Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 124


__ADS_3

...***...


...Happy Reading...


...***...


Tidak terbayang tersiksanya Harsa selama trimester pertama kehamilan Widya saat ini. Setiap harinya dia hanya bisa makan nasi di malam hari. Selebihnya, ia hanya memakan buah di pagi dan siang hari. Meski begitu, ia bersyukur. Tubuhnya masih tetap fit walau ia sedikit kehilangan beberapa kilogram berat badannya.


Berbeda dengan Widya, ia justru terlihat biasa saja bahkan lebih energik dari biasanya. Meski sudah di bulan ketiga, perut buncitnya belum begitu nampak. Hanya saja terlihat mengencang dengan pipi yang sedikit chubby. Pola makan Widya pun masih sama seperti biasa, tidak berlebihan dan kini semakin menyukai berbagai macam jenis buah. Karena apa yang di makan suaminya maka ia juga memakannya.


"Yang, aku mau keluar sebentar cari sesuatu. Kamu mau ikut?" tanya Harsa saat melirik Widya tengah bersandar pada headboard tempat tidur sembari membaca majalah kehamilan. Tangan Widya sesekali menyomot isi toples dengan kacang polong di dalamnya.


"Cari apa?" Widya balik bertanya dengan santai, tidak sedikit pun mengalihkan perhatiannya dari majalah.


"Itu …," desis Harsa tertahan dan membuat Widya tidak dapat abai begitu saja.


"Itu apa?" tuntut Widya. Kini ia beringsut dari tempat tidur dan mendekati suaminya yang tengah bersiap mengenakan jaket kulit berwarna hitam.


"Ehm, itu. Aku pengen beli durian. Tapi ...," jeda Harsa. Ia memperhatikan mimik wajah istrinya kini semakin mengeryit karenanya.


"Ada satu syaratnya. Kamu nggak boleh ikut makan." Harsa terlihat salah tingkah melihat wajah melongo Widya.


Seketika Widya tersenyum santai sambil memeluk lengan Harsa yang sedikit lebih kurus. Menyadari hal ini, ia sedikit iba. Karena yang mengalami ngidam adalah Harsa, bukan dirinya. "Nggak apa, Yang. Aku paham kok. Aku nggak akan makan itu, karena aku bisa makan yang lain. Sesuai saran dari Dokter Fisa dua minggu yang lalu, makan durian secara berlebihan dapat meningkatkan berat badan calon bayi. Ukuran bayi yang terlalu besar berisiko menyulitkan ibu selama proses persalinan. Hal itu karena durian memiliki jumlah kalori dan gula yang cukup tinggi. Jadi, sebaiknya memang aku harus menghindari makanan yang tinggi kalori. Sebab aku sendiri takut jika badan aku nanti terlalu bengkak. Apapun untuk calon baby kita, akan aku turuti meski aku juga suka banget sama durian. It's oke. Nggak masalah, kok," papar Widya panjang lebar.


"Istrinya siapa, sih, pinter banget. Ibu cerdas, ya, begini, nih. Makasih udah ngerti aku, ya." Harsa mencubit pipi Widya gemas seraya memeluk Widya dari belakang.


"Iya, calon Papa.”


"Ih, kok papa, sih?" protes Harsa. Sedikit merenggangkan rengkuhannya.


"Ya, emang mau dipanggil apa, nanti?" tanya Widya. Memandang sayu pada Harsa seraya membalikkan tubuhnya agar bisa menatap Harsa dengan sempurna. Namun, tangan Harsa masih betah menangkup pinggangnya dan tidak berhenti mengulas senyum.


"Emm ... aku maunya, Papi.”


"Ih, sama aja." Widya mencubit ujung hidung Harsa pelan.


"Sakit, Sayang," rengek Harsa sedikit drama. Hal itu membuat Widya terkekeh.


"Aku ikut, ya," pinta Widya.


"Tapi naik mobil aja, kalau gitu. Angin malam nggak baik buat ibu hamil." Harsa semakin mengeratkan pelukannya posesif.


...***...


Jutaan detik menjadi menit. Begitu pun seterusnya. Kini, usia kandungan Widya sudah berada di bulan ke sembilan. Tidak terasa tinggal beberapa hari lagi Widya akan melahirkan. Jika sesuai HPL, masih ada sepuluh hari lagi. Namun, perkiraan itu bisa saja mundur ataupun maju.


