Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 14.1


__ADS_3


...***...


Menit berlalu dengan cepat meninggalkan detik, tetapi tidak seperti rasa cinta Nathan kepada Widya. Itu tidak akan pernah pergi walau masa terus berputar tanpa henti.


Sore ini, setelah jam kuliah selesai, mereka berdua akan mampir ke kafe yang baru di lihat oleh Nathan di media sosial. Kafe itu lagi viral dengan nama 'Kafe Kasih Sayang'. Setelah Nathan dan Widya membawa masuk tubuhnya ke kafe tersebut, mereka memilih tempat duduk di dekat jendela kaca.


Tak lama waitress menyodorkan buku menu kepada mereka berdua. Nathan memilih coklat panas dan roti bakar, sedangkan Widya memilih vanilla latte dan pisang bakar. Waitress itu pergi setelah selesai menulis pesanan pelanggannya.


Sambil menunggu pesanan datang, Widya dan Nathan pun berbincang ringan. Di balik jendela kaca itu terlihat jelas langit barat yang berangsur gelap. Nathan memandang wajah Widya dengan intens, berusaha meraih jari jemari Widya. Widya mencoba menghindar, tetapi sayangnya kalah cepat dengan tangan Nathan menggenggamnya dengan erat. Wajah Nathan tiba-tiba berubah pucat.


"Wid, gue mau usaha lagi. Kira-kira sekarang lo udah bisa nerima Gue, nggak? Gue serius, lho, Wid. Kalau gue sayang dan cinta sama lo."


Deg!


Wajah pucat itu berpindah pada Widya, kedua matanya mengerjap gugup penuh rasa bingung.


"Nath, jangan bercanda terus, ah! Nggak lucu, tau! Kita, 'kan, udah sering bahas itu,ā€ seru Widya sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Nathan, "bukannya lebih seru kalo kita jadi sahabat aja," ungkap Widya.


Nathan menghela napas kasar, ia melepaskan tangan Widya walau dengan terpaksa. "Gimana caranya gue buat ngeyakinin lo, Wid? Kalau nama lo selalu terpatri dalam hati gue, lo nggak bisa nyuruh gue buat lupain perasaan ini, karena cinta gue cuma diajarkan untuk mengingat bukan untuk melupakan. Gue yakin nggak akan salah memilih hati,


"Semoga dengan kejujuran ini loe bisa menerima gue. Seperti langit yang selalu menerima senja. Izinkan diri ini mendapatkan tempat terindah di dalam hidup lo sebagai kekasih atau bahkan calon suami," tutur Nathan panjang lebar.


Widya sedikit terenyuh mendengar penuturan Nathan, tetapi hatinya masih menolak untuk bisa memulai hubungan.


Melihat ekspresi wajah Widya yang menggemaskan, sikap usil Nathan kembali menyerang. "Okey, mulai sekarang kita jadian."


"Nathan! Kapan gue bilang iya?" protes Widya dengan wajah yang cemberut. Bibirnya yang manyun beberapa senti, membuatnya terlihat sexy.


"Wah, bahaya, tu, bibir! Bikin gue jadi pengin nyomot aja," celetuk Nathan semakin menggila dengan keabsurdannya. Itulah Nathan dengan segala keusilannya, tetapi entah kenapa Widya selalu merasa nyaman jika berada di dekat lelaki tersebut.

__ADS_1


"Nath!"


Tawa Nathan pecah sesaat setelah Widya kembali memprotes dirinya. "Sorry, sorry ... gue tahu, kok. Gue masih sabar nungguin lo," ungkap Nathan setelah tawanya reda, pun dengan mimik wajah yang terlihat sendu. Widya tersenyum getir melihat itu. Lalu kedatangan waitress yang membawa makanan membuat moment itu akhirnya selesai.


Langit senja sedikit demi sedikit menghilang di telan pekatnya malam. Mereka yang telah selesai makan, akhirnya pulang setelah perutnya kenyang.


***


Semenjak kejadian Nathan yang mencoba untuk meyakinkan Widya, sejak itulah Nathan mulai benar-benar membuktikan rasa cintanya pada Widya. Memberikan perhatian lebih pada gadis itu, sekecil apa pun itu.


