Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 71


__ADS_3


...***...


Sebulan berlalu pasca pertemuan terakhir antara Nathan, Widya, dan Vina. Widya yang tampak bahagia karena dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang baik, terlebih Harsa yang selalu berusaha ada di sisi Widya karena tak ingin melihat gadis itu bersedih. Pun Vina gadis yang menyakiti hatinya, kini benar-benar menepati janjinya dengan tidak menampakkan dirinya lagi di hadapan Nathan. Rupanya Vina benar-benar serius dengan ucapannya ingin meminta maaf dan memperbaiki sikapnya dengan cara kembali pulang ke Singapura dan meninggalkan Indonesia.


Pagi ini Nathan sudah terlihat rapi dengan kemeja berwarna biru muda dengan celana bahan warna khaki yang membalut tubuh sempurnanya. Nathan masih terlihat tampan. Walau jika diperhatikan dengan baik, akan tampak rambut yang mulai terlihat gondrong, karena selama dua bulan ini ia tidak pernah memotong rambutnya. Di bagian bawah matanya pun terlihat menghitam seperti mata panda karena kurang tidur. Namun, itu semua tidak mengurangi kadar ketampanannya.


Setelah selesai menyiapkan diri dan memasukkan berkas-berkas ke dalam tas, Nathan bergegas menuju parkiran apartemen, menghampiri mobil BMW berwarna blue ridye montain metalic, yang baru ia beli tiga bulan yang lalu sebelum ia putus dengan Widya.


Setelah Nathan duduk dengan sempurna di balik kemudi, ia mulai melajukan mobilnya menuju kantor Z grup. Kantor yang didirikan Zacky dua bulan yang lalu di Indonesia. Awalnya Nathan menerima pekerjaan sampingan dari Zacky hanya sebatas iseng-iseng belaka. Zacky yang merasa bahwa Nathan memiliki kepandaian dalam hal berbisnis pun terus memohon kepada Nathan untuk bekerja padanya, walaupun itu semua tak lepas dari perintah Liana.


Bahkan Zacky memberi pilihan jika Nathan bisa bekerja di rumah. Namun, selama satu bulan ini Nathan justru memilih mengerjakan semua pekerjaannya di kantor Zacky. Jika ia memaksa mengerjakannya di apartemen, ia hanya akan merasa sesak di dada, karena hanya akan mengingat bayangan wajah Widya, gadis yang dicintainya.


“Selamat pagi, Mas Nathan," sapa kedua resepsionis dengan senyum merekah dari balik mejanya. Namun, Nathan hanya mengangguk dingin tanpa senyum sedikit pun.


“Muka lo kenapa sih, Nath, kaku kayak kanebo kering?” Zacky menepuk bahu Nathan di depan lift, membuat Nathan menoleh dan mengedikkan bahu. Beberapa karyawan wanita yang ingin mendekatinya mengurungkan niat, karena sikap Nathan yang dingin dan kaku.


Akhirnya lift yang hanya diisi oleh dua orang pria tampan, membuat Zacky ingin mengajak Nathan bicara.


“Lo nggak ngampus, Nath? Lo seharusnya lagi menyelesaikan tugas akhir lo, ‘kan,” tanya Zacky.


“Nanti gue ke kampus jam tiga sore, Bang. Dospem gue bisanya sore. Makanya, hari ini gue bisa datang pagi.” Melihat lift yang terbuka Nathan pun keluar diiringi Zacky di sampingnya.


“Nath, lo kerja di tempat gue, kan, cuman part time. Gue nggak mau kalau lo terlalu memaksakan diri. Gue nggak mau kalau lo tiba-tiba sakit terus gue disalahin sama tante Liana dan om Daniel gara-gara lo kerja sama gue sampai nggak ingat waktu,” ucap Zacky panjang lebar bak seorang kakak yang sedang menasihati adik kesayangannya.


“Gue baik-baik aja, kok, Bang. Gue juga senang bisa ngebantuin lo di sini,” ucap Nathan pelan, tetapi Zacky tahu kalau Nathan sedang sangat terluka saat ini. Nathan yang ia kenal dulu, waktu di Singapura adalah Nathan yang ceria dan tengil, lelaki yang ingin tahu tentang segala hal. Bahkan, di usianya yang masih sangat muda, Nathan mampu menggantikan posisi Daniel sebagai pemimpin perusahaan besar di Singapura di kala Daniel sedang sakit. Berbeda dengan Nathan yang ia lihat sekarang, adalah Nathan yang pendiam, dingin, dan rapuh.


