Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 56


__ADS_3


...***...


Sejak pertemuan terakhir dengan Nathan, hidup Cindy benar-benar dibuat tidak tenang. Banyak kejadian yang menyulitkan dirinya. Mulai dari ban mobil yang tiba-tiba kempes hingga terkurung di dalam kamar mandi kampus seharian. Kini Cindy merasakan pembalasan dari Nathan. Hingga ia meminta pengawalan pada orang tuanya, tetapi ditolak oleh papanya karena dianggap lebay. Alhasil, hampir setiap hari kejadian naas menimpanya.


“Gue nggak nyangka, lo bener-bener lakuin ini ke gue, Nath,” rintihnya dalam hati saat ia kembali terkurung di gudang kampus.


***


Vina masih berusaha keras untuk mendapat perhatian dari Nathan. Bahkan ia sampai pura-pura sakit dan dirawat di IGD. Akan tetapi, Nathan tetap pada keputusannya. Ia akan berusaha menjauhi Vina agar Widya mau kembali padanya.


Seminggu ini ia aktif ke kampus agar bisa melihat Widya, tetapi baru hari ini Dewi Fortuna berpihak padanya. Ia melihat Widya dari kejauhan. Ingin rasanya ia menghampiri sang pujaan hati, tetapi ia tak punya keberanian. Akhirnya ia hanya bisa melihat Widya dari balik dinding perpustakaan, berharap bisa sedikit mengobati kerinduannya untuk wanita yang sangat dicintainya.


“Aku merindukanmu. Apa kamu merasakan hal yang sama? Cinta ini masih teramat besar untukmu. Aku akan berjuang untuk kita bisa kembali bersama,” batin Nathan saat melihat Widya tersenyum pada Karin dan Kartika.


...***...


Beberapa hari berlalu, sejak ia melihat Widya tempo hari. Nathan kembali tidak pernah melihat Widya lagi. Meskipun ia selalu datang lebih pagi dan rela menunggu hingga sore hari di kampus. Harapannya hanya satu, ia ingin bertemu dan berusaha mengembalikan hubungannya dengan Widya. Rasanya sudah tak sanggup lagi Nathan menjalani hidup tanpa Widya.


“Aku bener-bener tersiksa tanpa kamu, Yang. Aku kangen kamu.” Rasa rindu itu semakin menyesakkan hati Nathan. Andaikan bisa, ia ingin menemui Widya di rumahnya, tetapi nyalinya cukup ciut jika harus berhadapan dengan ayah dan bunda. Rasa bersalah pada orang tua Widya selalu menghantuinya. Ia sudah menyakiti hati anak gadis mereka dan itu membuat Nathan tidak pernah merasa tenang. “Suatu hari, aku pasti memberanikan diri untuk menemui ayah dan bunda dan aku berharap mereka bisa memaafkan aku,” gumamnya dalam hati.


Hari ini keberuntungan tengah berpihak pada Nathan. Akhirnya tanpa sengaja Nathan bertemu Widya di kampus, tetapi Widya menghindarinya saat melihat Nathan berjalan ke arahnya.


“Lo mau ke mana?” tanya Karin yang tengah melihat Widya berbalik arah.


“Sorry. Gue nggak ikut ke kantin. Kalian duluan aja!” Widya menimpali dengan rasa cemas. Takut jika Nathan menghampirinya.


“Lah, katanya lo laper?” Kartika menatap bingung pada Widya.


“Kalian bungkusin batagor aja, ya, buat gue! Gue duluan, bye.” Widya bergegas pergi meninggalkan Karin dan Kartika. Hal itu membuat Kartika dan Karin menggelengkan kepala melihat tingkah aneh Widya. Namun, saat Kartika dan Karin menyadari keberadaan Nathan mereka akhirnya paham.


Nathan yang melihat Widya lari setelah melihatnya merasa terluka. Hatinya terasa begitu perih. “Sebenci itukah kamu sama aku, Yang? Sampai kamu nggak sudi melihatku lagi. Sebesar itukah kesalahanku hingga kamu menjauh dariku?” Nathan menatap sendu punggung Widya yang semakin jauh dari pandangannya. “Tapi aku nggak boleh patah semangat. Aku akan buktikan jika aku masih mencintai kamu dan kamu sangat berarti buat aku. Kamu adalah hal terpenting dalam hidupku.” Nathan menyemangati diri sendiri. Ia pun mencoba mencari keberadaan Widya, tetapi Nathan tidak berhasil menemukannya.


...***...


Setiap pulang kuliah Widya pasti tergesa-gesa, seolah tidak memberi celah sedikit pun untuk Nathan. Akan tetapi, hari ini keberuntungan kembali berpihak pada Nathan. Mereka bertemu di kafe, tetapi Widya cuek seakan tidak mengenalnya. Ingin Nathan menghampiri, tetapi saat tatapan mata mereka bertemu, Nathan kembali terluka dan rasa bersalah semakin menghimpit relung hatinya. Ada sorot kekecewaan yang mendalam di mata cantik milik Widya dan itu membuat Nathan mengurungkan niatnya untuk menyapa Widya.


