
...***...
“Oh, ya? Seyakin itu kamu, kalau dia masih mencintai kamu setelah apa yang kamu lakukan sama dia?” Exel tersenyum sinis meski di hatinya amarah sedang bergejolak hebat. Namun, sebisa mungkin ia mencoba menguasai amarahnya. Ia tidak ingin lepas kontrol hingga menyulitkannya untuk mendapatkan Vina kembali.
Exel akui, ia masih mencintai Vina. Kesalahannya di masa lalu hanya karena ia tidak bisa mengontrol hasratnya untuk bermain-main dengan wanita lain. Jiwa mudanya masih menginginkan untuk bertualang.
Ia masih belum puas menikmati masa mudanya dan tidak ingin berhenti pada satu gadis saja meski ia sudah bertunangan dengan Vina. Hingga saat Vina pergi meninggalkannya, ia merasa hampa dan baru ia sadari bahwa hatinya hanya menginginkan Vina. Ia bertekad untuk membawa Vina kembali dan melanjutkan pertunangan mereka yang belum dibatalkan secara resmi.
“Tentu saja. Bahkan dia lebih membelaku dibanding kekasihnya sendiri.” Senyum Vina mengembang saat mengingat semua ulahnya yang membuat hubungan Nathan dan Widya hancur.
“Bangun dari tidurmu! Itu pasti hanya bualanmu belaka.” Mata Exel memicing, menatap Vina dengan tatapan tidak percaya. Masih teringat jelas di ingatan Exel saat Vina menghina Nathan di hadapannya dan itu membuat Nathan begitu kecewa pada Vina.
“Aku tidak akan percaya dengan ucapanmu. Sudahlah, Vin, kembali sama aku. Aku janji akan setia sama kamu. Cuma aku yang bisa menerima kamu apa adanya dan bisa membuatmu bahagia,” tawar Exel.
Ia masih setia membujuk Vina agar kembali padanya. Namun, hanya tatapan sinis yang diberikan oleh Vina. “Kamu yakin dia akan menerimamu, kalau dia tahu bahwa kamu sudah tidak sempurna sebagai seorang gadis? Itu nonsense bisa terjadi. Jangan menghalu untuk bisa kembali bersamanya. Urusan menghalu biar urusan mereka para pembuat naskah novel fiksi. Jadi sebaiknya kamu kembali sama aku, kita perbaiki hubungan kita dan tentunya urusan ranjang kita.” Kembali Exel meremehkan ucapan Vina dan mengedipkan sebelah matanya, menggoda Vina yang tampak marah.
Bayangan kebersamaan dengan Vina kembali menyeruak. Malam panas yang selalu mereka lewati bersama membuat Exel tidak sabar untuk mendapatkan Vina kembali. Ia merindukan momen itu. Apa pun akan ia lakukan agar Vina kembali padanya. Termasuk merebut Vina kembali dari Nathan jika memang Nathan masih mencintai Vina.
Vina geram karena Exel tidak mempercayai ucapannya. Amarahnya ikut terbakar karena Exel selalu menyulutnya. Terlebih mengingatkannya pada urusan ranjang yang selalu mereka lakukan di apartemen Exel. “Kamu yang harusnya bangun dari tidurmu! Aku tidak akan pernah mau kembali sama kamu, brengsek!” bentaknya kesal. Kedua tangannya mengepal kuat.
Ingatan saat Exel berciuman panas dengan seorang gadis dengan pakaian mereka yang berantakan di apartemen milik Exel kembali berputar di otaknya. Rasa sakit di hatinya kembali menghampiri. Terasa perih dan menyakitkan. Ia tidak pernah berpikir jika laki-laki yang sangat ia cintai tega mengkhianatinya setelah ia menuruti semua keinginan Exel dan menyerahkan semuanya untuk mantan tunangannya itu.
