
...***...
Sudah dua hari sejak Nathan pulang dari rumah sakit. Kini, ia sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Nafsu makannya juga sudah kembali normal. Selama seminggu di rumah sakit, tubuh Nathan terlihat lebih kurus. Berat badannya pun turun hampir tujuh kilogram.
Nathan memutuskan untuk tidak lagi bekerja dengan Zacky. Sehari sepulang dari rumah sakit, ia langsung menghubungi Zacky untuk bertemu di kafe dekat kantor Zacky saat jam makan siang. Ia ingin segera menyerahkan surat pengunduran diri.
Di sinilah mereka, Fresh Cafe. Hanya ada dua gelas jus buah dan sepiring French Fries untuk menemani perbincangan mereka.
“Nggak apa, Nath. Gue justru yang harus minta maaf, karena udah bikin lo kerja keras sampai sakit dan berujung di opname. Dan maaf juga, kemarin gue nggak sempet jenguk lo. Karena perusahaan baru, gue harus gencar cari customer,” ucap Zacky begitu Nathan memberikan amplop berwarna coklat.
“Thanks, Zack. Jujur, gue seneng banget bisa bantu, tapi lo tahu sendiri, gue sekarang harus fokus sama skripsi. Semester akhir, Bro,” terang Nathan.
“Lo emang harus fokus sama skripsi, biar segera lulus. Siapa tahu, kita berjodoh lagi buat kerja bareng. Ya, nggak?” goda Zakcy sambil mengangkat kedua alis. Membuat mereka tergelak bersama.
...*** ...
Setelah bertemu dengan Zacky, Nathan langsung berangkat ke kampus untuk mengejar ketertinggalannya. Tidak disangka, ia justru melihat sosok gadis yang selama seminggu ini setia menemaninya di rumah sakit. Saat ini, gadis itu sedang membaca buku di bawah pohon depan perpustakaan.
Tidak menunggu lama, Nathan pun segera menghampiri dan duduk di samping Widya. Selama beberapa menit, gadis itu belum menyadari kehadiran Nathan.
“Fokus banget, Yang?” Fokus Widya terpecah mendengar suara Nathan, dan secara tidak sengaja menjatuhkan bukunya. Nathan dengan sigap menangkap buku itu sebelum menyentuh tanah.
Widya yang masih dibuat terkejut dengan kehadiran Nathan mencoba menormalkan detak jantungnya. “Nih! Makanya, jangan terlalu fokus.” Widya segera menerima buku itu dan memasukkannya ke dalam tas.
“Kamu ada konsultasi, hari ini?” tanya Nathan.
“Iya, tapi udah kelar. Tinggal revisi beberapa bab aja. Habis itu mengajukan jadwal buat seminar proposal. Kamu?”
“Sama, tapi kayaknya aku ketinggalan jauh karena seminggu kemarin di rumah sakit.”
“Terus, ngapain masih di sini?”
“Emang nggak boleh?” Nathan merengut.
“Ya, boleh. Tapi nanti kalo dosennya ada jam lain, kamu ketinggalan lagi, gimana?” Widya berkata serius.
“Kan, aku bisa minta bantuan kamu, Yang.” Terdengar Widya mendengus kesal, saat mendengar Nathan yang tidak menjawab dengan serius.
“Jalan, yuk!” ajak Nathan tiba-tiba.
Widya mendelik mendengar ajakan Nathan. “Eh! Kamu nggak bimbingan? Kamu nggak pengen cepet lulus? Mau netep di sini?” cecar Widya.
“Tadi udah janjian sama dosen. Eh, waktu sampai sini dosennya baru kasih kabar kalau ada urusan. Kesel, nggak, tuh?” gerutu Nathan sambil melipat tangannya di depan dada.
“Biasa aja,” jawab Widya acuh.
__ADS_1
"Dih, gitu amat," kekeh Nathan. Ia merasa senang karena sudah melihat ekspresi wajah Widya yang merajuk saat digoda. “Yok, berangkat!” Tanpa aba-aba, Nathan langsung menarik tangan Widya, dan membawa gadis itu menuju mobilnya.
“Kamu mau ajak aku ke mana?” tanya Widya begitu mereka sudah berada di dalam mobil Nathan. Sambil tersenyum, Nathan hanya melirik sekilas gadis yang duduk di sampingnya, lalu melajukan mobilnya.
Widya menyadari bahwa ternyata mereka sudah berada jauh dari perkotaan. Bahkan, saat ini mereka memasuki area yang penuh dengan pepohonan. Dengan menahan rasa takut, ia putuskan untuk bertanya pada lelaki yang saat ini sedang fokus mengemudikan mobilnya. “Nath, kok, masuk hutan?” Widya bergidik takut.
