Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 37


__ADS_3


...***...


Ponsel yang Widya pegang jatuh begitu saja di atas ranjangnya. Ia memeluk kakinya dan menelungkupkan kepala pada lututnya. Air mata yang tumpah tidak sebanding dengan amarah yang dia pendam. Baru beberapa jam lalu Nathan bersikap manis padanya, seolah hati dan hidupnya untuk Widya. Meskipun terlalu sulit bagi Widya untuk memercayainya, nyatanya Nathan menyakiti lebih dari sebelumnya.


Bayangan punggung Nathan yang seolah memeluk perempuan dan tangan kanan perempuan itu berada di bahu Nathan membuat hati Widya hancur. Apalagi perempuan itu terlihat jelas adalah Vina. Dadanya terasa sesak seakan udara di sekelilingnya menjauh meninggalkan ruang pengap dan gelap.


“Apa aku terlalu berlebihan mencintainya? Harusnya aku sadar bahwa aku bukanlah yang pertama mengisi hatinya. Vina pernah menjadi kebahagiaan Nathan. Mungkin lebih baik aku berusaha untuk menjauh dari mereka,” ucap Widya dalam hati di sela tangisnya.


Entah berapa lama Widya menangis hingga dia lelah dan terlelap. Suara azan yang bergema dari jauh, membelai Widya dan mengajaknya untuk terjaga. Ia memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Sakit hatinya kembali terasa ketika teringat kejadian semalam. Widya menarik selimutnya kembali. Kondisinya tidak baik-baik saja akibat kejadian semalam ditambah siklus bulanan yang membuat emosinya tidak menentu.


Matahari sudah mulai tinggi, tetapi Widya belum keluar dari kamarnya. Arini mulai khawatir karena tidak biasanya Widya bangun sesiang itu.


“Wid, kamu kuliah jam berapa?” tanya Arini lembut mendekati Widya yang masih bergelung dalam selimutnya.


“Nanti siang, Bun. Widya agak pusing. Biarkan Widya tidur lagi, ya! Widya lagi tidak mau diganggu. Kalau ada yang nyari bilang saja Widya lagi ingin sendiri,” jawab Widya dari balik selimut.


Arini mengerutkan dahinya semakin tidak mengerti akan putrinya. Baru semalam dia pulang dengan wajah ceria, tetapi hari ini Arini merasa ada yang tidak beres dengan putrinya.


“Termasuk Nathan?” tanya Arini.


“Iya, semuanya,” balas Widya singkat.


Arini beranjak dari kamar Widya, memberi ruang pada putrinya untuk menyendiri. Sikap Widya yang tidak mau menemui Nathan membuat Arini berpikir jika antara putrinya dan Nathan sedang ada masalah. Arini membiarkan Widya berdamai dengan hatinya. Ia akan menunggu dengan sabar hingga anak gadisnya siap menceritakan apa yang sedang dialaminya.


“Kalau lapar segera makan, ya! Kamu harus tetap makan karena sedih juga butuh tenaga ekstra,” ucap Arini sebelum menutup pintu kamar Widya.


Sepeninggal Arini, Widya mulai mencerna kalimat Arini yang berlarian di otaknya.


“Apa Bunda tahu? Tapi Bunda benar, aku harus kuat untuk menghadapi semua ini,” ucap Widya dalam hati.


Tiga puluh menit kemudian Widya bangkit dari ranjangnya. Ia membersihkan diri dan berganti pakaian olah raga. Rencana untuk jogging harus ia urungkan ketika melihat wajahnya di depan cermin. Mata bengkak akibat menangis semalam masih terlihat jelas. Widya malu dengan kondisinya saat ini. Ia kembali mengganti bajunya dengan baju rumahan yang biasa Widya kenakan. Ia bergegas keluar kamar menuju dapur.


“Wid, makan dulu!” perintah Arini ketika melihat Widya lewat di sebelahnya.


“Iya, Bun.” Widya mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah Arini. Mengambil sarapan dan segera menyantapnya.


“Bun, untuk ngurangin mata bengkak gimana, dong?” tanya Widya di sela makannya.


“Bengkak kenapa? Sakit?” Arini balik bertanya.


“Ini, Bun,” tunjuk Widya ke arah matanya. Arini terkejut melihat kondisi Widya.


“Makannya habiskan dulu! Bunda siapin air hangat untuk mengompres mata kamu.” Arini berlalu menuju dapur.


Setelah beberapa saat, Arini membawa baskom kecil berisi air hangat dan handuk bersih. Melihat Widya sudah menyelesaikan sarapannya Arini tersenyum.


“Ayo, ke kamar! Bunda kompres mata kamu biar bengkaknya berkurang,” ucap Arini. Mereka berdua berjalan menuju kamar Widya. Widya merebahkan dirinya di atas ranjang. Arini dengan sabar mulai memeras handuk kecil dan menempelkan di mata Widya.

__ADS_1


“Nggak mau cerita sama Bunda?” tanya Arini lembut. Widya diam beberapa saat. Menimbang apakah hal itu perlu ia ceritakan ke bunda? Namun, di sisi lain hatinya tidak ingin mengumbar kejelekan Nathan jika seandainya foto itu benar.


