
...***...
Begitu sulit Harsa dan yang lainnya untuk mengajak Widya keluar. Dengan berbagai macam cara dan alasan apa pun tetap tidak berhasil. Widya masih belum ingin ke mana-mana. Pikirannya terlalu sibuk untuk mengingat Nathan, semua hanya tentang Nathan.
Para sahabat hanya bisa memberikan semangat kepada Widya yang telah kehilangan separuh jiwanya. Sebenarnya Widya pun lelah dengan keadaan ini yang hanya bisa menangis dan meratapi takdir, tetapi ia belum bisa beranjak dari kesedihan. Widya masih belum rela dengan kepergian kekasihnya.
Widya selalu berpikir, mengapa akhir cintanya seperti ini? Manis di awal, lalu terasa sesak di separuh perjalanan, hingga berakhir tragis dengan kepergian Nathan. Pergi untuk selama-lamanya, dan tidak akan pernah kembali kepadanya.
Sesakit inikah mencintai? Bahkan impiannya sangatlah sederhana. Menikah dengan mahluk ciptaan Allah yang menjadi pilihannya, untuk melengkapi ibadah terpanjang di dalam hidupnya. Apakah juga salah? Berharap untuk menua bersama dan mengalami semua setiap proses kebahagiaan mereka dalam ikatan pernikahan? Semua pertanyaan itu selalu menjadi momok menakutkan dalam hati Widya. Widya selalu berpikir jika dirinyalah yang paling menderita dan bernasib sial di dunia ini. Widya benar-benar belum siap dengan kepergian Nathan yang tanpa pesan. Walaupun ia sadar hal itu salah, tetapi ternyata hatinya begitu rapuh untuk menerima.
"Aku kangen kamu, Nath!" Kalimat yang selalu Widya ucapkan setiap waktu.
...*** ...
Pagi yang cerah selalu disambut oleh cicitan burung-burung kecil yang beterbangan ke sana ke mari. Seolah mereka ingin mengabarkan jika mereka begitu bahagia berkawan dengan matahari pagi yang selalu mengawali hari.
Bunda Arini berharap buah hati tercintanya yang sedang larut dalam duka yang tak berkesudahan akan sebahagia dan seceria burung-burung kecil itu. Ia pun tidak pernah lelah untuk menghibur dan menasihati anaknya agar segera bangkit dari keterpurukan.
"Nak, bunda izinkan kamu untuk bersedih, tapi kamu harus bangkit dari kesedihan ini! Kita semua pasti akan mengalami yang namanya kehilangan. Ingatlah, semua yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Bukan hanya kamu yang kehilangan Nathan. Coba kamu pikirkan mama Liana? Dia pasti lebih terluka saat kehilangan Nathan dari pada yang kamu rasakan, Sayang. Lalu kenapa mama Liana terlihat begitu tegar di depan kita? Itu karena dia menjaga hati keluarganya yang lain. Mereka akan sangat terpukul jika Mama Liana terus terpuruk dalam kesedihan. Kehidupan harus terus berlanjut, tidak hanya terbatas hari ini saja, Nak." Arini memberikan nasihat panjang lebar kepada Widya. Gadis itu tengah berbaring dengan kepala berada di pangkuan sang bunda.
"Aku tahu, Bun. Apa yang melewatkanku tidak pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku. Namun, takdir ini terlewat begitu cepat. Aku belum siap, Bun." Widya berkata lirih. Linangan air mata kembali menetes membasahi pangkuan bundanya.
