Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 116


__ADS_3

...***Happy Reading***...


...***...


Harsa masih mematung di tempat, mencerna kembali apa yang baru saja ia dengar. "Gu-gue nggak salah denger, kan?" tanyanya pada diri sendiri. "Apa ini berarti kalau ...." Harsa tak melanjutkan kalimatnya, senyumnya tiba-tiba merekah, matanya berbinar bahagia.


Harsa segera beranjak dari sofa tempatnya berbaring, ia berusaha mengejar Widya secepat yang ia bisa, meski tubuhnya masih terasa lemah. Kalimat yang Widya ucapkan tadi, seolah memberi kekuatan dan semangat pada tubuhnya.


"Harsa, kamu mau ke mana, Nak?" tanya Evi saat melihat Harsa hendak pergi.


"Ngejar cinta Harsa, Ma," jawab Harsa tergesa tanpa menoleh pada mamanya.


Evi mengernyitkan kening tanda tak paham, "Hati-hati, Sayang. Jangan lari! Kamu baru sembuh, masih harus banyak istirahat," teriak Evi melihat Harsa yang malah berlari menuju keluar rumah.


Evi yang khawatir melihat Harsa berlari, segera mengikutinya. Ia tak ingin terjadi sesuatu yang mungkin bisa membuat kondisi Harsa semakin buruk nantinya.


Saat tiba di depan pintu, Evi menghentikan langkahnya. Ia tersenyum dan menggelengkan kepala saat melihat Harsa yang ternyata berlari ke arah widya. "Astaga, Sa, hampir saja mama jantungan lihat kamu lari kayak tadi. Ternyata ini yang kamu kejar, Nak." gumam Evi lirih, kemudian kembali masuk ke dalam rumah.


"Wid, tunggu!" teriak Harsa.


Tak hanya Widya, tetapi Karin, Kartika, Edo dan Zakir yang sudah hendak membuka pintu mobil juga ikut menoleh karena teriakan Harsa.


"Ya elah, Sa, lo ngapain ikutan nganter kita ke depan, sih? Lo kan mesti banyak istirahat biar bisa cepet ngantor lagi, pusing gue sibuk sendiri di kantor nggak ada lo, Sa. Pokoknya bulan depan gue minta gaji gue naik," celoteh Zakir.


Kartika yang mendengar ocehan Zakir ikut kesal. Ia memberi isyarat dengan jari telunjuknya untuk diam.


Ketika sudah tiba tepat di depan Widya, Harsa mengatur nafasnya yang sedikit terengah karena mengejar Widya. Kondisinya yang belum pulih, membuat keringatnya membasahi kening dan kedua pelipisnya. Meski begitu, senyum manis tak pernah hilang dari bibirnya, seolah sedang menggambarkan suasana hatinya yang begitu bahagia saat ini.


Widya yang melihat keadaan Harsa segera menghampiri Harsa, kemudian mengusap keringat di kening Harsa. Terlihat jelas kepanikan di wajah Widya.


"Kenapa ke sini? Harusnya di dalam saja. Kamu, kan, masih sakit. Harus banyak istirahat! Nanti kalau drop lagi gimana? Makin lama kamu sembuhnya," ucap Widya.


"Kamu?" Bukan menjawab pertanyaan Widya, justru malah balik bertanya kepada Widya. Masih dengan senyumnya, Harsa memandang lekat manik mata Widya. Gadis manis yang selama bertahun-tahun bertahta di hatinya.

__ADS_1


Seketika wajah Widya bersemu merah, kepanikan yang ia rasakan mengalahkan nalarnya, hingga tanpa sadar spontan memanggil Harsa dengan kata 'kamu'. Widya merasa malu, segera ia ingin berbalik dan menjauh dari Harsa. Namun, tangan Harsa lebih dulu menariknya ke dalam pelukan Harsa.


Widya terpaku dalam pelukan Harsa, raganya ingin menolak, tetapi nalurinya merasa nyaman dan hangat dalam dekapan pria itu. Ia pejamkan mata, menikmati aroma maskulin dari tubuh laki-laki yang dulu pernah menjadi cinta pertamanya. Sekelebat bayangan Nathan hadir dan tersenyum dalam benaknya. Widya pun tersenyum, bayangan Nathan seolah telah memberikan restu akan keputusannya menerima Harsa kembali.


