Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 51


__ADS_3


...***...


Setelah merasa cukup tenang dan berusaha meyakinkan diri tentang hubungannya dengan Nathan, akhirnya Widya memutuskan untuk kembali pulang ke Jakarta. Udara di pegunungan benar-benar dapat me-refresh dirinya menjadi lebih tenang. Berbagai wejangan yang Widya dapat dari sang nenek sudah cukup memberinya kekuatan. Kekuatan untuk memaafkan kesalahan seorang Nathan, yang tidak lain dan tidak bukan adalah kekasihnya.


“Nek, Widya pulang dulu, ya. Terimakasih, karena Nenek selalu ada dan selalu sayang sama Widya, seperti ayah dan bunda.” Widya memeluk tubuh neneknya dan dibalas dengan tepukan hangat di punggung gadis itu.


“Apa yang kamu mulai harus kamu selesaikan. Nenek hanya mendoakan yang terbaik buat kamu, Sayang. Apapun itu. Karena kamu satu-satunya cucu kesayangan nenek.” Nenek membalas pelukan Widya dengan hangat dan berusaha memberi kekuatan kepada cucunya


Setelah puas berpelukan, kedua wanita berbeda generasi itu pun berjalan menuju taksi online yang sudah di pesan Widya. Sebelum memasuki taksi, tidak lupa Widya berpamitan dan mencium punggung tangan nenek dengan takzim.


...****...


Langit Jakarta belum begitu sore, matahari pun masih berdiri tegak pada porosnya. Tetapi Widya sudah berada di teras rumahnya mengetuk pintu dan mengucapkan salam, sehingga membuat Arini yang sedang mengemas kue pesanan pelanggan pun dengan tergesa menuju pintu dan membukanya.


Ketika membuka pintu, Arini nampak terkejut, karena yang nampak berdiri di depan pintu rumahnya adalah Widya, putrinya sendiri.


“Assalamualaikum, Bun.” Widya meraih punggung tangan Arini dan menciumnya takzim.


“Waalaikumsalam. Loh, bunda pikir kamu mau nginap di rumah nenek, Sayang,” tanya Arini heran, karena tiba-tiba Widya sudah berada di hadapannya. Arini ingat betul tadi pagi Widya meminta izin ingin menginap di rumah neneknya untuk beberapa hari.


“Bunda dan nenek benar. Masalah harus dihadapi bukan dihindari. Jadi saat ini Widya mau menyelesaikan apa yang sudah Widya mulai, Bun.” Widya memberikan senyum terbaiknya kepada Arini untuk meyakinkan sang bunda bahwa dirinya saat ini baik-baik saja.


“Bunda akan mendukung semua keputusan kamu, Nak. Karena Bunda yakin sekali kalau putri kesayangan bunda sekarang sudah dewasa. Tahu mana yang baik dan buruk untuk dilakukan.” Arini mengusap lembut punggung tangan Widya, berusaha mentransfer kekuatan dengan kata-katanya dan diangguki pelan oleh Widya.


“Widya ke atas dulu ya, Bun.” Widya melangkah menaiki tangga menuju kamarnya meninggalkan Arini yang masih menatap punggung putrinya hingga hilang di balik pintu.


Keputusan Widya saat ini sudah bulat. Ia akan menghubungi Nathan untuk meminta maaf. Meminta maaf untuk sebuah kesalahan yang tidak pernah ia buat sekali pun.


Setelah memasuki kamar dengan nuansa minimalis. Widya langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak butuh waktu lama Widya untuk melakukan itu semua. Setelah selesai dengan aktivitas mandinya, Widya pun menuju ke lemari. Memilih pakaian yang pas untuk dirinya hari ini. Pun pilihan Widya tertuju pada dress floral berwarna coral dengan panjang selutut. Cukup manis untuk ia kenakan. Tidak lupa Widya merias wajahnya dengan make up natural dan lipstik berwarna nude. Setelah mematri dirinya di depan cermin dengan penampilan yang ia anggap sempurna. Widya pun mengambil handphone-nya dan menuliskan pesan singkat kepada kekasihnya, Nathan.


^^^Widya: Nath, bisa ketemu hari ini? Aku mau minta maaf soal yang kemarin.^^^


Sejenak Widya menunggu balasan, tetapi hanya beberapa detik langsung terdengar notifikasi pesan balasan. Mungkin di seberang sana Nathan sedang menunggu chat dari kekasihnya.


Nathan : Oke sayang, bisa. Nanti aku jemput, ya.

__ADS_1


^^^Widya : Gak usah, nanti kita ketemu di kafe rooftop jam 17.30.^^^


Nathan: Oke, Sayang, oke. Aku pasti datang.


Setelah membaca pesan terakhir dari Nathan, Widya pun pergi menuju kafe tersebut.


...****...