Selama sembilan bulan ini, tidak hanya Widya dan Harsa yang antusias pada kelahiran putra pertama mereka. Tentu ke-empat sahabat mereka juga turut serta antusias. Tidak terkecuali dengan orang tua Harsa dan Widya. Terlebih saat USG terakhir bulan ini. Dokter Fisa memperkirakan bahwa bayi yang dikandung Widya berjenis kelamin laki-laki.

__ADS_1


"Yang," panggil Widya. Ia tengah duduk bersandar berada di sofa panjang di sudut kamar.


"Ya."


Harsa yang dipanggil hanya mendongak sekilas lalu kembali pada layar lipat di hadapannya. Sudah beberapa hari terakhir ini, Harsa membawa pekerjaannya ke rumah. Dengan dalih harus memperhatikan kesehatan Widya. Nafsu makan yang tiba-tiba tidak terkendali dan beragam, juga mood yang silih berganti, membuat Harsa sedikit tidak nyaman terlebih pada Zakir. Sering kali ia meninggalkan pekerjaan dan melimpahkan pada Zakir secara tiba-tiba.


Alhasil, ia harus mengerjakan pekerjaan di rumah, karena memang tidak semua pekerjaan bisa ia limpahkan pada Zakir. Walau sahabatnya itu sudah semakin bijak dan sangat mengerti keadaannya, Harsa tidak dapat bersikap seenaknya.


"Belum selesai juga?" rajuk Widya.


Harsa melirik istrinya yang sedikit lesu. Raut wajahnya juga terlihat berpikir berat. Menyadari hal itu, Harsa segera menutup laptop dan menghampiri Widya di sofa. Bukan duduk di samping Widya melainkan duduk di lantai, memposisikan dirinya agar nyaman untuk mencium perut buncit Widya. Kedua tangannya meraba pelan merasakan pergerakan calon putra mereka yang sebentar lagi akan melihat dunia. "Sayang, dia aktif baget," ungkap Harsa berbinar.


Widya mengangguk cepat seraya mengelus pelan kepala Harsa yang betah di depan perutnya. "Iya. Aku rasa, aku udah mulai nggak nyaman buat gerak. Tidur pun juga gitu. Maaf ya, semalam kamu harus tidur dengan bersandar, karena posisi itu yang paling nyaman." Widya mengungkapkan keadaannya semalam. Tidur bersandar pada badan Harsa dengan bantal mengganjal di sana-sini.


"Nggak apa sayang. Asal kamu nyaman aja." Harsa tersenyum dan kembali memeluk pinggang Widya.


"Yang," panggil Widya


"Hmm,"


"Abang Harsa Mandala,"


"Ya, Nyonya Harsa Mandala," jawab Harsa seraya terkekeh masih dengan posisi ternyamannya memeluk perut Widya. Begitu pula dengan Widya yang ikut tertawa terbahak.


"Mau diberi nama siapa anak kita?"


Widya menggeleng pelan. "Belum," ucapnya pelan lalu tersenyum. Dalam benak Widya, ia ingin sekali menyematkan nama 'Nathan' pada anaknya, karena secara tidak langsung, berkat Nathan pula ia kini dapat dekat kembali bahkan menjadi seorang istri dari Harsa.


"Benar, nggak ada rencana apapun?" tanya Harsa menyelidik.


"Hm.”


...***...


Setelah kemarin Kartika dan Karin ikut serta berbelanja keperluan calon anak Widya di baby shop. Widya kini masih kembali lagi ke toko itu, tapi hanya bersama Harsa. Saking riuhnya keberadaan Karin dan Kartika kemarin, hingga masih ada beberapa barang yang terlewat.


Di sinilah Widya dan Harsa, berada di antara baby stroller yang lucu-lucu. Widya terlihat antusias memperhatikan kesemuanya itu. Silih berganti memperhatikan detail bagian-bagian dari alat dorongan bayi itu.


Sesaat Widya merasakan nyeri di punggungnya. Namun, masih ia tahan karena rasa sakit itu berangsur hilang.


"Kenapa, Sayang. Ada yang sakit?" tanya Harsa sigap. Melihat mimik wajah istrinya yang terlihat menahan kesakitan.


