
...***...
Nathan terus mengetuk pintu itu sampai akhirnya dia menyerah. Menyerah untuk saat ini, tetapi bukan menyerah untuk mempertahankan hubungannya dengan sang kekasih. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia langkahkan kakinya meninggalkan rumah Widya. Baru satu langkah, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, membuatnya bersemangat untuk membalikkan badan. Ada rasa kecewa ketika dia tahu yang membuka pintu adalah bunda Arini.
"Widya ada, Bun? Nathan ingin bicara dengannya. Bisa, kan, Bun?" Nathan memohon pada Arini. Ingin rasanya ia merengek meminta pertolongan agar bisa bertemu Widya, tetapi ia urungkan karena tidak pantas laki-laki dewasa melakukan hal seperti itu.
"Bunda tidak tahu masalah kalian apa, tetapi sebagai ibunya Widya, bunda nggak bisa lihat anak bunda terus-terusan bersedih. Kalau Nathan tidak bisa membuat bahagia lebih baik lepaskan saja Widya!" ucap bunda Arini lembut dan penuh penekanan.
Nathan bagai disambar petir mendengar penuturan Arini. "Tapi, Bun—"
"Bukannya bunda membela anak bunda, tetapi untuk apa mempertahankan hubungan yang saling menyakiti? Jika kalian memang ditakdirkan bersama, maka Allah akan mempermudah jalan kalian bersama. Untuk saat ini biarkan Widya sendiri, jadikan momen ini untuk introspeksi diri kalian masing-masing. Apa yang membuat hubungan kalian seperti ini." Arini memotong perkataan Nathan. Sebenarnya Arini merasa kasihan melihat keadaan Nathan yang terlihat semakin kacau. Seluruh tubuhnya basah kuyup, Arini ingin menawarkan berteduh, tetapi itu sama saja menolak permintaan anaknya-Widya, yang tidak ingin bertemu Nathan.
Dengan wajah lesunya, Nathan terpaksa menuruti perintah Arini untuk tidak bertemu Widya. Benar yang dikatakan Bunda Arini, mereka butuh waktu untuk saling introspeksi diri. Mungkin bagi sebagian orang mudah untuk memaafkan, tetapi rasa kecewa yang terlanjur ada di hati tidak mudah begitu saja hilang.
"Maafkan Nathan, Bun. Nathan memang sudah salah sudah membuat Widya sedih dan kecewa, tapi sungguh Nathan benar-benar cinta dan sayang sama Widya, Nathan nggak bisa kehilangan dia." Dengan tertunduk Nathan meminta maaf pada Arini.
"Itu semua tergantung keputusan Widya. Bunda nggak bisa ikut campur. Bunda hanya bisa kasih nasihat yang menurut bunda baik buat kalian. Bunda percaya kalian sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan dengan bijak. Jadi, pikirkan dengan baik!" Sambil menepuk lengan Nathan, Arini memberi kekuatan untuk Nathan yang terlihat lesu dan tidak bersemangat.
"Makasih, Bunda. Nathan pulang dulu." Sambil mencium tangan Arini, Nathan berpamitan meninggalkan rumah Widya dengan perasaan yang masih kacau, karena belum bisa menerima keputusan Widya yang mengajaknya putus.
Sinar jingga telah nampak di ujung timur. Cahayanya yang terpancar seakan memberi semangat siapa saja untuk memulai aktifitas dan mencari kebutuhan ataupun harapan. Walaupun terkadang semangat itu akan pudar bersama pudarnya sinar matahari, tetapi siklus itu akan tetap terulang. Ada saat kita terpuruk, dan ada saat kita untuk bangkit. Jangan biarkan keterpurukan itu berlangsung lama.
__ADS_1
Widya yang sudah nampak segar setelah mandi berdiri di depan kaca mengamati pantulan dirinya. Dia meraba matanya yang masih terlihat bengkak akibat menangis semalaman. Mau bagaimana lagi, menangis adalah salah satu media yang tepat untuk meluapkan kesedihan bagi wanita. Tiba-tiba suara ponsel yang bergetar mengalihkan perhatian dari kantung matanya, ada nama Karin di sana.
"Halo, Rin. Assalamualaikum?" sapa Widya.
"Waalaikumsallam, Wid. Kartika bilang nggak bisa ikut, jadi kita pergi berdua aja, gimana?"
"Nggak apa, kok, kalo cuma kita berdua. Emang kenapa dia nggak bisa ikut? Kok, mendadak sekali?"
"Katanya ada acara keluarga, jadi dia ikut bantu-bantu sama mamanya. Lo gue jemput, ya?"
"Nggak usah. Gue langsung aja ke TKP, nanti lo muter jauh."
"Oke, deh!"
