Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 20


__ADS_3


...***...


Sejak pulang dari kampus, Widya langsung masuk ke dalam kamar mengurung diri. Bahkan, menjelang makan malam ia tidak menampakkan diri bergabung bersama orang tuanya.


“Tumben, Widya nggak ikut gabung, Bun? Apa terjadi sesuatu padanya?” tanya Bowo usai mendaratkan tubuhnya di kursi meja makan. Menunggu sang istri yang mengambilkannya lauk.


“Lagi di kamar. Sepertinya lagi nggak enak badan,” jawab Arini, seraya meletakkan piring yang berisi nasi dan lauk ke depan suaminya.


Mendengar anaknya tidak baik-baik saja, Bowo langsung meletakkan sendok yang ada di tangannya. “Widya, sakit apa, Bun? Demam? Sudah minum obat?” tanya Bowo beruntun membuat Arini menggeleng. Ia tahu, Bowo sangat mengkhawatirkan putri semata wayang yang sangat disayanginya.


“Ayah lanjutkan saja makannya! Widya nggak apa-apa, kok. Cuma kelelahan aja. Mungkin akhir-akhir ini dia sering begadang karena tugas kuliah,” papar Arini menenangkan Bowo.


“Jangan lupa suruh bibi buatkan susu hangat dan diantar ke kamar Widya!” titah Bowo.


“Iya, Yah.”


Mereka berdua pun melanjutkan makan malam tanpa kehadiran Widya, yang selalu membuat suasana semakin hangat.


***


Pagi-pagi sekali Widya sudah bangun. Berhubung hari ini ada kuliah pagi, jadi ia berusaha untuk tidak terlambat. Semenjak tidak ada Nathan yang selalu mengantar jemput, ia selalu naik ojek online demi menjaga hati Nathan.


Terkadang pikirannya tidak selaras dengan isi hatinya yang selalu percaya diri, jika ia tidak memiliki perasaan apa pun kepada Nathan. Namun, ia pun tidak bisa memungkiri, jika hari-harinya selama ini selalu dipenuhi sosok Nathan yang selalu membuatnya ceria setiap saat. Dengan segala tingkah laku konyolnya yang perlahan sudah memenuhi rongga hatinya.


Ya, kehadiran Nathan memang membuat Widya yang tadinya murung kembali ceria. Yang dulunya pendiam, kembali cerewet. Yang dulunya cemberut, kembali tertawa. Seolah semua perubahan yang terjadi pada dirinya, tidak lepas dari sosok Nathan yang membantunya bangkit dari keterpurukan. Semenjak kejadian memalukan bagi Widya beberapa tahun silam, Nathan selalu pasang badan di hadapannya agar tidak seorang pun bisa berbuat jahat kepada gadis yang dicintainya itu. Termasuk Harsa, laki-laki yang sudah memberikan luka pada hati Widya. Nathan sama sekali tidak memberikan akses pada lelaki itu untuk dekat dengan Widya.

__ADS_1


Berjalan gontai menuju perpustakaan, Widya memikirkan kembali kata-kata Kartika kemarin. Bagaimana jika benar ada wanita lain yang berusaha mendekati Nathan di sana? Tentu saja ia tidak rela. Bahkan, hanya membayangkan Nathan bersama wanita lain saja sudah membuat hati Widya sakit.


“Tidak. Ini tidak bisa dibiarin. Kartika benar, Nathan butuh kepastian,” gumam Widya saat sudah sampai di depan pintu perpustakaan. Kebetulan di sana ada Harsa dan Edo yang baru saja keluar dari perpustakaan.


“Eh, Wid, lo sendirian ke sini?” sapa Harsa yang dalam hatinya senang karena berjumpa dengan gadis pujaannya.


“Iya,” balas Widya singkat tanpa menoleh ke Harsa.


“Boleh gue temenin?” tawar Harsa masih berdiri di samping Widya, menatap pujaan hatinya yang sibuk mengambil ponsel, dompet, dan buku catatan.


“Nggak usah, makasih. Gue masuk duluan, ya!” kata Widya sembari berlalu dari hadapan Harsa dan Edo.


Setelah bayangan Widya menghilang dari hadapan mereka, Edo pun buka suara. “Apa Widya galau karena Nathan belum kembali juga? Akhir-akhir ini gue lihat sikapnya beda, jadi lebih pendiam dari biasanya.”


Harsa menaikkan kedua bahunya tanda tak tahu. Walaupun hatinya sedikit kecewa, kalau memang itu benar adanya. Namun, kali ini dia tidak akan bersikap egois lagi. Ia akan membiarkan rasa cintanya kepada Widya tetap terpatri dalam hati, walaupun tanpa harus bisa memiliki. “Yuk, cabut!” ajaknya seraya menepuk punggung Edo yang masih berdiam diri di sana memikirkan misteri hubungan Widya dan Nathan. Edo si kepo.


***


Di penghujung hari, Widya tampak melamun di kolam ikan. Sudah satu setengah bulan Nathan tidak mengabarinya, membuat rindu kian membuncah di dalam hati Widya. Ia kangen Nathan, dengan segala kecerewetan dan tingkahnya. Rasa takut pun tidak bisa ia bendung, membayangkan kalau Nathan memiliki sosok wanita lain yang sudah mengisi hatinya.


