Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 97.2


__ADS_3

...*** Happy Reading ***...


...Aku mau double up, nih. Tapi jangan lupa klik like dulu, ya, sebelum loncat 👍👉...


...***...


Pukul setengah tujuh Widya berada di Kafe Hamber bersama kelima sahabatnya. Mereka mengenang masa lalu setelah sekian lama tidak pernah mengunjungi kafe ini. Zakir sengaja mengajak ke Kafe Hamber dengan tujuan agar Widya perlahan bisa menerima kepergian Nathan. Kenangan di antara mereka tidak harus dilupakan apalagi dikubur paksa. Namun, Widya yang harus menerima kenyataan dan mengikhlaskan kepergian Nathan. Semua usaha mereka tidak lepas dari pengarahan Dokter Fitri.


“Gue barusan menyelesaikan proyek besar. Proyek pertama gue, Guys. Ini semua tak lepas dari bantuan kalian berdua, Tik, Rin,” ucap Edo di sela-sela candaan mereka.


“Iya, lah. Kita kerja rodi sampai tak sempat makan siang segala. Iya, ‘kan, Rin?” celetuk Kartika yang dibalas anggukan Karin dengan mulut penuh kentang goreng.


“Nah, lo. Jadi bos jangan kejam ama ayang gue, dong. Lo mau nerima bogem gue kalau sampai ayang Tika sakit?” Zakir melotot memperlihatkan otot lengannya yang kekar ke arah Edo.


“Halah, lengan segitu aja sok mau jadi pahlawan,” ledek Edo membuat mereka tertawa.


“Senangnya yang masih sibuk dengan suasana kerja,” ujar Widya dengan senyum yang tidak bisa diartikan. Semenjak kepergian Nathan, Widya resign dari tempat kerjanya karena kondisi saat itu tidak memungkinkan Widya untuk bekerja.


“Kamu kangen suasana kerja?” tanya Harsa yang duduk di samping Widya.


“Kadang-kadang, sih. Lama jadi pengangguran ternyata membosankan,” jawab Widya dengan binar keceriaan yang berangsur pulih.


“Kalau lo mau, bisa, kok, gabung di kantor kita. Meskipun nggak sebesar kantor lo yang dulu, sih. Gue udah ada rencana kalau ke depannya akan ngembangin usaha gue sama Zakir bukan hanya di perencaan pembangunan saja, tetapi termasuk desain interiornya juga. Biar klien nggak perlu kerja dua kali. Gue akan merasa beruntung jika lo mau gabung sama kita. Secara lo udah ada pengalaman berada di perusahaan besar. Paling tidak lo udah punya gambaran tentang apa saja yang harus lo kerjakan. Bukan begitu, Zak?” terang Harsa panjang lebar.


“Yupz, betul sekali. Biar perusahaan gue bisa maju seperti perusahaan big boss Edo,” balas Zakir tanpa mengalihkan perhatiannya dari kacang sukro yang sedari tadi ia kekepin.


“Aamiin, kita semua selalu dukung kalian,” ucap Kartika tulus.


“Kita? Elo kali, Tik. Elo, ‘kan, ayangnya. Gue mah ogah,” tolak Edo bercanda.

__ADS_1


“Lo mau gue resign dari perusahaan lo?” ancam Kartika.


“Eh, enggak-enggak. Gue butuh kecerdasan lo. Iya iya, gue dukung Zakir,” ralat Edo diiringi tawa renyah dari mereka.


“Gimana, Wid? Lo mau, ‘kan?” Harsa mencoba memastikan.


“Hm … gue pikir dulu, deh,” jawab Widya.


“Nggak harus sekarang, kok. Setidaknya kalau lo bersedia, gue buka lowongan untuk posisi itu hanya untuk satu orang saja.” Harsa menyesap cappuccino dari cangkir di depannya.


“Eh, gue belum selesai bicara, nih. Please dengerin lanjutannya, dong,” Edo mencebikkan bibirnya merasa terabaikan.


“Emang lo mau ngomong apa, sih?” tanya Zakir.


“Gue berniat ngajak lo semua buat liburan ke Lombok akhir pekan depan. Gue yang bayarin semuanya. Anggap saja ini adalah syukuran atas pencapaian pertama gue dan gue pengen merayakannya bersama kalian,” terang Edo.


“What?” Karin terbelalak mendengar penuturan bosnya.


“Barcando, lo?” Zakir datar saja meskipun dia juga terkejut.


