
...***...
"Tenangin diri kamu, Nath! Jangan sampai melakukan kesalahan yang sama dengan mempermalukan orang lain di depan umum lagi! Bagaimanapun Vina adalah sahabat terbaik kamu. Jadi kamu nggak pantas melakukan itu sama dia," tutur Widya setelah melihat Nathan mulai bisa menguasai diri.
Nathan termangu mendengar apa yang diucapkan Widya. “Sahabat terbaik? Sahabat terbaik mana yang tega menghancurkan sahabatnya sendiri?” batin Nathan. Ia merasa seakan ada palu godam yang menghantamnya tepat di ulu hati. Ia merasa sakit mendengar kalimat itu. Kalimat yang mengingatkan akan apa yang telah ia lakukan kepada Widya.
Sebenarnya, Widya ingin tidak peduli dengan apa pun yang dilakukan Nathan, tetapi bagaimanapun Nathan pernah menjadi orang spesial di hatinya. Ia tidak mau semua orang menganggap Nathan sebagai lelaki yang arogan dan tidak bisa menghargai wanita.
Nathan menghela napas kasar. Sedangkan Vina hanya bisa melihat Widya dan Nathan yang saling memandang penuh cinta, tetapi saling menahan diri. Air matanya tumpah saat melihat semua itu, terlebih perkataan Nathan yang begitu kasar padanya.
Vina tidak menyangka Nathan bisa sekasar itu padanya. Nyalinya menciut seketika. Terbesit sedikit penyesalan dalam benaknya, ia terlalu percaya diri untuk bisa mendapatkan Nathan-nya kembali. Nyatanya semua usaha yang sudah ia lakukan sia-sia. Bahkan rencana yang ia pikir akan berjalan mulus, masih tidak bisa mengembalikan cinta Nathan untuknya.
Nathan tersenyum kecil saat menyadari tangannya masih dalam genggaman Widya. Ada kehangatan yang menjalar di hatinya. Kehangatan yang begitu ia rindukan akhir-akhir ini.
"Aku sudah tahu semuanya, Sayang. Maafkan aku yang bodoh ini! Maaf, jika aku tak percaya padamu waktu itu dan tak bisa mengontrol emosiku. Maaf, karena perempuan busuk ini, kamu kembali terluka karenaku. Maafkan aku!" mohon Nathan dengan tulus. Manik matanya menatap sendu gadis yang pernah menjadi kekasihnya itu.
"Bukankah aku sudah pernah bilang, Nath? Aku sudah memaafkan kamu. Hanya saja kata maaf itu tidak bisa merubah kejadian yang sudah lalu." Widya melepaskan genggaman tangannya dari Nathan. "Jangan membuat aku semakin sulit menyembuhkan luka ini, Nath! Tolong kasih sedikit ruang buat aku! Aku juga nggak mau membuat luka hati ini semakin dalam, Nath. Jadi biarkan aku mengobatinya dulu."
Nathan terdiam mendengar penuturan Widya. Hatinya ikut tersayat meresapi setiap kata yang diucapkan Widya untuknya. Ya, semuanya sudah terjadi dan tidak mungkin bisa ia ubah. Hanya sesal yang kini ia rasakan. Sesal yang sangat menyesakkan dada. Tatapan Nathan berpindah pada Vina. Tidak ada lagi kelembutan di sana, hanya ada amarah dan rasa kecewa. "Jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Pergi dari sini!" hardik Nathan.
"Kamu jahat, Nath." Vina yang sudah berurai air mata pun pergi meninggalkan Nathan dan Widya. Ia tidak sanggup lagi melihat kemarahan Nathan. Hatinya sakit, sesak dadanya mengingat perlakuan Nathan kali ini. Namun, cintanya untuk Nathan tidak bisa ia pungkiri. Hati kecilnya masih menginginkan Nathan kembali. "Aku masih cinta sama kamu, Nath. Aku pasti bisa membuatmu kembali padaku," batin Vina.
__ADS_1
Setelah kepergian Vina, Nathan dan Widya masih berdiri terpaku. Mereka saling memandang, terlihat jelas tatapan kerinduan yang mendalam dari keduanya. Namun, keduanya tidak bisa mencurahkan kerinduan masing-masing. Widya yang sudah sangat kecewa dengan Nathan, pun Nathan yang dirundung penyesalan yang mendalam kepada sang pujaan hati.
"Aku duluan, Nath," ucap Widya tanpa menunggu jawaban Nathan. Ia berlalu meninggalkan Nathan seorang diri.
"Sayang, maafin aku," lirih Nathan. Ia segera mengusap setetes bulir bening yang menetes di sudut matanya sambil terus memandang kepergian Widya yang semakin menjauh dari pandangannya.
Widya mencoba menguatkan hatinya, ia bukanlah tipe orang yang mudah melupakan. Apalagi melupakan soal perasaan cintanya. Tidak dipungkiri, masih ada sisa rasa untuk Nathan yang berusaha ia kubur dalam-dalam. Widya tidak ingin terluka semakin dalam. Ada mimpi dan cita-cita yang harus ia raih. Ada orang tua yang yang harus dibanggakan. Ia tidak mau urusan cintanya berimbas pada impian dan masa depannya.
Tekad Widya untuk melupakan Nathan sudah bulat, ia harus bangkit meski harus berpura-pura tegar padahal luka hatinya masih begitu perih. "Kamu pasti bisa, Wid. Ayo, semangat lagi!" Widya mencoba menyemangati diri sendiri.
