Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 48


__ADS_3


...***...


Sakit hati, kecewa, marah, dan malu seolah bersatu menyerang Widya. Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya, yang ada hanyalah linangan air mata.


"Tuduhan lo nggak beralasan, Nath! Mana buktinya kalau Widya yang membuat Vina tercebur ke kolam?" sungut Kartika lagi.


"Nathan ...."


Belum lagi Nathan menjawab, suara Vina membuat atensi semua orang beralih kepadanya. Dengan baju yang masih basah dan berbalut handuk di bagian pundaknya, perempuan itu masuk di kerumunan orang-orang yang sedang menonton aksi Nathan yang menyalahkan Widya.


"Udah, Nath! Aku nggak apa-apa, kok. Mungkin Widya emang nggak sengaja."


Pernyataan Vina membuat semua orang membulatkan mata, terkecuali Nathan yang sudah terhasut oleh liciknya Vina. Air mata Widya semakin mengalir deras. Ia jadi mengerti kenapa Nathan tiba-tiba menuduhnya ingin mencelakai Vina. Pun dengan ucapan Vina yang berbisik di telinganya sebelum kejadian itu. Widya sudah mengerti semuanya. Vina sudah menjebak dia.


"Eh, perempuan gatel. Bisa-bisanya lo fitnah sahabat gue, ya!" Kartika yang pertama meradang. Ia tidak terima kalau Widya benar-benar disalahkan.


"Tika! Lo nggak berhak berkata kasar sama Vina! Sahabat lo, tuh, yang nggak tahu etika." Nathan kembali membela Vina.


“Oh, ya?” seringai Karin. Mata indahnya menatap tajam ke dalam bola mata Nathan. “Sahabat gue nggak punya etika?” Karin mempertegas ucapan Nathan.


Hati Nathan sedikit tercubit dengan pertanyaan Karin. Hingga rasanya ia sulit menelan ludahnya sendiri. Sebuah pertanyaan yang berawal dari mulutnya sendiri. Ia baru sadar, jika emosi telah menguasai dirinya, hingga ia mengatakan hal yang menyakiti hati kekasihnya.


Belum lama Nathan merenung, suara Karin kembali meninggi, “Jawab!” ketusnya. Karin benar-benar dikuasai amarah kali ini. “Ternyata cuma segini cinta yang lo kasih buat sahabat gue. Cinta lo bener-bener payah! Pergi aja lo dari hidup sahabat gue. Dia terlalu berarti buat cowok brengsek kayak lo,” sarkas Karin.


Edo yang melihat Karin meluap-luap segera mendekatinya. Mengusap lembut bahu Karin, tetapi matanya menatap nyalang pada Nathan. “Puas udah nyakitin hati Widya berkali-kali? Jangan harap kita sebagai sahabatnya bakal diem aja.” Edo pasang badan. Ia yang biasanya cuek dengan urusan orang lain kali ini tidak tinggal diam.


Nathan yang merasa sedikit bersalah kini juga terpojok oleh serangan teman-temannya. Ia melirik sekilas ke arah Widya yang berurai air mata. Tiba-tiba hatinya sesak. Lagi, Widya menangis karena dirinya.


“Nath, udah! Aku aja yang minta maaf sama Widya. Jangan sampai kalian berantem gara-gara aku.” Vina kembali berulah. Memperlihatkan wajah sendunya pada Nathan.

__ADS_1


Nathan yang melihat Vina memelas dan menangis mengepalkan kedua tangannya. “Enggak! Widya yang harus meminta maaf sama kamu. Dia yang salah udah bikin kamu kayak gini. Dia harus diajari bertanggung jawab dengan ulahnya biar nggak semakin manja,” putus Nathan.


"Lo itu bener-bener brengsek, Nath!" Harsa maju ke depan, ia meraih kerah baju Nathan. Sungguh ia tak habis pikir dengan cara berpikir Nathan.