__ADS_1
"Semua ini sudah atas kehendak-Nya, Nak. Mengikhlaskan itu jauh lebih indah. Walaupun kata ikhlas itu sangat mudah diucapkan, tetapi paling sulit dijalankan. Setidaknya kamu sudah bisa melepaskan pelan-pelan, dan mencoba bangkit dari rasa kehilangan," ucap Bunda sambil mengusap lembut kepala Widya. Widya terdiam sembari menutup mata. Walaupun begitu, air mata masih mampu menembus kelopak mata yang tertutup itu. Widya mencoba meresapi setiap nasihat yang terlontar dari mulut Arini. Kadang ia merasa bosan dengan semua nasihat ayah–bundanya yang isinya selalu sama. Namun, Widya segera sadar, jika itu semua demi kebaikan dirinya.
...*** ...
Sore ini Arini dan Widya berencana berkunjung ke rumah mama Liana. Mereka membawa kue hasil buatan mereka berdua. Lebih tepatnya Arini yang membuat, dan ditemani oleh Widya. Motor matic hitam melaju sedang di jalanan. Membawa dua wanita cantik beda generasi itu. Bunda Arini yang mengendarai motor, dan Widya membonceng di belakangnya. Arini masih khawatir jika Widya yang mengendarai motor tersebut.
Setelah kurang lebih dua puluh lima menit berkendara, sampailah keduanya di rumah Liana. Rumah yang begitu banyak kenangan dari mendiang Nathan. Hati Widya kembali sakit ketika kakinya mulai menapaki pelataran rumah itu. "Yuk, Nak! Kamu kuat, kok," ajak Arini menggandeng tangan Widya. Berusaha memberikan kekuatan ketika melihat anaknya kembali kembali hanyut dalam kesedihan. Mereka pun berjalan menuju teras rumah Nathan. Kebetulan penghuni rumah itu tengah berada di sana.
"Assalamualaikum," seru Arini.
"Waalaikumsalam," jawab mama Liana. Ia langsung menghambur memeluk tubuh Widya. "Mama seneng kamu mau main ke sini, Nak," ucap Liana berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Ia tidak mau terlihat lemah di depan Widya. Agar gadis itu segera pulih dari rasa sedihnya.
Daniel yang sedang membersihkan mobil kesayangan anaknya–si Mini Copper pun menghentikan aktivitasnya dan ikut bergabung menghampiri Widya dan bundanya. Mengusap puncak kepala gadis yang hampir menjadi menantunya itu dengan lembut. "Kamu sehat, Nak?" tanya Daniel. Widya menjawab dengan menganggukkan kepala.
"Eh, sini, Sayang! Kebetulan, nih, mama sama si kembar lagi ngeteh. Ayo, duduk sini, Nak, Jeng Arini." Melihat atmosfer kesedihan mulai menyeruak lagi. Liana segera menarik tangan Widya dan Arini, mengajaknya untuk duduk di kursi santai yang berada di teras rumah.
"Alhamdulillah, Jeng. Widya udah jauh lebih baik dari sebelumnya. Walau terkadang dia masih sering nangis kalau lagi sendirian di kamar," jawab Bunda Arini ikut menimpali. Perempuan paruh baya itu selalu berusaha terlihat tegar kala melihat anaknya selalu dirundung kesedihan.
"Widya, Sayang. Kamu nggak boleh nangis terus. Allah memberikan ujian tidak akan melebihi batas kemampuan hamba-Nya, kok, Nak. Mama yakin Widya pasti bisa melewati semua ini dengan sabar," ujar Mama Liana.
Mereka pun mengobrol santai. Asyik bercerita ke sana ke mari. Widya pun menceritakan perihal Harsa yang mengajaknya untuk pergi berlibur bersama para sahabatnya. Tentu saja Bunda Arini dan Mama Liana mendukung usulan tersebut.
"Pergilah, Sayang! Jangan menyiksa diri seperti ini! Seandainya Nathan ada, dia juga nggak akan suka melihat kamu seperti ini. Kita belajar mengikhlaskan bukan berarti melupakan, ya, Sayang," seru mama Liana sambil membelai rambut sang gadis. "Lakukan apa yang semestinya! Kehilangan bukan berarti kita tidak punya harapan, 'kan? Raih mimpimu dan wujudkan apa yang menjadi cita-citamu bersama Nathan dulu!" Mama Liana menambahkan nasihatnya.
