Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 62


__ADS_3


...***...


Nathan dan Vina, keduanya lantas berlalu dari apartemen milik Vina. Vina tidak segan mengaitkan tangannya pada lengan Nathan dengan menampakkan senyum termanis yang terus saja ia terbitkan untuk Nathan.


Meski risih, Nathan tetap menahan rasa tidak nyamannya. Awalnya ia akan menegur Vina. Namun, semua itu urung ia lakukan. Ia harus memikirkan ulang tindakannya agar tidak membuat Vina curiga dan merasa tidak nyaman.


Beruntung ketika akan memasuki lift tidak banyak orang yang melihat pemandangan yang dapat merusak mata. Bagaimana tidak, short dress warna hitam milik Vina sungguh memperlihatkan lekuk tubuhnya. Belahan dada yang begitu terekspos, tentu dapat memicu jiwa kelelakian setiap orang. Ia benar-benar menguji iman setiap mata Adam yang memandang.


Jika saja ada orang awam yang menyaksikan keduanya, pastilah sudah berpikir yang tidak-tidak. Mereka bisa saja berpikir, jika keduanya akan melakukan kegiatan yang tidak bermoral.


Ketika dalam lift pun, Vina sengaja semakin menempelkan tubuhnya pada Nathan. Melalui pantulan pada dinding lift, Nathan yang melihat tatapan remeh beberapa orang yang seolah menelanjangi Vina dari ujung rambut sampai ujung kaki, hanya menghela napas kasar.


“Sabar, Nathan. Ini baru permulaan. Lo harus bertahan agar tidak mengumpat! Kali ini lo harus berhasil menguak kebenarannya,” gumam Nathan dalam hati. Ia mencoba menyemangati diri sendiri.


Ting!


Sebuah angka pada bagian depan lift telah menunjukkan lantai dasar tempat terparkirnya mobil Nathan. Mereka segera berjalan cepat menuju BMW warna hitam yang terparkir rapi di tengah ruangan.


Binar kebahagiaan selalu terbit di wajah Vina. Namun, tidak dengan Nathan. Terlihat di wajahnya yang dingin dan sesekali tersenyum yang dipaksakan.


"Nath, kamu sakit, ya?" Vina menempelkan telapak tangannya pada kening Nathan. Begitu keduanya duduk dalam mobil. Sontak hal itu membuat Nathan berjingkat, spontan menepis tangan Vina.


"Kenapa, sih, Nath? Aku hanya ingin pastikan keadaan kamu." Melihat Vina yang termangu kecewa, Nathan segera mengembalikan wajah ramahnya. Meski terkesan dibuat-buat.


"Ma-maafin, aku, Vin. Aku hanya kaget," kilah Nathan.


"Oh, kukira kenapa. Kalau gitu, yuk, kita seneng-seneng! Lupakan sejenak permasalahan yang ada! Aku lega akhirnya kamu mau ajak aku jalan lagi, Nath,” ujar Vina.


Nathan mengangguk. Lalu bersiap menjalankan mobilnya.


Selama perjalanan, Vina terus saja berceloteh membicarakan kegiatannya yang membosankan selama Nathan enggan menemaninya. Termasuk protesnya saat nomornya diblokir. Nathan hanya menanggapinya dengan santai dan berulang kali mengucap kata 'maaf'.


Namun, siapa tahu dalam benak Nathan telah menyiapkan ide untuk mengungkap kejujuran Vina. Dalam benak Nathan sedang berperang, ragu akan melakukan tindakan dengan cara yang sempat terlintas dalam pikirannya.


Dua puluh menit perjalanan. Mereka sampai. Nathan sengaja menahan Vina yang hendak membuka pintu mobilnya. "Tunggu, sebentar!” Nathan segera keluar dan mengintai mobil untuk membukakan pintu untuk Vina.


Hal itu tentu membuat Vina dihujani bongkahan kebahagiaan berlipat. "Makasih, Nath." Vina tersipu ketika Nathan membalas dengan senyuman.


Lounge ninght club.


Tempat hiburan yang terdapat di daerah Jakarta, telah ramai pengunjung.


