
...***...
Semilir angin yang berembus tanpa permisi memasuki kamar Widya. Membelai wajahnya dan mendekap erat tubuh yang masih memendam kekecewaan. Widya duduk di balik jendela kamarnya yang sengaja ia buka lebar, menatap dari atas lalu-lalang kendaraan di depan rumah. Dulu, di tempat inilah Widya selalu menanti kehadiran Nathan-nya. Rasa bahagia setiap kali suara motor Nathan mengusik pendengarannya dan Widya selalu membalas lambaian tangan Nathan sebelum ia menemuinya.
Widya kembali menyeka bulir hangat di pipinya. Setiap kenangan tentang Nathan menari dalam ingatannya, hanya air mata yang setia menemani. Meski kadang kedua sahabatnya datang untuk menghibur, tetapi Widya merasakan kehampaan dalam satu sisi di sudut hatinya. Keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan Nathan tak ayal membuat hatinya terluka. Namun, kekecewaannya terhadap Nathan jauh lebih besar dari cintanya saat ini.
Suara ketukan pintu dari arah belakang tidak membuat perhatian Widya teralihkan. Bunda Arini terlihat dari balik pintu, melangkah mendekati putri semata wayangnya yang melamun menatap langit. Sudah beberapa hari ini Widya enggan datang ke kampus.
“Sayang, sedihnya sudah, ya! Sudah saatnya kamu kembali ke kampus. Gimana mau selesai tepat waktu kalau kamu seperti ini,” ucap Bunda Arini sembari mengelus kepala Widya.
Widya seakan tersadar dari mimpi buruknya, ia menatap wajah teduh Arini. Wajah yang selama ini menemaninya, wajah yang selama ini memancarkan kesenduan melihat kondisinya, wajah yang selama ini kehilangan senyum akibat ulahnya. Tangis Widya pecah ketika ia melingkarkan tangannya di pinggang Arini.
“Maafin Widya, Bun! Widya sudah mengecewakan Bunda dan Ayah,” isaknya membuat Arini terenyuh.
“Widya harus bangkit, ya! Jangan biarkan kesedihan menghancurkan cita-citamu. Widya masih ingat perjuangan kita untuk berada di titik ini, kan? Dari setiap tetes keringat kita saat bergelut dengan tepung hingga Widya bisa kuliah seperti keinginan kamu. Bunda berharap semua lelah kita tidak akan berakhir sia-sia.” Arini membelai kepala Widya, membiarkan Widya menangis sepuasnya dalam dekapannya.
Beberapa saat lamanya hanya suara isak tangis Widya yang mendominasi dalam ruangan itu. Hingga Widya melerai pelukannya dan menatap Arini. “Widya tidak akan mengecewakan Bunda. Widya janji akan mengejar ketinggalan Widya selama ini.”
Arini tersenyum lega menyaksikan Widya yang mulai berdamai dengan hatinya. “Yuk, turun ke bawah! Ayah sudah menunggu kita untuk makan siang. Dari tadi pagi kamu belum sarapan, kan? Kasihan Ayah sudah kelaparan di bawah.”
Arini mengambil sisir di meja rias dan merapikan rambut putrinya. Widya bangkit menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan turun bersama Arini. Melihat wajah lelah ayahnya yang menunggu di meja makan, semakin membuat Widya sadar bahwa kesedihannya mempengaruhi banyak orang. Secara tidak langsung ia telah menghilangkan senyum dan semangat orang-orang yang menyayanginya.
“Eh, anak ayah sudah datang! Ayah ambilin nasi, ya. Widya mau makan pakai sup apa ikan? Ini ikan hasil pancingan ayah, loh. Ayah kangen mancing sama kamu, Wid.” Ucapan Bowo yang bersemangat melihat kehadiran Widya, membuat Widya terharu dan merasa bersalah. Pasalnya, selama ini Widya tidak pernah melihat ayahnya murung dan lelah. Sungguh, masalahnya telah memadamkan keceriaan di rumah itu.
__ADS_1
“Pakai sup sama ayam saja, Yah. Widya lagi malas makan ikan,” jawab Widya mencoba menghadirkan senyum di hadapan lelaki terhebatnya.
Ayah Widya sibuk mengambil nasi untuk Widya, sedang Arini menuangkan air putih untuk mereka. Widya duduk menyaksikan binar kebahagiaan di mata orang tuanya. Sesederhana ini membuat mereka bahagia. Widya sadar sudah berapa lama ia mengurung dirinya dalam kamar. Mematikan akses dengan lingkungan sekitar tak terkecuali orang tuanya.
...***...
Widya mematut dirinya di depan cermin. Hari ini Widya berencana berangkat ke kampus. Kebetulan jadwal hari ini di mulai jam satu hingga jam lima sore. Widya menata hatinya sedari pagi, mempersiapkan segala kemungkinan yang bakal terjadi di kampus. Termasuk salah satunya jika harus bertemu Nathan.