“Widya lagi sebel sama Nathan, Bun. Widya lelah, kadang Widya ingin menyerah dan mengakhiri semuanya,” terang Widya.


“Apa kesalahan Nathan begitu fatal hingga putri bunda harus menyerah?” Arini menatap sendu putri semata wayangnya.


“Entahlah, Bun. Widya hanya merasa tak sanggup jika harus dikhianati untuk kedua kali. Dulu Harsa begitu mudahnya menipu Widya, memanfaatkan cinta Widya untuk balas dendam pada Karin. Apa mungkin sekarang Nathan juga melakukan hal yang sama? Nathan hanya ingin memanfaatkan Widya untuk balas dendam sama mantan kekasihnya?” lirih Widya.


Miris rasanya jika itu benar-benar terjadi. Arini turut merasakan getir yang kini menggerayangi hati putrinya. “Widya benar-benar lelah, Bun. Jika itu benar-benar terjadi, mereka berdua sungguh kejam pada Widya, Bun. Widya mencintai Nathan dengan tulus, tapi kenapa hanya pengkhianatan yang selalu Widya dapat? Hati Widya rasanya udah hancur nggak berbentuk, Bun. Sakit sekali rasanya.” Widya kembali menumpahkan isi hatinya.


Arini hanya bisa membesarkan hati putri kecilnya, karena sekarang yang Widya butuhkan hanya dukungan agar Widya mampu melewati tahap pendewasaan dalam hidup.


“Sayang, dengerin bunda! Jatuh cinta dan patah hati itu sudah satu paket, nggak bisa dipisahkan. Saat kamu mulai jatuh cinta, itu artinya kamu harus siap untuk patah hati. Jatuh cinta dan patah hati itu adalah hal yang wajar, semua pasti akan mengalami hal seperti itu. Saran bunda, bicarakan baik-baik dengan Nathan. Sekiranya kamu masih nyaman dan mampu menerima dia dengan tulus, lanjutkanlah! Tapi jika sudah tidak ada rasa nyaman dan kamu semakin terluka, tinggalkanlah!” Bunda menggenggam tangan Widya lembut.


“Kamu anak bunda satu-satunya. Harapan bunda hanya satu, yaitu melihat kamu bahagia. Apa pun keputusan kamu, bunda akan selalu mendukungmu,” imbuh Arini.


“Makasih, Bun,” balas Widya dengan wajah sendu.


Mereka dikejutkan oleh suara bel rumah yang berbunyi. Arini bangkit hendak membukakan pintu. Sebelum mencapai pintu kamar Widya, langkah Arini terhenti karena teriakan Widya.


“Bun, Widya lagi tidak ingin bertemu Nathan. Widya ingin menenangkan diri.” Widya seakan paham jika yang datang adalah Nathan. Arini mengangguk meskipun Widya tidak melihatnya. Arini mencoba memahami kondisi putrinya. Ia pun bergegas menuju pintu depan, mengecek siapa tamu yang datang.


“Assalamualaikum, Bun,” sapa Nathan begitu Arini membuka pintu. Arini tersenyum melihat Nathan mencium punggung tangannya.


“Waalaikumsalam. Tumben pagi-pagi udah nyampe sini,” balas Arini.


“Ada, tapi dia sedang tidak ingin diganggu,” jawab Arini datar.


Nathan termangu, wajahnya diliputi rasa khawatir karena ia tak bisa menghubungi Widya sejak semalam. Nathan pun tidak mengerti, ada apa kiranya dengan Widya. Yang Nathan tahu, jika Widya tidak mau mengangkat teleponnya, itu artinya Widya sedang marah padanya.


“Nath, boleh bunda bertanya?”


Pertanyaan Arini membuyarkan lamunan Nathan. Ia pun mengangguk sebagai jawaban.


“Sebenarnya bagaimana hubungan kalian? Apa kalian baik-baik saja?” tanya Arini lembut, tetapi mampu membuat Nathan terkejut karena memang akhir-akhir ini hubungannya dengan Widya agak merenggang.


“Nathan rasa kami baik-baik saja, Bun. Memangnya ada apa dengan Widya?” Nathan memberanikan diri untuk bertanya.


“Bunda memang tidak tahu pasti apa yang sedang kalian alami, tapi bunda merasa beberapa hari ini Widya tampak murung. Maafkan kesalahan putri bunda, ya! Mungkin Widya sedikit manja dan egois. Itu karena dari dulu ia tidak terbiasa berbagi. Menjadi anak tunggal membuat Widya selalu mendapatkan perhatian penuh dari ayah dan bunda. Bunda minta satu hal dari Nathan, jika Nathan sudah tidak sepaham dengan putri bunda, tolong lepaskan dia, jangan menyakitinya lebih dalam!” ucap Arini penuh permohonan.


“Kenapa Bunda berkata seperti itu? Nathan tulus mencintai Widya, Bun. Nathan nggak akan pernah menyakiti Widya,” papar Nathan.