“Jangan takut! Mending kamu tiduran dulu! Nanti kalau udah sampai, aku bangunin.” Jawaban dari Nathan tidak membuat Widya tenang, justru ia semakin dibuat takut oleh lelaki di sampingnya. Nathan yang merasa mendapat lirikan tajam dari Widya segera memperbaiki ucapannya. “Maksudku, ini perjalanan masih jauh. Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu. Percaya sama aku, Sayang!”
Widya mencoba percaya, walaupun rasa penasaran masih menggelayuti pikirannya. Suasana hutan yang sunyi, dengan embusan angin yang menerpa wajah Widya, membuatnya tidak bisa menahan kantuk. Tidak lama, Widya pun memasuki alam mimpi.
Widya terbangun saat merasa ada yang menepuk bahunya. Ia segera mengerjap melihat sekeliling, takut terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan. Namun, nihil. Ia masih berpakaian lengkap dan ada Nathan yang masih berada di sampingnya.
“Udah sampai. Turun, Yuk!” ajak Nathan. Ia langsung membuka seat belt dan melangkah keluar, meninggalkan Widya yang masih setia berada di tempatnya.
Di depan kap mobil, Nathan merenggangkan ototnya. Dua jam perjalanan lumayan membuat ototnya terasa kaku. Merasa Widya tidak segera turun, Nathan segera menghampiri Widya, lalu membukakan pintunya.
“Ayo! Kamu nggak bakal nyesel. Percaya, deh.” Nathan mencoba meyakinkan Widya, karena melihat dari mata Widya yang masih menaruh rasa curiga.
Setelah penuh pertimbangan, Widya pun menuruti kemauan Nathan. Lelaki itu mengajaknya lebih masuk lagi ke dalam hutan. Semakin lama, hanya terdengar bunyi kicauan burung dan gemericik air. Tidak ada siapa pun di sini, anehnya Widya mulai menikmatinya.
Nathan masih terus menggandeng tangan Widya karena merasa tidak ada penolakan dari gadis itu. Hingga mereka tiba di sebuah sungai dengan aliran air yang tidak terlalu deras. Lalu, Nathan mengajaknya melewati jembatan kecil yang terbuat dari bambu. Bukan jembatan penyeberangan, karena hanya dibangun sampai di pertengahan sungai. Sampai di ujung jembatan, Nathan menarik tangan Widya untuk duduk mengikutinya. Widya pun menurut.
Widya mengedarkan pandangannya. “Kamu tau dari mana tempat ini?” tanya Widya beralih menatap Nathan. Lelaki di sampingnya kini sudah memejamkan mata.
“Udah lama banget, sebelum dekat sama kamu.” Nathan menjawab masih dengan mata terpejam. “Gimana? Suka?” Lama tidak mendengar suara Widya, membuat Nathan membuka mata dan menoleh ke arah Widya.
“Nathan!” Widya berteriak kesal ketika tubuhnya hampir terjatuh ke sungai di depannya.
“Tadi ketakutan, sekarang kegirangan?”
“Jangan usil, ya!” decak Widya.
“Maaf. Seneng banget kalo lihat kamu senyum kayak tadi. Akunya jadi ikut seneng. Akhirnya bebanku sedikit berkurang.” Nathan berucap dengan memasang wajah getirnya. Jujur ia memang sangat bahagia. Selain Widya sudah tidak menghindarinya lagi, senyum Widya juga sudah mulai kembali. Ia merasa bertanggung jawab atas kesedihan gadis itu.
“Nath ... ja—”
“Yang, kamu keberatan nggak, kalau aku ngomong tentang ini lagi sama kamu?” Nathan memotong perkataan Widya.
“Enggak, Nath. Tapi ....” Widya tak melanjutkan penjelasannya. Ia memilih menunduk dalam diam.
Nathan mengalihkan pandangannya ke atas, menatap segerombol awan yang bergerak perlahan. Sesekali membuat mereka terhalang dari teriknya sinar matahari, tidak jarang sinarnya justru menantang wajah mereka.
Merasa bahwa Widya tak lagi berbicara, Nathan pun kembali mengambil alih. “Sebelumnya aku minta maaf, karena selama seminggu yang lalu aku sangat merepotkan. Jujur, aku seneng banget kamu mau ngomong lagi sama aku, walaupun kesalahanku terlalu fatal. Sekali lagi, maaf, karena meragukan kejujuranmu.”
Penjelasan Nathan, membuat Widya menatap lelaki yang kini sedang menatapnya. “Nath, aku melakukan itu karena memang aku ingin melakukannya. Masalah yang dulu sudah aku lupakan. Udah nggak ada lagi yang perlu dibicarakan tentang hal itu.”
“Aku merasa sangat bersalah, Yang. Dan ... bolehkan aku meminta maaf berkali-kali untuk kesalahanku yang satu ini? Mungkin ini kesalahan terbesarku yang akan selalu aku ulangi sampai kapan pun.”