Misalnya, ketika Widya pergi ke kampus. Tidak ada hari yang Nathan lewati tanpa menjemputnya, mengantarkan gadis itu ke kampus atau ke mana pun dia mau. Bahkan, saat Nathan tidak ada kelas sekalipun, dia tetap akan mengantarnya. Demi ingin membuktikan pada Widya bahwa dia benar-benar mencintainya.


Namun, sepertinya hari ini Nathan harus mengistirahatkan tubuhnya. Entah kenapa, pagi ini badannya tiba-tiba menggigil. Dari atas tempat tidurnya, Nathan segera menghubungi Widya melalui ponselnya.


"Ada apa lo telepon gue?" Terdengar suara ketus seorang gadis yang dicintainya.


"S-sorry, Wid. Sepertinya gue nggak bisa nganter lo ke kampus." Suara Nathan terdengar cukup lirih, bahkan hampir tidak terdengar oleh Widya.


Hachii!!


"Lo sakit, Nath? Sakit apa? Udah minum obat? " Mendengar suara panik dari Widya, membuat seulas senyuman terbit di wajah Nathan. Tubuhnya yang awalnya lemas dan tidak bisa bergerak, sedikit memberikan reaksi dan tenaga untuk membawanya duduk bersandar.


"Cuma flu sama meriang aja, Wid. Makanya, gue bilang nggak bisa nganter lo ke kampus. Lo gue bolehin dijemput Harsa kali ini, tapi jangan sampek baper," ucap Nathan pelan.


"Ya udah, sih. Lo lagi sakit, tapi masih juga banyak ngomong, ya. Lo istirahat aja di rumah! Ntar gue ke kampus gampang, pakek ojol juga bisa."


Tiba-tiba keduanya sama-sama terdiam. Nathan hanya mendengarkan suara Widya dan itu bisa membuatnya sedikit tenang.


"Emm ... Nath, kalau nggak ada lagi yang mau diomongin, gue tutup teleponnya, gue mau siap-siap dulu. Lo jangan lupa makan, terus minum obat. Ya u—"


"Eh Wid!" potong Nathan sebelum gadis itu memutuskan sambungan telepon.

__ADS_1


"Ya?"


"Lo nggak ada niatan ke sini? Kasih semangat ke gue, biar gue cepet sembuh, gitu?" pinta Nathan sambil senyam-senyum dari balik telepon.


"Nggak! Bye!"


Seketika telepon pun ditutup oleh Widya, membuat tubuhnya kembali lemas. Apa memang Widya benar-benar tidak memiliki rasa padanya? Nathan terus bertanya pada dirinya sendiri. Sepertinya ia sudah berusaha untuk meyakinkan Widya, tetapi apa itu kurang cukup?


Nathan kembali merebahkan tubuhnya, rasanya ia begitu malas melakukan apa pun. Bahkan, saat mamanya berulang kali memanggil untuk sarapan pun tidak dihiraukannya. Pagi ini badannya memang benar-benar tidak bisa diajak kompromi.


Tok tok tok!


Mendengar suara pintu kamar diketuk, Nathan hanya melihat dari balik selimutnya. Dia hanya bergeming menatap pintunya yang perlahan terbuka dan menampilkan sosok Liana.


Liana berjalan mendekati Nathan. "Kamu nggak ke kampus?" tanya Liana begitu sampai di depan Nathan. Sedangkan Nathan hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Tangan Liana terulur memegang kening Nathan.


"Kamu sakit? Udah minum obat? Mama bawakan sarapannya ke sini, ya?" Setelah mengajukan serentetan pertanyaan yang sama sekali tidak dijawab oleh Nathan, Liana pun keluar. Tidak lama kemudian, dia kembali dengan membawa nampan berisi menu sarapan, minuman dan obat untuk Nathan.


"Nih, mama taruh di meja, ya?" Liana masih memperhatikan Nathan, anak lelakinya itu masih belum beranjak dari tempat tidurnya. "Minta disuapin?" tanya Liana yang masih menatap Nathan dari dekat meja.


"Hmm," jawab Nathan bergumam manja. Liana hanya menggelengkan kepala melihat sikap manja anaknya.



...***...


Manja, bet.


Noh, ada yang mau suapin Nathan?


Kasih pajak dulu sama othornya, minimal like sama komentarnya šŸ˜…šŸ˜…

__ADS_1


__ADS_2