“Untuk saat ini biarkan Widya sendiri. Ia butuh waktu untuk memahami perasaannya. Bunda rasa, Nathan juga perlu melakukannya,” perkataan Arini membuat Nathan semakin bingung.


“Dari semalam ponselnya tidak diangkat, Bun. Bahkan sekarang tidak aktif. Nathan khawatir,” lirih Nathan.


“Widya baik-baik saja. Kamu sekarang pulanglah! Beri sedikit ruang untuk Widya berpikir, ya!” Arini memohon membuat Nathan merasa tidak enak.


Akhirnya Nathan meninggalkan rumah Widya dengan hati kecewa. Ia tidak bisa bertemu Widya. Lebih parahnya, karena Widya tidak mau menemuinya. Begitu banyak pertanyaan berkecamuk di pikirannya. Entah kesalahan apa yang sudah ia perbuat, sehingga Widya enggan menemuinya.

__ADS_1


...*** ...


Hari ini Widya memutuskan untuk tidak berangkat kuliah. Selain karena kepalanya yang terasa berat akibat menangis semalam, ia juga masih enggan untuk bertemu Nathan.


Sore harinya, Karin dan Kartika datang ke rumah Widya setelah mendapat chat pribadi dari Widya bahwa ia sedang tidak enak badan.


“Lo kenapa, Wid? Bukannya semalam kalian baik-baik saja?” tanya Kartika yang melihat kondisi Widya yang berantakan.


Widya tersenyum kecut memandang kedua sahabatnya dan mengulurkan ponsel ke arah mereka. Sontak Karin dan Kartika terkejut hingga mereka mengumpat dengan kata-kata kasarnya.


“Brengsek! Dasar buaya! Berani banget dia berbuat seperti ini.” Kartika mengepalkan tangannya, geram melihat foto Nathan bersama Vina.


“Lo yang sabar, ya, Wid!” Karin mendekat dan memeluk Widya yang tentu saja membuat Widya kembali mengeluarkan air mata.


“Gue harus bagaimana?” tanya Widya menatap kedua sahabatnya. Sorot matanya sayu dan memelas membuat Karin dan Kartika tidak tega.


“Lo harus kuat. Tunjukkan pada mereka bahwa lo bisa melalui semua ini. Kita selalu ada di samping lo, Wid.” Karin mencoba membesarkan hati Widya yang saat ini benar-benar hancur.


“Hari ini istirahat saja! Nggak usah mikirin mereka. Besok kamu harus tampil cantik dan kembali kuliah, ya! Jangan hanya karena mereka lo jadi bolos kuliah. Besok kita jemput lo, oke!” perintah Karin yang hanya dibalas senyum oleh Widya.


Hingga malam mereka menghabiskan waktu di kamar Widya. Mencoba menghibur Widya dengan cerita-cerita tidak penting yang keluar dari mulut Karin. Widya merasa bersyukur, sahabatnya masih peduli dengannya.


...***...


Pagi ini, sesuai kesepakatan semalam, Karin dan Kartika menjemput Widya lebih awal sebelum Nathan datang. Widya yang sengaja mematikan ponselnya sejak kemarin jelas membuat Nathan uring-uringan.


“Pagi, Bun. Widya ada?” tanya Nathan di halaman rumah Widya ketika Arini menyiram tanamannya.


“Widya sudah berangkat dari tadi, Nath,” jawab Arini.


“Sama siapa, Bun?” tanya Nathan khawatir.


“Tadi Karin sama Kartika datang, terus mereka berangkat bareng,” terang Arini.


“Terima kasih, Bun. Nathan susul mereka, ya. Assalamualaikum.” Nathan berlalu memacu motor sport-nya dengan kencang. “Sebenarnya ada apa sama kamu, Wid? Kamu bikin aku khawatir. Omongan dari bunda seakan-akan aku telah menyakiti kamu dengan begitu parahnya. Maafin aku, sayang. Jika tanpa sengaja aku nyakitin kamu lagi,” batin Nathan.


Sesampai di kampus, Nathan bergegas menuju kelasnya dengan harapan Widya berada di sana. Namun, Widya tidak ada dalam kerumunan orang-orang yang berada di kelas. Nathan berlari menuju kantin, lagi-lagi Widya tidak ada. Terakhir dia menuju perpustakaan, meneliti setiap lorong dalam ruangan itu, tetapi Widya juga tidak tampak.


Nathan menyerah dan kembali ke kelasnya, ia duduk dengan napas yang belum teratur. Dari tempat duduknya ia melihat Widya berjalan di belakang dosen mata kuliah hari ini. Widya duduk di bangku paling depan yang jauh dari Nathan.


Selama pelajaran berlangsung, pikiran Nathan kacau gara-gara memikirkan Widya. Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Namun, ia harus menahan diri hingga mata kuliah berakhir.


...***...



Yang mau tahu fotonya kayak gimana chat aku, ya 😅🤣


Tetap setia kasih jempol sama komentarnya. Nggak mahal, kok. Gratis doang. Ngasih gift juga nggak bayar. Kembang doang juga nggak apa-apa 🤭

__ADS_1


__ADS_2