
...***...
Surabaya, sembilan jam yang lalu.
Setelah membalas pesan Widya, Nathan bertekad untuk segera menyelesaikan urusannya di Surabaya. Sambil menunggu azan Subuh, ia membuka laptop dan meneruskan pekerjaan yang semalam tertunda akibat rasa lelah yang tidak bisa ditahan. Nathan berdoa semoga klien yang akan ia temui nanti, merasa cocok dengan hasil desainnya. Kemarin setelah berdiskusi di kantor cabang, Nathan memahami keinginan mereka dan segera melakukan perbaikan di beberapa titik yang tidak sesuai dengan keinginan kliennya.
Pukul 7.30 WIB, Nathan selesai menyelesaikan gambar desainnya. Ia bergegas membersihkan diri dan ingin segera menuju ke kantor. Waktu satu jam yang tersisa ia gunakan untuk bersiap-siap. Entah mengapa kali ini Nathan begitu percaya diri bahwa kliennya akan setuju dengan hasil rancangannya. Setelah mandi, Nathan menghubungi Zacky untuk meminta bantuannya.
“Pagi, Nath. Tumben nelpon gue, ada apa? Bukannya lo lagi di Surabaya?” suara Zacky dari seberang sudah sepanjang jalan tol.
“Assalamualaikum, Bang. Kalau nerima telepon, tuh, ucap salam dulu. Bukan nanya sepanjang kereta api,” protes Nathan akan kebiasaan buruk Zacky, orang kepercayaan Daniel yang sudah Nathan anggap sebagai kakaknya.
“Tumben lempeng, Nath. Oh, iya gue lupa. Lo ‘kan bentar lagi jadi imam, jadi kudu insaf, dong," ledek Zacky sambil tertawa lebar membuat Nathan kesal.
“Ngomong-ngomong ada apa, nih?” sambungnya.
“Gue mau minta tolong, Bang,” lirih Nathan sembari memakai bajunya agar tidak terlambat.
“Minta tolong apa?” tanya Zacky.
“Cariin gue tiket ke Jakarta siang ini, ya, Bang. Gue harus ketemu klien pagi ini, setelah selesai gue pengen langsung cabut ke Jakarta. Please, ya, Bang! ” lirih Nathan memohon.
“Cie … cie … yang baru kemarin nggak ketemu sama calon istri sekarang udah terkena malarindu,” ledek Zacky.
“Bang! Udah, ah. Jangan bercanda, gue keburu telat, nih.” Nathan mencebikkan bibirnya.
“Iya, iya. Lo tenang aja. Jam berapa lo ketemu sama klien? Biar gue urus tiketnya,” kata Zacky membuat Nathan lega.
“Jam setengah sembilan. Makasih, ya, Bang. Lo memang selalu bisa diandalkan,” ucap Nathan girang. Setelah mengakhiri percakapan mereka, Nathan segera turun untuk sarapan. Di bawah, sopir dari kantor cabang sudah menunggu. Tidak lama kemudian, mereka berdua melaju menuju kantor yang hanya berjarak lima belas menit perjalanan.
Setelah menunggu beberapa saat, klien pun datang bersama beberapa utusan dari perusahaan mereka. Meeting segera dimulai, tidak memakan waktu lama akhirnya meeting selesai sesuai prediksi Nathan. Setelah memperbaiki sedikit gambar desainnya, pukul 9.45 WIB semua pekerjaan selesai. Nathan bergegas kembali ke hotel setelah mendapat kabar dari Zacky bahwa Nathan mendapat tiket penerbangan ke Jakarta pukul sebelas. Masih ada waktu untuk Nathan kembali ke hotel mengambil kopernya yang sudah ia persiapkan tadi pagi.
Bersama sopir perusahaan yang mengantar, Nathan tiba di Bandara Juanda pukul 10.40 WIB. Setelah melalui beberapa prosedur, Nathan duduk menunggu keberangkatannya. Ia segera teringat Widya, tadi pagi ia mengatakan pada kekasihnya bahwa ia akan tiba di Jakarta malam hari. Namun, karena semua berjalan dengan lancar, siang ini Nathan bisa kembali. Nathan mengambil foto dirinya di bandara dan segera mengirimkan kepada Widya. Tidak ada balasan dari Widya hingga panggilan untuk keberangkatan menuju Jakarta terdengar melalui pengeras suara.
