Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 109


__ADS_3

...***Happy Reading***...


...***...


Widya terlihat syok saat mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Harsa. Mulutnya sampai ternganga karena rasa tak percaya. Segera Widya menutup mulut kembali untuk mengatasi keadaan. Tenggorokannya pun terasa tercekat untuk sekadar menelan ludah. Bersyukur ia memiliki jantung yang sehat hingga ia tidak terkena serangan jantung saat ini juga.


Widya menatap lekat netra milik Harsa yang terlihat begitu teduh. Bukannya ia tak menyadari dengan semua perhatian yang telah Harsa berikan untuknya, hanya saja Widya tak berpikir sejauh itu. Ia tak menyangka jika Harsa masih memendam rasa untuknya.


Bukankah selama ini Harsa sendiri tahu betapa Widya mencintai seorang Nathan. Lalu bagaimana bisa ia masih memupuk harapan untuk orang yang hatinya sudah dipenuhi dengan nama Nathan? Widya pikir, Harsa sudah menyerah atas perasaannya selama ini dan semua perhatian yang ditujukan untuknya murni sebagai sahabat.


Harsa menggenggam erat jemari Widya. Ia tahu jika Widya terkejut akibat ulah spontannya.


“Gue tahu jika ini terlalu mendadak. Tapi, Wid, gue kayaknya udah nggak bisa memendam rasa ini lebih lama lagi. Gue sayang sama lo. Cinta di hati gue buat lo semakin bertambah setiap harinya, hingga kadang gue ngerasa sampai sesak karena nggak sanggup menampungnya. Gue cinta sama lo, Widya Putri Esmeralda. Sejak dulu. Bodohnya, gue baru menyadari saat hubungan kita sudah berakhir dan menorehkan luka di hati lo.”


Melihat reaksi Widya yang masih diam menatapnya, Harsa kembali melanjutkan ucapannya, “Gue juga tahu kalo lo masih belum bisa lupain Nathan sepenuhnya. Gue juga nggak mau lo ngelupain Nathan. Gue cuma berharap, bisa menggantikan Nathan buat ngejaga dan buat lo selalu bahagia ...,


Harsa menjeda ucapannya. Ia butuh asupan oksigen lebih banyak agar bisa melanjutkan kata-katanya. Sedangkan Widya masih diam menunggu, menatap Harsa dengan sendu.


“Kasih gue kesempatan buat mencintai lo sama besarnya seperti cinta Nathan buat lo. Bukankah hidup terus berjalan, Wid? Lo nggak mungkin stuck di sini aja, kan? Lo juga harus belajar buat membuka hati buat cowok lain. Belajar mencintai orang lain dan gue berharap, lo mau mempercayakan lagi hati lo buat gue jaga. Kali ini gue janji, gue nggak akan menyia-nyiakan kesempatan yang bakal lo kasih.”


Widya terpaku. Ia mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Harsa. Lama mereka saling diam. Hanya ada keheningan yang menyelimuti, hingga akhirnya, Widya membuka mulutnya.


“Sa, apa yang udah lo bilang bener.” Widya tersenyum, lalu melepaskan tangannya dari genggaman hangat Harsa. Kedua manik mata Widya menerawang ke atas, menatap langit malam yang begitu cerah. Tampak bintang bertaburan mengelilingi sang rembulan. Seperti hidup Widya, dikelilingi banyak sahabat yang selalu menemaninya.

__ADS_1


Mendengar kalimat yang baru saja ia dengar dari Widya membuat manik indah Harsa berbinar bahagia. “Jadi?” tanyanya tak sabar. Ia berharap Widya memberi kesempatan kedua untuknya.


Kembali Widya terdiam. Ia tatap lagi wajah tampan yang selalu ada di sampingnya selama ini. Widya menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Harsa. Ia mencoba merangkai kata agar tak menyakiti hati orang yang telah tulus mencintainya itu.


“Gue nggak menyangkal bahwa apa yang barusan lo bilang emang bener. Dan terima kasih sebelumnya atas cinta lo buat gue. Gue sangat menghargai cinta yang lo kasih.” Kembali Widya memberikan senyum termanis sebelum melanjutkan kalimatnya. “Tapi maaf, Sa. Bukannya gue nggak mau kasih lo kesempatan buat ngejaga hati gue, hanya saja tidak untuk sekarang. Gue masih belum siap buat membuka hati. Gue masih menikmati masa ini. Masa kesendirian gue.”


