Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 50


__ADS_3


...***...


Pagi hari, cahaya matahari menyelusup melalui celah jendela. Widya yang masih berada di balik selimut memutuskan tidak ke kampus hari ini. Suasana hatinya masih sangat sakit jika harus bertemu dengan Nathan. Ia ingin menyendiri untuk menenangkan pikiran dari pertengkaran antara dirinya dan Nathan.


Selama ini, Widya berpikir jika Nathan sudah berubah. Namun, ternyata ia salah. Kehadiran sosok Vina masih menjadi bayangan bagi hubungannya dengan Nathan .


Derap langkah kaki menggema di lantai dua. Sosok wanita paruh baya mendekati pintu kamar putri satu-satunya. Sejak semalam setelah kembali dari pesta, ibu satu anak itu merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan keadaan putrinya. Namun, ia urungkan untuk bertanya lebih lanjut mengingat raut wajah lelah Widya yang melewatinya begitu saja naik ke atas menuju kamar.


“Sayang, kamu sudah bangun? Nggak kuliah?” tanya Arini di depan pintu yang ternyata dikunci dari dalam oleh pemiliknya.


Satu menit, dua menit, hingga lima menit, Arini berdiri di depan pintu kamar anaknya yang tidak kunjung terbuka. Arini yakin terjadi sesuatu pada Widya. Untuk saat ini, ia harus menahan semua rasa ingin tahunya. Yang lebih penting sekarang, Widya harus sarapan pagi. Jika tidak, penyakit asam lambungnya kembali kambuh.


Sementara itu Widya yang berada di kamar belum siap untuk bertemu dengan sang bunda. Keadaan gadis itu sangat kacau. Sejak semalam, Widya bersusah payah untuk tidak menangis. Namun, apa daya bulir bening yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi wajah cantiknya.


Rambut acak-acak bak singa, tidak mengurangi pesona kecantikan Widya. Dengan semangat empat lima, Widya mengikat rambutnya dan mulai membereskan kamarnya. Mulai hari ini ia sudah memutuskan untuk mengambil cuti kuliah beberapa hari ke depan. Turun ke bawah dengan menenteng sebuah tas ransel yang berisi pakaian, Widya menghampiri bundanya yang sedang menyiram tanaman di samping rumah.


“Bun, aku mau ke tempat nenek selama beberapa hari. Bunda nggak usah khawatirin kuliah aku. Kan, sekarang sisa konsul ke dosen pembimbing. Saat ini aku ingin liburan sejenak melepaskan kepenatan yang ada di sini,” tunjuk Widya ke arah kepalanya.


Arini seolah tahu apa yang sedang dibutuhkan anaknya. Walau belum mengetahui letak permasalahan yang dialami anaknya, ia turut mendukung keputusan yang diambil Widya.


Wanita paruh baya itu mendekati anaknya usai mematikan kran air. “Kamu, hati-hati, ya, Sayang. Salam untuk Nenek. Jangan lupa, sampai di sana kamu kabarin bunda!" ujar Arini seraya mengelus kedua pipi anaknya. Diraihnya Widya ke dalam pelukannya.


Widya mengangguk. “Bunda, jangan kasih tahu siapa-siapa, yah, kalau Widya lagi ke rumah nenek!" pinta Widya menatap sang bunda.


Arini mengangguk. “Kamu tenang saja. Bunda tidak akan memberitahukan keberadaanmu sampai kamu kembali.”

__ADS_1


“Makasih, ya, Bunda,” ucap Widya masih di pelukan bundanya. Gadis itu merasa sangat nyaman berada dalam dekapan sang bunda. Hingga bunyi klakson mobil yang sudah siap mengantarnya ke rumah nenek.


“Ya udah, Bund. Kalau gitu aku pamit, yah.” Arini mengantarkan sang anak sampai ke depan.


Sebelum Widya melangkah masuk ke dalam mobil, Arini memberi pesan kepada anaknya. “Nak, apapun masalah yang kamu hadapi, bunda harap kamu mengambil keputusan dengan matang. Jangan terlalu terburu-buru memutuskan sesuatu yang akan membuatmu menyesal di kemudian hari!"


“Widya paham, kok, Bund. Ya udah, aku berangkat, ya!”


...***...


Siang hari di kampus, Kartika, Karin, Zakir dan Edo sedang ngumpul di gazebo. Mereka berempat sedang asyik bersendau gurau seperti biasa.


