Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 33


__ADS_3


...***...


Rencana liburan bersama yang dilakukan anggota 'Sahabat selamanya' akhirnya diadakan dengan keputusan final ke pantai. Seperti rencana awal, Nathan tidak ikut walaupun dilakukan hari berikutnya. Dengan alasan yang Widya sendiri sudah tahu, yaitu bukan menemani Vina membeli furniture lagi, tetapi alasannya ingin membantu Vina menata apartemen tempat tinggalnya.


"Kasihan, Sayang. Dia perempuan, nggak mungkin dibiarkan naik-naik tangga sendiri atau membawa barang-barang berat. Aku di sini ditemani sama Ellen juga, loh." Begitulah penuturan Nathan yang membuat Widya mau tidak mau mengizinkannya.


Widya sendiri awalnya tidak ingin ikut, tetapi karena desakan para sahabatnya sampai-sampai dia harus dijemput oleh Karin secara paksa di rumahnya. Mau tidak mau dia menuruti permintaan para temannya untuk ikut acara liburan tersebut. Walaupun hatinya tidak bisa sebahagia selayaknya orang yang sedang berlibur. Pergi ke pantai adalah keputusan akhir mereka, dan tujuan pantainya jatuh di pantai Kepulauan Seribu. Di sinilah sekarang mereka berada.


"Mencari suasana lebih tenang, biar serasa lagi di pantai pulau milik sendiri." Zakir berceloteh saat mengutarakan niat memilih salah satu pantai di Kepulauan Seribu.


***


Suara gerakan air yang bergulung-gulung lalu bertabrakan dengan bibir pantai, diiringi dengan hiruk pikuk cengkrama para sahabatnya seakan menjadi pengiring lagu bagi suasana hati Widya yang sedang tidak baik-baik saja. Walaupun berusaha untuk bersikap biasa saja, nyatanya Widya memang tidak mampu menyembunyikan kegelisahan dalam pikiran dan hatinya. Di dalam sana selalu berputar tentang sikap Nathan yang berubah kepadanya. Kenapa dia lebih memilih Vina daripada pacar dan teman-temannya? Apakah Nathan masih sayang sama Vina? Dan apakah rasa sayangnya itu melebihi rasa sayang Nathan kepadanya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang sedang mengusik hatinya kini.


"Wid." Suara Harsa membubarkan lamunannya. Secara spontanitas, Widya menampilkan muka yang shock antara kaget dan tertegun. Pasalnya, Harsa menegur Widya dengan kondisi bertelanjang dada. Menampilkan tubuh kotak-kotaknya yang atletis dan membuat mata setiap gadis terpana ketika melihatnya. Tidak terkecuali Widya, karena baru kali ini gadis tersebut melihat Harsa berpenampilan seperti itu. Wajar saja, karena Widya memang gadis yang masih lugu.


"Iya, Sa, ada apa?" Dengan cepat Widya mencoba merubah mimik wajahnya agar terlihat biasa saja. Dia pun mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menyembunyikan semburat merah yang masih tercetak tipis di pipinya.


"Gue lihat dari tadi lo diem aja. Harusnya gue yang bertanya ada apa dengan lo?" tanya Harsa balik.


Widya terdiam sejenak, menatap Harsa sejenak lalu menunduk lagi. "Nggak ada apa-apa, Sa. Gue biasa aja," sanggahnya. Widya mencoba menyembunyikan matanya yang sudah menunjukan kesedihan. Ia menunduk semakin dalam, sambil menggesek-gesekan kakinya ke pasir pantai.


"Boleh gue duduk?" Tanpa menunggu persetujuan Widya. Harsa sudah mendaratkan badannya di samping gadis tersebut. Tidak terlalu dekat, karena Harsa masih memberikan sekat kosong di antara mereka. Dia tidak ingin rasa gugup yang menyelimutinya saat ini tertangkap oleh gadis pujaan hatinya tersebut. Mereka duduk di salah satu bangku panjang yang terbuat dari bambu dan mempunyai sandaran. Bangku panjang itu terletak di bibir pantai.


"Setiap orang punya masalah, Wid. Namun, jangan biarkan masalah itu menghabiskan waktu lo. Coba lupakan sejenak, dan alihkan pikiran lo dengan menikmati indahnya ciptaan Tuhan ini! Bukan berarti lo mencoba lari dari masalah lo, tetapi beristirahatlah! Bukankah bekerja juga membutuhkan istirahat? Jadi, jangan biarkan otak dan hatimu bekerja terus! Dia juga butuh istirahat." Seolah tahu tentang masalah apa yang tengah dihadapi oleh Widya. Harsa langsung memberikan nasihat panjang seperti itu.