Zakir segera menghalau Kartika yang hendak mengarahkan tinjunya pada Vina. Kartika benar-benar sudah muak dengan ulah Vina. “Jangan kotori tangan lo buat cewek brengsek kayak dia!” pintanya lembut.


"Cukup! Cukup, semua!" Suara lantang Widya mengheningkan suasana. Atensi semua orang kini berpusat kepadanya. Ia menghapus kasar air mata yang terus meleleh. "Udah cukup, Nath! Gue nggak menyentuh Vina seujung kuku pun, tapi kayaknya lo nggak akan percaya itu. Lo begitu percaya sama Vina, 'kan? Percaya aja sama apa yang menurut dia benar! Gue bukan apa-apa bagi lo, penjelasan gue juga nggak ada artinya buat lo!"


Saking marahnya, Widya sudah tidak memperhatikan lagi panggilannya kepada Nathan. Baginya, Nathan hanyalah orang asing yang tidak dia kenal. Kini, tatapan tajamnya tertuju pada perempuan yang rambutnya masih basah karena tercebur di kolam. "Dan lo ... selamat karena udah sukses membuat hancur hubungan gue sama Nathan. Lo bisa ambil dia. Gue kasih bekas gue ke lo!"


Mendengar perkataan Widya, Nathan semakin geram. "Widya! Jaga ucapan kamu! Kamu pikir aku barang yang bisa dikasih begitu saja. Lagipula Vina nggak salah. Kamu seharusnya minta maaf sama dia! Kamu udah berubah, Wid. Secepat itu kamu mengubah panggilan kamu sama aku," sembur Nathan dengan raut wajah kecewa. Sedangkan Vina, pura-pura takut dengan bersembunyi di balik punggung Nathan.


"Kenapa? Lo kecewa sama gue? Lo baru tahu sikap gue yang sebenarnya? Inilah gue ... Widya Putri Esmeralda, yang udah dipermalukan sama pacar brengseknya di depan semua orang."


Nathan kembali tercekat. Keningnya berkerut tajam dengan pernyataan Widya sekarang. Ia hendak meraih tangan Widya, tetapi gadis itu segera berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu begitu saja. Diikuti oleh Kartika dan Karin di belakangnya.


"Widya!" Panggilan Nathan tidak digubris oleh si pemilik nama. Widya tetap melangkah meninggalkan rumah Nathan dengan bersimbah air mata.


“Gue nggak nyangka, Nathan yang gue kenal ternyata aslinya seperti ini. Kecewa gue sama lo,” ucap Zakir dengan raut kecewa yang mendalam. Langkahnya menyusul Harsa setelah mengatakan itu, lalu diikuti oleh Edo yang juga kecewa dengan sikap Nathan.


Kini tinggallah Nathan dan Vina yang menjadi tontonan para tamu undangan. Nathan yang kesal, akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Ia tidak mau melanjutkan pesta itu. Hingga pesta itu akhirnya dibubarkan oleh Vina. Dia meminta maaf kepada semua tamu, dan berkata jika insiden itu hanyalah sebuah kecelakaan. Perempuan itu masih menjaga nama baiknya, agar terkesan bukan seperti perempuan yang pendendam.


***


"Brengsek banget, tuh, orang! Dasar bermuka dua. Berlagak dirinya itu polos dan teraniaya. Padahal hatinya busuk kayak sampah!" Kata-kata kasar masih terlontar dari mulut Kartika yang ditujukan untuk Vina. Hatinya masih panas walaupun suhu mobil Karin sudah berada di posisi paling dingin.


"Udah, deh, Tik! Umpatan lo udah nggak ada gunanya di sini. Itu malah bikin Widya makin sedih aja, tuh!" cetus Karin sembari fokus mengemudi.


"Gue masih emosi, Rin ... emosi! Lo nggak kesel gitu sama itu ulet bulu? Kalau bukan karena Widya, gue udah acak-acak muka dia tadi!" sungut Kartika sambil *******-***** kedua tangannya.


