Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 25


__ADS_3


...***...


Pagi ini, Widya bangun lebih pagi. Membantu Arini menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah. Widya selalu menampilkan senyumnya walaupun beberapa kali tangannya terkena cipratan minyak goreng. Beruntung minyak panas itu tidak mengenai wajahnya. Jika iya, maka paras cantiknya pasti akan tercoreng karenanya.


Begitu Bowo sudah berkumpul di meja makan, Widya pun dengan cekatan mengambilkan nasi dan lauk untuk mereka berdua. "Ayo, Yah, Bun, sarapan!" ajak Widya sambil tersenyum, menampilkan deretan gigi rapinya. Mereka pun makan dengan khidmat.


Usai sarapan, Arini yang hendak mencuci piring dicegah oleh Widya. "Bun, biar aku saja yang cuci piring. Lebih baik Bunda bantuin Ayah." Widya melirik Bowo yang tengah berdiri dan terlihat kesusahan membenarkan dasinya. Arini mengangguk, lalu menghampiri suaminya.


Sambil memperbaiki dasi suaminya, Arini juga memperhatikan gerak gerik Widya. Melihat perubahan pada putri kesayangannya, Arini hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya heran.


Kini, giliran Bowo yang memperhatikan istrinya, lalu mendekatkan kepalanya ke telinga Arini hendak berbisik. "Maklum, lagi kasmaran, kayak kita dulu. Iya nggak, Beb?" goda Bowo menahan tawanya. Seketika membuatnya mendapat pukulan kencang dari istrinya.


"Inget, udah tua! Masih aja suka gombal," ucap Arini meninggalkan Bowo begitu menyelesaikan tugasnya.


Bowo pun tertawa melihat tingkah kedua wanita yang dicintainya. "Ayah berangkat, Wid."


"Iya, Yah. Hati-hati," teriak Widya dari depan wastafel.


Setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya, Widya pun kembali ke kamar. Ia mengecek ponsel yang sejak tadi ditinggalkannya. Melihat ada puluhan panggilan tak terjawab dari Nathan, Widya segera menghubunginya kembali.


Baru dering pertama, panggilan langsung terhubung. "Pagi, Pacar."


"Kenapa telepon?" tanya Widya.


"Emang kalau pacarnya telepon harus ada apa-apa?"


Widya mendengus. "Nath ...."


Terdengar kekehan dari Nathan. "Iya, iya. Ehm, nanti malam kita ngajak yang lain kumpul, yuk! Sekalian ngasih kabar bahagia kita ke semua,"


"Harus, ya?"


"Nggak juga, sih. Tapi, biar si Harsa nggak deketin lo lagi."


"Terserah, deh. Tapi jemput, ya, Sayang." Tanpa menunggu jawaban dari Nathan, Widya langsung memutus sambungan sepihak. Ia malu sendiri mengingat panggilannya pada Nathan.

__ADS_1


***


Di sinilah mereka, di Kafe Hamber, tempat biasa mereka berkumpul dan berbagi cerita. Mereka begitu antusias ketika Nathan memberi pengumuman di grup bahwa ia sudah pulang dari Singapura dan akan mentraktir mereka semua.


Zakir yang awalnya menolak, akhirnya mengiyakan setelah dipaksa Harsa dan Edo.


"Lo jadi ikut, Zak?" tanya Kartika menahan tawanya.


"Mumpung ada yang gratisan. Ya, nggak?" Zakir menyenggol bahu Harsa mencari pembelaan.


"Ye ... lo datang, ‘kan, karena ada Kartika," timpal Harsa. Membuat semuanya tergelak, sedangkan Kartika memukul keras lengan Harsa.


"Apaan, sih, lo!" sungut Kartika.


Harsa berdesis karena lengannya terasa perih. "Tangan lo tajam bener!" decaknya.


Setelah semua terdiam Nathan pun berdiri. Mengambil gelas kosong, kemudian mengambil sendok. Dipukul pelan gelas itu hingga menimbulkan suara yang mampu menarik perhatian beberapa pengunjung kafe.


"Ehem!" Nathan menormalkan suaranya. "Permisi, semuanya ... gue, Nathan. Gue mau kasih pengumuman."


"Gue mau traktir semua pengunjung yang ada di sini. Sebagai rasa syukur gue, karena akhirnya cinta gue diterima oleh orang yang gue cintai selama ini." Nathan melirik Widya.


Pernyataan Nathan sukses membuat semua teman-teman ikut menatap Widya dengan penuh tanda tanya. Mereka semua memang tahu jika Nathan menyukai Widya. Namun, sejak kapan mereka meresmikan hubungan itu?


