
...***...
Setelah mendengar penuturan Widya, Nathan semakin semangat menemani sang papa di Singapura, untuk membantu menyelesaikan semua permasalahan perusahaan keluarga besar Lesmana yang cukup meresahkan. Ia ingin masalah ini benar-benar segera selesai.
Setelah perjuangan yang cukup berat serta ancaman yang Nathan berikan pada om-nya, akhirnya hari ini permasalahan dalam perusahaan itu case closed. Tepatnya seminggu setelah Nathan dan Widya terakhir kali telepon. Besok Nathan bisa kembali ke Jakarta.
Pamannya itu memang harus diancam agar tidak semakin membuat ulah. Untung saja, setelah lama melakukan penyelidikan serta penguntitan, Nathan yang sudah memegang rahasia besar sang paman akhirnya bisa mengumpulkan bukti akurat hingga pamannya pun menyerah.
Wajah bahagia tidak pernah bisa ia sembunyikan. Ia selalu tersenyum simpul bila mengingat semua perkataan Widya tentang rindu dan sayang yang ditujukan kepadanya, dengan segera ia mengemas semua pakaian dan barang-barang ke dalam koper kecilnya.
"Bisa gila aku, kalau nggak cepat-cepat ketemu Widya!" Seolah Widya sudah menguasai pikirannya, Nathan bergumam sendiri.
Tangannya masih sibuk memasukan semua oleh-oleh yang dipesan adik kembarnya dan para sahabatnya. Tidak ketinggalan teruntuk sang pujaan hati. Untuk beberapa saat, Nathan mengenang ketika dirinya sengaja menyempatkan waktu untuk berburu souvenir di daerah China Town, Bugis Street dan Mustafa Center. Di sana menjual berbagai souvenir dengan harga yang terjangkau di kantong, tetapi kualitasnya bagus.
Setelah semuanya rapi dan tersusun dengan sempurna. Nathan menghampiri Daniel Hardi Lesmana, yang sudah menunggunya sejak tadi di ruang tengah rumah mereka yang di Singapura. "Yuk, Pah!" ajak Nathan.
Daniel menoleh lalu tersenyum, lantas menyimpan koran yang sedang ia baca ke atas meja. Lantas berdiri dan berjalan mendahului Nathan ke arah luar.
Dengan langkah tegap mereka pun memasuki mobil mewah yang akan membawa Nathan ke Bandara Internasional Changi. Ketika melewati patung Merlion, yang menjadi maskot dari negeri Singa tersebut. Nathan jadi teringat dengan permintaan sahabatnya—Zakir. Lelaki itu meminta Nathan untuk berfoto selfie dengan patung tersebut sebagai oleh-oleh. Memang aneh permintaan sahabatnya itu, mungkin hanya untuk mengerjai Nathan, tetapi Nathan tetap saja melakukannya. Ia menyempatkan mampir sejenak ke tempat tersebut, untuk memenuhi keinginan Zakir.
Patung Merlion berdiri tegak dengan tinggi 8.5 meter dan berat 70 ton dengan air yang keluar dari dalam mulutnya, dengan bentuk separuh ikan dan separuhnya lagi singa. Terlihat istimewa di mata Nathan. Ia pun meminta sang papa untuk memotretnya di sana bersama patung itu. Setelah mendapatkan foto yang dia mau, mereka pun bergegas menuju mobil, melanjutkan niat mereka menuju bandara Changi.
"Ada-ada saja temanmu itu!" protes Daniel, ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Tentu saja sebelumnya Nathan sudah menjelaskan, untuk apa sesi pemotretan tersebut dilakukan. Nathan hanya bisa tersenyum cengengesan menanggapi protes papanya.
__ADS_1
***
Pintu keberangkatan bandara Changi, di sinilah Nathan dan papanya berada sekarang. Sambil menunggu boarding pas, kedua pria beda usia pun saling mengobrol. Kali ini bukan lagi obrolan serius perihal masalah kantor. Akan tetapi, obrolan ringan antara anak dan ayah.
"Papa lihat, Abang bahagia terus akhir-akhir ini. Semangat kerjanya juga tiba-tiba meningkat pesat. Sampai papa nggak nyangka, kamu bisa mengalahkan om kamu dalam waktu singkat. Lalu, sekarang buru-buru pulang, pasti ada seseorang yang membuat anak papa jadi kayak gini, ya?” cecar Daniel, Nathan pun agak sedikit terkejut dengan pertanyaan papanya yang mendadak.
"Apaan, sih, Pa? Biasanya, ‘kan juga abang selalu bahagia dan enerjik,” elak Nathan.
Daniel tersenyum, "Papa, tuh, senang liat anak sulung di keluarga papa bahagia, enerjik, dan pinter. Memang seperti itu seharusnya anak muda, tetapi perubahan kamu yang tiba-tiba ini pasti ada alasannya, 'kan?” goda sang papa lagi, sembari menepuk-nepuk pelan bahu anak lelakinya tanda memberikan dukungan. Senyum penuh semangat masih setia tersungging di bibirnya.