Di rumah keluarga besar Lesmana. Nathan yang mendapat pesan singkat dari Widya pun seperti mendapat angin surga. Wajahnya tak henti menerbitkan seulas senyum sehingga membuat Liana, Evan, Elen, dan Vina yang berada di rumah Nathan pun menjadi heran. Pasalnya, setelah kejadian terceburnya Vina di kolam renang dan makian kasarnya kepada Widya kemarin malam, Nathan selalu menunjukan wajah dinginnya. Tidak ada senyum sedikit pun dari bibirnya setelah kejadian itu. Hanya kekakuan dan rasa sesalnya terhadap Widya yang menyelimuti jiwa dan perasaannya sepanjang waktu.


“Ada apa, nih? Kok, kelihatannya anak mama seneng banget,” tanya Liana pada putranya.


“Widya ngajak Nathan ketemu, Ma.” Nathan tak menurunkan kadar senyumnya saat menjawab pertanyaan dari sang mama.


Berbeda dengan Vina yang wajahnya malah berubah kesal, kerena seharian ini Nathan hanya mendiamkannya. Namun, setelah mendapatkan pesan dari Widya, senyum Nathan langsung berkembang sempurna.


“Nathan tau, Ma, Widya gadis yang baik dan mau mengakui kesalahannya, maka dari itu Widya mau menghubungi Nathan.” Dengan percaya diri Nathan mengakui kebaikan hati Widya, walaupun semalam dengan lantangnya ia memaki dan menghina gadis itu. Namun, tersirat sedikit penyesalan dalam dirinya.


“Ya, sudah. Sana kamu siap-siap! Jangan sampai kamu membuat Widya menunggu lama.” Liana merasa senang karena Widya benar-benar bisa merubah mood putranya dari buruk menjadi lebih berwarna.


“Semangat, ya, Bang!” teriak Evan dan Elen mengepalkan kedua tangannya memberi dukungan kepada sang kakak. Sedangkan Nathan hanya mengangguk kemudian berlari cepat menuju kamar mengganti baju dan mengambil jaket denimnya.


Hari ini akan ia gunakan sebaik mungkin untuk memperbaiki hubungannya dengan Widya. Sejuta penyesalan menyelimuti hatinya sejak kejadian semalam membuatnya tak tenang. Ingin rasanya semalam ia langsung menghubungi Widya atau jika bisa ia akan langsung ke rumah Widya memohon maaf atas sikap kasarnya. Akan tetapi, Vina kembali menahannya dan mengatakan untuk memberi waktu pada Widya guna menenangkan diri. Ia pun membenarkan ucapan Vina. Nathan juga butuh waktu untuk merenungi semua sikapnya pada Widya hingga setelah mengantar Vina pulang semalam, ia kembali mengurung diri di kamar hingga siang tadi.


...***...


Nathan memutuskan memakai motor sport-nya menuju ke kafe rooftop. Karena ia tahu di sore hari merupakan jam macetnya jalanan ibu kota—Jakarta. Banyak pekerja kantor yang pulang pada jam tersebut. Jam-jam sore memang sangat sibuk.


Setelah melajukan kendaraannya selama tiga puluh lima menit, sampailah Nathan di kafe rooftop. Nathan berlari menapaki anak tangga menuju ke lantai atas dengan tergesa. Ia sudah tak sabar lagi ingin menemui cintanya. Nathan memperhatikan seluruh pengunjung kafe hingga netranya terhenti pada sosok yang ia cari—Widya.


Untuk sejenak Nathan terdiam memperhatikan Widya yang tengah asik melihat keindahan langit sore yang memunculkan warna jingga keemasan. Nathan pun merasa Deja Vu dengan tempat ini. Setelah puas terdiam dan mengingat satu hal, Nathan berjalan mendekati tempat duduk Widya. Widya duduk di kursi paling pojok, tempat waktu itu Nathan pernah menyatakan perasaannya dulu.


“Hai, Sayang.” Nathan menyapa dengan perasaan canggung. Namun, Widya membalas dengan senyum manis yang membuat rasa canggung itu pun menghilang.


“Sudah lama?” tanya Nathan lagi, yang hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Widya.


Setelah sepuluh menit sama-sama saling diam, akhirnya Widya memutuskan untuk memulai pembicaraan. “Nath, kamu ingat sama tempat ini, nggak?” tanya Widya pada Nathan. “Ini tempat pertama kali kamu nyatain perasaan kamu ke aku, ‘kan?” Widya melanjutkan pertanyaannya sembari menatap lembut netra pekat Nathan.

__ADS_1


“Kamu tau nggak, Nath? Sebenarnya pada saat itu, aku sudah ada rasa cinta, sayang, dan takut kehilangan. Tapi aku masih ragu untuk mengakuinya.” Widya tersenyum malu mengingat hal itu, "Aku suka tempat ini, Nath. Tempat ini sangat indah.” Widya mengucapkannya tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam, tetapi dengan senyuman pelik yang terkesan dipaksakan.


“Jadi, kamu ngajakin aku ketemuan di tempat ini, mau ngajakin aku nostalgia, ya, Sayang?” Nathan bertanya dengan senyum yang terus berkembang. Namun, saat Widya menggelengkan kepalanya, Nathan sontak mengernyitkan keningnya heran.