"Kamu benar, Wid. Aku enggak sebodoh itu untuk mengartikan kata-kata kamu tadi. Terimakasih, udah ngasih aku kesempatan lagi. Aku janji, aku akan berusaha membahagiakan kamu. Aku nggak akan mengulangi kesalahanku dulu. Cukup sekali aku kehilangan kamu, Wid. Sungguh ... ini adalah doa yang selama ini aku panjatkan kepada Sang Pencipta, dan Alhamdulillah hari ini Allah mengabulkan doaku," ucap Harsa sambil memeluk erat Widya seolah tak ingin wanita pujaannya itu lepas dari dekapannya.


Widya menangis sesenggukan dalam pelukan Harsa. Perasaan haru, sedih, juga bahagia bercampur menjadi satu dalam hatinya. Hingga ia tak kuasa menahan air mata membasahi pipinya.


Harsa yang menyadari itu melepas pelukannya, ia hapus air mata di pipi mulus Widya. "Jangan nangis lagi, ya. Kita mulai semuanya dari awal. Percaya sama aku! Aku nggak akan memaksa kamu melupakan Nathan. Selamanya Nathan akan ada dalam kenangan kita. Aku sayang sama kamu, aku menerima semua kelebihan dan kekurangan kamu, Wid. Ingat semuanya, Wid," tegas Harsa seolah mengerti apa yang sedang Widya pikirkan.


Widya mengangguk dan tersenyum. Harsa kembali memeluk widya. Karin, Kartika, Zakir, dan Edo yang sejak tadi hanya menjadi penonton, ikut bahagia melihat Harsa dan Widya akhirnya bisa bersatu kembali.


"Wid, gue sama Tika ada urusan, jadi mending lo di sini aja dulu. Biar nanti diantar sama Harsa," teriak Karin dengan senyum jahilnya menggoda Widya sebelum masuk ke dalam mobilnya.


"Sa, titip Widya, ya! Gue yakin abis ini lo pasti sembuh, jadi bisa antar Widya pulang. Oke?" sahut Kartika.


"Gue tunggu traktirannya, Sa," teriak Zakir.


"Makan terus yang ada di otak lo, Zak," ucap Edo sambil melirik Zakir.


Harsa dan Widya melambaikan tangan melepas kepergian para sahabat mereka. Lalu Widya segera mengajak Harsa masuk kembali ke rumahnya, agar Harsa bisa segera beristirahat. Mengingat kondisi Harsa yang belum benar-benar pulih.


"Udah ... kamu isirahat aja, Sa. Aku bisa pulang sendiri pake ojek online nanti. Nggak usah dengerin omongannya Tika," ucap Widya setelah mereka duduk bersama di ruang tengah rumah Harsa.


"Aku udah sembuh, kok. Udah bisa bawa mobil nanti. Tenang aja, aman sampai rumah. Aku udah sehat, Wid." jawab Harsa dengan senyum bahagianya. "Udah ... jangan nolak! Percaya, deh! Aku beneran udah sehat, Wid. Sekarang aku udah nemu obatnya," tutur Harsa lagi sebelum Widya menolaknya.


...***...


Hari berganti hari. Tak terasa sudah hampir tiga bulan Harsa dan Widya menjalin kasih. Hubungan mereka juga sudah diketahui oleh kedua keluarga besar Widya dan Harsa. Mereka bahagia bisa melihat Widya ceria kembali dan mau membuka hati untuk Harsa.


Keluarga almarhum Nathan juga ikut bahagia mendengar hubungan Widya dan Harsa. Mereka sangat mendukung dan berjanji akan datang jika Widya dan Harsa menikah nanti.


Awalnya, Widya takut untuk mempublikasikan hubungannya dengan Harsa di kantor, karena ia tak tega melihat Ayu kecewa nantinya. Hingga beberapa minggu yang lalu, Widya tak sengaja melihat Ayu dijemput oleh seseorang saat pulang kerja. Widya sangat mengenal sosok itu. Hasbi, pria itu adalah Hasbi.

