Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 103


__ADS_3

...***Happy Reading***...


...***...


Harsa dikejutkan oleh seorang bocah lelaki yang berada di atas ranjangnya dengan berbagai mainan yang tersebar di sana. Bocah itu berusia sekitar empat tahun. Berkulit putih, netra hitam dan rambutnya lebat.


“Hai, Boy! Kapan datang?” sapa Harsa yang masih mengenakan kimono mandinya dengan handuk kecil di kepalanya.


Harsa mendekati bocah itu dan mengulurkan tangannya yang terkepal. Bocah itu mengalihkan atensinya dari mainannya dan menatap Harsa. Ia membalas tangan Harsa sambil tersenyum lucu.


“Abang!” Bocah itu segera bangkit dan memeluk Harsa. Harsa pun membalas pelukannya dan mencium pipi gembul bocah itu.


“Abim kapan datang? Sama siapa?” tanya Harsa kepada Abimana-sepupunya yang tinggal di Jepang.


“Sama mami,” jawabnya singkat.


“Sekarang mami di mana?” Harsa membawa bocah itu duduk di ranjangnya. Sedangkan Harsa sendiri mengambil baju rumahan dan segera memakainya.


“Mami di kamar, tadi bobok sama Abim,” celotehnya tanpa mengalihkan pandangan dari mobil di tangannya.


Tiba-tiba terdengar ketukan dari arah pintu membuat Harsa menoleh. Ia berjalan menuju pintu dan segera membukanya. Senyum Eviyana menyambut dari balik pintu.


“Makan malam dulu, yuk! Semua sudah menunggu.”


“Iya, Ma. Harsa segera turun,” jawabnya.


“Abim, ayo, makan dulu!” Eviyana memanggil keponakannya yang masih diam di ranjang Harsa. Bocah itu segera turun dan menghampiri Eviyana. Mereka menuju ruang makan diikuti Harsa. Di bawah terlihat Rendra dan Aline bersama suaminya sudah menanti.


“Tumben tante Aline datang nggak minta Harsa jemput. Apa kabar, Om?” sapa Harsa sopan.


“Baik, Sa. Om tahu sekarang kamu sibuk. Pengusaha muda mana sempat buat jemput kita ke bandara. Iya, kan, Mi?” jawab Surya.


“Hu um, Pi. Kita nggak mungkin, ‘kan, mengacaukan jadwal seorang direktur,” canda Aline membuat semua tergelak.


“Ah, Tante bisa aja,” jawab Harsa tersipu.


“Udah, dilanjut nanti lagi. Sekarang makan dulu,” timpal Rendra. Selanjutnya, hening tercipta, yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


...*** ...


Hari ketiga Widya bekerja di Mandala Kencana Design & Construction, perusahaan milik Harsa dan Zakir yang bergerak di bidang jasa konsultasi pembangunan. Meskipun usaha mereka masih tergolong pemula, tetapi hasilnya tidak perlu diragukan. Customer pertama yang memakai jasa mereka puas dengan hasil karya Mandala Kencana, hingga membuat nama Mandala Kencana semakin sering disebut di kalangan bisnis property.


Seperti halnya hari ini. Mandala Kencana mengikuti lelang tender dari sebuah perusahaan property ternama di Jakarta. Mereka sudah mulai disibukkan sejak tiga hari yang lalu. Widya sebagai pegawai baru langsung mendapat tugas untuk membuat materi presentasi. Tiga hari ini Widya sibuk hingga tiap hari begadang demi menghadirkan bahan presentasi yang sesuai dengan kondisi saat ini. Bagi Widya hal ini mudah karena dia sering mengerjakan hal yang sama di kantor lamanya. Namun, kali ini Widya yang harus mempresentasikan sendiri karena perusahaan Harsa belum sebesar perusahaan tempat Widya dulu bekerja. Jika dulu Hasbi yang akan maju sebagai atasannya.


“Sa, lu yang hadir di lelangnya Mr. Kim, ya. Biar gue yang meninjau proyek di Bandung. Gue nggak pede bersaing dengan perusahaan besar. Minder gue,” ucap Zakir sambil membereskan mejanya.