Binar bahagia yang tadi sempat memenuhi indra penglihatan Harsa kembali meredup. Sesungguhnya Harsa sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Ia hanya ingin mencoba, tetapi sayangnya, meski sudah tau jawabannya, ia tetap kecewa saat mendengar langsung dari Widya. “Kenapa?” tanyanya lemah.


“Karena gue nggak mau menjalani hubungan baru dengan masih dibayang-bayangi masa lalu. Gue nggak mau menyakiti lo yang udah tulus mencintai gue, yang selalu menjaga gue, dan selalu ada buat gue. Gue nggak sanggup lakuin itu, karena sampai sekarang nama Nathan masih merajai hati gue.”


Widya tersenyum pilu. Ia sendiri tak tahu mengapa ia begitu besar mencintai seorang Nathan. Entah mantra cinta apa yang sudah Nathan gunakan padanya hingga ia tak sempat memikirkan lelaki lain selain Nathan.


Widya sudah jatuh sedalam-dalamnya dalam lautan cinta Nathan, hingga ia rasanya tak sanggup untuk kembali ke permukaan untuk sekadar bernapas dan melihat yang lain. Hanya ada cinta Nathan yang mengurungnya. Cinta yang begitu luas hingga Widya tak menemukan tepinya, meski Nathan sendiri sudah pergi dari kehidupan ini.


“Maaf, kalo jawaban gue menyakiti hati lo. Gue bener-bener belum siap buat membuka hati. Gue ingin rasa buat Nathan melebur lebih dulu sebelum gue memulai hubungan baru. Gue harap lo ngerti,” putus Widya.


“Gue nggak mau lo nunggu, Sa. Gue nggak mau kecewain lo, karena gue sendiri juga nggak tahu ini semua sampai kapan. Gue mau lo bahagia dengan gadis yang tulus cinta sama lo.” Widya menatap nanar manik indah Harsa.


“Gue bakal tetep nunggu lo. Mau sampai kapan pun, gue tetep nunggu. Setia ini bakal jadi bukti kalo cinta gue juga sama besarnya,” kekeh Harsa.


Hening. Keheningan kembali menyergap. Widya termangu, ia lupa jika Harsa juga sosok yang keras kepala, sama seperti Nathan. Tatapan kedua insan itu saling mengunci. Menyelami perasaan masing-masing akan cinta yang ingin direngkuh. Hingga suara Arini memecah keheningan itu. “Kenapa malah ngobrol di luar? Ayo masuk, di luar dingin,” ujar Arini dari teras rumah.


“Eh, nggak usah, Tan. Harsa udah mau pulang, kok.” Harsa sedikit mengeraskan suaranya karena jarak antara teras dan tempat berdirinya yang lumayan jauh.

__ADS_1


“Ya sudah. Hati-hati kalau pulang. Salam buat orang tua kamu.”


“Iya, Tan.”


Arini kembali masuk ke dalam rumah, meninggalkan Widya dan Harsa.


“Wid, gue serius bakal nunggu,” ucap Harsa. Widya hanya tersenyum menanggapi. “Jangan ubah sikap lo sama gue, setelah lo tahu perasaan gue,” pinta Harsa.


“Tentu. Lo jangan khawatir soal itu. “


“Gue bakal buktiin ucapan gue tadi, Wid,” kekeh Harsa.


“Gue harap, lo nggak akan kecewa jika semuanya nanti nggak sesuai sama harapan lo.”


Harsa menggeleng, “Gue nggak bakal kecewa, karena memperjuangkan mutiara itu memang butuh pengorbanan yang luar biasa. Jika gue nggak beruntung ngedapetin mutiara itu, setidaknya gue sudah mencoba dan berjuang. Jadi, gue nggak bakal nyesel mau hasil akhirnya seperti apa.” Harsa mengucapkannya penuh keyakinan. “Gue pulang, ya,” pamitnya.


“Hati-hati!”


Harsa memeluk Widya sebentar sebelum masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan pekarangan rumah Widya. Mata indah Widya mengikuti setiap langkah Harsa hingga tak lagi terlihat dalam jangkauannya.


“Maafin gue, Sa. Semoga gue nggak nyakitin lo, sekarang atau pun nanti.”


...***...

__ADS_1


...****To be continued**...


...Yah, ditolak, Readers. Patah hati, dong, Harsa. Sinilah sama othornya aja, Sa 😁**...


__ADS_2