“Eh, Bestie. Tumben Widya nggak masuk hari ini?” tanya Karin usai memasukkan kacang kulit ke dalam mulutnya.


Kartika hanya menaikkan kedua bahu. “Mungkin masih nenangin diri. Melihat sikap Nathan yang memperlakukan Widya seperti semalam, siapa juga yang nggak marah.” Kartika menghela napas sejenak sembari menyeruput jus jeruk yang ada di depannya.


“Bener. Si Nathan sudah termakan sama omongannya si ular berbisa itu. Heran gue, kenapa dia mesti muncul ke mari, sih!” gerutu Kartika.


Melihat sang pujaan hati emosi, Zakir memberikan jusnya yang masih utuh ke mulut Kartika.


“Nih, diminum dulu! Supaya kepalanya juga ikutan dingin.” Tanpa protes, Kartika menyedot jus tersebut sampai tandas. Zakir melongo takjub melihatnya. Pun dengan teman-temannya yang lain. Mereka hanya menahan tawa melihat tingkah dua sejoli itu.


Hingga beberapa menit berselang. Keempat sahabat tersebut meninggalkan area gazebo. Sampai di parkiran, mereka melihat Vina sedang mengejar Nathan.


“Nathan, tunggu!” teriak Vina yang berjarak sepuluh meter dari Nathan. Gadis dengan balutan dress warna merah dengan motif polkadot itu berhasil mencuri atensi semua mahasiswa yang ada di parkiran. Pasalnya, baju yang dikenakan Vina terlalu mengumbar auratnya dan sangat tidak layak digunakan di area kampus.


Nathan terus saja berjalan tanpa menoleh ke Vina. Ia sangat malu dan kesal, karena tiba-tiba gadis itu mendatanginya di kampus dengan pakaian yang seperti itu.

__ADS_1


“Gila, tuh cewek. Lihat, deh! Bajunya kek gitu. Emangnya ini tempat fashion show?” cibir Karin.


Zakir dan Edo hanya menelan ludah melihat penampilan Vina yang sangat seksi hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya itu.


Kartika mencebikkan bibir saat melihat respon Zakir dan Edo yang seperti kucing ketika melihat ikan “Dasar cowok. Giliran liat yang seksi-seksi matanya udah jelalatan!” gerutu Kartika. Menarik tangan Karin agar melangkah cepat menjauh dari Edo dan Zakir.


...***...


Di sisi lain, Widya yang sudah tiba di rumah neneknya tengah melamun di atas balkon sembari menatap hamparan pegunungan yang membentang dari barat ke timur.


“Apakah ini pertanda kalau hubungan ini harus benar-benar diakhiri?” gumam Widya.


Nenek Sari yang melihat cucunya sedang sedih pun mendekat dan mengambil tempat di sebelah Widya.


“Alam tidak akan pernah ada kalau tidak ada campur tangan Tuhan. Namun, terkadang kita sebagai manusia begitu sangat rakus dan lupa. Sehingga apa yang Tuhan ciptakan dengan mudahnya dirusak begitu saja. Begitu pun dengan manusia. Ada kalanya hati dan pikiran kita juga capek dan sesak dengan permasalahan yang sedang dihadapi. Oleh karena itu, kita sebagai manusia sepatutnya menyikapi masalah dengan pikiran tenang dan mencari solusi yang terbaik. Bukan malah lari dari masalah dan menimbulkan masalah baru,” nasehat nenek Sari.


Widya menoleh ke samping. Perempuan berusia keemasan dengan rambut yang sudah memutih, semua masih bugar di usianya yang sudah memasuki masa senja.


“Iya, Nek.” Widya tersenyum menatap mata neneknya.


“Nenek yakin kamu akan mengambil keputusan yang tepat. Apa pun hasilnya, nenek akan mendukungmu selalu.”


Widya merasa healing yang tepat menghadapi permasalahannya dengan Nathan adalah rumah neneknya. Setiap ada masalah yang dihadapi, neneknya akan memberikan nasehat dan solusi yang terbaik. Setelah mempertimbangkan dengan matang, keputusan Widya kembali ke kota sudah bulat. Dirinya sudah siap bertemu dengan Nathan untuk membahas hubungan keduanya.


...*** ...


__ADS_1


Like dan coment, ya 🤗


__ADS_2