“Oke, lu hati-hati, ya!” jawab Harsa sebelum Zakir menyambar kunci mobil di mejanya. “Wid, lo udah siap, ‘kan? Semua bahan dan yang pasti udah nyiapin hati. Kita nanti akan bertemu dengan perusahaan-perusahaan besar. Jangan sampai kita down duluan. Gue percayakan bagian design interior sama lo. Ntar gue kasih kode kapan waktunya lo maju.”

__ADS_1


“Insya Allah siap, Bos,” jawab Widya.


Pagi ini mereka disibukkan oleh persiapan lelang tender. Setelah semua dirasa beres, Harsa dan Widya segera menuju ke kantor Mr. Kim. Harsa memarkir mobilnya di parkiran tamu. Mereka berdua bergegas menuju ke ruang meeting.


“Wid, tunggu sebentar. Ponsel gue ketinggalan di mobil.” Harsa berbalik arah setelah mendapat respon dari Widya. Widya duduk di sofa dalam ruangan itu.


“Widya, kamu di sini?” Hasbi datang dari luar bersama seorang asisten.


“Iya, Mas. Mas Hasbi ikut lelang?” tanya Widya.


“Iyalah, Wid. Seperti biasanya,” ucap Hasbi dengan senyum menggoda. “Kamu sendiri ngapain di sini? Apa jangan-jangan kita akan bersaing?”


“Mas Hasbi bisa aja. Mana berani aku bersaing sama Mas Hasbi,” jawab Widya.


“Eh, kebetulan kita ketemu di sini. Gimana kalau nanti makan siang bareng, yuk!” ajak Hasbi.


“Ayo, Wid, kita masuk!” Belum lagi Widya membalas ajakan Hasbi. Harsa yang sudah kembali, langsung memasang tampang sadis ketika melihat Hasbi berada di dekat Widya. Rasa cemburu dan takut itu sekilas memaksa Harsa untuk lebih waspada pada Hasbi.


“Aku duluan, ya, Mas,” pamit Widya segera mengikuti langkah lebar Harsa menuju ruang meeting. Hasbi hanya bisa menatap nelangsa kepergian mereka.


...*** ...


Setelah melewati beberapa jam yang mendebarkan, akhirnya Harsa dan Widya keluar dari ruangan dengan perasaan lega. Mereka masuk ke dalam lift bersama beberapa peserta lelang. Termasuk salah satunya adalah Hasbi.


“Presentasimu keren banget, Wid. Coba dari dulu kamu yang maju. Nyesel aku,” puji Hasbi.


“Itu karena kamu yang buat materinya,” lirih Hasbi.


Harsa yang melihat Hasbi selalu mendekati Widya pun merasa muak. Hingga akhirnya Harsa menarik tangan Widya untuk keluar dari lift meskipun belum sampai lantai satu.


“Loh, kita mau ke mana, Sa?” tanya Widya bingung.


“Bentar, gue ada urusan penting. Lo duduk di sini bentar, ya.” Harsa berlalu meninggalkan Widya beberapa saat. Harsa sengaja melakukan hal ini semata hanya karena dia tidak ingin melihat Hasbi yang sok dekat dengan Widya.


“Nona, bukannya Anda dari Mandala Kencana?” sapaan seseorang membuat Widya menoleh ke arah sumber suara.


“Iya benar, Mr. Kim,” jawab Widya sedikit membungkukkan badannya setelah ia berdiri dari tempat duduknya menghormati orang tersebut.


“Saya tertarik dengan paparan Anda tadi. Sungguh baru kali ini ada perusahaan yang menyajikan bahan yang bagus, tetapi dengan biaya yang sedikit. Saya akan pelajari kembali proposal Anda,” ucap Mr. Kim.


“Terima kasih, Mr. Kim,” ucap Widya sebelum Mr. Kim berlalu.


...*** ...


Hari ini Widya pulang dari kantor ketika hari mulai gelap. Tiga jam setelah meeting, Harsa mendapat email dari Mr. Kim bahwa Mandala Kencana menjadi perusahaan yang terpilih untuk proyek mereka. Aura bahagia menyelimuti kantor Harsa. Zakir yang baru saja tiba dari Bandung pun ikut bahagia mendengar semua ini. Mereka bekerja keras untuk merevisi beberapa titik sesuai permintaan Mr. Kim, hingga mereka pulang ketika hari mulai gelap.


“Ayo, Wid, kita pulang,” ajak Harsa.

__ADS_1


“Aku naik ojek online aja, Sa. Mau mampir minimarket,” jawab Widya.