Widya yang sejak tadi mendapat tatapan tajam dari teman-temannya hanya meringis seolah tidak memiliki rasa bersalah. Sedangkan semua pengunjung justru bertepuk tangan, bukan karena Nathan yang memiliki pacar, tetapi karena mereka mendapat gratisan.


Nathan kembali duduk di samping Widya dan merangkul bahu Widya. Melihat hal itu, tangan Harsa terkepal di bawah meja, menahan rasa kecewa dan cemburu. Namun, ia berusaha tidak menampilkannya.


"Lo beneran udah jadian sama Nath-nath?" tanya Karin antusias. Widya mengangguk malu, dia tersipu.


"Udah gue duga lo bakalan jadian sama Si Kucrut ... aduh!" Widya memukul lengan Kartika. "Iya, deh. Yang udah jadi pacarnya, dibelain terus."


"Waah, lo yang sabar, ya, Sa," ucap Zakir menatap wajah Harsa yang hanya diam saja sejak mendengar pernyataan Nathan.


"Yang jomlo bisa apa?" Itu adalah Edo memperlihatkan ekspresi sedihnya. Mengaduk-aduk minuman yang dipegangnya.


Harsa mendekati Widya, mengulurkan tangannya hendak mengucapkan selamat. Widya pun menerima uluran tangannya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Betewe, selamat ya, Wid. Gue ikut seneng, kok, dengernya." Harsa pun mengucapkan selamat setelah berusaha menata hatinya.


Nathan yang melihatnya kembali berulah. Ia tepis pelan tangan Harsa hinga kedua tangan mereka terpisah. "Udah, jangan lama-lama! Entar lo hipnotis cewek gue."


"Nath, apaan, sih? Jangan mulai, ya!" cegah Widya sebelum perang terjadi.


Kini giliran Kartika dan Karin memeluk sahabatnya erat, ikut bahagia atas berita ini. "Lo," tunjuk Kartika pada Nathan. "Awas kalo lo sampai nyakitin Widya! Gue bawa lo kandang macan buat jadi santapan."


"Enggaklah, gue sayang banget sama sahabat lo, malah bentar lagi gue bawa ke KUA."


"Sekolah yang bener, jangan mikir kawin mulu!" timpal Karin.


"Gue takut dia disambet orang. Gimana, dong?"


Widya yang sejak tadi menjadi topik pembicaraan hanya diam mendengarkan sahabatnya berdebat dengan Nathan.


"Nath! Lo bawa permintaan dari gue, 'kan?" tanya Zakir dengan antusias, mengingat permintaan yang ia berikan pada Nathan.


Kartika menatap Zakir penuh tanya. "Lo minta apa? Jangan bilang patung bentuk moncong singa kayak mulut lo?"


"Yaelah, Tik. Lo samain mulut gue sama moncong singa. Gue makan juga, lo!" jawab Zakir. "Tapi lo bener, sih." Zakir terkekeh mengiyakan jawaban Kartika.


"Ada, sebentar." Nathan merogoh tasnya. "Nih, yang lo minta." Nathan memberikannya pada Zakir. Tidak lupa ia juga memberikan beberapa oleh-oleh untuk yang lainnya.


Edo yang penasaran pun melihat apa yang diberikan oleh Nathan pada Zakir. "Lo minta ginian, Zak? Buat apa?"


"Kenapa? Nggak usah syirik, lo. Kalo lo pengen, minta sama Nathan sana!" Mendapat jawaban Zakir, Edo pun tertawa. Heran dengan permintaan Zakir yang aneh.


Mereka kini kembali bercerita tentang tugas kuliah yang sudah mulai padat. Keluhan akan tugas yang menumpuk dan banyaknya praktek membuat mereka lebih banyak berkumpul hanya lewat grup tanpa bisa bertatap muka. Namun, jika memiliki waktu luang, mereka akan menyempatkan diri berkumpul di Kafe Hamber seperti saat ini.


Keceriaan mereka berlanjut hingga malam semakin larut, tetapi ada seseorang tidak ikut dalam keceriaan itu. Dialah Harsa, yang begitu pandai menyembunyikan lukanya. Senyum palsunya mampu menyamarkan rasa sakit hatinya saat ini. Namun, ia tetap berdo'a agar Widya selalu bahagia.



...***...


Yuk, kasih komentarnya! Jangan lupa like-nya juga. maacih 🤗

__ADS_1


__ADS_2