
...***...
Sesampainya di kampus, Nathan dan Widya berjalan beriringan. Nathan menggenggam erat tangan Widya. Hal itu tak luput dari perhatian Harsa dan lainnya. Karin dan Kartika tersenyum lebar melihat Widya dan Nathan sudah berbaikan. Nathan dan Widya menghampiri keberadaan teman-teman mereka.
"Udah lama ya, enggak lihat pasangan sejoli ini mesra," celetuk Edo. Nathan dan Widya hanya menanggapi dengan tersenyum.
"Ini peringatan terakhir buat lo, ya, Nath. Sekali lagi lo buat Widya sedih, nggak akan ada ampun buat lo!" sungut Kartika.
"Kalau ampunan buat gue, masih ada nggak, Neng?" ucap Zakir dengan kedipan mata ke arah Kartika.
"Apaan sih, Zak? Nggak jelas banget." Kartika memukul lengan Zakir dengan buku yang ia pegang.
"Aduh ... sakit, Ayang, lo gini amat kalau sama gue, Tik," keluh Zakir sambil mengusap lengannya yang sebenarnya tidak sakit.
"Apa, lo? Mau lagi?" sentak Kartika.
"Enggak, Neng, ampun. Kita damai, ya!" ucap Zakir sambil menautkan kedua telapak tangannya di depan dada. Para sahabatnya pun tergelak melihat tingkah konyol Zakir.
"Wah ... masak gitu aja nyerah, Zak? Kejar terus dong, Neng Tika-nya!" seru Harsa.
"Gue bukannya nyerah, tapi mencoba memberi celah," ucap Zakir masih berusaha menggoda Kartika.
"Kalo lo masih ngomong lagi, gantian tas gue yang melayang, nih!" sungut Kartika. Tangannya sudah ancang-ancang hendak melayangkan tasnya ke arah Zakir.
"Udah, ah! Kok, jadi kalian yang ribut, sih. Lihat, tuh! Yang baru baikan makin nempel aja, kayak perangko. Kira-kira nggak ada niat syukuran buat traktir kita, gitu?" Karin mencoba melerai perdebatan Zakir dan Kartika, karena melihat Kartika yang mulai badmood.
Nathan dan Widya berpandangan dengan senyum yang masih menghiasi wajah manis keduanya. "Oke, nanti malam jam 19.30 WIB, di kafe biasanya. Gue tunggu kalian semua," ucap Nathan yang masih menggenggam erat jemari Widya.
"Setuju," ucap Zakir, Edo, Kartika, dan Karin bersamaan. Sementara Harsa hanya tersenyum dan mengangguk saja.
Entah apa yang ada dalam pikiran Harsa sekarang. Sejak liburan mereka di pantai kemarin, suasana hatinya jadi sedikit berbeda. Harsa yang dulu pernah mencoba merelakan Widya untuk Nathan, kini seolah memberontak. Melihat kesedihan Widya saat itu, ia merasa tak rela. Ia berusaha membuat Widya tidak berlarut dalam kesedihannya.
Sejak ia putus dengan Widya, Harsa memang tidak pernah lagi merasakan suasana seperti itu, karena sejak saat itu Nathan semakin posesif jika menyangkut Widya. Seolah tak sedikit pun memberi celah untuk Harsa dekat dengan Widya lagi.
Harsa pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk kembali mendekati Widya, saat mengetahui jika Nathan tidak ikut berlibur. Hal itu membuat Harsa mempunyai waktu untuk berdua dengan Widya. Meskipun hanya sekedar ngobrol, tetapi ia begitu bersyukur Widya mau kembali bersikap biasa.
Namun, di satu sisi Harsa juga merasa lega. Akhirnya Widya bisa tersenyum kembali dan bahagia bersama Nathan. Meski hati kecilnya tidak bisa dibohongi, jika masih ada sisa rasa yang coba ia relakan. "Kenapa susah sekali mengikhlaskan lo bersamanya, Wid," batin Harsa.
