"Ngomong apa, sih, Rin? Udah deh, jangan aneh-aneh!" gerutu Kartika. Perdebatan mereka berhenti saat sudah memasuki kelas.
***
Pagi yang cerah di hari Minggu. Seperti janjinya semalam saat menelepon Widya, Nathan akan menjemput Widya untuk berkunjung ke rumahnya. Sejak mereka baikan hubungan keduanya jadi semakin dekat.
Hampir setiap akhir pekan, Nathan selalu mengajak Widya ke rumahnya. Sedangkan Nathan sendiri, sudah sejak sebelum mereka resmi menyandang status pacaran, ia sudah sering ke rumah Widya. Entah untuk menemui Widya, membantu Arini membuat kue, atau sekedar main catur bersama Bowo—ayah Widya.
"Bun, Widya berangkat, ya!" Widya pamit dan mencium punggung tangan Arini. "Ayah mana, Bun?" tanyanya lagi sambil mengedarkan pandangan mencari keberadaan ayahnya.
"Ayah masih mandi, Wid. Barusan ditelepon bang Jali, diajak mancing katanya. Jadi, ayah langsung siap-siap," jawab Bunda, lalu menyodorkan sebuah kantung berisi kotak kue. "Ini ada kue buat mamanya Nathan, jangan lupa dibawa. Kamu hati-hati ya, nak! Kamu nggak dijemput Nathan?" tanya Arini lagi.
"Kamu ini ada-ada aja, Wid. Ya sudah, salam buat Nathan dan keluarganya, ya!" ucap Bunda Arini.
"Siap, Bunda, Assalamualaikum," pamit Widya.
Widya segera bergegas keluar. Tak berselang lama, Nathan juga sampai dengan Mini Cooper kesayangannya. Segera Nathan membukakan pintu mobilnya untuk Widya, dengan senyum manis yang selalu menghiasi wajah tampannya. Sekitar hampir tiga puluh menit perjalanan mereka pun tiba di rumah Nathan. Perjalanan itu diiringi oleh perbincangan ringan dan rayuan gombal Nathan pada Widya.
"Assalamualaikum, Ma. Calon menantunya udah datang, nih," ucap Nathan sambil membuka pintu rumahnya, diikuti Widya dengan membawa kue yang dibuatkan bundanya.
"Nathan, jangan gitu, ah! Aku malu," ucap Widya sambil memukul bahu Nathan.
"Enggak apa, Sayang. Biasa aja sama mama. Kamu tahu sendiri, 'kan, mama tu sayang banget sama kamu," tutur Nathan. Widya pun tersenyum dengan wajah tersipu. Namun, senyum itu perlahan pudar ketika ia melihat seseorang yang keluar dari arah dapur rumah Nathan.
"Hai, Nath! Eh, ada Widya juga. Apa kabar, Wid? Lama kita enggak ketemu, ya," sapa orang tersebut, yang tak lain adalah Vina.
"Ehm ... kabarku baik, Vin. Kamu gimana?" Widya sedikit terkejut melihat Vina yang hari ini ada di rumah Nathan. Ini pertama kali ia bertemu kembali dengan Vina sejak kejadian keramat waktu itu. Widya mencoba menenangkan hatinya, ia tak ingin berpikir yang tidak-tidak tentang Vina. Sudah cukup pertengkarannya dengan Nathan kemarin. Widya berjanji pada dirinya untuk selalu percaya dengan Nathan. Jangan sampai keegoisannya menjadi boomerang lagi untuk hubungannya dengan Nathan.
__ADS_1
"Kamu ngapain di sini, Vin?" tanya Nathan. Ia tidak ingin sang pujaan hatinya terluka lagi karena kesalahpahaman dengan Vina seperti dulu.
"Sayang, udah sampai?" Suara Liana mencairkan ketegangan di antara mereka. Ia datang menyusul Vina dari arah dapur. "Bawa kue lagi, Wid? Tante jadi sungkan, loh, sama bundamu. Tiap ke sini pasti dibawain kue," ucap Liana sambil menggandeng lengan Widya penuh sayang menuju ke ruang tengah.
"Enggak, kok, Tante. Bunda emang suka bikin kue," ucap Widya dengan senyum manisnya.
"Vin, kamu belum jawab pertanyaan aku tadi?" tanya Nathan lagi, setelah mereka semua duduk di ruang tengah.
"Oh, iya, Vin. Mumpung ada Widya juga. Kamu bisa sampaikan keinginan kamu tadi. Tante nggak mau ada sesuatu yang membuat kalian salah paham lagi," tutur Liana yang duduk di samping Widya.
Vina tersenyum menanggapi penuturan Liana, ia tidak ingin rencananya kali ini gagal lagi. "Iya Tante, aku juga nggak mau nanti Widya salah paham lagi. Kasian sama Nathan kalau pujaan hatinya merajuk," ucap Vina menatap Widya dengan senyum ramahnya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Nathan.
"Kamu masih ingat ulang tahun aku, kan, Nath?"
Nathan mengangguk sebagai jawaban. "Lalu kenapa?" tanyanya balik.
"Ehm ... itu, nanti rencananya aku mau merayakannya di sini. Kamu, kan, tahu aku enggak punya siapa-siapa di Jakarta. Tadi aku udah bilang sama tante Liana, terus katanya suruh bilang ke kamu sama Widya dulu. Jadi gimana? Boleh, kan, Nath, Wid?" Vina bergantian menatap wajah Nathan dan Widya.
Nathan sejenak terdiam, ia ragu untuk mengiyakan. Lalu menoleh pada Widya untuk meminta persetujuan, "Gimana menurutmu, Sayang?"
Widya masih mencoba mencerna kata-kata Vina tadi. Sebenarnya ia tidak dendam kepada Vina. Hanya saja tidak dapat ia pungkiri, hati kecilnya masih menaruh keraguan. Mungkinkah ia cemburu? Entahlah ... sulit baginya menerima Vina hanya sebatas teman masa kecil Nathan. Ingin rasanya menolak keinginan Vina, tetapi ia juga tidak enak dengan Liana.
"Widya, gimana? Kamu enggak keberatan, kan, kalau aku adakan pesta ultahku di sini?" Suara Vina membuyarkan lamunan Widya.
"Terserah Nathan aja, Vin." Kata-kata itu yang akhirnya keluar dari mulut Widya. Berharap Nathan menolak keinginan Vina, tetapi rasanya mustahil. Mengingat mereka teman dari kecil.
"Hanya sekedar pesta, Wid. Jangan berpikir sesuatu yang membuat kamu nggak nyaman," batin Widya menenangkan kekalutan pikirannya.
...***...
Nah, mau ngapain lagi tuh, si Vina? Penasaran, nggak, nih?
Kalau komentarnya banyak plus kasih gift/votenya besok aku dobel up 🤭
__ADS_1