Setelah membeli tiket dan berjalan masuk, Nathan sudah disambut dengan alunan musik yang dibawakan oleh disjoki (DJ) melalui sistem PA elektro yang ada. Lantai dansa dengan ukuran yang besar di tengah-tengah, ruangan bernuansa gelap hanya bermodalkan lampu sorot yang berputar putar dan lampu ambience yang menempel di dinding.


"Kita duduk di sofa itu, yuk!" Vina menarik lengan Nathan yang berbalut kemeja berwarna navy menuju sofa yang masih kosong. Keduanya lantas menghempaskan tubuh mereka pada sofa lembut berwarna putih tersebut.


Dalam remang, Vina yang melihat wajah canggung Nathan berupaya mencairkan suasana. "Pesen minum dulu, yuk!" Vina berinisiatif untuk beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Eh, jangan."


"Kenapa, Nath?" tanya Vina.


"Em ... maksud aku, aku yang ajak kamu. Masa iya kamu yang pesan, lucu aja."


Nathan segera memutar kepalanya memanggil pelayan. Begitu pelayan mendekat, Nathan segera memesan wine beralkohol rendah dan beberapa camilan.


"Vin, aku mau tanya serius sama kamu. Aku harap kamu jawab dengan jujur."


Vina mengangguk mantap.


"Kamu ada kaitannya nggak, dengan retaknya hubungan aku sama Widya?" tanya Nathan.


“Pertanyaanmu begitu konyol, Nath,” sarkas Vina.


Nathan memandang lekat wajah Vina. “Kamu tahu, Vin. Aku sangat menyayangi kamu,” kata Nathan. Hal itu tentu membuat kedua mata Vina berbinar. Senyumnya begitu lebar saat mendengar perkataan Nathan, hingga ia mendengar kalimat berikutnya yang keluar dari mulut Nathan mulai menyurutkan senyumnya.


“Aku menyayangi kamu sebagai sahabatku. Dan aku akan sangat kecewa jika sahabat yang aku sayangi mengkhianatiku untuk kedua kalinya. Kamu tahu, kan, maksudku? Aku tidak akan pernah memaafkan kamu lagi jika kamu ada hubungannya di balik hancurnya hubunganku dengan Widya,” tegas Nathan.


Vina salah tingkah, tatapan tajam Nathan setidaknya mampu membuat nyalinya ciut seketika. "Yang benar saja, Nath. Aku ini sahabat terbaik kamu. Aku bahkan nyemangatin kamu saat terpuruk. Tega banget kamu nuduh aku yang enggak-enggak!" Vina menjauh dari Nathan, melipat kedua tangannya di depan dada.


“Okey! Percuma tanya baik-baik dengan dia. Aku harus pikirkan cara lain,” batin Nathan. "Okey, aku minta maaf. Jika aku sempet ragu sama kamu.”


"Jadi, kamu masih pikirin hubungan kamu sama Widya? Kamu masih ragu setelah yang dia lakuin ke aku, Nath?" sarkas Vina.


"Nath, udahlah! Kita ke sini mau seneng-seneng, 'kan? Lupakan masalah kamu! Wanita banyak, Nath. Enggak cuma Widya. Mending kita nge-dance yuk! Besok aku bantu agar kamu bisa baikan sama Widya." Vina menarik lengan Nathan.


"Nanti aja, Vin. Kita ngobrol dulu," tolak Nathan karena merasa tidak nyaman.


"Rileks, Nath. Aku tahu kamu suntuk banget, kan?"


“Apa aku ikuti aja maunya Vina, yah? Aku takut jika menolak, dia akan curiga,” batin Nathan. "Ya udah, deh." Nathan akhirnya setuju.


Vina segera menarik Nathan ke tengah lantai dansa. Mengikuti alunan musik yang telah disiapkan. Vina membimbing Nathan untuk mengikuti gerakannya. Meliuk-liukan tubuhnya berbaur dengan banyak orang yang menumpahkan segala penatnya.


Sebagian orang memilih tempat ini. Menggila sejenak untuk lari dari kemelut masalah keseharian yang membuat kepala terasa mau pecah karena tekanan pekerjaan dan sebagainya.


Memang kesenangan sejenak yang menggiurkan. Namun, sama sekali tidak akan membantu masalah yang ada.