Setelah memarkir motornya, ia bergegas menuju perpustakaan sambil menunggu jam kuliahnya. Ia sengaja menghabiskan waktunya di ruangan itu untuk menghindari Nathan. Bahkan, Widya selalu menolak bergabung bersama sahabatnya. Untuk saat ini tempat ternyaman bagi Widya hanyalah perpustakaan. Di tempat inilah Widya mendapatkan ketenangan.
Pukul 12.50 WIB, Widya bangkit menuju kelasnya. Dengan berat dan ragu ia memberanikan diri melangkah menyusuri koridor kampus, matanya sesekali berkeliling menyapu tiap sudut, mencari seseorang yang selama ini ia rindukan dan ia benci dalam waktu bersamaan. Widya memasuki kelasnya tepat ketika mata kuliah hampir mulai, ia sengaja duduk di dekat pintu dengan harapan ia bisa cepat keluar dari ruangan itu ketika kelas berakhir.
...***...
Kartika dan Karin pun turut merasakan imbas dari kejadian yang menimpa Widya. Dulu mereka selalu ceria saat makan bersama di kantin kampus. Kini mereka berdua hanya membolak-balik makanannya tanpa berniat membawa masuk ke dalam mulutnya.
“Eh, iya. Gue lupa kalau perut gue lapar.” Kartika menatap Zakir dan segera menyadari tingkahnya.
“Apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan keceriaan Widya, ya? Kemarin saja kita gagal bujuk dia untuk makan,” ucap Karin tak kalah lesu.
“Kita sudah berusaha sebisa mungkin. Kita berdoa saja demi kebaikan Widya,” timpal Edo yang sedari tadi diam menyaksikan kemurungan sahabatnya.
“Aku takut jika Widya terlalu terpuruk akibat kejadian ini,” lirih Karin.
“Widya bukan orang seperti itu. Dia hanya butuh untuk menyendiri. Tapi kita tetap harus bersamanya. Memantaunya dari jauh, hingga ketika dia butuh uluran tangan kita, kita sigap menyambutnya,” ucap Zakir.
__ADS_1
“Tumben lo lurus, Zak. Kesambet apa lo tadi? Biasanya juga omongan lo kagak ada yang bisa jadi panutan.” Harsa menimpuk kepala Zakir yang duduk di sampingnya.
“Eh, gue ini dari dulu lempeng. Kalian aja yang selalu membelokkan langkah gue.” Zakir membela dirinya.
“Udah, ah. Kalian malah ribut sendiri. Ayo, Rin kita ke kelas!” Kartika bangkit dan meninggalkan tempat itu.
“Tunggu Abang, Dek! Jangan pergi gitu aja, nggak sopan tahu,” seru Zakir pada Kartika.
“Bodo amat.” Kartika menjulurkan lidahnya dan menarik tangan Karin, mengajaknya untuk segera meninggalkan tempat itu.
Hari-hari berikutnya Widya lalui seperti biasa. Menyendiri di dalam perpustakaan tanpa mau diganggu. Dan yang lebih membuat Widya kembali terluka adalah setiap usaha Nathan untuk mendekatinya kembali. Beberapa hari yang lalu Nathan mempermalukan dirinya sendiri hanya untuk mengambil hati Widya. Membuat Widya hampir saja menyerah dengan keputusannya. Namun, ia segera sadar ketika mengingat kejadian di kolam itu. Widya tidak mau lagi mengecewakan orang-orang yang begitu tulus menyayanginya. Ayah, bunda, dan sahabatnya jauh lebih dia utamakan daripada perasaannya terhadap Nathan.
...*** ...
Malam ini penerbangan dari Singapura mendarat dengan mulus di Jakarta. Seseorang berkulit putih mengenakan kaos hitam dan celana jeans biru muda menuruni tangga pesawat. Jaket yang tersampir di pundaknya serta kacamata hitam yang bertengger di kepalanya membuat ia jadi pusat perhatian gadis-gadis di area tersebut.
“Halo, Bram. Gue udah sampai. Kamu ada di mana?” Orang itu bicara melalui ponselnya.
Setelah mengakhiri panggilannya, orang itu segera mengenakan jaket lalu menyimpan ponsel ke dalamnya. Langkah lebarnya membawa ia keluar menuju parkiran. Tampak seseorang menyambut kedatangannya dan membukakan pintu mobil untuknya. Mobil pun segera melaju membelah jalanan ibukota yang masih ramai, meskipun hari semakin larut.
“Kamu sudah carikan aku hotel, kan?” tanya orang itu.
“Semuanya sudah beres, Bos. Nanti kalau Bos berubah pikiran dan ingin tinggal lebih lama di sini, saya juga sudah mempersiapkan sebuah apartemen tidak jauh dari tempat tinggal Vina,” balas seseorang di balik kemudi.
...***...
__ADS_1
Nah, loh, siapa lagi, tuh? Musuhnya Vina, kah? Apa debt collector yang mau nagih utang? Yok, tebak 😅😅