
...***...
Nathan harus menelan kekecewaan, karena sebelum telepon itu diangkat oleh sang pemilik rindu, ia harus mengakhiri panggilannya karena panggilan dari sang papa.
***
Pagi ini, Widya menuruni anak tangga rumahnya dengan tergesa. Berkali-kali ia mengecek laju waktu pada jam tangan yang melingkar sempurna di pergelangan tangan kirinya. Di tangan kanannya memeluk beberapa berkas yang dari semalam ia susun untuk presentasi pagi ini.
Akhir-akhir ini, tugas kuliah begitu padat, hingga di bawah matanya terdapat bayangan mata panda yang telah ia tutupi dengan make up tipis. Banyaknya tugas yang menumpuk seolah menimpanya bertubi-tubi. Sehingga ia harus rela memangkas jam tidurnya untuk mengerjakan tugas-tugasnya.
“Bunda,” panggil Widya kepada sang bunda yang tengah berkutat di meja makan menyiapkan beberapa menu sarapan. Terlihat ayah juga duduk pada bangkunya tengah mengunyah roti bakar, di tangan kirinya terlihat memegang koran pagi yang selalu ia pesan setiap hari.
Arini yang mendengar panggilan dari putri satu-satunya mengalihkan pandangan seraya memberi senyum manis pada anak gadisnya. “Iya, Sayang. Sarapan dulu, yuk!” ajaknya setelah menerima ciuman pada sisi kiri dan kanan pipinya dari Widya.
“Maaf, Bunda. Widya buru-buru. Nanti aku sarapan di kantin aja, udah mepet, nih.” Widya memeriksa kembali arah waktu yang terus bergerak.
“Apa mau bunda bawain bekal aja?” tawar Arini.
Terlihat Widya berpikir sejenak lalu mengangguk cepat. Arini lalu bergegas menyiapkan beberapa potong roti bakar pada kotak bekal sejuta umat, kesayangan emak-emak seluruh penjuru negeri, tupperware.
Meletakkan beberapa map pada meja makan, Widya kemudian menghampiri ayahnya. “Pagi, Ayah.” Meraih tangan sang ayah kemudian menciumnya. Menegakkan kembali badannya setelah membungkuk menyalami ayah.
“Pagi. Daripada naik ojol, bagaimana kalau berangkat bareng ayah?” tawar sang ayah.
__ADS_1
“Makasih, Ayah. Widya udah terlanjur pesen ojol. Paling tiga menit lagi sampai.”
Tiin ... tiinn!
Benar saja, ojek online yang sebelumnya Widya pesan melalui sebuah aplikasi pada ponselnya telah sampai di depan gerbang rumahnya. Disusul munculnya Arini, kemudian memasukkan kotak bekal pada ransel Widya. “Bunda, makasih. Widya berangkat dulu, ya. Assalamualaikum Bunda, Ayah.” Widya kembali meraih beberapa map yang ada di depannya. Lalu melambaikan tangan pada kedua orang tuanya. Berlari kecil keluar rumahnya, Widya menghampiri ojek online pesanannya.
***
Senyum lega tampak membingkai wajah putih Widya, setelah ia melakukan presentasi di depan dosen pembimbing. Usahanya tidak sia-sia. Berusaha menyiapkan sendiri dari berbagai bahan presentasi beserta penjelasan sedetail mungkin mengenai poin-poin desain interior materi baru yang ia terima.
Biasanya, jika hal seperti ini dirasa berat pasti tanpa diminta, Nathan akan selalu membantu. Ah, teringat Nathan, Widya memeriksa ponselnya yang sejak kemarin ia abaikan. Beberapa pesan yang ia kirim pada satu nama kontak bernama ‘Nathan' dari semalam sudah centang dua tetapi belum terbaca. Kecewa, gundah, dan gelisah mendadak Widya rasakan. Note panggilan tak terjawab semalam dari Nathan terabaikan karena sudah terlanjur kecewa. “Sesibuk apa, sih, Nath?” gumam Widya sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Perlahan langkahnya tergerak menuju bangku kosong di ujung koridor. Duduk menghadap dinding kaca yang menampilkan keramaian lalu lalang kendaraan. Sebuah kesibukan penduduk ibu kota yang bisa ia lihat dari lantai lima gedung fakultasnya.
