Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 128


__ADS_3

...***...


...Happy Reading...


...***...


Aroma bunga mawar merebak di kamar pengantin itu. Sepasang suami-istri yang baru menikah itu tampak malu-malu.


"Mas."


"Yang."


Keduanya berkata bersamaan, membuat suasana tegang berubah jadi tawa. "Mas, dulu, deh!" ucap Karin setelah tawanya reda.


Edo mengulas senyuman, ia mengangguk sambil mengusap pipi Karin dengan lembut. Namun, saat dirinya hendak melontarkan kata-katanya, suara nyaring dari dering ponsel miliknya menggagalkan hal tersebut. Edo segera merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel dari sana. Ternyata panggilan itu berasal klien penting Edo yang berasal dari luar negeri. Ia harus menerima panggilan tersebut, tetapi merasa tidak enak dengan Karin.


"Yang, boleh angkat ini dulu, nggak? Ini klien penting dari Jerman. Bentar aja, tapi kalau nggak boleh aku ng–"


"Angkat aja, nggak apa-apa. Kalau nggak diangkat, nanti perusahaan suami aku bisa rugi besar." Karin menukas ucapan suaminya sambil terkekeh. Sebagai mantan bawahan Edo, Karin tentu saja tahu siapa klien penting tersebut.


Edo tersenyum lalu segera menekan tombol terima panggilan pada layar ponselnya. Lantas berbincang dengan orang di seberang telepon tersebut. Cukup lama mereka berbincang, hingga membuat Karin yang menunggu suaminya jadi ketiduran karena kelelahan.


Setengah jam kemudian, panggilan itu baru selesai. Edo menghela napas ketika melihat Karin tertidur begitu pulasnya. Sebelumnya Karin sudah melepas gaun pengantinnya selagi Edo masih berbincang dengan orang di seberang teleponnya. Edo ingin membangunkan istrinya untuk menuntaskan keinginan 'si kecil' yang sedari tadi sudah mendesak di bawah sana. Namun, ia tidak tega untuk mengganggu kenyamanan tidur istrinya. Benar-benar simalakama.


"Yang, kok, malah tidur?" Akhirnya setelah beberapa saat batinnya berperang, desakan ‘si kecil’ itu pun menang. Edo berusaha untuk membangunkan Karin pelan-pelan dengan mengusap pipinya dengan lembut, tetapi tidak sedikit pun membuat Karin terbangun. "Aaargh, gimana, nih? Masa malam pertama kami cuma tidur? Gara-gara Mr. George kelamaan telepon, istri gue jadi ketiduran. Apes banget, dah!" Edo mengerang frustrasi sambil mengacak rambutnya sendiri.

__ADS_1


Setelah malam pertama yang didambakan Edo gagal, akhirnya sepasang pengantin baru itu pun tertidur pulas. Keesokan paginya, Karin sudah terbangun lebih dulu. Ia melihat ke arah suaminya yang masih tenang di atas kasur. Beberapa saat kemudian, Karin pun turun dari ranjang. Namun, sebelum kakinya menyentuh lantai, tangan kekar itu menarik pinggangnya dengan cepat. Karin pun terjatuh dalam pelukan Edo. Dengan wajah bantalnya, Edo memandang Karin penuh damba. Kali ini Edo tidak ingin gagal lagi.


"Mau kemana kamu, Yang?" tanya Edo. Tangannya membelai bibir Karin yang kenyal dan lembut. Karin mengigit bibir bawahnya, jantungnya berdegup lebih cepat merasakan getaran yang selama ini belum pernah ia rasakan. Edo pun sadar apa yang dilakukannya membuat Karin salah tingkah hingga wajahnya memerah.


Melihat wajah Karin yang menggemaskan, membuat Edo semakin tertantang untuk melajukan tangan jahilnya. Tanpa aba-aba, tangannya kembali menjelajahi tempat yang membuatnya penasaran. Keduanya saling memandang penuh cinta. Belaian tangan Edo yang semakin berani membuat Karin tidak berdaya. Perlahan wajah Edo semakin dekat hingga tidak ada jarak di antara mereka. Dengan lembut Edo ******* bibir Karin yang seksi. Saling menukar saliva dan bertaut lidah yang mereka rasa begitu manis. Pagi yang dingin tidak berarti untuk mereka yang mulai merasa panas.


"Mas, bentar dulu, ya. Aku mau ke kamar mandi bentar!" seru Karin sambal mendorong tubuh kekar di atasnya. Karin pun berlari ke kamar mandi yang berada di pojok ruangan.