“Lo jahat! Katanya lo sayang sama gue. Buktinya, sampai sekarang lo nggak ada kabar. Dasar menyebalkan!” ujar Widya seraya memberi makan ikan hias yang ada di kolam.


Sementara itu, Arini perhatikan jika akhir-akhir ini Widya lebih banyak melamun dan diam. Tidak seperti dulu, yang selalu ceria dan manja. Melihat Widya termenung di kolam, ia pun lekas mendekatinya.


“Kasih makan ikannya jangan boros gitu juga, Sayang! Nggak baik, jadinya mubazir kalau ikannya sudah kenyang dan nggak makan lagi,” ucap Arini mendekat, meraih pakan ikan yang ada di tangan sang anak.


Widya menoleh. “Maaf, Bun. Aku nggak sengaja," sesal Widya dengan raut wajah termenung.

__ADS_1


“Nggak apa-apa, Sayang. Tetapi jangan diulangi lagi, yah! Nggak baik terlalu boros. Beri saja secukupnya!” sahut Arini mengelus pundak sang anak.


Widya mengangguk. “Iya, Bun.”


“Kadang kita butuh seseorang untuk mendengarkan isi hati kita. Jika kamu tidak keberatan berbagi, bunda siap mendengarkan keluh kesah anak bunda yang menjadikannya murung akhir-akhir ini.”


Widya memandang bundanya, matanya berembun. Keduanya akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi teras samping rumah seraya memperhatikan ikan-ikan yang ada di kolam. Widya pun mulai terbuka dan mulai menceritakan apa yang dirasakannnya akhir-akhir ini. Mulai dari kegelisahan, kerinduan, dan ketakutannya terhadap sosok Nathan yang jarang menghubunginya.


Sebagai pendengar yang baik, Arini memilih mendengarkan secara seksama tanpa memotong perkataan sang anak. Menurutnya, ini adalah tahapan di mana anaknya mulai menuju proses pendewasaan diri dalam tubuhnya.


“Sayang, kamu tahu, bunda dan ayah awalnya juga hampir sama dengan kasus kamu. Kami juga sahabatan sejak kuliah. Bedanya, bunda junior dan ayah senior. Setiap hari kami hampir selalu bersama. Ayah dengan setia selalu mengantar dan menjemput bunda pulang. Namun, sejak sejak ayah lulus dari kampus dan sibuk dengan pekerjaannya, ayah mulai jarang antar-jemput bunda. Dari situ bunda sadar, kalau bunda selalu rindu akan sosoknya yang membuat hari-hari bunda tertawa dan ceria,"


Arini memegang kedua tangan anaknya, “anak laki-laki mempunyai tanggung jawab yang besar di dalam keluarga. Mereka menjadi tulang punggung yang didambakan keluarganya. Percayalah, jika kamu menemukan sosok laki-laki yang mampu mengubah hari-harimu menjadi ceria, mungkin itu sebuah syarat kalau saat ini, dia sedang bekerja keras memperjuangkan apa yang akan nanti kalian jalani. Sebab, bagi seorang laki-laki harga dirinya yang paling tinggi,” Arini tersenyum hangat pada putri cantiknya.


“Namun, saat hari di mana ayah datang tiba-tiba setelah enam bulan menghilang tanpa kabar, di sana ada sebuah jawaban tentang masa depan yang akan kami arungi bersama. Ayah datang dengan sebuah jawaban. Secara langsung, ayah memboyong keluarga besarnya untuk melamar bunda. Di situlah titik balik seorang laki-laki yang tangguh, saat diuji oleh keluarganya. Apakah ia layak memegang sebuah kepercayaan atau tidak,”


Arini menatap dalam kedua mata anaknya. “Nak, jika kamu memiliki perasaan yang sama dengan Nathan, maka ikutilah kata hatimu! Jangan memaksakan kehendak yang bertolak belakang dengan apa yang ada di dalam sini!" ucap Arini menunjuk dada Widya. "Bunda harap, kamu tidak salah dalam mengambil keputusan. Jika kamu memang sabar, tunggulah kedatangannya. Tanyakan baik-baik apa yang dilakukannya selama ini. Bukankah, ia mengajukan cuti untuk membantu perusahaan keluarganya di Singapura?”


Petuah yang diberikan Arini untuk anak gadisnya secara panjang lebar, dicerna baik-baik oleh Widya. Widya mendengarkan dengan seksama. “Terima kasih, Bun. Bunda memang ibu sekaligus sahabat terbaik di dunia.” Widya memeluk bundanya setelah mendapat wejangan.


“Masuk, yuk! Udah mau Magrib!” ajak Arini. Widya mengangguk dan menurut.



...***...


Aku mau kasih bocoran, nih. Bentar lagi Widya mau jujur sama Nathan.

__ADS_1


Pantengin terus, ya! Jangan lupa dukungannya, like, komentar, dan giftnya. Makasih 🤗


__ADS_2