__ADS_1
“Sesibuk itukah kamu, Yang?” pertanyaan dalam hatinya menggelitik. Nathan tersenyum membayangkan wajah Widya yang sibuk di kantor karena sebentar lagi Widya akan mengambil cuti. Cuaca sedikit mendung mengiringi keberangkatan Nathan menuju pelabuhan hatinya.
...***...
Jakarta, pukul 12.30 WIB.
Belum hilang rasa kalutnya, tiba-tiba ponsel Widya yang tergelak di lantai bergetar. Jantungnya semakin berdetak kencang. Ia takut hanya untuk sekadar mengangkat ponselnya. Pecahan kaca yang berserakan di lantai pun menjadi saksi akan ketakutan yang dirasakan gadis itu. Widya tidak mempunyai keberanian untuk mengangkat ponselnya hingga akhirnya getarannya berhenti. Tanpa ia sadari air mata telah menganak sungai di pipinya.
Kring ….
Ganti suara telepon di mejanya berdering. Dengan sisa kekuatannya, ia ambil ponsel yang terjatuh tadi dan perlahan bangkit untuk menggapai pesawat telepon yang berada di meja. Widya menjawab panggilan tersebut dengan suara bergetar.
“Halo, selamat siang,” sapanya.
“Widya, gue Zacky. Gue ada di lobi. Turunlah sekarang, bawa tasmu sekalian. Gue tunggu!” Belum Widya menjawab, panggilan itu sudah diakhiri. Masih dalam suasana hati yang kacau, langkah seseorang mendekatinya.
“Wid, abang lo nunggu di bawah. Turunlah! Biar ini dibereskan oleh OB,” Hasbi mendekati Widya dan mengajaknya turun.
“I-iya, Mas,” jawab Widya mengambil tas miliknya. Dengan diantar Hasbi, Widya turun menuju lobi di mana Zacky sudah menunggu di sana. Langkah Widya semakin dekat, Widya memang tidak begitu mengenal Zacky. Ia baru sekali bertemu dengan Zacky, tetapi Widya sering mendengar Nathan menceritakan tentang kebaikan lelaki itu.
...*** ...
Rumah Liana terasa berbeda. Widya melihat Daniel sudah berada di sana. Sibuk melakukan panggilan dan berjalan mondar-mandir. Widya lebih terkejut lagi ketika melihat Liana terkulai lemas di kursi ruang tengah di dampingi si Kembar. Widya mulai paham bahwa hal buruk yang sejak tadi mengganggu pikirannya benar-benar terjadi.
Kembali Widya kehilangan keseimbangan tubuhnya. Hampir saja ia terjatuh, beruntung ada asisten rumah tangga yang lewat di sebelahnya dengan sigap menangkap tubuh Widya.
Semua yang berada di ruangan itu segera sadar akan kehadiran Widya. Widya dipapah mendekati Liana. Terlihat senyum yang dipaksakan menghiasi wajah cantik wanita yang melahirkan calon suaminya.
“Tan, ini nggak benar, ‘kan? Nathan masih ada di Surabaya, kok. Tadi pagi Nathan bilang dia akan tiba di Jakarta nanti malam,” ucap Widya mencoba mengelak dari kenyataan.
“Tante juga berharap seperti itu, Sayang. Tapi kenyatannya Nathan berada dalam penerbangan tersebut. Tadi Zacky yang memesan tiket atas permintaan Nathan,” ucap Liana berderai air mata.
Runtuh sudah dinding pertahanan yang Widya bangun. Air matanya tumpah tanpa bisa ia cegah. Ellen segera memeluk calon kakak iparnya. Tangis mereka pecah memenuhi sudut ruangan. Tak lama kemudian, Bowo dan Arini datang.
“Widya … ” Arini bergegas menghampiri putri semata wayangnya yang terlihat hancur.
__ADS_1
“Nathan, Bun.” Tangis Widya kembali pecah. Ia tak sanggup berkata apa pun. Hatinya hancur, separuh jiwanya hilang.
“Sayang, istigfar. Kita berdoa untuk kebaikan Nathan. Sabar, ya, Sayang!” Arini mengelus kepala Widya mencoba menenangkan. Tiba-tiba Widya terkulai lemas, ketika Arini mengurai pelukannya.
“Widya! Wid, bangun, Sayang!” Teriakan Arini membuat suasana semakin kacau. Widya pingsan.
