Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 67


__ADS_3


...***...


“Tante Liana!” gumam Vina setelah ia menoleh dan melihat sosok wanita yang menenangkan dirinya.


“Kamu yang sabar, ya! Biarkan Nathan sendiri dulu. Nathan butuh waktu untuk menenangkan pikirannya.” Liana tersenyum lembut meskipun dalam hatinya sangat menyayangkan sikap Vina yang keterlaluan.


“Nathan benci Vina, Tan. Bahkan sangat benci,” lirih Vina dengan wajah memelas mengharapkan simpati dari Liana. Vina pikir, jika ia tidak bisa mendekati Nathan maka ia akan mengambil hati Liana.


“Nathan melakukan hal itu pasti ada sebabnya. Sekarang pulanglah! Jangan kamu permalukan dirimu sendiri. Papamu pasti akan marah jika tahu kamu seperti ini. Biar sopir tante mengantarmu pulang!” ucap Liana lembut, tetapi penuh akan makna. Liana berharap Vina akan menyadari kesalahannya dan segera pergi dari hidup Nathan.


Vina mengangguk perlahan dan mengusap air mata yang mengalir di pipinya. “Vina pulang dulu, Tan.” Ia bangkit dan berjalan menuju mobil yang terparkir rapi di depan apartemen diiringi sopir pribadi Liana.


Liana memandang kepergian gadis itu, gadis yang dulu pernah ia harapkan bisa memberi kebahagiaan untuk putranya. Gadis yang dulu pernah ia sayangi melebihi putranya sendiri. Namun, lain dulu lain sekarang. Gadis itu telah menghancurkan kebahagiaan putranya untuk kedua kali. Hal itu tentu membuat Liana tidak terima, ia tidak akan pernah rela jika putranya tersakiti.


Setelah mobil yang mengantar Vina meninggalkan tempat itu, Liana melanjutkan tujuannya untuk mengunjungi Nathan. Sudah beberapa hari Nathan tidak pulang, bahkan teleponnya pun sering diabaikan. Sebagai seorang ibu tentu saja ada rasa khawatir akan keadaan anaknya. Apalagi dengan kondisi Nathan yang jelas tidak baik-baik saja.


Liana memencet bel ketika ia sudah tiba di depan apartemen Nathan. Lumayan lama pintu tersebut tidak menampakkan tanda-tanda akan segera dibuka. Liana hampir menyerah, makanan kesukaan Nathan yang sengaja ia siapkan dengan terpaksa harus ia bawa kembali. Baru dua langkah Liana mencoba meninggalkan tempat itu, tiba-tiba suara pintu terbuka membuat Liana menghentikan langkahnya dan menoleh.


“Mama!” seru Nathan terkejut ketika ia melihat Liana. “Maaf, Nathan kira Vina yang datang, jadi sengaja Nathan biarin aja”


Liana mengurungkan niatnya untuk pergi, ia menghampiri Nathan dan memeluk putranya. “Kamu sehat-sehat saja, kan? Apa kamu sakit? Kenapa kamu terlihat kurus?” Liana memberondong Nathan dengan berbagai pertanyaan.


“Masuk, Ma! Kita bicara di dalam.” Nathan mempersilakan mamanya untuk masuk ke apartemen.

__ADS_1


“Mama bawa masakan kesukaanmu, Nath. Mama siapin, ya. Kamu pasti belum makan ‘kan?” dengan cekatan Liana menata makanan tersebut di meja makan.


“Nanti aja, Ma. Nathan belum lapar,” tolak Nathan yang memang belum berselera untuk makan.


“Nathan, jangan sampai masalah ini menyiksa tubuhmu. Kasihan tubuhmu ikut terkena imbas dari masalahmu. Kamu harus tetap kuat untuk menyelesaikan satu per satu masalah yang datang padamu.” Liana menghampiri putranya yang duduk di depan televisi.


“Iya, Ma. Nanti pasti Nathan makan, kok.” Nathan tetap fokus pada permainan di ponselnya.


“Vina sudah mama suruh pulang. Dia sedang diantar sopir mama," cerita Liana.


“Mama ketemu Vina?” Nathan terkejut dengan perkataan Liana.


“Iya, tadi mama lihat Vina menangis. Setelah mama meminta dia untuk menjauhi kamu, mama memintanya untuk pulang,” ucap Liana.


“Ck! Kenapa, sih, dia masih saja nyari Nathan. Dasar nggak peka. Harusnya dia ngerasa kalau Nathan nggak mau ketemu dia,” decak Nathan.


...***...


Sementara itu di depan apartemen Vina, gadis itu melangkah tanpa semangat setelah turun dari mobil yang mengantarnya. Berjalan dengan muka menunduk hingga tanpa ia sadari ada seseorang yang memperhatikannya sedari tadi. Exel yang semula berencana untuk mengunjungi Vina, melihat Vina turun dari mobil dalam keadaan kacau. Exel yang masih mencintai gadis itu, mengikutinya perlahan. Sebelum Vina memasuki gedung apartemen, Exel menghadang langkah Vina.


“Kamu kenapa, Vin?” tanya Exel yang khawatir dengan kondisi Vina. Mendengar namanya disebut, Vina mendongakkan kepala. Sorot mata hangat dari wajah tampan yang berdiri di depannya mampu membuat Vina sedikit menarik sudut bibirnya. Untuk saat ini Vina tidak mau berdebat dengan Exel. Energinya seakan telah habis untuk memikirkan Nathan.