...***...
Sejak kejadian di kampus waktu itu, Nathan menjadi semakin pendiam. Rasa sesal yang selalu menemani hari-harinya membuat Nathan tidak berani menemui Widya lagi. Kuliah yang sudah memasuki semester akhir, membuat intensitas pertemuan di kelas semakin berkurang.
Nathan seperti kehilangan arah, ia kehilangan cintanya. Cahaya hidupnya telah redup oleh kesalahan fatal yang ia buat sendiri. Andai waktu bisa diulang kembali, tetapi semua telah terjadi. Menyesal pun percuma, kini ia hanya bisa memohon kepada sang pemilik kehidupan, semoga ia masih diberi kesempatan untuk menggapai cintanya kembali. Menyatukan kembali puing-puing hati yang telah ia retakkan. Entah kapan saat itu terjadi, ia akan selalu menantinya.
Ponsel Nathan berdering, Nathan sepertinya sudah tahu siapa yang menghubunginya, tetapi ia enggan untuk mengangkatnya. Ya, Mama Liana yang menghubungi Nathan, karena sudah seminggu putra kesayangannya tidak berkunjung ke rumah. Mereka hanya bertukar kabar lewat chat Whatsapp saja.
Berulang kali ponsel Nathan berdering, tetapi ia tetap tidak mau mengangkat panggilan telepon dari mamanya. Seperti biasa, ia hanya mengirimkan chat kepada Mama dan kedua adik kembarnya, kalau saat ini ia baik-baik saja ia hanya butuh waktu untuk sendiri. Ia ingin menenangkan diri sejenak.
...***...
Sementara di sebuah kamar apartemen milik Vina, gadis itu mematut dirinya di depan cermin. Ia memperhatikan setiap inchi bagian tubuhnya. "Apa yang kurang dari aku, Nath? Aku lebih segalanya daripada Widya gadis kampungan itu. Apa kamu nggak bisa melihatnya? Bahkan cintaku sama kamu masih sama seperti yang dulu. Aku juga yang lebih dulu mengenal kamu, Nathan," gumam Vina.
__ADS_1
Meski telah berulang kali Vina mendapat penolakan dari Nathan, ia tidak menyerah. Ia akan tetap berusaha mendapatkan cinta Nathan kembali. Ia yakin, Nathan waktu itu hanya emosi sesaat. Ia harus lebih bisa meyakinkan Nathan kalau semua yang ia lakukan adalah semata-mata karena ia sangat mencintai Nathan. Ia tak ingin kehilangan Nathan.
Tanpa sepengetahuan Nathan, Vina mengikutinya saat pulang dari kampus. Beberapa kali ia menanyakan di mana Nathan tinggal kepada tante Liana , Evan, dan Elen, tetapi mereka tidak ada yang memberitahu. Akhirnya ia berusaha mencarinya sendiri.
"Nathan!" teriak Vina saat Nathan turun dari mobilnya. Ia segera mendekati Nathan. Nathan sedikit terkejut melihat Vina, tetapi setelah itu ia abaikan juga. Ia tetap berjalan seolah tidak melihat Vina di sana.
Merasa tidak dianggap, Vina akhirnya menarik lengan Nathan. "Nath, dengerin aku! Kita harus bicara, Nath. Kamu salah paham sama aku, kasih kesempatan aku buat jelasin ke kamu. Ini semua nggak seperti yang kamu pikirkan, Nath."
Nathan masih bergeming. Ia terus berjalan tidak menghiraukan Vina yang napasnya sudah tersengal-sengal karena mengikuti langkahnya dengan sedikit berlari. Vina masih mencoba merayu Nathan, "Nath, tolong jangan diamkan aku kayak gini! Aku nggak bisa tenang kalau kamu cuekin aku. Kita ini sahabat Nath, jangan buat persahabatan kita hancur hanya karena hal sepele seperti ini."
"Hal sepele kata lo? SUDAH CUKUP, VINA! GUE UDAH MUAK SAMA LO!" Nathan menekankan kalimatnya. Tolong pergi dari sini, jangan ganggu gue lagi, jangan buat gue hilang kendali kayak kemarin kalau lo nggak mau nyesel! Lo harusnya berterima kasih sama Widya, kalau kemarin dia nggak nenangin gue, gue nggak tahu apa yang akan gue lakuin ke lo waktu itu. Pergilah!" sentak Nathan.
Vina masih memegang lengan Nathan. Hal itu membuat Nathan geram dan menepis kasar tangan Vina. "GUE BILANG, PERGI!" bentak Nathan, kemudian berlalu meninggalkan Vina yang masih diam terpaku dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Tangis Vina akhirnya pecah, ia sudah tak tahan lagi. Sakit hatinya dengan sikap Nathan yang seolah benar-benar tidak mau melihatnya lagi. "Nathan, kamu berubah, Nath. Kamu bukan lagi Nathanku," ucap Vina di sela-sela isakan tangisnya, ia duduk bersimpuh sambil memandang punggung Nathan yang semakin menjauh dari pandangannya.
Usapan hangat di punggung Vina mengembalikan kesadarannya, ia merasa lebih tenang dan merasa menemukan kembali kehangatan dan kenyamanan yang pernah ia rasakan dulu. Vina menoleh, antara senang dan sedih ia melihat sosok yang saat ini telah tersenyum dan memberikan tatapan yang meneduhkan untuknya.
...***...
Apakah kalian puas dengan part ini? Jangan lupa dukungannya 🤗
__ADS_1