__ADS_1


"Ternyata Ayu sudah mendapatkan pengganti Harsa," batin Widya.


Keesokan paginya, rasa penasaran Widya pun terjawab, Ayu menceritakan semuanya kepada Widya. Mulai dari awal pertemuannya dengan Hasbi hingga mereka menjadi teman dekat seperti sekarang. Widya pun ikut bahagia, dengan hubungan Ayu dan Hasbi. Apalagi rencananya mereka akan menikah dalam waktu dekat ini.


Sejak saat itu juga Widya baru berani mempublikasikan hubungannya dengan Harsa di kantor. Meski begitu mereka tetap menjadi rekan kerja yang profesional.


Perusahaan Harsa semakin berkembang dan sering mendapatkan proyek-proyek besar. Widya bangga melihat prestasi Harsa Mandala– kekasihnya. Bahkan nama Harsa masuk dalam jajaran pengusaha sukses termuda di Asia Tenggara.


"Sa, papa lihat hubungan kamu sama Widya semakin dekat. Apa kalian belum ada rencana untuk segera menikah?" tanya Rendra saat duduk bersantai dengan Evi dan Harsa di ruang keluarga.


"Iya, Sa, mau nunggu apa lagi? Kalian sudah sama-sama dewasa, Nak. Mama juga pengen cepet nimang cucu, loh. Iya, 'kan, Pa?" Evi menoleh ke arah Rendra.


"Ehm, sebenarnya Harsa juga pengennya begitu, Pa, Ma. Tapi, masih nunggu saat yang pas dulu. Nanti coba Harsa bicarakan sama Widya, deh. Pelan-pelan ya, Pa, Ma. Harsa nggak mau membuat Widya terbebani," tutur Harsa.


"Gimana baiknya saja, Sa. Papa dan Mama selalu mendukung kalian," ucap Rendra. "Apa mau tunangan dulu?" imbuhnya. Namun, Harsa memilih tak menjawab pertanyaan Rendra.


...***...


Minggu pagi pukul 07.00 WIB, mobil Harsa sudah terparkir rapi di halaman rumah Widya. Setelah berpamitan dengan Arini dan Bowo, mereka segera berangkat menuju makam Nathan.


"Kita cuma berdua aja, Sa?" tanya Widya saat turun dari mobil dan tiba di makam Nathan, tetapi tak melihat para sahabatnya yang biasanya ikut ke makam Nathan.


"Enggak, Sayang. Mereka lagi pada liburan sama keluarga katanya. Jadi absen untuk hari ini," jawab Harsa sambil menggenggam jemari Widya menuju ke makam Nathan.


Sampai di depan makam Nathan, Widya dan Harsa mulai membersihkan makamnya. Kemudian seperti biasa, Harsa akan memimpin doa, lalu mereka menaburkan bunga di atas makam Nathan.


"Nath, Apa kabar? Aku berharap kamu bahagia di sana. Lihatlah, aku sekarang sudah berhasil menjadi kaktus seperti yang kamu mau. Itu semua juga berkat Harsa, Nath." Widya menjeda kalimatnya beberapa saat. "Meski sekarang nama Harsa yang ada dalam hatiku, tapi percayalah, namamu juga akan selalu kusebut dalam doaku, Nath." Widya tersenyum, lalu mengusap batu nisan Nathan.


Harsa tersenyum mendengar ucapan Widya, ia tidak marah, tetapi justru bahagia. Widya mau mengakui kalau saat ini dirinya yang bernaung di hati Widya. "Nath, gue udah tepatin janji gue sama lo. Gue selalu jagain Widya selama lo nggak ada. Dan Gue akan lanjutkan perjuangan lo, Nath. Di sini, gue mau minta restu sama lo buat menjalin hubungan lebih serius sama Widya. Semoga di sana lo juga bahagia melihat Widya bersanding sama gue," ucap Harsa.


Widya sedikit terhenyak saat mendengar kata-kata dari mulut Harsa. "Menjalin hubungan lebih serius?" tanya Widya.


...***...

__ADS_1


...***To be continued.... ...


__ADS_2