Perlahan jari-jarinya menggulir layar hingga menemukan foto Nathan saat bersamanya. Widya menarik kedua sudut bibrnya membentuk seulas senyuman. Dalam benaknya, bayangan tingkah Nathan selama ini seolah berputar mengelilinginya. Mengungkap sebuah rasa hampa yang sayangnya harus Widya akui kebenarannya. Semua tentang Nathan mendadak mencuat ke permukaan, membuat gemuruh dalam dadanya membuncah, hingga Widya tidak sadar di sudut mata kirinya telah mengeluarkan setetes air mata, “Gue kangen banget sama lo, Nath.”
Saat setetes air matanya jatuh mengenai layar ponselnya, saat itu juga Widya baru tersadar akan reaksi tubuhnya tanpa ia sangka. Menghapus perlahan dengan ibu jarinya, lalu ia mengedarkan pandangannya. Begitu menemukan Karin yang tengah duduk di sampingnya, Widya berjingkat. “Ka- Karin. Sejak kapan lo disitu?” tanya Widya.
Menampilkan senyum jahilnya, Karin hanya mengangkat bahu sebagai jawabannya. “Pulang, yuk!” ajaknya seraya berdiri menarik lengan sahabatnya. Widya meringis malu. Ia tidak bodoh untuk sekadar mengerti dengan respon sahabatnya tersebut. Mendadak membuat rona wajahnya pun bersemu. Tentu saja ia bisa menyimpulkan sendiri, jika Karin telah mengetahui apa yang ia katakan.
***
Di dalam perjalanan, Karin sebagai pemegang kemudi, sedangkan Widya duduk di sampingnya. Beberapa menit terdiam dengan pemikiran masing-masing. Hingga saat lampu traffic light menyala merah, mengharuskan semua pengendara menghentikan perjalanannya sejenak.
“Wid,”
__ADS_1
“Rin,”
Keduanya lalu tergelak bersama menyadari ada yang berbeda dari biasanya. Baik Karin maupun Widya, biasanya selalu menceritakan mata kuliah masing-masing apalagi jika sehabis ujian presentasi adalah puncak hasil satu bab mata kuliahnya.
“Lo duluan deh, Wid,” ucap Karin ketika dirinya sudah dapat menguasai tawanya.
“Enggak jadi, deh. Lo aja, mau ngomong apa tadi?” tanya Widya.
“Ehm ... gue tadi sempet denger saat lo duduk sendirian menatap potret Nathan dalam galeri lo, Wid.”
Widya hanya menggigit bibir dalamnya sejenak. Mencoba bertahan pada egonya untuk menyembunyikan gundah hatinya. Saat suara klakson dari pengendara lainnya berbunyi bersahutan. Widya lalu memperingatkan Karin untuk kembali melajukan mobilnya. Dengan segera Karin pun kembali fokus pada kemudinya. Sesekali melirik Widya yang masih terdiam.
“Are you okay, Wid?” tanya Karin.
“Gue baik, kok, Rin. Bahkan tadi gue berhasil presentasi tanpa banyak revisi.” Widya tersenyum memposisikan duduknya menghadap Karin meyakinkan sahabatnya bila ia tengah baik-baik saja.
“Yakin? Lo nggak ada niatan buat cerita ke gue, gitu?” cecar Karin.
Menghela napasnya sejenak, Widya akhirnya tidak kuat. Sepertinya dia memang butuh seseorang untuk menumpahkan segala unek-unek tentang perasaannya saat ini. “Gue merasa sepi aja, Rin. Nggak ada Nathan di sini. Wajar, 'kan, gue ngerasa begitu? Secara, hampir tiap hari dia selalu berkeliaran di sekitar gue. Dan, kali ini Nathan perginya lama banget, ‘kan?” terang Widya. Terdengar lirih di kalimat terakhirnya.
“Ooooh, jadi Widya udah ngaku, nih. Kalau udah rindu berat sama abang Nathan?” goda Karin. Meski jawabannya tepat, tetapi Widya masih berusaha mengelak. Dilihat dari sifatnya yang sedikit tertutup, ia tidak mungkin mengakui seterang itu pada Karin.
...***...
__ADS_1
Next 👉