"Bunda, Widya pamit dulu, ya! Mau jalan sama Karin ke bangunan tua yang pernah aku ceritain sama Bunda," pamit Widya pada Arini yang sedang mencuci perabot yang kotor.
"Sarapan dulu, Sayang! Bunda nggak izinin kamu pergi, kalau belum sarapan," ancamnya.
Widya duduk di meja makan, terpaksa menuruti perintah bundanya yang sedang mengambilkan nasi dan lauk untuknya.
"Nggak seru, ih, Bunda! Pake acara ngancem pula." Widya memanyunkan bibirnya sembari memasukkan nasi ke mulutnya. "Aduh!" Widya mengaduh ketika Bunda Arini mencubit pipinya karena gemas. "Sakit, Bunda!"
"Habisnya bibir kamu monyong, bunda kan jadi gemes." Bunda Arini terkekeh, diikuti gelak tawa Widya.
"Bunda senang lihat kamu tertawa. Jujur, bunda nggak suka lihat kamu bersedih terus, Sayang," imbuhnya.
__ADS_1
Seketika wajah Widya menjadi sendu. Namun, dia mencoba tersenyum ketika menyadari bundanya menampilkan wajah yang sama-sama sendu.
Arini mengelus tangan putrinya itu seakan ingin memberi kekuatan. "Selama ini, bunda mencoba tidak ikut campur dengan masalah kalian, tapi melihat seringnya kamu bersedih, sepertinya masalah kalian kali ini cukup berat."
"Sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi antara aku sama Nathan, Bun." Ada rasa sesak di dada Widya saat mengucapkan kalimat itu. Mungkin Widya memang egois, tetapi rasa kecewa yang ia rasakan pada Nathan terlalu besar, "Widya memilih untuk berpisah dan itu adalah pilihan yang tepat, Bun." Tanpa disadarinya, kelopak matanya sudah menampung butiran air mata.
"Tapi, kemarin bunda lihat Nathan terlihat sangat kacau. Bunda yakin, Nathan masih sangat mencintaimu."
"Entahlah Bun, jika memang ia benar mencintai Widya, apa artinya rasa cintanya kalau tidak ada kepercayaan untuk orang yang dicintainya? Itu hanya akan terlihat seperti obsesi perasaan saja, Bun." Air mata yang dari tadi dia tahan akhirnya tumpah juga. Bunda Arini segera memeluk putrinya.
"Baiklah, bunda akan selalu mendukungmu apa pun keputusanmu, selama itu tidak menyakiti hatimu. Bunda merasa bersalah jika melihatmu terus bersedih, Sayang." Percakapan itu pun diakhiri dengan pelukan erat dari Arini sambil menepuk punggung Widya agar merasa tenang. Namun, justru itu membuatnya menumpahkan tangisannya sambil tersedu-sedu, seakan ingin meluapkan semua kesedihannya selama ini. Bunda membiarkan putrinya menangis untuk meluapkan kesedihannya.
\*\*\*
Beberapa waktu pun berlalu, hari-hari yang berat dilalui oleh Widya dan Nathan. Sama-sama memendam rasa cinta dan rindu. Semenjak komunikasi terakhir Widya dengan Nathan lewat telepon, yang mengatakan untuk mengikhlaskan hubungannya, membuat hubungan mereka canggung. Itu bukan hal mudah bagi Nathan maupun Widya sendiri. Apalagi jika harus bertemu langsung. Untungnya mereka sudah jarang bertemu, karena mereka tinggal menunggu jadwal wisuda saja.
Namun, Nathan yang menyadari kesalahannya mencoba tidak mengusik Widya lagi. Berat harinya dia lalui dengan menyibukan diri pada pekerjaaan. Kehadiran Vina sudah tidak dia pedulikan. Sering Vina yang merengek mengajaknya jalan, ia selalu mengabaikannya begitu saja dan berakhir dengan mengunci dirinya di kamar. Liana pun merasa khawatir dengan keadaan putra sulungnya yang bahkan ketika waktu makan sering absen dengan alasan tertidur.
"Mama sudah pernah mengingatkanmu, Nak, tapi kamu nggak mendengarkannya. Dan sekarang, mama melihatmu seperti ini membuat mama juga merasa sakit," gumam Liana ketika melihat Nathan yang terlihat kacau dan sering melamun. Putranya kini menjadi pribadi yang lebih pendiam dan sering mengurung diri di kamar.
Liana yang tidak tega melihat putranya, hanya bisa berdoa agar keadaan segera membaik. Ia menyadari, jika ini memang kesalahan putranya. Namun, kelemahan seorang Vina mampu membutakan hati Nathan dari sebuah kebenaran. Jika ucapannya saja tidak didengar, biarlah waktu yang akan membuktikan semuanya. Ia sudah berusaha meyakinkan putranya.
...***...
__ADS_1