“Asal kamu tahu, Nathan akan selalu menerimaku apa adanya. Dia sangat mencintaiku. Dia bahkan membelaku dan menghina pacarnya habis-habisan di pesta ulang tahunku. Meski pacarnya sama sekali nggak salah. Dia bahkan rela bertengkar dengan teman-temannya demi aku. Apa itu tidak cukup menjadi bukti bahwa Nathan masih mencintaiku?” terang Vina.
Lagi-lagi Exel memicingkan mata. Ia begitu mengenal Vina. Ia yakin Vina telah membuat ulah. “Jujur, aku tidak yakin jika Nathan membelamu begitu saja daripada kekasihnya, apa yang sudah kamu lakukan?” tanya Exel menelisik.
“A-apa? Aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya pura-pura tidak bisa berenang. Itu saja,” jawab Vina gugup. Tatapan Exel membuat nyalinya menciut. Ia takut Exel bisa menebak apa yang telah ia lakukan.
“Aku tidak percaya,” bantah Exel.
“Terserah kalau kamu tidak percaya, yang penting aku senang Nathan sudah putus dari pacarnya. Jadi sekarang kamu pergi dari sini! Sudah tidak ada harapan buat kamu lagi,” usirnya.
“Dengar, Vin! Aku pastikan kamu akan kembali padaku,” tegas Exel.
__ADS_1
“Itu hanya mimpimu!” Vina menyeret Exel ke luar dari apartemen miliknya.
Dengan langkah berat Exel menuruti permintaan Vina untuk meninggalkan apartemen milik Vina. “Akan aku lakukan apa pun, yang penting kamu kembali padaku,” batin Exel sembari menatap pintu apartemen milik Vina yang tertutup setelah ia berada di luar. Masih banyak waktu baginya untuk merebut Vina kembali dari Nathan.
...***...
Perut yang terasa lapar membawa langkah kaki Exel ke sebuah resto di dekat apartemen yang ia tinggali. Apartemen yang ia sewa hanya berbeda tower dengan apartemen milik Vina. Langkah yang tergesa membuatnya tak sengaja menabrak seorang gadis manis.
“Maaf!” ucapnya tulus sambil menahan tubuh gadis itu dalam dekapannya agar tidak mendarat di lantai.
Gadis itu terkesiap. Tatapan mata mereka bertemu. “Gila ... ganteng banget!” jeritnya dalam hati. Ia terpesona dengan karya Tuhan yang dirasanya begitu sempurna. Wajahnya terpahat begitu apik. Alisnya tebal dan rapi. Hidungnya mancung sempurna. Matanya begitu indah seperti mata elang yang siap mengintimidasi siapa pun. Rahangnya tegas seakan memancarkan kewibawaan dan bibirnya begitu seksi. Exel mengalihkan dunia gadis itu, seakan ia tengah berada dalam dekapan aktor Korea Won bin.
“Kamu nggak apa-apa?” pertanyaan Exel membuyarkan lamunan sang gadis.
“Ah, iya. Aku nggak apa-apa,” ucapnya setelah kesadarannya terkumpul penuh.
“Syukurlah.” Lagi, senyum menawan milik Exel mampu membius gadis itu. Ia begitu terpana dengan ciptaan Tuhan yang satu ini.
“Iya,” balas si gadis dengan senyum tak kalah manis.
“Kariiin!!!!” Suara teriakan dari sahabat-sahabatnya membuat Karin berdecih lirih karena mengganggu momen romantis yang sedang tercipta.
“Jadi, nama kamu Karin?” tanya Exel ramah.
“Eh, iya,” jawab Karin kikuk.
“Aku Exel.” Exel mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri. Karin pun menyambut dengan antusias. “Dan mereka?” tanya Exel pada kedua gadis lainnya. Tetapi pandangannya terkunci pada gadis yang memiliki tatapan sendu. Gadis manis yang seakan tengah menyimpan sejuta luka.
“Gue Kartika.” Kartika memperkenalkan diri.