"Sayang, semarah itukah kamu sama aku? Seberapa dalam luka yang udah aku goreskan hingga membuatmu tak lagi mau menyapaku? Masih bisakah luka itu aku sembuhkan?" batin Nathan, saat melihat Widya yang melewatinya begitu saja tanpa mau menyapanya. Tak terasa air matanya menetes. Namun, segera ia usap kasar pipinya yang telah basah. Ia memberanikan diri mengejar Widya, hingga ia berhasil meraih tangan Widya saat Widya hendak menaiki sepeda motor matic-nya.

__ADS_1


“Wid,” panggilnya sendu.


Widya bergeming. Ada rasa hangat menjalari hatinya kala mendengar suara yang begitu ia rindukan. Tetapi, sejurus kemudian suara itu pula yang kembali mengoyak hatinya hingga tak berbentuk. “Lepas!” pintanya lirih.


“Kita perlu bicara, Sayang. Aku benar-benar minta maaf. Aku nggak bisa tanpa kamu. Kasih aku kesempatan buat perbaiki semuanya. Aku mohon!” Nathan mengiba.


“Nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Semuanya sudah selesai,” sarkas Widya.


“Enggak, Sayang. Kita nggak bisa selesai begitu saja. Rasa cinta yang kita miliki masih tumbuh subur di hati kita. Ayo, kita mulai lagi semua dari awal! Aku janji, aku nggak akan mengulang kesalahan yang sama. Aku akan menjauh dari Vina jika itu membuatmu bisa kasih kesempatan buat aku.” Suara Nathan bergetar. Rasanya ia sudah hampir putus asa melihat Widya yang tak goyah dengan keputusannya.


“Rasa cinta itu mungkin masih ada, tapi untuk sebuah hubungan yang benar-benar serius, cinta saja tidak cukup. Dan aku pikir, kamu tidak seserius itu dalam menjalin hubungan bersamaku. Jadi, daripada kita memaksakan diri untuk terus bersama, tapi pada akhirnya saling menyakiti, mending kita nggak usah bersama. Kita jalani hidup kita masing-masing.”


“Enggak. Aku benar-benar nggak bisa tanpa kamu. Jangan acuhkan aku seperti ini! Aku bisa mati, Sayang,” mohon Nathan, “hukum aku sepuas kamu, tapi jangan tinggalkan aku. Aku mohon!” Kali ini Nathan benar-benar mengiba. Bahkan, kini ia berlutut di hadapan Widya sambil menggenggam kedua tangan Widya.


“Bangun, Nath!" lirih Widya. Tak bisa ia pungkiri, hatinya pun sakit melihat orang yang ia sayangi memohon seperti itu di hadapannya.


“Aku enggak akan bangun sebelum kamu kasih kesempatan buat aku.”


Widya mengedarkan pandangannya. Melihat tatapan semua orang yang kini tertuju pada mereka, ia mulai merasa risih. “Nath, jangan keras kepala! Aku nggak mau jadi pusat perhatian. Lihat, orang-orang sedang memperhatikan kita,” seru Widya.


“Aku tetap pada keputusanku, jika kamu tetap pada keputusanmu.”


“Apa kamu tidak bahagia bersamaku?”


Lagi, Widya menghela napasnya. Akan butuh waktu yang lama untuk menjelaskan pada Nathan. “Jangan seperti ini, bangunlah! Kita duduk di bangku itu,” ujar Widya sambil menunjuk bangku kosong di depan kafe.


Nathan pun bangkit. Mereka akhirnya duduk bersama di bangku itu. “Dengerin aku! Jujur, hatiku masih begitu terluka dengan perlakuan kamu waktu itu. Di sana seakan kamu menunjukkan bahwa aku tidak ada artinya buat kamu. Kamu sudah menghancurkan hatiku sampai tak berbentuk, Nath.” Tanpa terasa butiran bening itu lolos dari sudut mata Widya.


Nathan yang melihat itu bergegas menghapusnya dengan ibu jarinya. “Maafkan aku. Sungguh itu hal terbodoh yang aku lakukan. Aku minta maaf,” ucapnya sendu.


“Aku sudah memaafkan kamu. Tapi pada akhirnya aku sadar, aku harus menyelamatkan hatiku yang tinggal puing-puing itu. Aku tidak mau semakin remuk redam. Jadi, tolong hargai keputusanku. Biarkan aku sendiri. Kasih aku waktu untuk menyembuhkan lukaku. Kamu ngerti, kan?” Widya menatap penuh harap pada Nathan.


Hati Nathan seakan tertusuk sembilu. Mungkin rasanya seperti ribuan jarum tengah menancap di hatinya. Nathan membisu, mencoba mencerna ucapan Widya. “Ternyata luka yang kuberikan begitu parah. Tuhan, hukum aku atas kesalahanku, asalkan Kau sembuhkan luka di hatinya,” batin Nathan menjerit, menyesal atas apa yang telah ia lakukan. Tanpa ia sadari butiran bening kembali menyapa sudut matanya.