“Enggak. Aku ke sini cuman mau minta maaf sama kamu. Maaf, karena aku bukan lagi seperti Widya yang kamu kenal dulu. Maaf, karena aku sudah bikin kamu kecewa di pesta Vina kemarin. Maaf, karena aku sudah berkata kasar. Maaf, kalau menurut kamu kelakuan aku kemarin merupakan suatu hal yang sangat picik di mata kamu. Aku cuman mau meminta maaf untuk hal itu.” Widya berusaha menahan agar buliran kristal bening itu tidak luruh membasahi pipi putihnya. Namun, itu tidak berhasil. Air mata itu kini malah turun dengan derasnya.


“Wid—” Nathan hendak memotong perkataan Widya. Melihat air mata Widya kembali tumpah hatinya terasa sakit. Ingin sekali ia menghapus cairan bening yang meleleh di pipi itu, tetapi ia ragu.


“Aku belum selesai, Nath.” Widya memotong ucapan Nathan. Ia kembali menebar senyum sembari menghapus air matanya. Nathan pun hanya mengangguk membiarkan kekasihnya menyelesaikan semua perkataannya.


“Aku merasa suatu hubungan harus didasari oleh rasa saling percaya, Nath. Aku mau kamu mempunyai hal itu, tapi kemarin aku nggak mendapatkan hal itu dari kamu, Nath.” Rasa sesak kembali menyelimuti hati Widya saat mengingat kejadian di pesta itu. "Namun, aku akan tetap meminta maaf, agar kamu merasa bahagia, Nath,” ucap Widya lagi.


“Terimakasih, Sayang. Kamu memang gadis yang baik. Aku sudah maafin kamu, kok. Aku juga minta maaf karena sudah berkata kasar kemarin malam. Kita baikan lagi, ya!” bujuk Nathan. Ia benar-benar merasa sudah keterlaluan pada Widya. Lagi-lagi ia sudah membuat Widya menangis.


Widya tersenyum begitu manis membuat hati Nathan sedikit tenang. Namun, detik kemudian senyum itu menghilang ketika Widya meraih tasnya lalu mengambil kotak bludru berwarna biru dongker dari dalamnya. Widya menaruh kotak tersebut tepat di hadapan Nathan. Nathan yang mengenali kotak tersebut mengernyitkan kening, merasa bingung dengan apa yang Widya lakukan. “Maksud kamu apa, Sayang?” tanya Nathan.


“Aku kembalikan cincin ini,” Widya menjawab pertanyaan Nathan dengan santai.


“Sayang ... ini, kan, cincin pemberian dari aku, kenapa dibalikin?” tanya Nathan heran. Tangannya meraih kotak cincin, lalu membukanya.


“Nathan. Asal kamu tau, bisa menjadi payungmu di saat hujan, sudah cukup bisa membuatku senang. Namun, kini hujan telah berlalu. Pergilah menemui pelangimu! Pergilah pada Vina dan lupakan aku!” Air mata Widya kembali luruh dan membuat hati Nathan sedikit tergores dengan perkataan Widya. Entah apa maksud Widya menyebut Vina adalah pelanginya, sedangkan Widya adalah hidupnya.


“Sayang, maksud kamu apa?” tegas Nathan. Kedua matanya melotot tajam.


“Maafkan aku, Nath! Mungkin dulu aku hanya terbuai oleh angan-angan bahwa rasa cinta antara aku dan kamu akan bersambut dengan dasar rasa saling percaya. Tapi selama ini aku salah, Nath. Kamu nggak pernah percaya sama aku, kamu bahkan meragukan aku, Nath. Jadi ....” Widya kembali terisak dengan sangat kuat. Kata-katanya terjeda beberapa saat.


“Maafkan aku, Nath! Aku ... mau kita putus.” Setelah mengucapkan kata ‘putus’ Widya bergegas pergi meninggalkan Nathan yang tertegun seorang diri. Widya buru-buru pergi, sebelum Nathan menggoyahkan keyakinannya lagi.


Di sepanjang perjalanan, air mata Widya tidak berhenti mengalir. Ia masih begitu kecewa dengan sikap Nathan. "Aku kira kamu sudah mulai percaya padaku, Nath. Ternyata, sampai saat ini pun kamu masih menganggapku bersalah atas kejadian itu dan itu membuatku sakit. Sungguh sakit," lirih Widya.


Setelah melihat tubuh Widya yang mulai menghilang, Nathan masih setia di tempatnya. Mengingat semua kalimat yang Widya ucapkan beberapa menit yang lalu. Bayangan Widya yang mengakhiri hubungan mereka sambil menangis, turut membuatnya sakit.


Masih terbayang jelas di ingatannya kejadian beberapa bulan lalu saat Widya begitu tersipu malu menerima cintanya. Mengakui bahwa ia begitu mencintainya.


Baru saja ia bahagia mendengar Widya menemuinya, tetapi kini hatinya kembali hancur karena diputuskan cintanya.


...***...

__ADS_1



Putus juga akhirnya. Ada yang berharap mereka balikan?


__ADS_2