Sambil tersenyum manis Harsa mencoba memberi semangat kepada Widya. Walaupun sebenarnya dia juga tahu. Suasana hati Widya yang sedih seperti itu, pasti ada hubungannya dengan Nathan. Namun, Harsa mencoba untuk tidak mengusiknya, karena bukan ranahnya dia untuk ikut campur. Akan tetapi, hati kecilnya juga tidak bisa menerima, ketika melihat Widya yang biasa ceria, kini terlihat murung dan sedih. Sekelebat bayangan tentang masa lalu pun menghampirinya. Rasa bersalahnya pun datang lagi. Harsa sadar, dulu mungkin Widya juga sesedih ini.

__ADS_1


"Makasih, Sa. Bijak banget, sih, kata-katanya! Nyontek di mana?" Widya mencoba menangapi perkataan Harsa dengan candaan. Namun, perkataan itu membuat Widya tersadar. Memang benar, ada saatnya ketika waktunya bukan hanya untuk memikirkan Nathan. Karena belum tentu saat dia memikirkannya, laki-laki itu juga memikirkan dia. Dia juga butuh waktu untuk menghibur diri, dan itu bisa dilakukan bersama teman-temannya.


"Baca di salah satu Novel," jawab Harsa sekenanya.


"Hah!" Widya tercekat, merasa tidak percaya seorang Harsa ternyata suka membaca novel romantis.


"Lo percaya?" Harsa tertawa. Tentu saja jawabannya tadi hanyalah bercanda. Dan tawa itu pun menular kepada Widya. Seketika mereka berdua tertawa bersama.


\*\*\*\*\*


Langkah lebar seorang gadis yang baru saja turun dari ojek online begitu tergesa-gesa. Pasalnya, dia hampir saja terlambat masuk kelas karena menunggu jemputan dari kekasihnya yang tidak tepat waktu. Siapa lagi kalau bukan Nathan. Lelaki itu juga ikut berlari mengejar di belakang Widya.


"Yang ... maaf, ya, Yang! Aku bisa jelasin kenapa aku telat," rengek Nathan yang mengakui kesalahannya.


Widya menghentikan langkahnya sejenak, lalu berbalik menghadap Nathan. "Stop, penjelasannya! Nanti aja! Kita sudah hampir terlambat." Sambil mengangkat tangan, Widya memotong ucapan Nathan. Dia mencoba setenang mungkin, padahal gemuruh dalam hatinya rasanya ingin meledak untuk meluapkan emosi.


"Oh, oke." Nathan tertegun sejenak, ludahnya pun terasa kelat. Baru kali ini Widya bersikap tegas seperti itu. Ia pun terpaksa menuruti permintaan kekasihnya. Dan juga, dosen pembimbing mereka sudah terlihat berjalan di koridor menuju ke arah kelas mereka. Perasaan tidak enak menyelimuti pikiran Nathan. Melihat sikap Widya seperti terkesan dingin kepadanya, tetapi dirinya yang tidak peka belum menyadari letak kesalahannya di mana. Yang dia tahu, Widya marah karena dirinya telat menjemput saja.


***


Dua mangkok bakso dan dua gelas es jeruk, menjadi saksi adanya sepasang kekasih yang sudah hampir lima belas menit saling diam. Widya sendiri enggan untuk memulai berbicara, sedangkan Nathan merasa jika suasana kantin kampus yang agak ramai, bukan tempat yang cocok untuk obrolan mereka yang sepertinya sensitif. Memangnya seperti di sinetron yang berbicara hal penting pun bisa di mana saja. Tanpa takut direkam oleh para netizen yang budiman.


Pelan-pelan Nathan mencoba mengajak Widya untuk makan baksonya. "Makan, Yang! Nanti keburu dingin baksonya. Kasihan, loh, dari tadi dilihatin terus. Kita ngomongnya nanti dulu, ya! Biar diisi dulu perutnya. Aku laper," tutur Nathan, masih dengan gaya tengilnya. Masih mencoba untuk mengajak bercanda sang kekasih. Walaupun dia sadar, sepertinya mood Widya sedang tidak baik-baik saja.