"Enggak ... cuma sakit dikit aja, kok.”


"Istirahat aja, di sana, yuk! Pasti kamu kecapekan ini," saran Harsa. Tidak lupa ia menyeka keringat yang keluar sebesar biji jagung di kening Widya. Raut wajah Harsa mendadak panik, seiring mata istrinya yang terpejam dengan desisan tertahan di bibirnya. Tangannya menekan kuat pinggangnya yang terasa semakin sakit.


"Sss-sakit, Bang."

__ADS_1


"Oke, tenang, dulu, ya. Sebentar aku hubungin bunda."


Tidak berselang lama, panggilan terhubung dan Harsa menceritakan tentang keluhan Widya pada Arini. Harsa menyimak penuturan Arini pada sambungan teleponnya dan berupaya setenang mungkin. Tangannya sibuk membelai perut Widya.


"Iya, Bunda. Segera Harsa bawa ke sana."


Begitulah kata terakhir sebelum telepon terputus.


Harsa dengan sigap membawa Widya ke rumah sakit. Panik tentu saja ia rasakan. Namun, ia dapat menguasainya dengan tenang. Meski satu tangannya memegang kendali stir mobil. Satu tangan lainnya menggenggam erat tangan Widya yang duduk di sampingnya. Sementara Widya terlihat sesekali menghirup napas sekuatnya melalui hidung dan membuangnya melalui mulut. Begitu seterusnya hingga sampai pada rumah sakit bersalin. Tempat Dokter Fisa bertugas.


Setelah mendapat penanganan pertama, Dokter Fisa memberi tahu pada Harsa bahwa Widya akan menjalani proses persalinan. Harsa segera menghubungi mama Evi, karena bunda Arini sudah dalam perjalanan ke rumah sakit.


"Dok ... boleh, suami saya menemani di sini?" pinta Widya.


"Boleh sekali. Sebentar, biar suster yang akan memanggilnya."


Tidak lama, Harsa datang dan menggenggam tangan Widya. Mulut tidak berhenti merapal doa. Sesekali tangannya menyeka keringat pada kening Widya. Senyum dan anggukan seolah menguatkan istrinya untuk berjuang.


Detik berganti menit, menit berganti jam. Arini, Bowo, Rendra, Evi, Karin, Kartika, Edo, dan Zakir sudah berkumpul di depan ruang bersalin. Menanti dengan cemas kelahiran sang Penerus keluarga Mandala.


Setelah pembukaan lengkap, Dokter Fisa bersama timnya bersiap dengan peralatan yang ada. Sesekali Harsa melirik benda-benda dalam wadah alumunium itu dan membuatnya ikut gemetar.


Widya mendesis panjang dan dengan segera Doter Fisa memberi instruksi pada Widya.


"Tarik napas, keluarkan perlahan."


Widya mengikuti apa yang sudah diinstruksikan Dokter Fisa.


"Bagus. Ayo ulangi lagi.”


"Ayo, Sayang. Bismillah." Harsa semakin erat menggenggam tangan Widya dan terus mengecup kening Widya. Melihat perjuangan Widya membuat hati Harsa berdenyut nyeri. Sesakit itu kah proses persalinan? Rasanya ia tak tega melihat Widya mengejan kuat demi melahirkan putra kecilnya. Urat-urat Widya sampai terlihat dengan jelas saat proses melahirkan. Untaian doa tak pernah berhenti Harsa rapal demi keselamatan Widya dan sang buah hati.


Hingga ….


Jerit tangis Malaikat kecil menguar memenuhi ruang bersalin nomor sepuluh itu.


"Alhamdulillah!” seru semua orang yang berada di dalam dan di luar ruangan itu.


"Anak kita sudah lahir, Sayang." Harsa kembali menghujani ciuman pada wajah Widya yang masih bermandikan peluh. Butiran bening itu lolos begitu saja dari sudut mata Widya dan Harsa. Senyum pun terukir di wajah Widya yang putih. Menampakkan betapa bahagianya ia yang sudah menjadi seorang ibu.


"Selamat sayang, kamu telah menjadi seorang ibu dari Danendra Byakta Mandala.” Harsa tersenyum penuh haru saat melihat wajah bayi mungil itu.


...***...


...To be continued...


...***...

__ADS_1


__ADS_2