Widya yang melihat Nathan menitikan air mata pun merasa sakit, tetapi sakit di hatinya lebih parah. “Aku pergi.” Widya bangkit dari duduknya.


Ucapan Widya menyadarkan Nathan. “Boleh aku meminta satu hal?” tanya Nathan sendu. “Izinkan aku memelukmu sebentar saja,” mohonnya.


Widya mengangguk. Nathan memeluk Widya begitu erat. Seakan ia tak bisa lagi memeluk kekasih hatinya. Ia kecupi pucuk kepala Widya dengan penuh rasa sayang. Hingga cukup lama, akhirnya Widya pamit karena sudah ditunggu Arini di rumah. Dengan berat hati, Nathan melepas Widya.

__ADS_1


...***...


Nathan segera melajukan motornya kembali ke rumahnya. Sampai di rumah, ia melihat Liana sedang menyirami tanaman kesayangannya di taman. Segera ia menghampiri Liana, tangis yang sempat ia tahan saat di kafe tadi pecah dipelukan mamanya. Nathan tidak sanggup lagi, semangat hidupnya telah pergi. Kini hidupnya terasa hampa. Berbagai cara sudah ia lakukan, tetapi Widya tetap tidak mau merubah keputusannya.


Liana yang tahu keadaan putranya ikut merasa sedih. Hanya usapan dan pelukan hangat yang ia berikan untuk putra tercintanya.


"Ma, Nathan harus gimana, Ma? Nathan nggak bisa kehilangan Widya. Tapi kesalahan Nathan sangat besar, Ma. Widya nggak mau kembali sama Nathan. Nathan udah jahat sama Widya." Dengan sesegukan Nathan mengadu kepada mamanya.


Mama Liana semakin sedih melihat anaknya. Sedewasa apapun dia, tetap seperti anak kecil baginya. "Kasih ruang dulu untuk Widya, ya, Sayang! Jangan terlalu memaksa! Kasihan Widya juga. Kalau kalian berjodoh pasti Allah akan kasih jalan untuk kalian bisa bersatu lagi," tutur Liana.


"Nathan nyesel, Ma. Nathan bodoh udah menyia-nyiakan Widya. Gimana kalau Widya benar-benar benci sama Nathan? Nathan nggak bisa hidup tanpa Widya," ucap Nathan masih berderai air mata.


...***...


Dua minggu sudah berlalu sejak pertemuan terakhirnya dengan Widya. Nathan benar-benar tidak memiliki semangat hidup. Ia berada di fase hidup enggan mati segan. Nathan terus mengurung diri di dalam kamar. Badannya tampak lebih kurus karena jarang makan. Waktunya bisa habiskan untuk mengenang Widya di kamar dan tidur.


Liana, Vina, dan kedua adik Nathan begitu sedih melihat keadaan Nathan sekarang. Sudah berbagai cara mereka lakukan untuk membujuk Nathan, tetapi semuanya nihil. Nathan menjadi sosok yang dingin dan tak mau tahu.


“Aku nggak nyangka, sebesar itu cinta kamu buat Widya,” batin Vina saat ia kembali ditolak oleh Nathan. Selama dua Minggu ini ia berusaha menemui Nathan untuk mencari simpati dari Nathan. Namun, semua berujung sama, yaitu penolakan Nathan. Bahkan ia tak bisa melihat wajah tampan itu lagi. Nathan hanya mengizinkan sang mama yang masuk ke dalam kamarnya.


“Sampai kapan kamu seperti ini, Nak?” Liana yang tak mampu memecahkan masalah sang putra menceritakan semuanya pada suaminya. Hingga akhirnya Lesmana turun tangan. Ia mengirimkan Zacky, sahabat Nathan di Singapura untuk menemui Nathan.


Zacky adalah salah satu orang yang bisa mengendalikan emosi Nathan. Ia sudah dianggap seperti kakak kandung oleh Nathan. Rencana Zacky untuk membujuk Nathan pun berhasil. Ia menawarkan kerja sampingan untuk Nathan agar ia bisa melupakan sejenak patah hatinya.


Namun, meski begitu sikap Nathan tak lagi sama seperti dulu. Ia melakukan pekerjaannya di dalam kamar. Seharian ia akan berkutat dengan laptopnya guna mendesain interior rumah milik Zacky yang baru saja ia beli di Jakarta.


Liana tidak pernah bosan mengingatkan putranya untuk makan dan beristirahat.


“Apa Nathan masih nggak mau ketemu sama Vina, Tan?” tanya Vina saat mengunjungi rumah Liana.


“Nathan masih mengurung diri di kamar. Mungkin ia masih butuh waktu untuk menyembuhkan kekecewaannya. Jadi tante harap Vina jangan ganggu Nathan dulu!” pinta Liana.


Vina kembali menelan pil kekecewaan. Ia sudah merindukan Nathan, tetapi Nathan tidak jua mau menemuinya. Bahkan nomornya pun diblokir oleh Nathan.


...***...



Siapa, tuh, Zacky? Yang pasti bukan sodara kembarnya Zakir, ya 😅

__ADS_1


__ADS_2