__ADS_1
Rasa kasih sayang Liana kepada Widya sama besarnya seperti kepada Nathan. Widya sejenak berpikir, sebelum akhirnya dia menyetujui ajakan Harsa untuk mengajaknya berlibur.
Widya memutuskan untuk memberikan kabar itu lewat panggilan telepon. Ia mengeluarkan benda pipih dari tas selempang dan melakukan panggilan ke nomor Harsa. Nada dering pun terdengar, tetapi belum terangkat oleh sang pemiliknya. Namun, tak lama kemudian panggilan itu pun terhubung juga.
"Assalamualaikum, Sa," ucap Widya pelan.
"Waalaikumsalam, Wid." Harsa yang tengah mengemudikan mobil sontak menepikan mobilnya di bahu jalan. Senyumnya langsung mengembang manakala melihat nama Widya yang tertera di layar ponselnya itu. "Halo, Wid. Lo masih di sana?" tanya Harsa ketika beberapa saat tidak terdengar suara Widya.
"Ehm ... iya, Sa," sahut Widya sedikit ragu, "gue cuma mau ngasih kabar ke lo, Sa. Gue menerima tawaran lo yang ngajakin liburan tempo hari itu," ujar Widya.
Harsa membelalakkan mata seolah tidak percaya. "Bener, nih, Wid? Gue nggak lagi mimpi, kan? Eh, tunggu bentar! Gue cubit pipi gue dulu." Harsa bertingkah konyol mencubit tangannya sendiri. "Aduh! Sakit, ya, ternyata," kekehnya kemudian, "berarti ini bukan mimpi, Wid. Alhamdulillah, akhirnya lo mau juga berlibur bersama kita. Makasih, ya, Wid. Makasih banyak." Harsa terus saja berbicara, sedangkan Widya hanya terdiam mendengarkan kekonyolan Harsa barusan. Walaupun tidak bisa dipungkiri tingkah konyol itu mampu membuat kedua sudut bibir membentuk senyuman tipis.
"Iya, Sa. Nanti kabari saja kapan waktunya!" seru Widya.
"Oke, semoga dengan liburan perasaan lo menjadi lebih baik, ya. Biar anak-anak yang atur semuanya. Lo tinggal tunggu santai aja, oke." Betapa bahagianya Harsa mendengar Widya mengiyakan ajakannya berlibur bersama para sahabatnya. Hingga panggilan itu berakhir senyuman bahagia terus melekat di bibirnya Harsa.
Bunda Arini dan Mama Liana pun merasakan bahagia yang sama. Widya sudah mau berbicara seperti biasanya. Semoga dengan liburan kesedihan akan teralihkan.
Namun, pada kenyataannya kesedihan itu masih melekat sempurna dalam hati Widya. Gadis itu sama sekali tidak mengesampingkan rasa rindunya akan bertemu dengan Nathan. Widya melakukan itu hanya untuk membuat orang tuanya senang. Entah bisa atau tidaknya Widya pergi berlibur. Widya tidak mau berpikir terlalu jauh. Pikiran dan hatinya masih dipenuhi oleh Nathan. Widya masih egois dengan perasaannya. “Maaf kalau aku membohongi kalian semua. Nyatanya hatiku masih belum sembuh seutuhnya. Maaf atas keegoisanku. Aku masih ingin menikmati setiap rasa sakit ini sendiri. Jika berpura-pura bahagia bisa membuat kalian semua tenang, akan aku lakukan semampuku,” batin Widya sembari tersenyum miris pada Arini dan Liana.
...***...
__ADS_1
Kasih dukungan lagi sama Widya, yuk, readers. Kasih like sama giftnya biar novelnya naik level 🥲
Sama othornya juga butuh hiburan, soalnya liburannya kurang 😅