Widya yang merasa lapar, akhirnya memakan baksonya. Sepertinya marah juga membutuhkan tenaga. Karena dari tadi ia terlalu lelah menahan amarahnya kepada Nathan. Membuat selera makannya jadi berkurang, tetapi tidak dengan selera ngemilnya yang malah sedikit meningkat.


Setelah selesai makan, merasa kantin kampus sudah agak sepi. Nathan akhirnya berani membuka pembicaraan. Entah kemana para temannya yang biasanya ikut nimbrung. Tidak ada satu pun yang kelihatan.


"Maaf, Yang! Aku tadi terlambat jemput kamu. Padahal aku udah ngebut. Eh, pas nyampe di rumah kamu, malah kamunya yang nggak ada. Kata Bunda kamu sudah berangkat naik ojek online—"

__ADS_1


"Terus?"


"Ya ... terus aku tadi juga terlambat." Nathan menangapi dengan senyum kikuk, berusaha mengimbangi Widya yang masih menampilkan wajah ketusnya.


"Bukan itu! Kamu nggak ada niat buat jelasin tentang alasan kenapa terlambat, gitu?" Masih dengan nada ketus Widya mencoba bertanya.


"Ehm ... itu ... tadi itu ada Vina datang. Katanya laptopnya rusak dan mau dipakai hari ini. Jadi ... aku bantu perbaiki dulu." Dengan ragu Nathan menjawab jujur. Ia takut Widya akan cemburu.


Widya menghela napas kasar, ternyata dugaannya itu benar. "Vina lagi, Vina lagi! Bosen aku, Nath. Apa jangan-jangan ... dia nginap di rumah kamu?" tuding Widya saking kesalnya.


"Widya! Kamu ini kenapa, sih? Dia nggak mungkin nginep, lah. Dia datang pagi-pagi, karena mau minta bantuan. Kasian, di Jakarta ini dia nggak pu—"


"Kamu yang kenapa, Nath?! Semenjak ada Vina selalu saja dia yang jadi prioritas kamu. Kamu nggak ada waktu buat teman-teman lainnya terutama buat aku. Ya ... walaupun aku tahu dia sahabat kecil kamu. Eh, bukan. Dia itu mantan kekasih kamu." Dengan intonasi yang ditekankan pada akhir kalimatnya, Widya mengungkapkan apa yang selama ini dipendamnya dalam hati. Hingga tidak terasa air matanya membasahi pipi.


Nathan yang awalnya tersulut emosi dengan ucapan Widya, akhirnya merasa bersalah. Lelaki itu menyesal karena telah membuat kekasih yang dicintainya menangis. Pun dia sadar, ternyata rasa cemburu Widya sangatlah dalam. "Yang, maafin aku! Aku beneran nggak ada hubungan apa-apa sana dia, Yang. Sungguh, aku hanya menganggapnya teman saja. Aku nggak nyangka kamu bakalan secemburu ini. Maaf jika sikapku selama ini sudah menyakiti kamu. Aku janji, mulai saat ini aku akan berusaha mengerti perasaan kamu dan lebih mengutamakan kamu, oke!" Sambil menggenggam tangan Widya Nathan memohon.


Widya merasa malu. Tidak habis pikir kenapa dirinya bisa berkata seperti itu di tempat umum. Seolah dirinya begitu posesif kepada Nathan. Merasa takut jadi pusat perhatian, akhirnya dia pun beranjak pergi. "Aku mau ke toilet dulu," pamitnya sambil menundukkan pandangan, dan tanpa memandang Nathan. Widya yang berjalan cepat sambil menunduk tidak sadar jika dirinya berpapasan dengan Harsa.


Harsa melihat sorot kesedihan di wajah mantan kekasihnya itu. Kini, tatapan mata Harsa tertuju pada Nathan yang berjalan ke arahnya. Lelaki itu hendak menyusul Widya.


"Lo apain dia?" tanya Harsa lantang. "Gue harap lo jangan bikin dia bersedih terus, karena gue nggak akan biarin itu terjadi," tambah Harsa dengan sedikit ancaman.


Kedua mata Nathan mendelik tajam. Menatap Harsa dengan tatapan mematikan. "Bukan urusan lo. Awas saja kalau lo berani deketin dia!" seru Nathan takkalah menantang.



...***...


Jangan berani nantang, Sa. Dulu aja lo kalah. 😅

__ADS_1


Bener, nggak, gengs 🤭


__ADS_2