
...***Happy Reading***...
...***...
Detik demi detik waktu berputar tanpa jeda. Layaknya pagi berganti senja, dan malam menjemput siang. Kehidupan yang kita lalui harus terus berjalan, meskipun dengan langkah tertatih. Perihnya luka akan sembuh jika waktunya telah tiba. Setiap proses yang menyertainya adalah pembelajaran menuju pendewasaan diri.
Tanpa terasa, sudah dua tahun Nathan meninggalkan Widya. Dua tahun adalah waktu yang sangat berat untuk gadis itu. Bagaimana ia belajar untuk mengikhlaskan, bagaimana ia berusaha untuk menyembuhkan mentalnya, dan bagaimana ia berusaha bangkit dari rasa terpuruknya. Semua itu berkat dukungan orang-orang terdekatnya.
Widya merasa jika selama ini Harsa selalu berusaha membuatnya tersenyum. Ia tahu jika perhatian Harsa bukanlah sekedar perhatian seorang sahabat. Ditambah keluarga Harsa yang sangat menyayanginya. Sebenarnya Widya ingin melangkah dan mulai mencoba membuka hatinya. Tetapi setiap ia berusaha, bayangan Nathan masih kuat dalam benaknya. Akhirnya, Widya pun pasrahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuknya.
“Bun, sepertinya nanti Widya pulang malam. Widya harus survei bahan bangunan untuk proyek yang ada di Bogor,” ucap Widya di sela sarapan bersama kedua orang tuanya.
“Widya pergi sama siapa?” tanya Arini.
“Harsa dan Zakir, Bun.” Widya kemudian memasukkan suapan pertamanya.
“Oh, ya, sudah. Bunda lebih tenang jika kamu bersama mereka,” ucap Arini dengan senyum teduhnya.
“Oya, Bunda juga jangan capek-capek! Bunda cukup pantau saja, biar semua dikerjakan mbak-mbak di toko,” pesan Widya.
“Iya, Bunda ingat, kok. Widya juga harus jaga kesehatan, ya!” Arini balik memberi petuah.
Sudah tiga bulan Arini mendirikan toko kue kecil-kecilan di rumah sebelah. Waktu itu pemilik rumah butuh biaya untuk pengobatan ibunya, sehingga rumah itu dijual dengan harga jauh di bawah harga pasar. Widya pun berpikir ingin membuka toko kue untuk bunda Arini. Selama ini pelanggan bundanya sudah banyak. Sepertinya akan lebih mudah untuk pemasarannya. Dengan didampingi dua orang yang Arini percayai, mulailah mereka dengan usaha barunya. Aroma bakery nama yang terpajang di depan toko mereka.
...***...
“Wid, nanti siang makan sama siapa?” tanya Ayu-teman satu ruangan yang duduk di sebelahnya.
“Belum ada janji, sih. Kenapa?” jawab Widya tanpa mengalihkan atensinya dari gambar di monitor yang ada di mejanya.
“Sebenarnya dari kemarin-kemarin aku pengen ngajak kamu makan bakso di pojok sana. Tapi kamunya sibuk. Selalu makan siang sama pak bos,” lirih Ayu dengan nada kecewa.
__ADS_1
Widya berhenti memainkan jarinya di atas keyboard komputernya. Ia menatap Ayu yang sedari tadi terlihat murung. Tidak biasanya Ayu seperti itu. Di sini Widya merasa bersalah, telah mengabaikan seseorang yang berada di dekatnya. Selama ini Widya terlalu sibuk dengan dirinya hingga tidak menyadari bahwa ada orang lain di dekatnya selain geng ‘Sahabat Selamanya.’
“Oke, nanti kita makan bakso,” ucap Widya tersenyum membalas tatapan mata Ayu. Ayu pun tersenyum dengan binar bahagia yang terpancar dari sorot matanya.
Widya segera menyelesaikan gambarnya sebelum menyerahkan pada Harsa. Harsa yang sedari pagi sibuk, belum sempat menyapa Widya hari ini. Pagi-pagi ia sudah pergi ke luar kantor untuk meninjau proyek. Hingga menjelang siang, ponsel di meja Widya bergetar. Nama Harsa terpampang pada layar hijaunya.
“Assalamualaikum, Sa. Ada apa?” tanya Widya.
[Bentar lagi gue nyampe kantor. Kita makan di tempat biasa, ya?] jawab Harsa dari seberang.
Widya melirik Ayu yang duduk di sebelahnya. Mengingat senyum cerahnya tadi, ia tidak tega membatalkan janji makan siang dengannya.