Nathan berpikir sejenak, dia terlalu malu untuk mengatakan tentang perasaannya kepada Widya. Lebih dia mengelak saja. "Nathan cuma bersemangat mau bantuin Papa, dan merasa gemas dengan om Yuda. Makanya Nathan bahagia saat sudah mengalahkan dia," kilahnya sembari tersenyum cengengesan, lalu berkata lagi, "Doain aja, semoga Nathan selalu bahagia, ya, Pa!” Nathan menatap lekat lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan, walau di rambutnya sudah ada beberapa helai yang berwarna putih. Dia bangga dengan sosok itu.
"Aamiin ...." Daniel mengangguk pasti, “Oh, iya, satu hal lagi. Untuk sementara papa titip kedua adik kembarmu dan mama kepadamu, ya, Nak! Papa masih belum bisa kumpul bersama kalian seperti dulu. Masih banyak yang harus papa kerjakan di sini. Papa sangat merindukan masa-masa itu,” tuturnya dengan nada sedih.
Keduanya saling diam, hingga suara pemberitahuan jika pesawat yang akan Nathan tumpangi akan segera take-off membuat mereka sontak berdiri.
Akan berpisah dalam jarak 894 km, pastinya akan membuat rindu itu semakin terasa. Meski sang papa bisa berkunjung ke Jakarta seminggu sekali, tetapi rasanya masih enggan untuk berpisah. Dengan langkah pasti ia menuju boarding pass untuk memeriksa semua kelengkapan penerbangannya.
“Sampai bertemu lagi Singapura. Gue pastiin akan kembali lagi dalam waktu dekat dengan membawa orang yang gue cinta,” batin Nathan mengedarkan pandangannya ke sekeliling bandara, sebelum ia benar-benar meninggalkan masa lalunya di sana.
***
Perjalanan Singapura—Indonesia memerlukan waktu penerbangan satu jam tiga puluh menit. Hingga kini Nathan telah sampai di bandara Soeta. Nathan telah ditunggu sopir keluarganya. Adik kembar serta sang mama tidak ikut menjemput. Selama di perjalanan Nathan memejamkan matanya ingin melepaskan rasa ngantuknya. Akhir-akhir ini dia memang kurang tidur, selain karena pekerjaan juga karena merindukan Widya. Nathan tertidur sekitar kurang lebih empat puluh menit. Ia terbangun ketika mobil yang ia tumpangi sudah terparkir rapi di halaman rumah yang sudah lama ia rindukan. Di depan rumahnya, kedua adik kembarnya—Evan dan Ellen serta Liana sudah bersiap menyambut kedatangannya.
"Abang ...," teriak si kembar sambil berlari hendak memeluk abang tercintanya yang baru keluar dari dalam mobil. Liana hanya tersenyum bahagia melihat Nathan dengan antusias merentangkan kedua tangannya menyambut kedua adiknya.
__ADS_1
"Woy ... adik-adik abang tercinta. Rindu, ya, sama abang kalian yang tampan ini?" seru Nathan sambil mengerlingkan sebelah matanya dan tersenyum usil.
"Kangen banget, Bang," seru Evan dan Ellen hampir bersamaan. Nathan mengacak rambut kedua adiknya dengan gemas, lalu melepaskan diri dari pelukan sang adik. Ia berjalan menuju Liana.
"Mama sehat? Abang kangen banget sama Mama." Nathan meraih tangan Liana, lalu menciumnya dengan takzim,setelah itu memeluknya dengan erat.
"Mama juga kangen kamu, Nak. Eh, tapi kamu mendadak pulang gini beneran kangen sama mama apa sama ...." Liana tersenyum meledek, kabar kepulangan Nathan memang baru diberitahukan tadi malam.
"Apaan, sih, Mah." Nathan sedikit grogi, ia tahu ke mana arah pembicaraan mamanya. "Tapi emang betul, sih," aku Nathan kemudian, sembari menggaruk dagunya, salah tingkah.
"Sudah kasih kabar belum sama dia, kalau Abang datang hari ini?" Liana bertanya.
"Belum, Ma. Niatnya mau kasih kejutan buat calon mantu Mama," jawab Nathan penuh percaya diri.
"Jangan usil, Bang! Kasian itu anak orang, udah kangen berat kayaknya," ujar Liana sambil mengusap lengan anak sulungnya dengan lembut.
"Dih, Mama sok tahu, deh." Nathan terkekeh, walaupun ia yakin hal itu benar adanya. "Tenang aja, Ma! Masih aman, kok. Semalam kita udah telponan," tambah Nathan.
Liana menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya yang sudah tergila-gila dengan Widya. "Ya, udah. Ayo, masuk! Mama udah masak makanan kesukaan kamu," ajak Liana. Mereka pun masuk beriringan ke dalam rumah.
Hari yang cerah telah mengganti gelapnya malam yang syahdu serta tenang. Nathan sengaja tidak langsung menemui Widya, dia ingin menyiapkan hati dan mentalnya untuk lebih mantap bertemu dengan pujaan hatinya tersebut. Malam ini Nathan membiarkan rasa rindunya mengendap dalam mimpinya.
...***...
__ADS_1
Maaf, update-nya telat 🙏
Dukung terus eska'er, ya. Like, komentar, dan favorit 🥰