Meskipun Vina tidak menjawab pertanyaan Exel, tetapi Exel merasa bahwa ini ada hubungannya dengan Nathan. Exel tetap mengikuti langkah gadis itu menuju apartemennya. Perlahan mereka memasuki lift yang akan membawa mereka ke lantai atas.


“Aku siap jadi pendengar yang baik, Vin. Jangan kamu pendam sendiri, biar perasaanmu lega,” ucap Exel merengkuh tubuh Vina, membawanya ke dalam pelukan. Hatinya menghangat ketika tidak ada penolakan dari Vina.

__ADS_1


Sesaat mereka berada dalam keheningan. Vina merasa nyaman berada dalam pelukan Exel. Tanpa malu Vina mengeratkan pelukannya pada lelaki itu dan menangis sepuasnya dalam pelukannya. Vina baru melerai pelukannya ketika pintu lift mulai terbuka. Mereka melangkah beriringan. Exel tidak tega melihat gadis yang dicintainya terluka. Tetapi ia juga merasa bahagia, bahwa dengan begini Exel berharap Vina akan menyadari kesalahannya. Hari ini Exel menemani Vina hingga larut malam.


...***...


Meskipun Liana tidak berhasil membujuk Nathan untuk kembali ke rumah. Namun, Liana bersyukur karena ia berhasil membujuk Nathan untuk makan. Dari hari ke hari, sikap Nathan semakin berubah. Dingin dan tidak banyak bicara. Liana tidak pernah lagi mendapati putra sulungnya merengek minta sesuatu padanya, atau menggoda adik-adiknya seperti dulu. Tentu hal ini membuat Liana sedih. Liana takut hal yang dulu menimpa Nathan ketika ditinggalkan Vina akan terulang lagi. Hingga Liana meminta bantuan Zacky yang saat ini berada di Indonesia untuk mengamati perkembangan Nathan.


Setiap malam Liana mendengar laporan dari Zacky tentang kegiatan Nathan. Bersyukur karena Nathan tidak terpuruk seperti dulu. Saat ini Nathan justru sibuk menyiapkan materi untuk skripsi dan juga menyelesaikan pekerjaan sampingan yang Zacky berikan. Hal ini Nathan lakukan untuk mengalihkan pikirannya dari Widya.


Sementara itu, Vina yang beberapa hari lalu mendapat nasehat panjang lebar dari Exel, perlahan mulai mencerna semua perkataan Exel. Setiap kalimat yang keluar dari Exel seolah menamparnya. Namun, Vina mulai membenarkan apa yang dikatakan Exel. Vina menyadari satu hal, bahwa ia tidak lagi mencintai Nathan, tetapi ia hanya terobsesi untuk memilikinya. Ia merasa tidak terima ada gadis lain yang lebih dekat Nathan selain dirinya.


“Cinta itu tulus, Vin. Cinta itu tidak memaksakan kehendak. Cinta sejati itu ikhlas melihat ia bahagia, bukan malah menyakitinya. Apa kamu masih memiliki rasa itu? Jika yang ada di hatimu hanyalah keinginan kamu untuk mendapatkan dia kembali itu namanya bukan cinta, tapi kamu terobsesi akan dia.” Untaian kalimat panjang lebar yang Exel ucapkan waktu itu mampu mengusik nurani Vina.


“Aaargghh! Kenapa, sih, yang kamu katakan benar, Xel.” Vina meremas rambutnya. Menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk di kamar. Vina ingin tidak memercayai semua perkataan Exel beberapa hari lalu, tetapi di sisi lain hatinya menolak keinginannya.


Malam semakin larut, tetapi mata Vina tetap sulit untuk terpejam. Semua perbuatan yang ia lakukan untuk memisahkan Nathan dari Widya kembali berseliweran dalam benaknya. Vina menutup matanya dengan bantal. Mencoba untuk melupakan semua itu. Rasa bersalah perlahan mulai menyiksa batinnya. Menganggu ketenangan hidupnya. Ia bangkit, menatap jam di nakas yang menunjukkan pukul 01.35 WIB.


Vina membuka pintu kamarnya dan melangkah menuju balkon. Ia hirup udara malam ibu kota yang tetap hangat. Ia menatap bintang di langit. “Bintang itu indah meskipun aku tak dapat menggapainya,” lirihnya dalam gelapnya malam.


Malam ini Vina hanya duduk di balkon hingga subuh. Matanya sulit terpejam memikirkan cara untuk bisa menerima kenyataan. Apakah sudah saatnya bagi Vina untuk menyerah? Ataukah ia tetap bertahan pada obsesinya meskipun banyak yang terluka? Bukan hanya dirinya yang terluka akan sikap Nathan. Namun, semua orang yang berada di sekitanya, termasuk Widya, Exel, Liana, dan juga Nathan sendiri. Sampai kapan Vina akan menyakiti mereka? Jika ada kesempatan untuk membuat mereka kembali tersenyum bahagia, mengapa tidak ia lakukan?


Senyuman miris tercetak di sudut bibir mungilnya. Sekelebat bayangan Nathan yang pernah tersenyum kepadanya muncul begitu saja. “Ya, tidak ada salahnya untuk mencoba meskipun aku harus siap dengan segala resiko yang akan aku terima.” Vina bangkit, sejenak menatap semburat jingga di ufuk timur sebelum ia memasuki dunia mimpi yang menunggunya sedari tadi.


...***...


__ADS_1


Udah Senin, nih. Boleh minta votenya? Gift juga nggak apa-apa, deh


__ADS_2