[Wid, lo masih di situ, ‘kan?] ulang Harsa.
“Iya, Sa. Tapi maaf, gue udah ada janji makan siang,” lirih Widya.
[Sama siapa?] Mode posesif Harsa langsung bekerja. Bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.
[Oya, sudah. Kirain lo ada janji sama klien. Kalau gitu gue makan di warung deket kantor juga, lah.] Harsa lega mendengar jawaban Widya.
Tak lama kemudian sambungan ponsel mereka berakhir. Widya kembali menyelesaikan project-nya sebelum Harsa tiba di kantor. Akhirnya jam makan siang pun tiba. Widya dan Ayu segera membereskan meja mereka.
“Ayo, Wid!” ajak Ayu yang dibalas anggukan oleh Widya.
Mereka berdua berjalan menuju kedai bakso yang berjarak beberapa meter dari kantornya. Ternyata pada jam makan siang seperti ini, kedai tersebut sangat ramai. Dengan lincahnya Ayu mencari tempat kosong, sedangkan Widya hanya mengikuti dari belakang. Setelah mendapat tempat duduk, Ayu segera memesan bakso dan es jeruk untuk mereka. Dalam beberapa menit, pesanan pun tiba.
“Hm … enak juga,” ujar Widya setelah mencicipi kuah bakso yang terlihat begitu menggoda.
“Baru tahu? Bakso rusuk ini sangat terkenal, loh, Wid,” ujar Ayu dengan mata berbinar.
“Oya, kenapa aku baru tahu,” sesal Widya.
__ADS_1
“Kamu, sih, terlalu sering makan sama Bos di tempat mewah. Jadi nggak tahu ada bakso viral di dekat kantor,” ucap Ayu. “Oya, kamu, ‘kan, deket sama Bos. Kalau boleh tahu, nih, pak Bos udah punya gebetan apa belum?” tanya Ayu sedikit berbisik.
“Pak Bos? Bos yang mana maksudnya. Harsa apa Zakir?” tanya Widya. Selama ini orang-orang di kantor mengetahui jika mereka bertiga adalah sahabat sejak SMA hingga tak heran melihat kedekatan di antara ketiganya.
“Pak Harsa, dong. Sepertinya aku jatuh cinta sama pesonanya,” jawab Ayu enteng dengan wajahnya yang tersipu malu.
Jawaban Ayu sontak membuat Widya tersedak. Kunyahan bakso yang ada dalam mulutnya tiba-tiba saja meluncur dengan sendirinya melalui kerongkongannya. Hal itu membuat Widya terbatuk dan menjadi pusat perhatian dalam ruangan tersebut. Widya segera menyeruput es jeruknya dan berusaha menenangkan hatinya yang tiba-tiba saja terasa nyeri.
“Kamu kenapa, Wid. Maaf aku bikin kamu tersedak,” sesal Ayu.
“Nggak papa,” ujar Widya setelah semuanya terkondisikan.
Selanjutnya, mereka menghabiskan makan siangnya tanpa ada percakapan. Ayu takut jika Widya terganggu dengan omongannya. Mereka selesai sebelum jam makan siang berakhir dan kembali ke kantor ketika suasana masih belum ramai. Hanya ada beberapa orang yang ada dalam ruangan itu. Widya dan Ayu segera kembali ke tempat mereka.
“Pertanyaanku tadi belum kamu jawab, Wid,” ucap Ayu tiba-tiba membuat perhatian Widya yang hendak menyalakan komputernya mulai teralihkan.
“Pertanyaan yang mana?”
“Pak Harsa sudah punya gebetan apa belum. Kalian, ‘kan, temen dekat. Pasti tahu, dong.” Ayu menatap Widya penuh harap.
Widya tersenyum menatap Ayu, tak tahu harus menjawab apa. Pada kenyataannya di antara dirinya dan Harsa memang belum ada komitmen. Meskipun Widya merasakan perhatian yang lebih dari seorang sahabat dan lagi di masa lalu mereka adalah pasangan kekasih. Tak bisa dipungkiri ada rasa sesak yang mengganggu hati Widya mendengar pengakuan Ayu.
‘Apa aku cemburu,’ batin Widya dalam lamunannya.
...***...
...***To be continued***...
...Nah, cemburu nggak, tuh? ...
...Kasih dukungan terus, ya, Readers ☺...
__ADS_1
...Like, komentar, dan gift. Makasih 🙏...