“Sial!” Edo menatap pasrah kepergian Karin. Sejak semalam, Edo tersiksa karena ‘si kecil’ tidak kunjung tidur. Wajahnya berubah cerah ketika melihat Karin keluar dari kamar mandi. Namun, ia terkejut mendapati wajah istrinya yang murung.


"Mas, maafkan aku. Aku belum bisa menjadi istri yang sempurna dan sesuai harapanmu," lirih Karin setibanya di samping Edo.


"Kenapa, Sayang? Coba jelaskan apa yang membuatmu sedih gitu?" Edo mencoba bersabar meskipun dalam hatinya merasa kesal.


"Janji, Mas nggak akan marah?" Edo mengangguk. "Aku ... aku datang bulan, Mas," lirih Karin menunduk tanpa berani menetap mata suaminya.


...****...


Dua hari sejak resepsi pernikahan mereka, Zakir dan Harsa pun datang ke rumah pasangan suami-istri yang baru menempati rumah mereka.


"Gimana permainan lo? Bolanya masuk gawang, nggak? Bentar lagi saingan, dong, sama ini," ledek Zakir sambil mengelus perut Kartika yang sudah mulai membuncit.


"Parah, gagal total. 'Si merah' datang duluan sebelum gue jengukin," jawab Edo menatap Zakir kesal.


"Zakir, lo kalau ngomong bisa di rem nggak, sih? Kayak nggak sekolah aja, tuh, mulut," sarkas Harsa kesal melihat kelakuan Zakir.

__ADS_1


"Yaelah, Sa. Gue cuma mau tahu malam pertama bos besar kita ini gimana?" seru Zakir, lalu menoleh pada Edo lagi. "Jadi beneran semalam lo nggak ngapa-ngapain?" tanya Zakir lagi. Edo menggeleng sedih.


"Yaaah, kasian banget," ledek Zakir. Ia lalu merangkulkan tangannya pada leher Harsa. "Coba kasih tahu gimana rasanya malam pertama, Sa?" tanyanya sambil menaikturunkan kedua alisnya.


Harsa tersenyum menyeringai. Ekor matanya melirik ke arah Edo yang sudah memasang wajah kesal. "Nikmat, Bro!" cetusnya, lalu tertawa.


Dan mereka pun tertawa bersama. Entah menertawakan Zakir yang ceplas-ceplos dan ledekan mereka yang menyesatkan, atau menertawakan nasib Edo yang gagal di malam pertama yang hot menurut bayangan Edo. Hingga obrolan pun berlanjut. Meraka berenam membahas semua kisah kasih mereka di masa putih abu dan kuliah serta dunia kerja. Kisah cinta mereka tertuang dalam bingkai persahabatan yang indah.


Mereka juga membahas tentang kehamilan Kartika. Kini, kehamilan Kartika sudah memasuki bulan ketiga. Bersyukurnya ia tak mengidam, begitu pula dengan Zakir. Hanya saja, terkadang Kartika menjadi sedikit malas bersolek dan menjadi sedikit kucel. Walaupun begitu, Zakir tetap cinta dan sayang kepada perempuan yang akan menjadi ibu dari anaknya itu.


Zakir pun bahagia memasuki bulan keempat pernikahannya, ia diberi hadiah istimewa yaitu kehamilan Kartika yang semoga selalu diberi kemudahan sampai melahirkan nanti.


...***...


Satu minggu pun berlalu setelah tragedi berdarah di malam pertama. Edo yang sudah sabar menunggu akhirnya mendapatkan yang dia mau. Kini, kedua pasang baru itu sedang menikmati malam panjangnya. Suara lenguhan Karin yang semakin dalam membuat Edo semakin panas juga memberikan aksi dahsyatnya kepada wanita yang sedang berada di bawah kendalinya. Sepertinya, Karin hanya bisa mengikuti semua perlakuan panas yang Edo berikan tanpa ragu dan malu.


Berdua melepaskan semua hasrat yang terpendam, mencurahkan kasih sayang dan cinta yang dalam dan berirama dengan ritme yang berbeda-beda. Hingga menciptakan sebuah nada yang paling syahdu disertai debaran jantung yang bertalu-talu.


"Terima kasih, Sayang," seru Edo sambil menyelipkan rambut Karin yang menutupi wajahnya yang lelah dan penuh keringat. Karin pun tersenyum malu dan merona membayangkan panasnya percintaan mereka berdua.


"Yes, berhasil!" Edo bermonolog di hatinya. Keduanya pun terlelap sebelum memulai ronde kedua.


...***...


...To be Continued...

__ADS_1


...***...


...Kita voting, yuk. Di antara ketiga pasangan kita, pasangan mana yang paling ganas malam pertamanya? 🤣...


__ADS_2