“Asyik, tuh,” komentar Harsa.


“Alhamdulillah, selamat, ya, Do,” ucap Widya dengan senyum tulus mengiringi keberhasilan sahabatnya.


“Jadi kalian semua setuju, kan?” tanya Edo.


“Wid?” Karin dan Kartika menatap Widya memohon persetujuannya. Satu detik, dua detik, tiga detik, hingga beberapa detik kemudian.


“Iya, gue setuju,” lirih Widya setelah beberapa saat berpikir.

__ADS_1


“Alhamdulillah,” jawab mereka kompak. Selanjutnya yang terdengar hanya canda tawa dan saling ejek dari mereka. Suasana ramai di Kafe Hamber dan lagu yang dibawakan band lokal turut mengiringi kebahagiaan mereka. Akhir pekan seperti ini di Kafe Hamber, selalu menyajikan acara yang digandrungi anak muda, membuat kafe ini selalu ramai.


Pukul sembilan malam mereka meninggalkan kafe. Sebenarnya masih terlalu awal untuk mereka. Namun, mengingat kondisi Widya yang masih dalam pantauan Dokter Fitri membuat mereka meninggalkan kafe tersebut sebelum jam tidur Widya tiba. Harsa mengantar Widya, melaju perlahan melewati temaram jalanan kota yang masih ramai. Sejujurnya Harsa masih ingin berlama-lama berdua dengan Widya. Rasa cintanya selama ini membuat ia berusaha untuk mengembalikan senyum Widya.


Harsa melihat perubahan mimik Widya ketika mereka melewati galeri Ammy Avantie. Pandangan Widya tertuju pada gaun pengantin yang terpasang pada manekin yang terlihat dari luar. Gaun yang sangat indah yang sengaja dipajang untuk menarik perhatian orang-orang yang melihatnya. Yah, gaun tersebut adalah gaun pengantin pesanan Widya yang gagal Widya pakai.


“Wid, besok gue mau mengunjungi makam Nathan. Lo mau ikut?” tanya Harsa yang memahami apa yang Widya rasakan. Widya yang sedari tadi hanya memandang arah jendela samping segera mengalihkan perhatiannya dan menatap Harsa yang masih fokus membawa mobilnya.


“Besok? Jam berapa?” tanya Widya penuh antusias. Pasalnya, Widya belum pernah mengunjungi makam calon suaminya semenjak pemakaman beberapa waktu lalu.


“Jam sepuluhan. Gue tiap Minggu datang ke sana. Siapa tahu kali ini lo mau ke sana juga,” jawab Harsa tetap fokus pada jalanan di depannya.


“Setiap Minggu lo ke sana? Kenapa baru sekarang lo ngajak gue?” tanya Widya mencebikkan bibirnya merasa kecewa, tetapi hal itu membuat Harsa tersenyum. Sepertinya Widya yang dulu sudah mulai kembali.


“Karena selama ini lo diem aja. Nggak pernah balas telepon gue. Nggak pernah bilang lo inginnya apa, lo mau ke mana dan lo mau gimana. Mulai sekarang jika lo ada keinginan atau ada sesuatu yang ingin lo sampaikan, jangan dipendam, ya! Gue selalu siap mendengarkan dan insyaAllah selalu siap untuk memenuhinya selama itu tidak melanggar aturan agama,” jawab Harsa mengacak rambut Widya.


Widya hanya mengangguk dan tersenyum mendengar penuturan Harsa. Selebihnya mereka hanya diam menikmati rasa yang berkecamuk dalam pikiran masing-masing. Rasa hangat yang perlahan mengalir dalam hati mereka, rasa yang akan mengubah warna kehidupan dengan mengalahkan beberapa bias sinar yang kadang timbul dan tenggelam.


...*** ...


“Wah, anak bunda sudah cantik. Mau ke mana?” tanya Arini melihat Widya sudah rapi sepagi ini. Setelah sarapan, Widya segera mematut dirinya hingga membuat Arini terkejut karena tidak biasanya Widya seperti itu semenjak kepergian Nathan.


“Mau ke makam Nathan, Bun,” jawab Widya singkat.


“Sama siapa? Bunda temenin, ya?” tawar Arini yang terkejut mendengar penuturan putrinya. Arini takut terjadi sesuatu dengan Widya jika ia tidak mendampinginya.


“Sama Harsa, Bun. Semalam Harsa yang mengajak Widya,” terang Widya.


...***...

__ADS_1


Next scroll bawah 👇


__ADS_2