
...Happy Reading .... ...
...***...
Berita kembalinya Widya tentu membawa kebahagiaan bagi orang-orang di sekelilingnya. Bowo yang kala itu berada di rumah, langsung melaju menuju rumah sakit ketika mendengar kabar dari Arini tentang putri mereka. Sesampainya di rumah sakit, Bowo melihat Dokter Fitri beserta beberapa perawat sedang memeriksa kondisi Widya. Bowo lebih memilih menunggu dan duduk di bangku depan kamar rawat inap putrinya, agar tim medis tidak terganggu akan kehadirannya.
Sepanjang penantiannya, Bowo tidak berhenti mengucapkan rasa syukur pada Sang Pemilik Kehidupan atas jawaban doa-doanya selama ini. Beberapa saat kemudian, terlihat Dokter Fitri keluar dari kamar Widya. Senyum manis terpancar dari wajah wanita cantik nan anggun berbalut jas putih tersebut.
“Alhamdulillah, Pak. Putri Bapak sudah kembali. Saat ini kita fokus untuk pemulihan fisiknya dulu. Setelah itu, tinggal melakukan beberapa terapi dan pengobatan saja. Tetap beri dukungan dan jangan pernah berhenti berdoa, ya!” papar dokter cantik itu.
“Alhamdulillah. Terima kasih, Dok.” Bowo sedikit membungkukkan badan mengiringi kepergian Dokter Fitri.
Sepeninggal Dokter Fitri, dengan tidak sabar ia bergegas memasuki kamar Widya. Hal pertama yang Bowo lakukan adalah mendekati putrinya dan duduk di sampingnya.
“Apa kabar putri ayah? Ayah pikir, putri ayah sudah tidak kangen sama ayah. Ayah akan sedih jika hal itu benar-benar terjadi,” ucap Bowo sembari mengelus kepala Widya. Widya hanya tersenyum menatap ayahnya yang memancarkan binar kebahagiaan.
“Maafin Widya, Yah, Bun. Widya akan berusaha bangkit dari semua ini. Aku janji, Nath. Aku akan berusaha menjadi kaktus buat kamu. Semuanya demi kamu, Nath,” batin Widya kala melihat kebahagiaan orang tuanya saat ia sadar dari tidur panjangnya.
Sementara itu Arini menyela omongan sang suami, “Hus, Ayah ngomong apa, sih? Tentu saja Widya tidak seperti itu. Iya, kan, Sayang?” Tatapan Arini tak lepas dari wajah lemah Widya. Widya hanya bisa menganggukkan kepala perlahan. Memberikan kepastian akan apa yang Arini ucapkan.
“Oh ya, Widya sudah makan?” tanya Bowo bersemangat.
“Belum, Yah. Dokter Fitri baru saja selesai memeriksanya,” jawab Arini. Bersamaan dengan itu, terdengar suara ketukan dari arah pintu. Tak lama kemudian, masuklah perawat dengan membawakan makanan dalam nampan mendekati ranjang Widya.
“Mbak Widya makan dulu, ya. Biar kondisi tubuhnya segera pulih.” Perawat itu meletakkan nampan di atas nakas di samping ranjang Widya. “Saya permisi dulu, Bu, Pak,” ucapnya sopan menampakkan senyum tulusnya.
“Terima kasih, Sus,” jawab Arini sesaat sebelum perawat itu meninggalkan ruangan Widya.
“Ayah suapin, ya?” tawar Bowo yang dibalas anggukan Widya. Selama dua hari tertidur dalam mimpinya membuat perut Widya sedikit berontak. Bowo yang melihat Widya tidak menolak tawarannya, tidak melewatkan kesempatan ini. Ia segera memosisikan Widya senyaman mungkin. Menaikkan sandaran agar kepala Widya lebih tinggi. Dengan sabar, Bowo segera menyuapi putrinya. Sesuap demi sesuap bubur hangat dalam mangkuk di tangannya sudah berpindah tempat ke dalam perut Widya.
__ADS_1
“Bunda buatin susu hangat, ya?” tawar Bunda yang masih berada di sisi kiri Widya.
“Widya mau teh hangat saja, Bun,” jawab Widya lemah. Arini pun segera bangkit dan menyiapkan teh hangat sesuai permintaan Widya.
“Ayah sudah lama banget nggak nyuapin putri kecil ayah. Kapan, ya, terakhir ayah nyuapin kamu?” celoteh Bowo berusaha untuk mencairkan suasana dalam ruangan itu.