“Benar kata Tante Liana, kalau gadis itu tidak hanya mampu membuat dunia Nathan menjadi berwarna, tetapi gadis itu juga mampu membuat hati Nathan menjadi benar-benar gelap, melebihi gelap yang pernah Vina berikan pada Nathan dulu,” batin Zacky.


“Bang.” Nathan menepuk bahu Zacky, menyadarkan lelaki yang tengah memikirkan nasibnya.

__ADS_1


“Ngagetin gue aja, lo, Nath. Ada apa?” tanya Zacky.


“Lo kenapa, Bang? Pagi-pagi sudah ngelamun aja. Ngelamun jorok, lo, Bang?” Nathan menampilkan smirk-nya, kemudian menggelengkan kepala.


“Kurang ajar, nih, anak. Gue dikira lagi ngelamun jorok. Gue lagi mikirin lo, brengsek,” batin Zacky.


“Siapa yang lagi ngelamun jorok? Lo mau nanya apa sama gue?” tanya Zacky kesal, kemudian mulai memasuki ruang kerjanya diikuti oleh Nathan.


Zacky dan Nathan memiliki ruang kerja yang sama. Zacky tidak ingin meninggalkan Nathan sendirian dengan bekerja di ruang terpisah. Dengan bekerja di ruang yang sama membuat Zacky lebih mudah mengawasi Nathan.


“Hari ini kita ada meeting jam sepuluh, kan, Bang?” tanya Nathan, “Dengan investor asal Malaysia?” lanjutnya sembari melangkahkan kaki menuju meja kerjanya dan mulai membuka-buka berkas.


“Iya, sesuai jadwal. Kata sekretaris gue, mereka akan datang ke kantor hari ini. Kenapa? Lo belum nyiapin bahannya?” tanya Zacky curiga. Sebenarnya Zacky tahu kalau Nathan adalah lelaki yang profesional, jadi tidak mungkin ia akan membuat satu kesalahan.


“Ini sudah gue siapin, semua berkasnya sudah gue masukkin ke dalam satu map. Lo cuman harus baca ulang berkasnya, Bang. Biar nggak terjadi kesalahan.” Nathan beranjak dari tempatnya menuju meja Zacky dan menyerahkan berkas yang sudah disiapkannya.


...***...


Sesuai apa yang dikatakan oleh Nathan, tepat pukul tiga sore Nathan menuju kampus demi menemui dosen pembimbing. Sesampainya di kampus Nathan mulai menuju ruangan dosen tersebut guna melakukan bimbingan dan penyerahan tugas akhir. Tidak banyak yang dikatakan oleh dosen tersebut, karena menurut sang dosen, skripsi yang dibuat oleh Nathan sudah cukup sempurna.


“Saya baik-baik saja, Bu. Tadi emang nggak sempat makan siang, karena sibuk sama kerjaan. Terus buru-buru ke sini.” Nathan menjawab dengan tenang.


“Baiklah, Nathan. Bimbingan kita hari ini cukup sekian dulu. Kamu cepat pergi ke kantin kampus untuk makan! Kalau kamu sakit, nanti kamu nggak bisa wisuda,” titah sang dosen kepada Nathan.


“Baik, Bu. Saya permisi dulu.” Nathan berdiri dan kemudian meninggalkan dosen pembimbingnya.


Langkah Nathan terhenti tepat di pintu masuk kantin. Netra sendu Nathan tidak henti memperhatikan senyum bahagia Widya yang sedang berada di kantin bersama kedua sahabatnya, Karin dan Kartika. Setiap kali melihat senyum bahagia Widya, hati Nathan menjadi hangat namun juga merasa sangat perih di waktu yang bersamaan, karena bukan dirinya yang membuat Widya bahagia, melainkan orang lain.


Setelah puas melihat senyum bahagia gadis yang dicintainya, tanpa ada niatan untuk menemuinya, Nathan pergi meninggalkan kantin tanpa mau memasukinya. Nathan tidak ingin melihat senyum Widya pudar karena kehadirannya. Pun untuk ke sekian kalinya Nathan melewatkan waktu makannya.