"Masuk, yuk! Bentar lagi kelas gue mulai, nih," ucapan Kartika membuyarkan lamunan Harsa. Akhirnya mereka pun berjalan menuju kelas masing-masing.
Nathan yang sejak tadi memperhatikan Harsa menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Ia berjanji tidak akan memberi celah sedikit pun untuk Harsa mendekati Widya. Sudah menjadi rahasia umum jika Harsa masih menyimpan cinta untuk Widya.
__ADS_1
Nathan semakin memperlihatkan kemesraannya di hadapan teman-temannya. Hal itu juga tak luput dari perhatian seorang gadis lain.
Cindy yang sejak tadi mengamati kekompakan mereka dari jauh, semakin terlihat kesal. Ia mengepalkan tangannya. Hatinya sakit melihat Nathan dan Widya yang sudah berbaikan dan semakin terlihat mesra. Ia memutuskan untuk tidak mengikuti kelas hari ini, ia tidak mau terlihat menyedihkan di hadapan Nathan dan Widya.
"Sampai kapan pun gue nggak akan berhenti buat ngehancurin kalian, gue nggak akan biarkan kalian bahagia di atas penderitaan gue," gumamnya sambil memendam amarahnya. Ia berlari menuju mobil SUV kesayangannya.
***
Seperti janjinya malam ini, Nathan akan mentraktir teman-temannya di Kafe Hamber langganan mereka. Pukul 18.30 WIB ia sudah siap untuk menjemput sang pujaan hati.
"Ma, Nathan pergi dulu, ya!" ucapnya saat mencium punggung tangan Liana.
"Cie ... kencan, nih," ledek Evan.
"Salam buat Kak Widya, ya, Bang. Bilang suruh hati-hati, soalnya Abang Nath itu buaya." Ellen ikut meledek.
Mama Liana tersenyum melihat tingkah anak-anaknya. " Kalian gimana, sih? Sudah, jangan diledekin terus Abangnya, kasihan!" hardik Liana.
"Enak aja. Gantengnya kebangetan gini dibilang buaya," ucap Nathan sambil mencubit hidung Ellen karena gemas.
"Abang ... sakit, ih!" gerutu Ellen.
"Iya, maaf. Habisnya kamu ngeselin, sih." Nathan mengusap kepala Ellen.
Saat Nathan membuka pintu, ia dikejutkan dengan kedatangan Vina. "Hai, Nath. Lo mau kemana? Udah ganteng aja," ucap Vina dari kejauhan.
"Aku ada janji sama Widya." jawab Nathan datar, ia tidak boleh membuat sang pujaan hatinya kecewa lagi. "Gue harus bisa pergi secepatnya," gumamnya.
"Kebetulan banget Nath, aku juga pengen jalan-jalan malam ini. Tapi, 'kan, aku enggak tahu tempat yang asyik buat nongkrong di Jakarta. Aku boleh ikut, Nath?" tanya Vina saat sudah berada di depan Nathan.
"Sorry, Vin, aku enggak bisa. Kamu bisa ajak Evan dan Ellen aja. Mereka lagi di dalam, tuh! Mumpung mereka juga nggak sibuk. Ya udah, aku duluan, ya , Vin." Nathan bergegas pergi, tanpa menunggu jawaban dari Vina.
Vina yang kecewa dengan sikap Nathan berusaha mengejar Nathan. Ia menarik lengan Nathan dan berpura-pura akan terjatuh. "Aduh!" teriak Vina.
Nathan yang melihat Vina spontan langsung menolongnya, meskipun mereka hanya teman, tetapi Nathan tidak tega melihat Vina terluka.
"Kamu kenapa sih, Vin, malah lari-larian gitu? Jatuh, 'kan?" ucap Nathan.
"Maaf, Nath aku tadi cuma mau manggil kamu. Aku mau minta nomornya Widya. Boleh, 'kan?" tanya Vina sambil memberikan senyum palsunya. "Biar aku ada teman, Nath. Kayaknya Widya anaknya asyik, aku suka sama dia." Vina berusaha meyakinkan Nathan.