“Bawa Widya ke kamar Nathan!” seru Daniel. Bowo dengan cekatan membopong putrinya. Membaringkan di ranjang Nathan. Sementara itu Zacky pamit undur diri menuju bandara untuk mencari kabar tentang Nathan.
Malam makin larut. Meskipun kabut berangsur surut menyelimuti kota tersebut, tetapi kabut di hati Widya justru semakin pekat. Perlahan ia membuka mata, mengedarkan pandangan menatap sekelilingnya. Karin, Kartika, dan Arini berada di sampingnya. Widya mengenal kamar itu.
“Bun, kok, Widya ada di sini? Aduh, Widya ketiduran. Oya, Nathan sudah pulang? Tadi dia bilang akan pulang malam ini,” ucap Widya berusaha untuk turun dari tempat tidur.
“Sayang, istigfar, ya!” Arini menggenggam tangan Widya lembut. Mencoba mengembalikan kesadaran Widya.
“Loh, emang kenapa, Bun? Ini juga, kenapa kalian ngumpul di sini?” Pandangan Widya beralih kepada sahabatnya. Tentu saja hal ini membuat Karin dan Kartika gelagapan. Mereka bingung harus berkata apa.
“Wid, kita selalu ada bersama lo. Kita hadapi semua sama-sama, ya,” ujar Kartika.
“Kalian bikin gue bingung, deh. Ada apa, sih?” ucap Widya. Sesaat kemudian air matanya mengalir. Semakin lama semakin terisak.
“Nathan belum pulang, ya, Bun. Dia bohongin Widya. Tadi dia janji mau pulang malam ini,” lirih Widya di sela isak tangis yang memilukan. Arini segera merengkuh putrinya. Hatinya begitu hancur melihat Widya. Baru saja Widya akan merasakan kebahagiaan setelah ujian berat yang menimpa kisah cintanya. Ternyata Tuhan mempunyai rencana lain.
“Tidur, ya, Sayang! Sudah malam,” ucap Arini menahan tangisnya. Malam ini Arini, Kartika, dan Karin tidur dalam kamar Nathan menemani Widya. Entah berapa lama Widya menangis, hingga tanpa sadar ia tertidur dalam dekapan bunda.
Mata Widya kembali terjaga. Ia bangkit dan melihat orang-orang di sekelilingnya sudah terlelap. Widya turun dari tempat tidur, menatap jam yang menempel di tembok di atas foto Nathan. Waktu menunjukkan pukul 02.15 WIB. Ia berjalan perlahan mendekati galery foto yang berada dalam kamar itu. Menatap satu per satu gambaran wajah Nathan yang terbingkai indah.
“Nath, kamu akan pulang, ‘kan? Bukankah kamu udah janji sama aku nggak bakal ninggalin aku lagi? Jangan bohongi aku lagi, Nath! Aku nggak bakalan sanggup jika harus menelan pil kekecewaan lagi karena kamu. Aku yakin kamu pasti baik-baik saja. Kamu pasti pulang,” monolognya. Air mata pun kembali menganak sungai di wajah sayunya.
Pesawat yang ditumpangi Nathan hilang dari pantauan. Hingga saat ini petugas masih mencoba mencari keberadaan pesawat itu. Widya masih memiliki secercah harapan agar Nathan ditemukan dan kembali dalam keadaan selamat, walau dalam hatinya ada ketakutan yang membalutnya erat.
“Sayang, aku begitu ketakutan. Kamu harus selamat. Seminggu lagi kita menikah. Bukankah ini impian kita berdua, Nath? Kita sudah berjuang keras untuk sampai di titik ini, Nath. Jangan sia-siakan perjuangan kita!” Widya memeluk erat bingkai foto Nathan. “Mampukah aku melewati semua ini? Sedangkan separuh jiwaku turut kau bawa pergi. Kamu telah merampas semua kenanganku, hingga ‘tuk sekedar tersenyum pun aku ‘tak mampu. Aku akan selalu menantimu, Nath,” lirih Widya dalam kesunyian malam sembari menyentuh wajah Nathan yang tersenyum. Senyum yang selama ini selalu memenuhi ruang rindunya. Tawa yang selama ini selalu mengisi hatinya.
...***...
__ADS_1
Nggak tahu harus bilang apa. Aku dibuat nangis di malam takbir. Semoga ada keajaiban di hari lebaran🤧