Dengan langkah berat, Nathan meninggalkan Widya dengan sejuta asa di hatinya. Agar suatu saat nanti hanya dirinya orang yang dapat menerbitkan senyum itu.

__ADS_1


Saat Nathan hampir mendekati mobilnya tanpa sengaja Nathan bertemu dengan Harsa, Edo, dan Zakir. Edo dan Zakir yang masih bersikap biasa kepada Nathan menyapanya dengan hangat, berbeda dengan Harsa yang tampak dingin pada Nathan.


“Habis bimbingan, Bro?” tanya Edo.


“Iya, gue habis bimbingan. Gue cabut duluan ya, Guys,” pamit Nathan, tetapi segera dicegah oleh Zakir.


“Tunggu, Nath! Muka lo pucet banget. Lo sakit, ya?” cecar Zakir dengan semua pertanyaannya, kemudian menempelkan punggung tangannya pada dahi Nathan guna mengecek suhu tubuh Nathan. Namun hal itu malah membuat Zakir terkejut.


“Buset, dah!" pekik Zakir. "Panas banget, nih, jidat? Udah kayak panci emak gue kalau lagi ngerebus air. Lo demam, Nath? Seharusnya kalau lo lagi demam, lo nggak perlu pergi ke kampus. Kesehatan lo itu lebih penting,” omel Zakir seperti bapak-bapak tua yang khawatir pada anaknya.


“Gue, gak apa-apa, kok, Zak. Gue baik-baik aja, jadi lo nggak usah terlalu khawatir sama gue,” jawab Nathan lemah.


“Terima kasih karena sudah khawatir sama gue. Gue cabut dulu, Guys,” pamit Nathan pada Harsa, Edo, dan Zakir. Namun, belum sempat membuka pintu mobil tubuh Nathan sudah ambruk, membuat Harsa dengan sigap menangkapnya. Harsa yang merasa Nathan dalam kondisi lemah mulai membawa tubuh Nathan di kursi samping kemudi. Harsa berniat ingin mengantarkan Nathan ke rumah sakit.


“Do, Zak, kalian ikutin gue pakai mobil gue, biar gue yang bawa mobil Nathan. Kita harus cepat bawa ni anak ke rumah sakit,” perintah Harsa tegas yang segera diikuti oleh Edo dan Zakir. Bagaimanapun juga Nathan adalah salah satu sahabatnya. Sedangkan Nathan yang sedang tidak berdaya hanya bisa menurut saja.


Di perjalanan menuju ke rumah sakit hanya ada keheningan di antara mereka berdua. Tidak ada pembicaraan sedikit pun di antara keduanya. Nathan masih terduduk lemah di kursinya. Setelah tiga puluh menit saling berdiam diri, Nathan mulai berbicara.


“Makasih, Sa. Lo sudah mau nolongin gue,” ucap Nathan lemah.


“Ini bukan masalah, Nath. Lo teman gue, sudah seharusnya gue nganterin lo ke rumah sakit,” jawab Harsa lugas.


“Terima kasih juga karena sudah mau gantiin gue menjaga dan membuat Widya tersenyum kembali.” Nathan mengatakannya tulus sambil menatap ke arah Harsa. Ia kemudian memejamkan matanya.


Harsa tercenung mendengar perkataan Nathan. "Lo pikir Widya mau gue buat tersenyum? Bahkan, sekarang Widya pun juga menjaga jarak dari gue, karena gue tau cintanya Widya saat ini hanya buat lo, Nath,” batin Harsa sambil menatap jalanan kota.


“Gue pikir lo akan baik-baik saja, Nath, setelah putus dari Widya. Ternyata lo sampai terpuruk seperti ini. Gue pikir rasa cinta gue kepada Widya sudah cukup besar. Tapi, ternyata rasa cinta lo kepada Widya jauh lebih besar. Gue hanya ingin yang terbaik untuk Widya, Nath. Dan hanya lo bagian dari kebahagiaannya.” Harsa kembali membatin. Sesekali ia melirik lelaki yang tidak berdaya di sampingnya.


...***...


__ADS_1


Aduh, Nath. Patah hati gitu amat. Nggak ada Widya, masih ada aku, kok 🤭


Jangan lupa like dan komentarnya 😅


__ADS_2