“Ya, udah aku anterin. Ayo!” seru Harsa.


“Tapi, Sa….”


“Nggak pakai tapi-tapian.” Harsa menarik tangan Widya dan mengajaknya menuju ke mobil yang terparkir di depan kantor. Widya seperti anak kecil yang menurut saja pada kemauan Harsa.


Mobil melaju perlahan menuju ke sebuah restoran yang tak jauh dari kantor mereka. Harsa mengajak Widya untuk makan sebelum ke minimarket. Setelah makan, Harsa mengantar Widya ke minimarket karena Widya hanya ingin membeli barang pribadinya. Dengan sabar Harsa mengantar dan menemani Widya berbelanja. Meskipun awalnya Widya menolak dan meminta Harsa untuk menunggu di mobil saja. Widya malu jika Harsa mengetahui apa yang akan dia beli. Namun, dengan alasan Harsa juga ingin membeli sesuatu, jadilah mereka bersama masuk ke minimarket dan berbelanja keperluan masing-masing.


...*** ...


“Makasih, ya, Sa. Maaf, gue selalu merepotkan,” ucap Widya ketika mobil Harsa berhenti di depan rumah Widya.


“Lo nggak pernah merepotkan gue, Wid. Justru lo membawa kebahagiaan buat gue. Eh, maksud gue lo membawa kebahagiaan buat perusahaan gue. Berkat lo, kita bisa memenangkan tender,” ucap Harsa salah tingkah ketika ia keceplosan bicara.


Meskipun ia masih mencintai gadis itu, tetapi Harsa tidak mau gegabah. Harsa tidak ingin membuat Widya merasa tidak nyaman dengan perhatiannya yang berlebihan. Dan lagi, Harsa merasa tidak pantas untuk mengharapkan cinta Widya. Harsa masih ingat betul bagaimana dulu dia telah menyakiti hati Widya. Untuk saat ini, Harsa hanya berusaha untuk menjaga Widya. Memperbaiki kesalahannya yang dulu pada gadis itu yang pada akhirnya mampu mencuri cinta sejatinya. Dia akan bersedia mengikuti Widya ke mana saja. Tidak peduli jika ada orang yang menganggap benalu yang selalu menempel pada Widya. Yang penting Widya tidak pernah luput dari pengawasannya.


“Sa, mampir dulu, yuk!” Ajakan Widya membuyarkan lamunannya. Harsa hanya tersenyum dan mengangguk.


Mereka turun dari mobil dan melangkah menuju rumah Widya. Memencet bel beberapa kali hingga akhirnya Arini muncul dari balik pintu masih mengenakan mukena. Setelah mencium punggung tangan perempuan paruh baya itu. Harsa pun pamit pulang.


“Nggak masuk dulu, Sa?” ajak Arini.


“Terima kasih, Tan. Udah malam, Harsa langsung pulang saja,” tolak Harsa.


“Loh, kok, buru-buru? Tante bikinin teh hangat dulu,” bujuk Arini.


“Tubuh Harsa udah lengket, Tan. Gerah pengen cepet-cepet mandi.”


Akhirnya, Arini pun mengalah. Ibu dan anak tersebut melepas kepergian Harsa di teras rumah hingga mobil Harsa meninggalkan pekarangan.


...*** ...


Setibanya di rumah, Harsa segera membersihkan diri. Berendam dalam air hangat membuat lelahnya menghilang. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang setelah selesai membersihkan diri. Rasa lelah dan penatnya langsung lenyap berganti rasa nyaman ketika sudah berbaring di tempat favoritnya itu.


Pandangan Harsa tertuju ke plafon kamarnya. Imajinasinya bermain membayangkan wajah Widya terlukis cantik di sana. Senyum merekah langsung terpancar dari bibirnya. Rasanya ingin segera bertemu esok hari, agar cepat bertemu dengan perempuan itu lagi.


"Ah, gue bisa gila kalau kayak gini." Harsa mengacak rambutnya sambil tertawa geli. Lalu memutuskan untuk memejamkan mata agar malam hari terasa cepat berganti.


...***...


**To be Continued....


Aku juga senyum-senyum sendiri liat kamu kayak gini, Sa. Jangan sampe gila beneran, ya 😅


Harsa minta dukungannya, Readers. Dengan like, komentar, vote, sama giftnya 🥰**

__ADS_1


__ADS_2