“Kalau tidak salah waktu Widya kelas dua SD, deh. Saat itu Widya tidak bisa makan sendiri karena tangannya sakit terkena pisau,” jawab Arini yang berada tak jauh dari ranjang Widya.
“Udah lama banget, ya,” Bowo terkekeh membayangkan kenangan mereka. “Oh ya, Bun. Sudah ngabarin mama Liana dan sahabat Widya atau belum?”
“Ya, ampun! Bunda lupa. Bunda telepon mereka dulu.” Arini segera mengambil ponselnya dan mengabari kondisi terbaru Widya kepada Liana dan sahabat-sabahat Widya.
...***...
Semenjak kabar sadarnya Widya dari tidur panjangnya, ruangan bernuansa putih itu setiap hari selalu ramai. Sepulang sekolah, si Kembar bersama Liana selalu menyempatkan diri untuk berkunjung. Bahkan, perdebatan-perdebatan kecil mereka menjadi pemandangan yang berhasil membuat Widya tersenyum.
...*** ...
Beberapa hari semenjak kepulangan Widya dari rumah sakit, keramaian yang terjadi di sekeliling Widya kini berpindah ke rumah mungil nan asri yang menjadi tempat Widya untuk pulang. Arini selalu menjaga pola hidup Widya. Mengatur makanan sehat untuk putrinya dan selalu mengawasi jam tidurnya sesuai arahan Dokter Fitri. Bahkan, Arini dan Bowo sekarang tidur di kamar yang sama dengan Widya. Tiap malam, Bowo menggelar kasur lantai di kamar putrinya demi menjaga buah hatinya. Mereka berusaha keras untuk kesembuhan putri semata wayang yang merupakan satu-satunya penyemangat hidup mereka.
Sahabat-sahabat Widya pun tak pernah absen untuk berkunjung. Setiap pulang kerja mereka selalu singgah ke rumah Widya. Karin dan Kartika sering membawakan makanan ringan seperti yang sering mereka makan selama masa kuliah. Zakir dan Edo juga sering membawakan minuman kesukaan Widya dari Kafe Hamber. Bahkan, Harsa rela mendatangi kantin kampus mereka dahulu demi mendapatkan batagor kesukaan Widya.
Widya beruntung dikelilingi orang-orang yang selalu menyayanginya dan tak henti memberikan dukungan. Siang ini, Widya duduk di teras rumah menemani Bunda Arini yang sedang merawat tanaman yang sudah lama terabaikan. Widya duduk di lantai sembari memainkan ponselnya. Tiba-tiba notifikasi dari ‘sahabat selamnya’ menarik atensi Widya dari game yang sedang ia mainkan.
[Gaes, nanti sore ke kafe, yuk. Gue kangen traktiran big bos @Edo.] tulisan Zakir dalam roomchat mereka.
[Setuju.] balas Karin.
[Setuju pakai banget. Jenuh gue kerja rodi sama bos galak @Edo.] timpal Kartika.
__ADS_1
[Mau ya @Widya? Ntar pulang kerja langsung gue jemput.] Harsa.
[Mau banget @Harsa. Gue udah kangen suasana kafe Hamber.] balas Widya tersenyum.
[ @Edo, Bos, ke mana, sih, lo. Nongol woy…] Zakir.
[Iya, iya, gue setuju. Sori gue barusan keluar dari ruang rapat.] Edo setelah beberapa menit berlalu.
[Akhirnya big bos ACC. Gaskeun…] Zakir.
“Kenapa senyum-senyum, Wid?” tanya Arini yang sedari tadi memperhatikan putrinya yang terlihat bahagia.
“Eh, ini, Bun. Nanti sore Karin dan yang lain mengajak ke Kafe Hamber,” jawab Widya.
“Wah, bagus, dong. Terus putri bunda mau, kan? Biar nanti ayah yang antar,” tawar Arini.
“Nggak usah, Bun. Nanti Harsa yang mau jemput Widya,” ucap Widya.
“Oh, ya, sudah. Udah siang, nih. Kamu makan dulu, gih!” seru Arini.
“Nunggu Bunda aja. Nggak enak makan sendiri,” jawab Widya tanpa mengalihkan atensi dari ponsel di tangannya.
“Ya, udah, ayo kita makan!” Arini menghentikan kegiatannya demi menemani Widya makan dan memantaunya untuk meminum obat.
...***...
...To be continued .... ...
Senangnya, Widya dah kembali ceria lagi 🥳
__ADS_1