“Hai,” sapa Exel ramah.
Widya diam membisu tak berniat memperkenalkan dirinya pada lelaki asing yang usianya dirasa berada di atas mereka.
“Dan kamu?” Exel mengulurkan tangannya pada Widya, tetapi Widya bergeming mengabaikan tangan Exel.
__ADS_1
Kartika yang sadar akan tingkah dingin Widya segera menyenggol bahu Widya, agar membalas uluran tangan Exel. Dengan malas Widya menyambut tangan Exel. “Widya,” ucapnya lirih.
“Senang berkenalan dengan kalian,” ucap Exel lagi.
Widya ingin menarik tangannya dari Exel, tetapi Exel menahannya. Hingga suara yang familiar hadir di antara mereka.
“Lepaskan dia, brengsek!” makinya sembari menyentak tangan Widya hingga terlepas dari Exel. Mata Nathan nyalang menatap Exel seakan ingin menelan Exel bulat-bulat. Namun, berbeda dengan Exel yang begitu santai menghadapi Nathan. Bagi Exel, Nathan hanya bocah ingusan. Walaupun ia juga terkejut dengan kehadiran Nathan yang tiba-tiba. Terlebih lelaki itu langsung memaki dirinya hanya karena Exel memegang tangan Widya.
Karin, Widya, dan Kartika juga terkejut dengan kehadiran Nathan yang tiba-tiba. Sedangkan Exel tersenyum menyeringai. Lawannya muncul sendiri di hadapannya tanpa ia susah-susah mencari.
“Hai, Nath. Senang bertemu kembali,” sapanya santai.
“Jangan pernah ganggu pacar gue!” Nathan mencekal tangan Widya dengan posesif dan menyembunyikannya di balik tubuhnya. Ia tahu benar, Exel adalah pemain wanita yang ulung. Perempuan mana yang tidak akan luluh dengan ketampanan dan mulut manis Exel yang pandai membual. Exel tersenyum sinis, ternyata Widya adalah kekasih Nathan yang diceritakan oleh Vina. Ia semakin bersemangat untuk memulai permainannya.
“Kenapa? Takut kalah saing lagi sama aku?” Pertanyaan Exel membuat rahang Nathan mengeras.
“Nath, lepas!” Widya yang merasa cengkraman tangan Nathan semakin menguat merasa sakit.
Nathan yang menyadari itu, ia segera melonggarkan cekalan tangannya dari Widya. Tatapan matanya bertemu dengan iris milik Widya. “Kita pergi.” Tidak banyak kata lagi, Nathan membawa pergi Widya.
Widya yang melihat ada aura mencekam akhirnya pasrah mengikuti langkah Nathan. Karin dan Kartika pun turut menyusul setelah pamit pada Exel. Mereka takut terjadi sesuatu dengan Widya, dan ada tanya untuk Nathan yang terselip di benak mereka.
Setelah berada di area parkir, Widya memberontak mencoba melepaskan diri dari Nathan.
“Cukup! Aku bisa pulang sendiri,” pinta Widya. Nathan pun melepaskan tangan Widya dengan terpaksa.
“Nath, lo kenal sama cowok tadi?” Pertanyaan Karin mengalihkan atensi Nathan yang semula berpusat pada Widya.
“Mantan tunangan Vina,” jawab Nathan ketus. Ia kembali kesal ketika membahas tentang Exel.
Hal itu sontak membuat Karin dan Kartika melongo. “Duh, Gusti ... amit-amit, deh! Gue udah terpesona sama mantannya si ulet keket," pekik Karin sembari mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri. "Nggak lagi-lagi, deh. Jijik gue. Nggak sudi,” batin Karin. Ia tiba-tiba bergidik ngeri.
...***...
__ADS_1
Jangan lupa kasih dukungan like, gift, dan komentarnya, ya. 🙏
Oh, iya. Selamat berpuasa bagi yang menjalankan 🤗