"Eh, bukannya lo takut sama ulet?" Karin mencoba berkelakar, agar suasana menjadi sedikit santai.

__ADS_1


"Gue bukannya takut, cuma geli aja sama ulet. Sama kayak gue lihat mukanya Vina. Rasanya pengen gue lempar pake sendal," sanggah Kartika.


Karin tergelak mendengar penuturan Kartika. Ekor matanya melirik ke arah Widya yang duduk di sampingnya. Tawa itu perlahan hilang, karena sahabatnya sama sekali tidak tertarik dengan candaan mereka. Perempuan itu masih bergeming sembari menatap ke kaca jendela. Pikirannya dipenuhi oleh rasa kecewa.


"Lo nggak usah terlalu mikirin kejadian tadi, Wid! Kita percaya, kok, sama lo. Lo nggak mungkin ngelakuin itu sama Vina."


Ucapan Karin membuat Widya menolehkan kepala. Ia pasang senyum segaris di kedua sudut bibirnya. Cairan bening sudah tidak lagi tersisa di sudut matanya. Ia sapu kasar sebelum dirinya menoleh ke arah sahabatnya. "Makasih, ya," ucap lirih Widya.


"Lo nggak perlu bilang makasih! Kita ini sahabat, sudah tahu luar dan dalam. Nggak mungkin sahabat gue yang manis ini ngelakuin hal yang culas kayak gitu." Kartika memeluk tubuh Widya dari belakang. Kepalanya bersandar di sandaran jok mobil yang Widya duduki. Hati Widya semakin hangat mendapatkan perlakuan seperti itu. Sahabatnya memang selalu jadi penyemangat saat dirinya sedang rapuh.


***


Setelah beberapa saat memecah jalanan ibu kota. Mobil Karin akhirnya sampai di pelataran rumahnya Widya. Dengan cepat ketiga perempuan itu turun dari pintu yang berbeda. Tanpa mereka sadari ada sebuah mobil yang sedari tadi sudah mengikuti mereka.


Widya yang hendak melangkah menuju rumahnya harus terdiam sesaat. Memperhatikan tiga laki-laki yang turun dari mobil yang sama. Langkah gontai seorang lelaki yang keluar pintu kemudi jadi pusat perhatiannya, tetapi ia tidak menyangka jika tujuan lelaki itu adalah memeluk tubuhnya.


"Lo nggak apa-apa, kan, Wid?" Dialah Harsa. Yang begitu khawatir dengan keadaan Widya.


Widya mematung sejenak dalam pelukan Harsa. Hingga beberapa saat dia pun tersadar dan langsung melepaskan diri dan mundur satu langkah. "Gue baik-baik aja, kok," jawabnya canggung.


Harsa menghela napas lega. Walaupun ia tahu Widya pasti terluka, setidaknya Widya bisa lebih tegar menghadapinya. "Syukurlah kalau lo baik-baik aja. Gue harap lo pikirin ulang hubungan lo sama Nathan! Bukannya gue mau ikut campur dengan hubungan kalian, tapi gue nggak suka lihat lo terus disakiti sama dia," ujar Harsa sembari menatap sendu wajah Widya.


"Gue setuju. Bener kata Harsa, lo harus bersikap tegas sama Nathan! Gue pikir, tuh, cowok udah bener-bener keterlaluan," timpal Kartika.


"Gue, sih, terserah sama lo aja, Wid, tapi menurut gue, kalau suatu hubungan yang tidak sehat terus dipertahankan, hanya ada luka yang akan kita dapatkan." Giliran Karin yang memberikan komentar sembari memeluk sahabatnya dari samping. Widya pun bergeming, berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh para sahabatnya.


...***...



Eh, si Harsa main peluk-peluk aja. Jadi pengen dipeluk juga 🤗🤗

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya 😘


__ADS_2