"Oh iya, nanti aku kirim ke WhatsApp kamu. Udah, ya, aku buru-buru, Vin. Kamu bisa masuk, ada Mama juga di dalam," ucap Nathan dan kali ini ia benar-benar meninggalkan Vina sendirian di depan rumahnya.
***
__ADS_1
Kafe Hamber, di sinilah para anggota 'sahabat selamanya' berkumpul. Mereka asyik bercerita dan bercanda ditemani berbagai hidangan yang sudah mereka pesan. Nathan benar-benar bahagia. Mulai saat ini, ia akan berusaha menjaga perasaan kekasihnya. Ia tidak mau melihat Widya menangis lagi karena ulahnya.
Hari berganti hari, hubungan Widya dan Nathan semakin membaik. Nathan sudah tidak pernah terlambat lagi saat menjemput Widya. Nathan juga berusaha agar tidak sering bertemu dengan Vina. Kalau Vina meminta bantuannya, ia sering meminta bantuan Evan atau Ellen agar bisa menggantikannya.
Widya kembali menjadi prioritasnya. Nathan pun selalu menemani Widya ke mana pun gadis itu pergi. Hal ini tentu saja membuat Vina geram. Ia tahu kalau Nathan akhir-akhir ini selalu menghindarinya.
"Aku nggak akan tinggal diam, Nath. Lihat saja aku pasti akan buat kamu dan Widya menjauh. Aku masih sayang sama kamu, Nath. Kamu harus jadi milikku," gumam Vina saat lagi-lagi ia diabaikan oleh Nathan, karena Nathan harus menemani Widya mengantarkan kue pesanan yang dibuat bundanya.
***
"Sayang, aku seneng banget kita nggak berantem-berantem lagi. Kamu harus yakin sama aku, ya! Hanya kamu yang ada di hati aku," ucap Nathan sambil menunjukkan senyum manisnya membuat pipi Widya bersemu merah menahan bahagia dan juga malu mendengar kata-kata Nathan.
"Udah, ah. Gombal banget, sih, Nath. Cepet pulang sana, udah malem!" usir Widya
"Yaaah ... aku diusir, nih?" tanya Nathan dengan mimik memelas.
"Udah malem, Nath," tegas Widya.
"Ya udah, aku pulang dulu, ya. Salam buat bunda dan ayah. I love you, Sayang," ucap Nathan mengusap pucuk kepala Widya.
Widya tersenyum, ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat ini. Setelah mobil Nathan hilang dari pandangannya ia bergegas masuk ke rumahnya. "Assalamualaikum," ucap Widya saat memasuki rumah dan mencium punggung tangan ayah dan bundanya.
"Waalaikumsalam," jawab Arini dan Bowo hampir bersamaan. Seluas senyum menghiasi wajah mereka yang ikut bahagia ketika melihat anaknya kembali ceria.
"Ayah, Bunda, tadi Nathan titip salam," ucap Widya.
"Tumben, Nathan nggak mampir dulu, Wid?" tanya Ayah.
"Enggak, Yah. Kasian, nanti dia kemaleman di jalan. Widya ke kamar dulu, ya!" ucap Widya lagi sambil bergegas menuju ke kamarnya.
Bunda hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah anak gadis kesayangannya.
Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, Widya merebahkan diri di kasur empuk kesayangannya. Tiba-tiba saja notifikasi di ponselnya berbunyi, segera ia buka karena mengira itu chat dari Nathan.
Dahinya berkerut. Ia melihat beberapa foto yang dikirimkan di ponselnya. Ia ingin berusaha tidak percaya, tetapi apa yang dilihatnya berbanding terbalik dengan perasaannya. Tidak terasa bulir air mata pun jatuh tanpa bisa ia cegah.
...***...
Nah, loh. Foto apaan lagi, tuh? 🤔
Nantikan besok, ya 😅
__ADS_1