__ADS_1
Widya mengernyit heran mendengar permintaan Nathan. “Kamu udah tahu salah, tapi malah berniat mengulangi?” Widya sedikit kesal.
“Aku bersalah atas ....” Nathan tersenyum, lalu menyejajarkan wajahnya ke telinga Widya, dan berbisik di sana, “Mencintaimu dan tidak bisa melupakanmu.”
Widya mematung mendengar ungkapan Nathan. Beberapa menit yang lalu, detak jantungnya sudah mulai normal, tetapi sepertinya sekarang kembali bekerja di luar batas kewajaran. Ia memegangi dadanya, seolah menahan jantungnya agar tidak lepas dari tempatnya.
“Na-Nathan,” panggil Widya parau.
“Jika aku memintamu untuk yang terakhir kalinya, apa kamu bersedia?” Nathan kembali bersuara. Widya bukan tidak tahu maksud dari pertanyaan Nathan. Namun, untuk menjawabnya Widya harus berpikir ulang.
“Nath, memulai kembali suatu hubungan yang pernah gagal itu nggak mudah. Apalagi dengan latar belakang dari gagalnya hubungan kita adalah kurangnya saling percaya. Bukankah kepercayaan menjadi salah satu dasar lamanya suatu hubungan?” tutur Widya.
“Ya, aku akui memang saat itu aku begitu bodoh, karena melupakan prinsip sepenting itu. Bisakah kita memulai ulang dan memperbaiki kesalahan itu?” Nathan kembali memohon pada Widya.
“Apa kamu memaksaku, Nath?”
“Apa kamu merasa aku memaksamu, Yang?” Widya pun terdiam saat pertanyaan yang ia ajukan pada Nathan, justru kembali padanya.
Widya memang sudah benar-benar melupakan permasalahannya dengan Nathan. Ia sudah tidak ingin mengingatnya lagi. Walaupun ia mengakui jika masih ada perasaan untuk Nathan, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa rasa takut untuk menerima lelaki itu kembali masih mendominasi.
Ketakutan akan terulang kembali kejadian yang dulu membuatnya ragu untuk menerima tawaran Nathan. Vina memang sudah tidak mengganggunya lagi, ia benar-benar menepati janjinya. Apa bisa ia memberikan kesempatan itu lagi untuk Nathan?
“Tidak apa, Yang. Jangan terlalu dipikirkan! Mungkin memang aku benar-benar harus melepaskanmu. Nggak mudah memang, tapi harus,” ujar Nathan sambil tersenyum masam. Ia merasa hubungannya benar-benar berakhir. “Setelah ini, aku tidak akan menanyakanmu tentang hubungan ini lagi. Maaf, kamu jadi merasa kurang nyaman.”
Keheningan mulai tercipta di antara keduanya. Tidak ada percakapan lagi setelah Nathan mengungkapkan kepasrahannya. Membuat mereka mulai menyelami pikiran masing-masing.
Nathan pun bangun dari duduknya. “Pulang, yuk!” ajak Nathan. Namun, Widya sama sekali tidak beranjak dari duduknya. Memilih menunduk sambil bermain-main dengan jarinya.
“Kamu mau menginap di sini?” tanya Nathan. Widya hanya menggeleng pelan.
Saat Nathan hendak melangkahkan kakinya, Widya segera menahan lengannya. Membuat Nathan mengurungkan niatnya dan menatap ke belakang.
“Apa kamu mau memberikan rasa percayamu lagi sama aku, Nath?” Widya bertanya dengan kepala tertunduk. Lalu, ia beranjak dari duduknya, menyejajarkan tubuhnya di samping Nathan. “Apa kamu keberatan, jika aku meminta seluruh rasa percayamu untuk hubungan kita?”
Tanpa menunggu lama, Nathan membawa tubuh Widya ke dalam pelukannya. Ia mendekap tubuh mungil gadis yang sekarang kembali menjadi kekasihnya lagi. Air matanya menetes tanpa permisi membasahi pipinya. “Pasti, Sayang. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi kali ini,” ucap Nathan sambil menahan isak tangisnya.
“Kamu menangis, Nath?” tanya Widya ragu.
Saat tidak mendapat jawaban dari Nathan, Widya mencoba mengurai pelukan. Namun, Nathan menahannya. “Biarkan seperti ini dulu, Yang. Aku kangen banget sama kamu.”
Widya kembali merasakan kehangatan dari pelukan Nathan. Ia berharap, semoga kali ini Nathan benar-benar menepati janjinya.
...***...
Duh, yang udah balikan. Serasa dunia milik berdua. Aku pindah kontrakan aja, deh. 🤭
__ADS_1