Nathan berusaha menjaga kewarasannya, manakala banyak wanita-wanita yang berusaha mendekatinya. Vina yang mengetahuinya, sontak menarik paksa wanita berbaju seksi berwarna merah.


"Apa-apaan, lo?" protes wanita bergaun merah.


"Lo yang nggak waras. Dia ini cowok gue. Ngapain lo nyosor ke dia?"


"Hey, di sini tuh bebas. Satu orang bisa jadi milik bersama."


"Apa, maksud lo?" Vina meradang.

__ADS_1


"Udah, udah! Ayo, sini! " Nathan berusaha melerai keduanya. Dan menarik Vina dari kerumunan.


"Kesel, tau, Nath,” protes Vina ketika sudah sampai pada sofa yang sebelumnya mereka reservasi.


"Udah, minum dulu biar kamu tenang!" Nathan menyodorkan segelas wine pada Vina, dengan segera Vina meraih dan meminumnya hingga tadas.


"Lagi, Nath!" Vina meminta Nathan untuk menuangkan lagi. Tidak ada respons dari Nathan, Vina merebut botol dari tangan Nathan dan meneguknya kembali. Ia masih kesal dengan wanita tadi dan juga Nathan yang melerai paksa dirinya.


Vina merasa kesal karena Nathan tidak mendukungnya. Padahal dirinya berniat menghalangi wanita yang membuat Nathan tidak nyaman. Vina seolah tidak ingin siapa pun mendekati Nathan.


Nathan hanya diam membisu melihat tingkah Vina. "Cukup, Vin! Kamu bisa mabok."


"A-ku nggak PE DU LI, Nath ...." Tangan Vina menjelajahi wajah Nathan. "Aku nggak mau ada cewek yang deketin kamu." Vina terus meracau. Kini, tangannya sudah bergelayut di lengan milik Nathan.


"Kamu itu cuma punya aku, Nath. Aku nggak akan ngebiarin siapa pun mendekati kamu." Vina meneguk lagi wine yang ada di hadapan Nathan. Bahkan, Nathan sendiri pun belum meminum barang satu tegukan sama sekali.


"Apa maksudmu, Vin?" tanya Nathan.


"Kamu tanya apa maksud aku, Nath?" Vina terbahak, “Kamu itu bener-bener nggak peka, ya, Nath,” lanjutnya.


Mendadak dada Nathan bergemuruh hebat. Ia sudah bisa menduga maksud dari ucapan Vina. Tetapi, ia ingin memastikan kembali. Ia takut dugaannya salah dan juga secuil kebenaran yang kini tampak nyata.


“Yang aku tahu, orang mabuk bisa berucap jujur begitu saja. Jadi, maaf Vin, aku akan gunakan kesempatan ini untuk membuat kamu jujur,” batin Nathan.


Berkali kali Nathan menahan Vina, untuk terus meminum. Namun, berkali-kali pula Vina menepisnya dan disertai lirikan tajam. Merasa marah.


"Cukup, Vin!"


"Biarkan, Nath. Aku nggak mau melewatkan waktu berharga bersama kamu di sini." Vina kembali terbahak, “Aku bahkan hampir putus asa. Karena apa? Meski kamu bersama aku di sini, pikiran kamu tetap ke Widya."


Vina kembali mencengkeram kemeja Nathan. "Aku cemburu lihat kamu sama Widya, Nath. Kamu milik aku. Hanya milik aku. Tiap lihat kamu sama Widya rasanya sakit di sini, Nath." Vina menunjuk dadanya.


Deg! Nathan terkesiap mencerna kata-kata Vina.


“Aku yakin masih ada kejutan-kejutan lain lagi. Jadi aku harus tenang.” Nathan kembali membatin.


Wine yang ia pesan adalah wine dengan kadar alkohol rendah, yang tidak akan memabukkan. Namun, jika di minum melebihi batas maka tetap saja membuat kesadarannya bisa hilang kendali.


...***...


...



...


Jangan ikutin kelakuan Vina, ya, kesayangankuh. Nggak baik minum gituan. Apalagi sekarang sekarang Ramadhan. Selamat berbuka bagi yang berpuasa 😉


Jangan lupa like dan komentarnya, ya 🤗

__ADS_1


__ADS_2